#18

876 Words
CHAPTER 18   Isak tangis masih menemani kesunyian di dalam ruang studio ini. Perasaan bersalah secara perlahan merangkak memenuhi hatinya. Kata-kata perempuan itu berus mengulang bagaikan kaset rusak di benaknya. "Jadi siapa yang jahat. Gue apa elo?" Ya, jadi siapa yang jahat? Gue atau Andien.  Pikiran itu terus menghantui Hana. Ia juga perempuan. Ia tau seperti apa rasanya. Ia merasa seperti orang yang sangat jahat. Ia jahat karna ia sudah merebut Abra dari Andien. Tapi ia juga ga bisa melepas Abra begitu saja. Jika Hana dengan Abra, Andien yang akan sakit. Tapi jika ia mengikhlaskan Abra dengan Andien, justru ia yang akan sakit. Apakah cinta bisa sedikit lebih egois? * Hana sedang duduk menyendiri di pinggir lapangan bawah. Lapangan yang jarang dipake. Sekalinya dipake, ya kalo cuma kepepet doang. Jadinya ya, sepi. Soalnya, studio musik ada kelas. "Sendirian aja neng kek kiper.." Suara bariton menginterupsi kegalauan Hana. "Kenapa lagi sih?" Tanya dia duduk di samping Hana. "Kamu terlalu kepo." Ujar Hana. "Ga kepo, tapi aku peduli." "Kenapa harus kamu?" "Karna aku sayang kamu." Dafa, kamu buat Hana semakin bingung. Membuat Hana semakin merasa jahat. "Aku duluan Daf.." Hana pergi tanpa menunggu persetujuan dari Dafa. Langkahnya kembali terhenti di studio musik. Sudah kosong. Dan tanpa pikir panjang, Hana pun masuk. Teng tong... Hana melihat ponselnya yang berbunyi. Pesan dari Amoy. Eh, gua kantin. Gece lah. Ini belum jam istirahat. Berarti jamkos dari tadi. Bagus lah. Perlahan, Hana bangkit dari posisi duduk menyendernya. Mengusap wajahnya dan mulai berjalan mendekati pintu. Pintu terbuka, dan angin sejuk pun menerpa wajahnya yang lumayan kusut. Buru-buru ia menutup pintu studio musik dan melangkah menuju kantin. "Hana!" Seru suara yang lumayan kencang untuk didengar oleh sebagian siswa di kantin. Dan Hana pun melangkahkan kakinya ke tempat tersebut. Langsung duduk dan memgambil alih makanan di hadapannya yang notabene milik sahabatnya itu. Amoy yang menyadari ada sesuatu hanya diam dan menatap Hana penuh arti. Bertanya-tanya apa yang membuat gadis itu menjadi sangat berantakan. Setelah datang pesanannya yang baru, Amoy pun membuka suara, "Kenapa?" Tanya Amoy biasa saja saat sesuap nasi goreng masuk ke mulutnya. "Ntar balik aja. Ga mood." Jawab Hana sekenanya dan meraih es teh yang masih penuh. Dari tatapan matanya, Amoy bisa tau ada kesedihan di dalamnya. Dan Amoy yakin, akan ada urusannya dengan Abra. Hana menyesap es teh di genggamannya, raut wajahnya pun berubah tak suka. "Pait." Ujar Hana. "Lagi pengen yang tawar." Timpal Amoy. "Tawar kaya perasaan gue. Ga ada yang ngasih rasa. Sekalinya ngasih cuma rasa pait sama asem. Udah." Jawab Hana asal tak jelas. "Bersyukurlah karna lo bisa nerima rasa pait dan asem itu. Bersyukur lo bisa ngerasain itu. Karna yang ngasih belum tentu tau rasanya kayak apa." Jawaban Amoy membuat Hana mendongak menatapnya di keramaian kantin. "Lagian kalo rasanya pait atau asem, lo bisa nambahin gula sendiri. Dan percaya sama gue, rasanya akan lebih pas. Ga terlalu manis, juga ga terlalu hambar ." Hana menatap Amoy kagum. Sahabat tau waktunya bercanda atau serius. "Gue ngerasa Abra lebih milih Andien dari pada gue. Dan, Andien bilang ke gue kalo dia suka Abra" "Dan gue ngerasa kalo gue ga ada apa-apanya dibanding Andien. Gue cuma kerikil diantara berlian." Ucap Hana. "Ada yang lo lupain dari ucapan lo Han. Untuk jadi berharga ga harus berkilau." Amoy selalu membalas dengan kata-kata yang mengena di hatinya. "Gue terlalu beda sama Abra. Terlalu banyak perbedaan diantara kita." "Perbedaan bisa diatasi dengan pemahaman. Lo cuma harus saling ngerti." "Gue merasa jahat. Gue ngerasa ngambil Abra dari Andien." Ucap Hana datar. "Han, ini bukan soal baik atau jahat. Ini soal mempertahankan. Mempertahankan apa yang udah jadi milik lo." "Gue takut kalah." Ujar Hana benar-benar lesu. "Think win to win. Berpikir menang untuk menang. Kalo lo mikir lo bisa, artinya lo bisa. Lo mikir lo kuat, ya lo kuat." "Tapi kalo Abra ga bahagia sama gue? Kalo bahagianya Abra sama Andien?" Tanya Hana dilema. "Abra ga b**o Han. Dia tau apa yang jadi kebahagiaan dia. Dia milih lo, bukan Andien. Dia milih kerikil, bukan berlian." "Dafa bilang dia sayang gue." Hening menemani mereka sejenak. "Gua ga ikut-ikutan deh kalo masalah itu." Dan tawa menghiasi hari mereka. Sepanjang kita mau melihatnya, maka kita selalu bisa menyaksikan masih ada hal indah di hari paling buruk sekalipun. ~Tere Liye * "Gua salah lagi ya?" Ujar Abra pelan kala melihat langkah kecil Hana menuju gerbang sekolah. "Kayaknya sih gitu." Suara di belakang muncul tanpa di undang. Kening Abra mengernyit tak suka. "Ngapain lo disini?" "Selo dong cuy." Jawab Dafa terkekeh. Ia tak menyangka akan ada jarak sejauh ini dengan temannya hanya karna seorang gadis. "Lo ada masalah apa sama Hana? Tadi gue yang ngapus air mata dia." Ujar Dafa tanpa dosa. Oke. Gapapa,gapapa~ "Bukan urusan lu." Ujar Abra agak ketus. "Apa yang berhubungan sama Hana, itu jadi urusan gua." "Inget Daf, lo bukan siapa-siapanya Hana. Cuma temen." Ucap Abra nyelekit. "Lo pikir, lo sama Hana itu dulunya apa? Sodara?!" Kekeh Dafa "Gue cuma mau bilang aja si, kadang kebaikan lo ke orang lain bisa nyakitin orang lain juga." Balas Dafa. "Gua ingetin ke lo Daf, gausah banyak bacot. Temen ya temen. Pacar ya pacar." "Ya emang bener. Temen ya temen. Pacar ya pacar. Jangan temenan kayak pacaran. Apalagi pacaran kayak temenan. Tipis abis bedanya. Tapi pait bro!" Jackpot! *** *typo bertebaran cuyyy.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD