#19

1073 Words
CHAPTER 19                                                                         "Han, minjem pr mtk dong.." Amoy berbisik. Namun gadis yang dipanggil Hana itu diam tak bergeming dan tetap mempertahankan posisinya menelungkupkan kepala di atas meja. "Woy, minjem napa..." Kini Amoy berbik sambil menyenggol lengan Hana. "Ck, apaan sih. Kerjain sendiri napah. Gua juga ga ngerti!" Jawab Hana. "Auah, pelit bgt!" Ujar Amoy bangkit dan berjalan menghampiri teman yang lain. Sebelum Amoy benar-benar pergi, Hana masih sempat mendengar celaan yang terlontar dari mulut gadis China itu. "Najis, t*i, gembel si Hana. k*****t! Ah t*i sebel gue! Gara2 patah hati doang kek gitu. Amit-amitttttt!" *** Teng nong neng nong... Sekarang saatnya istirahat... Dan seketika kelas langsung kosong setelah guru mata pelajaran melangkah ke luar. Langsung saja Amoy melangkah ke luar tanpa bercakap apapun terhadap Hana. Ia masih kesal dengan gadis itu. Sambil mengikuti langkah gerombolan teman-temannya,ia pun sampai di kantin. Dan, wajah Abra yang sedang berkumpul bersama teman-temannya masuk ke dalam retina matanya. Awalnya ia biasa, hingga wajah gadis PHO pun tampak sedang tertawa disana tanpa beban. Dan seketika, emosinya tersulut. Bagaimana bisa mereka masih bisa tertawa setelah pertengkaran kemarin? Bahkan Abra tidak mendatangi Hana ke kelas? Oh great... Dan Amoy pun langsung memisahkan diri dari teman sekelasnya dan mendatangi meja Abra dengan wajah merah padam. Braaaaakk!! Seketika, orang-orang di hadapannya pun menatap kaget dengan gebrakan yang begitu keras. "Gue mau ngomong sama lo!" Ujar Amoy dingin menatap tajam Abra. Sedangkan ucapannya hanya dibalas dengan pandangan tak mengerti dari Abra dan teman-temannya termasuk si gadis PHO itu. "Woy, selow dong Moy. Lo kenapa sih?" Ujar Fahmi masih terkejut. Pandangan Amoy pun langsung beralih ke Fahmi, sama tajamnya. "Bukan urusan lo!" Dan Fahmi pun langsung diam terbujur kaku. "Gue mau ngomong sama lo!" Ulang Amoy. "Yaudah, ngomong aja." Ucap Abra yang sudah bisa mengendalikan diri dari kekagetannya sehingga suaranya terdengar sangat tenang. "Ga disini." Ucap Amoy berbalik dan diikuti oleh Abra di belakangnya. Setelah rasanya cukup jauh, Amoy pun berbalik dan menatap Abra masih dengan tatapan mengintimidasi. "Gue bingung ya sama lo! Bisa-bisanya lo tenang-tenang aja ketawa bareng temen-temen lo saat cewe lo lagi sakit hati karna lo!" Amoy menekankan kata cewe. Tatapan Abra yang tadinya tenang mulai serius. "Dia butuh waktu." "Waktu? Sampe kapan? Hah!" Bentak Amoy di depan wajah Abra. "Sampe dia bener-bener tenang Moy. Gue ga mau dengan kemunculan gue didepannya malah bikin dia tambah sakit. Gue coba jaga perasaan dia." "Coba jaga perasaan dia dengan cara menganggap semuanya baik-baik aja? Lo sadar ga sih b*a, ini malah bikin Hana tambah sakit." Ujar Amoy dengan nada yang sudah berganti dengan nada frustasi. "Hebat ya, lo masih bisa ketawa-tawa sama cewe yang bikin pacar lo nyesek! Ha, lucu banget hidup lo!" Abra diam tergugu di depannya. "Bahkan lo ga nyoba untuk datengin dia ke kelas, ajakin dia makan di kantin, dan ngebicarain semuanya?" Cecar Amoy. "Gue kan udah bilang, dia butuh waktu. Lagi pula dengan kondisi hati yang lagi kacau, gua ga yakin kalo dia mau ke kantin cuma buat makan. Di hari biasa aja dia makan di kelas." Ucap Abra. Amoy menatap Abra dengan pandangan wtf... "Lo tuh bener-bener ga ada usahanya ya. Kalo gue jadi Hana, gue ga akan pernah mau suka sama lo!" Ucap Amoy penuh penekanan ditiap katanya. "Sayangnya rasa suka ga bisa lo atur sesuka hati lo. Dan cinta itu ga bisa diprediksi." "Ya, kita emang ga bisa ngatur perasaan. Tapi inget, perasaan bisa berubah karna keadaan. Jadi, jangan nyesel kalo tiba-tiba rasa Hana buat lo lenyap dan dia jatuh cinta sama cowok yang selalu ada buat dia. Seperti kata lo tadi, cinta itu ga bisa di prediksi." Cecar Amoy mengena. Membuat Abra diam membisu. "Hana setia. Dan itu udah terbukti selama 2 tahun." Ujar Abra meyakinkan Amoy, atau dirinya sendiri? "Hahaha, jangan terlalu pede bro! Hati manusia gampang berubah. Mungkin hari ini elo segalanya buat seseorang. Tapi besok, bisa jadi elo bukan siapa-siapa lagi." Sinis Amoy. "Lo tau, perjuangan Hana selama ini yang buat gue tertarik sama dia. Dan gue yakin dia bakal bertahan sampe akhir." "Jadi hubungan kalian dibangun dengan pondasi rasa cinta yang tulus dari Hana dan rasa tertarik sesaat dari lo? Hmmm?" Ucapan sarkas dari Amoy kembali membuat Abra diam. "Kalo cuma karna tertarik, kalo cuma karna perjuangan selama 2 tahun, apa kabarnya sahabat setia lo si Andien? Kenapa bukan dia aja yang lu jadiin pacar?" "Karna gue ga mau dia. Gue maunya Hana!" Jawab Abra mulai tersulut emosi. "Gue tanya, lo sayang sama Hana?" Kali ini Amoy bertanya tanpa emosi. 1 menit berlalu tanpa satu kata pun yang keluar dari bibir Abra. "Pikirin lagi. Kalo lo emang sayang, perjuangin dia. Tapi kalo nyatanya engga, udah. Stop di sini aja." Amoy berujar pelan. "Kenapa lo terlalu ikut campur?" "Karna Hana sahabat gue. Dan gue ga mau dia kecewa cuma karna cowok yang ga paham sama perasaannya sendiri." Dan Amoy pun berbalik. Diikuti Abra di belakangnya yang masih merasakan denyutan aneh di relung hatinya. *** "Ahelah. Kenapa harus lupa bawa bekel sih! Mana laper. Ishhh.." ujar Hana sebal kepada dirinya sendiri. Padahal ia tidak ingin meninggalkan kelas. Karna mager, dan tentu saja ia ingin menghindari Abra. Mentalnya belum siap untuk menyaksikan apa yang akan terjadi selanjutnya.  Hari sudah berganti, namun kata maaf pun belum didapat oleh Hana. Jangankan langsung, chat juga ga ada. Dan itu membuatnya semakin nge-down. Mau minta beliin makanan ke Amoy, hmmm Amoy udah duluan ke kantin. Lagi pula Hana tak yakin jika Amoy mau dimintai tolong olehnya gara-gara insiden pr mtk tadi. Mau tidak mau, ia bangkit dari singgahsananya dan bergerak menuju kantin. Saat kantin sudah terasa di depan matanya, seketika itu juga napas berat berhembus dari hidungnya. Penuh. Pake banget. Dan ia tak menemukan bangku kosong satu pun. Bahkan, Amoy pun tak terlihat oleh matanaya. Tiba-tiba, ia merasakan sesuatu melingkar di bahunya. Lumayan berat. Membuat kepala mungilnya menoleh ke samping. Ia pun menyadari seseorang telah merangkul erat bahu kecilnya. Terasa hangat. Dan wajah Dafa yang sedang tersenyum langsung memenuhi pengelihatannya. "Mau makan ya?" Tanya Dafa yang dihadiahi anggukan singkat dari Hana. "Terus kenapa diem aja?" Tanya Dafa kembali. "Liat aja,kantinnya penuh begitu." Jawab Hana malas. "Ayo makan sama gua aja..." ujar Dafa mengiringi langkah Hana dengan rangkulan erat di bahu gadis itu. *** "Ngerasain kan lo rasanya jadi Hana gimana?" "Sekarang tau kan sakitnya kayak apa?" Ucapan Amoy bagai pelengkap lukanya kala melihat Hana terlihat nyaman di rangkulan Dafa. *** Halah, Abra bisa apa sih buat Hana. Palingan bentar lg putus. Terus nyesek sendiri liat Hana sama Dafa... Ehhh...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD