Sebelas

1997 Words
Happy Reading. * Aliya terbangun saat jam masih menunjukkan pukul tengah malam tepat. Menghela nafas pelan dan melirik samping dimana ada Ji Hyun yang masih tertidur pulas disampingnya. Mengusap kepala anaknya dengan sayang dan perlahan kembali berbaring. Aliya tidur dengan menggenggam jemari kecil Ji Hyun yang saat ini sudah berusia 5 tahun. Wajah Ji Hyun yang sangat mirip dengan Jimin membuat Aliya tidak akan pernah melupakan suaminya. Tidak sedetikpun dalam hidupnya Aliya melupakan Jimin. Bayangkan wajah Jimin selalu menghiasi harinya, bahkan setiap hari Aliya selalu bertemu Jimin dalam mimpi. Ingatan itu selalu muncul dan selalu membuat Aliya terus merasakan penyesalan yang teramat besar. Bagaimana wajah Jimin yang menatap lembut kearahnya tidak akan pernah bisa lepas dari otak Aliya. "Kau terlalu jahat padaku Jim" Aliya mencium jemari pendek Ji Hyun dengan lembut dan kembali memejamkan matanya. Malam masih terlalu panjang untuk dilewatkan begitu saja. * "Noona Hyunie mau pergi kekelas sendiri" Ji Yeon menatap datar sang adik yang merengek ingin pergi kekelas sendiri. Sekolah Ji Yeon dan Ji Hyun memang sama, hanya saja Ji Yeon sudah menduduki bangku sekolah dasar tingkat 4 dan Ji Hyun masih TK. "Apa kau lupa pesan Eomma?" Tanya Ji Yeon yang terus menarik tangan sang adik kelasnya. "Tapi aku sudah besar Noona dan aku juga seorang Namja, jadi Noona tidak perlu khawatir denganku terus. Aku tidak akan tersesat" Ji Yeon mengabaikan ucapan sang adik dan terus melanjutkan langkahnya. "Noona~~~" Ji Yeon melirik tajam kearah Ji Hyun dan sontak Ji Hyun menunduk takut. Ji Hyun sangat takut dengan tatapan tajam sang kakak. "Turuti perintah Eomma dan jangan suka membantah. Jika Eomma bilang kau harus diantar itu artinya harus dan kau tidak perlu merengek ingin pergi sendiri. Belajarlah jadi anak yang patuh pada ucapan orang tuanya Park Ji Hyun" sepanjang jalan menuju kelasnya Ji Hyun hanya mampu menundukkan kepalanya setelah mendengar ucapan ketus sang kakak. "Hyunie tidak suka dengan Noona yang ketus" Ji Yeon menghentikan langkahnya saat mendengar ucapan lirih sang adik. "Noona minta maaf. Tapi jangan jadi pembangkang lagi" Ji Hyun mendongak menatap mata sang kakak dengan lembut dan mengangguk. "Tapi Noona jangan terlalu ketus" Ji Yeon tersenyum dan meneruskan langkahnya. "Nanti jika sudah selesai tunggu Noona didepan kelasmu nde?" "Nde Noona" * Aliya diam mengamati kepadatan jalan Seoul yang semakin menjadi. Macet dimana-mana dan pasti akan berlangsung lama. "Aliya" Aliya tidak berbalik saat mendengar panggilan dari belakang. "Wae Eonni?" Tanya Aliya tanpa mengalihkan pandangannya pada luar. "Mobil Ahjuhsi Nam mogok dan tidak ada yang menjemput anak-anakmu. Kau mau menjemput mereka atau aku yang menjemput mereka?" Tanya Lisa. "Aku yang akan menjemput mereka" ujar Aliya dan berbalik lalu meraih kunci mobil dan berjalan keluar, sementara Lisa hanya mampu menghela nafas pasrah menghadapi kedinginan sifat Aliya. "Kenapa semua harus terjadi" Lisa melirik dinding samping dimana ada foto Jimin yang terpajang disana. "Kau terlalu gegabah Oppa" gumam Lisa dan berlalu dari ruangan Aliya. * Ji Hyun mengayunkan kakinya dengan lambat dikursi tunggu jemputan depan sekolah. Ji Hyun memang sudah keluar dulu karena dia masih TK sementara Ji Yeon sedikit lama karena sudah ada di bangku sekolah dasar. Tadi Ji Yeon berpesan padanya untuk menunggu di depan kelas tapi Ji Hyun tidak mau karena bosan. "Huh Noona sangat lama" kadang Ji Hyun bosan jika disuruh menunggu Ji Yeon terus tapi Ji Hyun tidak punya pilihan lain. "Hei~~~" Ji Hyun mendongak saat mendengar suara lembut yang menyapanya. "Oh paman Taxy wae?" Tanya Ji Hyun yang mengenal orang yang menyapanya. Itu adalah paman Taxy yang pernah Ji Hyun berikan permen saat teman sekolahnya berkata kasar pada paman Taxy dulu. Ji Hyun yang melihat wajah sedih paman Taxy menjadi tidak tega dan akhirnya memberikan permen yang ia dapatkan dari kembalian uang jajan. Dan paman Taxy sering menyapanya sejak itu. "Masih menunggu Kakakmu?" Ji Hyun mengangguk pelan dan kembali menunduk. "Bosan?" Ji Hyun hanya mengangguk lagi sebagai jawabannya. "Mau paman antar pulang?" Ji Hyun menggeleng. "Takut kena marah?" Ji Hyun mengangguk. "Aigoo kau tidak bisa menjawab pertanyaanku selain anggukan dan gelengan?" Ji Hyun kembali menggeleng. "Ah aku tau, kau pasti paparkan?" Ji Hyun mendongak dan memasang muka memelas dan mengangguk. "Sudah kuduga. Ini aku punya ubi manis, kau mau?" Ji Hyun mengangguk antusias. Ia memang suka ubi manis sama seperti ayahnya. "Wah paman tau kesukaan Hyunie" ujar Ji Hyun antusias dan mengambil ubi dari tangan paman Taxy. "Cepat makan" Ji Hyun mengangguk dan memakannya. "Pelan-pelan. Aku tidak akan minta ubi-mu" Ji Hyun hanya menunjukan cengiranya dan kembali memakan ubi-nya. "Paman tidak makan?" Tanya Ji Hyun dengan mulut penuh ubi. "Tidak" "Wae?" Tanya Ji Hyun ingin tahu. "Bosan" Ji Hyun hanya ber-oh ria dan kembali memakan ubi-nya. "Kenapa paman selalu memakai topi?" Tanya Ji Hyun yang terus melihat paman Taxy menggunakan topi dan pakaian tertutup. "Kepalaku botak" jawaban itu membuat Ji Hyun tertawa dengan keras. "Itu artinya paman sudah tua" ejek Ji Hyun dan menyelesaikan makanannya. "Sudah paman. Gumawo nde" ujar Ji Hyun. "Hem. Minumlah, aku akan kembali bekerja dan kau tunggulah kakakmu, dia pasti akan segera keluar. Aku pergi" Ji Hyun menerima air yang diberikan paman Taxy dan melambaikan tangannya pada paman Taxy. "Hati-hati paman" teriak Ji Hyun keras. "Huh andai Appa masih hidup pasti akan sangat baik seperti paman Taxy. Aish apa yang kau fikirkan Park Ji Hyun, kau sudah punya Eomma dan Noona. Itu sudah cukup oke?" Ji Hyun membuka botol air mineral yang ada ditangannya dan meminumnya. "Hyunie kenyang" * "Tidak mau" Aliya menatap aneh sang putra yang baru menyuarakan keinginannya. "Wae Hyunie?" Tanya Aliya meminta penjelasan. "Hyunie mau dirumah saja. Lagi pula ada Ahjumma Dong yang akan menjaga Hyunie, Eomma antarkan Noona saja" jawab Ji Hyun yang tidak mau dititipkan dirumah Lisa. Aliya harus mengantar Ji Yeon ke Jepang untuk kompetisi pelajar tingkat sekolah dasar dan Ji Hyun tidak ikut. "Tapi Hyunie~~~" Ji Hyun tetap menggeleng dan membuat Aliya menghela nafas. Ji Hyun sangat keras kepala, mirip dengan sang ayah dan Aliya tidak akan bisa menolak keinginan sang bungsu. "Baiklah tapi Hyunie jangan nakal nde?" Ji Hyun mengangguk pelan. "Yakin tidak mau kerumah Bibi Lisa?" Ji Hyun mengangguk saat Ji Yeon kembali bertanya padanya. "Noona pergi saja. Hyunie baik-baik kok dirumah" yakin Ji Hyun dengan imut. "Yasudah jika itu mau Ji Hyun" pasrah Aliya yang mengalah. * "Eomma memikirkan Hyunie?" Tanya Ji Yeon menatap sang ibu. "Tentu saja sayang! Eomma takut jika adikmu berbuat ulah dan merepotkan Ahjumma Dong" jawab Aliya. Mereka ada dihotel dan kompetensinya diadakan besok. "Lalu Eomma mau apa?" Tanya Ji Yeon. "Huh biarkan saja. Kajja kita jalan-jalan dan beli oleh-oleh untuk adikmu. Besok setelah kompetisi kita langsung pulang saja nde? Eomma tidak mau meninggalkan adikmu lama-lama?" Ji Yeon mengangguk. Ia memang tidak mau terlalu lama di Jepang. Kasihan adiknya. "Kajja" * Ji Yeon dan Aliya membeli banyak oleh dan terus mengitari pusat perbelanjaan di Jepang. Setelah makan dan kesalon Aliya dan Ji Yeon meneruskan perjalanannya ke toko mainan. Mereka tidak lupa dengan kesukaan Ji Hyun. "Eomma berikan Ji Hyun mobil-mobilan saja" Aliya mengangguk dan meraih beberapa mobil mainan untuk sang putra. "Eomma Yeon ke sana dulu nde?" Pamit Ji Yeon yang minta ijin ke stand robot-robotan. "Jangan jauh-jauh dari Eomma tapi" Ji Yeon mengangguk dan menuju stand robot-robotan. Ji Yeon mulai melihat-lihat mainan yang cocok untuk adiknya dan saat matanya tidak sengaja melihat keseberang, dan melihat siluet yang begitu mirip dengan seseorang. "Hyunie?" Ji Yeon mengusap matanya, memastikan jika penglihatannya tidak salah. Dan terus dilihat itu benar-benar mirip sang adik. "Hyu~~~" "Yeon-ah" Ji Yeon tersentak saat pundaknya ditepuk oleh Aliya. "Eomma" panggil Ji Yeon terkejut. "Kau melihat apa sayang?" Tanya Aliya ingin tau. "Yeon seperti melihat Hyunie, Eomma" Aliya mengikuti arah pandangan sang putri tapi tidak melihat orang yang dimaksud mirip dengan Ji Hyun. "Tidak ada Sayang. Mana ada adikmu disini, dia kesini dengan siapa? Dan untuk apa kesini? Mungkin itu bukan Hyunie. Hanya mirip mungkin" Ji Yeon mengangguk pelan. Mungkin itu memang bukan sang adik tapi orang yang mirip adiknya. "Yasudah. Eomma sudah selesai?" Aliya mengangguk. "Kembali ke Hotel nde? Yeon capek" Aliya mengangguk dan menarik tangan Ji Yeon untuk keluar dari sana. * Kompetisi Ji Yeon berjalan lancar dan Ji Yeon juga mendapat juara. Walau hanya juara 2 setidaknya Ji Yeon pulang membawa kemenangan. Aliya memeluk erat Ji Yeon dan mengucapkan selamat. "Kau hebat sayang" Ji Yeon tersenyum malu dan memeluk Aliya kembali. "Ini juga karena Eomma" Aliya melepaskan pelukannya dan mengusap sayang pipi Ji Yeon. "Anak Eomma memang pandai" puji Aliya dan berdiri saat beberapa peserta lain memberikan ucapan selamat pada Ji Yeon. "Ini untuk Nona Ji Yeon" Aliya mengerutkan dahi bingung saat ada yang memberikan bunga mawar merah pada Ji Yeon. Bukan bunganya yang membuat Aliya bingung tapi bahasa yang digunakan orang itu. Disini Jepang dan bagaimana orang tersebut menggunakan bahasa Korea. "Anda dari Korea?" Tanya Aliya. "Nde Nyonya. Saya dari Korea dan tidak sengaja melihat putri anda mendapatkan juara. Anggap ini sebagai apresiasi saya" Aliya menatap curiga kearah laki-laki tersebut. "Dari mana anda tau jika Ji Yeon putri saya?" Tanya Aliya yang menarik Ji Yeon kebelakangnya. "Ah itu~~~" Aliya semakin curiga saat laki-laki itu terlihat gugup. "Anda siapa?" Tanya Aliya menatap tajam mata laki-laki itu. "Ah saya permisi Nyonya" laki-laki itu langsung berlari menghindari cecaran pertanyaan Aliya. "Eomma siapa dia?" Aliya menggeleng tidak tau. "Entahlah Eomma juga tidak tau. Kita pergi sayang. Pesawatnya akan take off satu jam lagi dan tidak perlu fikirkan laki-laki tadi" Aliya menarik Ji Yeon untuk keluar dari sana dan membawanya menjauh. Sepeninggalan Aliya dan Ji Yeon orang yang memberikan bunga tadi terlihat menunduk takut. "Dasar bodoh" * Ji Yeon diam dikursi tunggu bandara sendirian. Aliya sedang ada di toilet dan Ji Yeon menunggu disini sampai Aliya kembali. Pesawatnya akan berangkat sebentar lagi dan mereka sudah check in. Ji Yeon menyapukan pandangannya ke sekitar bandara dan membulatkan matanya saat melihat siluet orang yang ia yakini adiknya. "Hyunie?" Ji Yeon turun dari kursi dan menghampiri orang yang ia yakini adalah adiknya. Ji Yeon semakin mendekatinya dan saat sampai dibelakang orang tersebut Ji Yeon menepuk pundaknya. Dan mata Ji Yeon membulat sempurna saat melihat siapa orang itu. "Noona~~~" Ji Yeon menatap tidak percaya pada sang adik yang tengah berdiri didepannya. "Hyunie? Kau disi~~~" "Hyunie kajja" Ji Yeon menghentikan ucapannya saat mendengar suara dari belakang. "Appa~~~" laki-laki itu, Park Jimin menjatuhkan Snack yang ia pegang karena melihat Ji Yeon yang ada didepan Ji Hyun. "Yeon-a~~~" "Sayang maaf~~~bukkk" Aliya menjatuhkan tas kecilnya saat melihat 2 orang yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Park Jimin dan Park Ji Hyun. Ke-4 nya bertemu dengan keadaan yang tidak disengaja dan tidak direncanakan. Takdir akan selalu membawa kebahagiaan bagi orang yang bersabar. * "Yeon-ah Appa mohon dengarkan Appa dulu" mereka ber-4 jadi tontonan bagi pengunjung bandara. Jimin memeluk Ji Yeon yang menangis dan Aliya hanya diam dengan posisi bisunya. "Appa jahat Hiks" Jimin mengeratkan pelukannya dan mengusap punggung Ji Yeon. "Maafkan Appa sayang. Appa takut Yeon akan membenci Appa lagi" kata Jimin. "Lalu dengan meninggalkan Yeon selama 5 tahun itu benar?" Jimin mengeratkan pelukannya dan mengucapkan kata maaf berulang kali pada Ji Yeon. "Maafkan Appa sayang" lirih Jimin dengan suara pelan. "Appa jahat~~~" * "Kau bohong padaku" Jimin membiarkan Aliya mengungkapkan apa yang ada di hati selama ini. Membiarkan Aliya menangis dan memukul dadanya. "Hiks kau jahat" setelah membawa ke-3 nya keluar dari bandara dan memenangkan Ji Yeon, Jimin harus berhadapan dengan Aliya. "Mianhae" pukulan Aliya perlahan melemah dan Jimin tau harus melakukan apa. Meraih Aliya dalam pelukannya dan mengusap lembut punggung Aliya. "Aku takut kau menolakku" lirih Jimin dan membuat Aliya semakin terisak. "5 tahun Jim? 5 tahun? Itu bukan waktu yang singkat" Isak Aliya dengan suara serak. "Aku tidak punya pilihan lain. Jisang masih mengincar nyawa anak-anak Aliya" kata Jimin akhirnya. "Setidaknya beritahu aku. Kau tau aku terus merasa bersalah karena menolakmu waktu itu" Isak Aliya. "Mianhae. Ini satu-satunya cara agar Jisang tau jika aku mati" Aliya masih saja menangis. "Tidak ada yang tau jika aku masih hidup bahkan keluargaku juga tidak" Aliya melepaskan pelukannya dan menatap Jimin meminta penjelasan. "Han Jaewon dialah yang membantuku selama ini" End. Nb = Han Jaewon part 8-9. Ada dua part lagi. Waiting this.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD