#15

686 Words
CHAPTER 15   Sudah 20 menit Hana menunggu di halte dekat percetakan. Langit semakin gelap dan terkadang seruan geludug terdengar. Sepertinya hujan kali ini akan deras. Ditambah dengan angin yang bertiup cukup kencang yang mampu menggoyangkan dahan pohon di tepi jalan dan meniup debu yang berserakan. Pertanyaannya, kapan angkot lewat??? Oke fix, ini mulai gerimis. 1 2 3 Dan langsung deras. Gadis itu hanya mampu memejamkan kepalanya dan memeluk dirinya sendiri. Melindungi tubuh mungilnya itu dari terpaan angin dan cipratan air hujan. Sendirian di halte saat hujan itu ga enak banget. Bahkan para pengemudi motor pun tak ada yang menepi untuk memakai jas hujan. Benar-benar sendirian. Punya pacar rasa jomblo. "Hana?" Gadis yang sedang duduk di halte itu menolehkan kepalanya mencari sumber suara. Terdengar mesin motor yang dimatikan. "Ngapain disini?" Ujar orang itu sedikit berteriak agar suaranya tetap terdengar kala guntur menyambar. "Dafa?" "Iya, ini aku. Kamu ngapain disini? Sendirian lagi" tanya Dafa saat sudah berhadapan dengan Hana. "Tadi abis ke percetakan, nyetak majalah sekolah sama pamflet OSIS. Mau pulang tapi angkotnya ga lewat-lewat." Ucap Hana. "Sendirian? Abra mana?" Tanya Dafa sambil menatap Hana. "Dia lagi banyak urusan." Jawab Hana sedih sambil menundukan kepalanya. Tak sadar jika tatapan Dafa menajam dengan kilat amarah dan kepalan tangannya mengeras. Tak lama, Hana memdongak menatap Dafa, membuat ketajaman itu menghilang entah kemana. "Kamu sendiri kok belum pulang?" Tanya Hana. "Oh, tadi abis ke toko game dulu." Ucap Dafa mulai santai. Mereka pun duduk bersisian menatap jalan dengan tetes-tetes air hujan ditambah hilir mudik kendaraan. Sunyi. Sepi. Tapi menenangkan. Entah berapa waktu, namun tiba-tiba Dafa bersuara, "Aku belum nyerah kok Han. Kamu tunggu aja ya tanggal mainnya." Hana menoleh. "Maksud kamu apa?" Tiba-tiba Dafa bangkit dari duduknya. "Udah reda nih. Kamu mau pulang sama aku atau gimana?" Terlihat bola mata Hana menari-nari kebingungan dalan rongganya. Tapi detik berikutnya ia pun mengiyakan ajakan Dafa. Think smart. Dan deru motor membelah udara sehabis hujan. "DAFAAAAAAA, PELAN-PELAAAAAAANNNNNNNN!" Ujar Hana memeluk Dafa. Suara rem yang menggesek aspal terdengar di depan rumah yang cukup besar. "Makasih banget loh Daf udah ajak aku uji nyali pake motor kamu." Ucap Hana sarkas saat sudah turun dari motor besar Dafa. "Sama-sama cantik." Ucap Dafa senyum sambil mengacak rambut Hana. "Oh ya Han, katanya pamfletnya mau dikasihin ke Abra?" Tanya Dafa setelahnya. Hana hanya mengangguk. "Sama aku aja sini. Aku kan sekelas sama Abra. Dari pada kamu yang ke kelas. Kelas IPS sama kelas IPA kan jauh." Ucap Dafa lagi. Hana berpikir sejenak. "Yaudah deh. Dijaga baik-baik ya.." ucap Hana mengeluarkan pamflet dari tasnya dan menyerahkannya ke Dafa. "Sip, percaya sama aku." "Yaudah ya aku pulang. Udah malem juga." "Oke deh. Sekali lagi makasih ya Daf. Hati-hati di jalan." Ujar Hana melambaikan tangan. Dan motor Dafa pun melesat menjauh. *** "Abra.." Abra menoleh. Oh, Dafa. "Kenapa Daf?" Tanya Abra. "Ini, ada titipan dari Hana. Katanya sih pamflet yang buat pensi." Ujar Dafa menyerahkan pamflet di tangannya. Abra mengambilnya. Terjadi diam sebentar. Hingga, "kok bisa ada di lo?" Tanya Abra setelah mengingat jika Dafa adalah orang yang memanggil pacarnya dengan sebutan mesra waktu itu. "Kemaren gue abis dari toko game. Terus ngeliat Hana di halte sendirian. Mana ujan gede banget waktu itu. Yaudah gue anter pulang. Terus pas nyampe rumah, dia nitipin itu."jawab Dafa santai yang membuat Abra merasa ada tangan tak terlihat yang meremas jantungnya. Entah mengapa ia merasa tak terima. Mengapa yang melindungi gadisnya harus Dafa? Orang yang mempunyai potensi besar untuk menjadi tukang tikung. "Oh gitu." Ujar Abra. "Harusnya lu bilang makasih ke gua. Mungkin kalo gua ga liat dia, dia udah mati kedinginan kali di halte." Ujar Dafa. Abra diam. "Kalo gue jadi lo, gue akan lebih milih nemenin pacar gue ke percetakan dari pada enak-enakan di ruang OSIS sama cewe lain." Abra masih diam. "Lo punya otak? Punya hati? Pake!" Abra semakin diam. "Lo tau ceritanya kaya apa? Gue sayang sama Hana. Tapi Hana sayang sama lo. Terus lo nyia-nyiain Hana. Dan gue ga terima. " ada jeda sebentar. "Jaga posisi baik-baik di tikungan. Karna bisa aja gue langsung yalip." "Walaupun kita temen." Lanjut Dafa. "Dan gue ga akan ngebiarin itu terjadi." Jawab Abra menegaskan. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD