#16

703 Words
CHAPTER 16   Dengan lesu, Hana menelungkupkan kepalanya di meja paling pojok di perpustakaan. Memang sekarang di kelasnya sedang jamkos. Dan entah mengapa ia begitu lelah mendengar kebisingan di kelas. Apalagi katanya lusa ulangan matematika. Subhanallah banget lah... Sangking lelahnya, gadia itu menjadi melamun. Dan sekelebat kenangan buruk melintas di benak Hana. "Tapi ini udah 2 tahun Han. Masa SMA tuh harusnya punya kenangan indah. Ga bosen apa lo nungguin si Abra mulu! Kalo gue sih bosen nunggu orang yang ga pasti!" "Menurut info yang gue denger, Abra ngincer Andien." "Kok bisa sih? Bukannya selama 2 tahun ini si Abra ga nge-respon ya?" "Yakin cinta? Kali aja cuma kasihan." "Iya juga sih, lagian setau gue si Abra juga ngincer Andien." "Palingan cuma pelarian dari Andien." "Halaaahh. Ibu ga nyangka yang jadi pacarnya Abra itu Hana. Ibu pikir kamu bakal pacaran sama Andien. Soalnya kan dia udah deket banget sama kamu." "Omongan ibu ga usah di masukin hati. Andien emang udah biasa main kesini dari dulu." Andien, Andien, Andien. Selalu Andien yang dijodoh-jodohin sama Abra. Elah, gini amat jatuh cinta. Kayaknya baru sadar deh, kalo sebenernya itu dia doi gue. Tapi gue bukan doi dia. Sejenak ia memejamkan matanya. Menggelapkan pandangan akan warna yang tertera di depan mata. Warna yang ia harapkan bervariasi. Namun nyatanya hanya abu-abu. Baginya, Abra itu ga bisa dijelaskan dengan kata-kata. Di satu sisi, ia membuat Hana bahagia. Tapi di sisi yang lain, ia membuatnya terluka. Dari sudut kanan ia terlihat sayang. Tapi dari sudut lain, terasa seperti khayalan. Abra itu kayak angin. Terasa nyata tapi engga ada. Ada, tapi bukan buat dia. Buat orang lain. "Aku suka kamu Abra. Aku sayang kamu. Aku coba sabar. Tapi kamunya gitu. Kamu ga kasian apa sama aku? Akunya sakit tau. Mau banget protes ke kamu. Tapi... aku sadar. Aku yang suka sama kamu. Bukan kamu yang berusaha pertahanin aku." Batin Hana risau. "Kenapa?" Hana kenal suara ini. Ia mendonggakan kepalanya dan menatap mahkluk di hadapannya. "Gapapa." Orang itu menarik kursi di hadapannya dan mengisi kekosongan tersebut. Keadaan diliputi keheningan yang cukup canggung. Pikiran berseliweran di masing-masing benak. Tanpa ada niat mengungkapkan. Tanpa ada niat untuk membicarakan. Terkadang orang suka lupa, kalo cinta itu butuh keberanian. Kalo diem terus tanpa tindakan ya ga akan jadi apa-apa. Akan berputar terus di zona tersebut. Dan lama-lama akan berhenti. Seperti itu akhirnya. Hidup itu penuh pilihan. Ga ada yang namanya ga ada pilihan. "Abra.." Hana bergumam pelan. Abra membalas tatapan Hana. "Hmm?" Mulut mungil Hana membuka. Namun dalam detik berikutnya tertutup lagi dengan gelengan kepala. "Emm, gajadi. Oh ya, kamu ngapain disini?" "Gabut di kelas. Jamkos juga. Jadi kesini. Eh ketemu deh." "Ga sama Andien?" Tanya Hana iseng-iseng. "Tadi sih gitu. Tapi dia mau ngajarin temennya mtk kalo ga salah." Ujar Abra tanpa beban. "Hah, bahkan Andien selalu jadi yang pertama." "Oh." Jawab Hana datar sambil mengalihkan pandangannya asal jangan ke Abra. "Maaf ya Han. Kemarin sampe nunggu ujan gitu gara-gara ke percetakan." Ucap Abra menatap Hana. "Iya, gapapa kok." Hana mencoba tersenyum. "Andien itu siapa kamu sih?" Ucap Hana keceplosan. Abra memandang Hana sebentar. "Dia itu temen, sahabat, kakak, adik, keluarga. Pokoknya lengkap." "Sabar Han. Disini elo yang suka sama dia. Jadi elo juga yang harus pertahanin dia." "Kalo disuruh milih, kamu pilih cinta atau sahabat?" Tanya Hana. "Sahabat lah.." "Sama aja ya kalimatnya kayak kamu lebih milih Andien kan dari pada aku." Hana berdiri dari duduknya. Tersenyum lemah dan berkata, "Kamu tau, karna kamu aku tau rasanya bertahan dan dilepas secara perlahan pada waktu bersamaan." "Aku sadar, aku ga berhak marah sama kamu karna dalam hal ini aku yang suka sama kamu. Aku yang coba pertahanin kamu. Tapi aku ga tahan b*a. Cape." "Udah coba buat positive thinking. Tapi lama-lama aku sadar, positive thinking sama ngebegoin diri sendiri itu beda tipis." "Aku penasaran. Apa yang akan kamu lakuin kalo aku bilang aku jelous dengan kedekatan kamu sama Andien?" Abra menatap Hana terkejut. Tak mengira gadis se kalem Hana mampu menyusun kalimat yang menohok hatinya. Gadisnya terluka. "Andien bukan siapa-siapa aku Han." Jawab Abra terdengar lemas. " Sejujurnya aku pengen ngerasain hal-hal kecil yang sering kamu lakuin bareng dia. Dia yang katanya bukan siapa-siapa kamu." Dan Hana pun pergi meninggalkan Abra yang diam seribu bahasa. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD