Dua belas

1517 Words
Happy Reading. * Full flashback. 5 year ago. Jimin berjalan disepanjang trotoar dalam diam. Entahlah setelah kepulangannya dari rumah sakit Jimin jadi linglung. Apalagi mengingat tentang surat cerai yang Aliya kirimkan membuat Jimin jadi semakin aneh. Jimin ingat masa lalunya, dan Jimin tidak tau harus melakukan apa setelah itu. Tapi yang Jimin tidak suka adalah kepergian Aliya secara tiba-tiba dan tidak memberinya kabar. Salah sendiri Jimin mengatakan kata-kata kasar saat melihat Aliya waktu itu. Tentu saja Aliya tidak akan pernah menemuinya lagi. Jimin merindukan Ji Yeon dan Aliya saat ini tapi Jimin takut jika mendapat pengusiran, seperti yang ia lakukan pada Aliya beberapa waktu yang lalu. Sibuk dengan jalannya Jimin tidak sadar jika dia menabrak rambu jalan dan membuat keningnya terbentur besi. Kepala Jimin jadi pusing apalagi dengan darah yang keluar dari keningnya. Tiba-tiba bayangan hitam melintas begitu saja diotaknya. "Aku mencintaimu" "Bawa Ji Yeon dulu" "Appa Yeon mau makan" "Appa jangan bilang Dongsaeng Yeon perempuan. Yeon mau laki-laki" "Jim ada Ji Yeon" "Appa ini bagaimana caranya?" "Jim jangan berjalan dulu" "Appa jangan berisik kalau tidur" "Mandi dulu sana. Kau bau" "Yeon mau peluk Dongsaeng. Appa jauh-jauh sana" "Kau mau apa? Jim jangan! Ada Ji Yeon yang tidur" "Eomma Appa nakal" "Kau sudah tua. Jangan seperti anak kecil" "Eomma Appa makan buah Yeon, huaa" "Oh please Jim. Ji Yeon akan marah nanti" "Appa crewet. Berisik lagi" "Yakh jangan tidur disitu" "Eomma, Appa bilang Yeon bau huaa" "Biarkan aku mandi dulu" "Appa yang jelek wlekk" "Temani Ji Yeon dulu. Nanti malam baru bersamaku" "Appa tangkap Yeon" "Aku mencintaimu Aliya Park Jimin. Sangat mencintaimu" "Aku juga mencintaimu Park Jimin" Nafas Jimin terdengar memburu saat semua ingatan itu berputar diotaknya secara acak. Itu mereka, Jimin, Aliya, Ji Yeon dan bayi dalam kandungan Aliya. Mata Jimin tiba-tiba memanas. Apa yang sudah ia lakukan? Ia menghancurkan keluarganya sendiri. Aliya? Ji Yeon? Bayinya? Kemana mereka? Air mata Jimin jatuh begitu saja. Ia melakukan kesalahan lagi. Aliya pasti terluka karena kata-katanya waktu itu dan Jimin tidak seharusnya berucap begitu kasar pada Aliya. Ji Yeon-nya? Bayinya? Aliya-nya? Tidak bisa. Jimin harus memiliki semuanya lagi. Mereka semua milik Jimin dan Jimin harus menemukan keluarganya di manapun keberadaan mereka. "Sayang maafkan Appa?" Jimin berucap begitu lirih dan memegangi dadanya. "Aliya kumohon maafkan aku. Aku melakukan kesalahan lagi" Isak Jimin yang mulai kehilangan kendali atas dirinya. "Aliya~~~" "Jimin-shi?" * Jimin menerjang Han Jaewon dengan kasar saat pria itu mengaku jika penyebab kecelakaan keluarganya dulu adalah Han Jaewon. Jimin tentu saja emosi, apalagi mengingat jika Ji Hoon putranya mati karena kecelakaan itu, Ji Yeon koma dan dirinya amnesia dan kembali melukai Aliya-nya. "Aku tau aku salah. Tapi aku ingin menebus semuanya. Dengarkan aku, Jung Jisang Hyung mengincar nyawa anak-anakmu dan ingin membawa Aliya pergi. Dia ingin membunuh anak-anakmu" tangan Jimin yang semula memegang kuat kerah baju Han Jaewon menjadi melemas. "Jung Jisang Hyung?" Tanya Jimin lirih. "Kau harus cepat. Nyawa keluargamu dalam bahaya. Ji Yeon dia mengincar Ji Yeon. Kumohon bergeraklah cepat sebelum Jisang Hyung melanjutkan langkahnya. Dan aku akan membantumu. Anggap ini sebagai permintaan maaf atas apa yang kulakukan padamu" * Atas bantuan Jaewon, Jimin menyusun semuanya termasuk scenario kecelakaan yang terjadi padanya. Tentu saja itu pancingan agar Jisang menjadi dalang lagi dibalik celakanya Jimin. "Kau yakin ingin menjadi umpan?" Jimin mengangguk yakin. Jika pun Jimin harus mati itu tidak menjadi masalah, ia ingin melihat keutuhan keluarganya walaupun itu tanpa kehadirannya. Keselamatan anak-anaknya dan Aliya adalah yang utama. Jisang harus dihentikan sekarang juga. "Tapi ini terlalu beresiko. Kau bisa tidak selamat" Jimin tersenyum miris dan menatap sendu foto keluarga kecilnya. "Apapun itu. Aku hanya ingin melihat keluargaku bahagia dan aman dari bahaya" Jimin sudah yakin atas keputusannya dan Jaewon hanya bisa pasrah. "Akan kupastikan Jisang masuk penjara dan aku akan berusaha menyelamatkan nyawamu" janji Jaewon pada Jimin. "Terima kasih" Jaewon mengangguk. "Kudengar anakmu sudah lahir. Dia laki-laki kan? Selamat kau jadi ayah lagi" Jimin tersenyum lembut menatap foto bayi mungil yang ia ketahui adalah anak keduanya dengan Aliya. Baru saja dilahirkan dan terlihat sangat mirip denganya. Anaknya sangat tampan dan menggemaskan. Jimin tidak kuasa menahan air matanya saat melihat wajah Aliya dan Ji Yeon yang begitu bahagia. "Maafkan Appa Hyunie. Appa janji akan melindungi Noona dan Eomma. Tumbuh dengan baik dan jadilah pelindung untuk Noona dan Eomma. Appa menyayangimu. Baik-baik nde?" Jaewon menepuk pelan pundak Jimin. "Dia pasti akan mirip denganmu" * Yang diperkirakan Jaewon terjadi, keduanya berangkat ke Thailand untuk menemui Aliya dan Ji Yeon. Jimin datang menemui Ji Yeon dulu. Awalnya Jimin sedikit tidak rela saat Ji Yeon terang-terangan menolaknya, Jimin tentu saja merasa sangat menderita apalagi dengan Aliya yang benar-benar menutup pintu maaf untuknya. Tapi ini harus tetap bertahan. Ia harus memancing Jisang. Semuanya berjalan sesuai rencana dan Jaewon masih mengamati semuanya dari jauh dan tepat saat Jimin berdiri ditengah jalan Jisang langsung menjalankan rencana iblisnya. Jimin benar-benar tertabrak tapi ada yang seharusnya tidak terlihat disini. Tidak seharusnya Aliya dan Ji Yeon melihat semuanya. Jimin tidak mau Aliya merasa bersalah atas apa yang ia lakukan tapi percuma semua sudah terjadi. Jimin tidak tau apa yang terjadi setelah kecelakaannya. Saat Jimin membuka matanya pertama kali hanya ada Jaewon disampingnya. Jaewon menceritakan semuanya termasuk perbuatan Jaewon yang merekayasa kematian Jimin karena Jisang tidak berhasil tertangkap polisi karena melarikan diri. "Berapa lama aku koma?" Tanya Jimin dengan suara lirih. "2 tahun" Jimin membatu. Selama itukah dirinya tidak sadar? Bagaimana kondisi keluarganya? "Keluargamu aman. Sekarang kau harus sembuh dulu. Dan kita harus menangkap bajingan itu" Jimin mengangguk yakin. Ia harus sembuh untuk membunuh Jisang. Bajingan itu harus mati ditangannya. "Pulihkan kondisimu. Dan ya kufikir kau rindu keluargamu. Aku membuatkan album ini. Setidaknya ini akan mengobati rindumu pada keluarga kecilmu" Jaewon menyerahkan Album dengan bingkai mawar pada Jimin. Isinya foto keseharian Aliya, Ji Yeon dan Ji Hyun. "Aku akan menemui dokter untuk terapimu" "Gumawo Jaewon-ah" ujar Jimin tulus dan membuat Jaewon tersenyum. * Jimin menjalani terapi selama 6 bulan dan benar-benar sembuh saat itu. Tapi Jimin tidak bisa langsung kembali pada keluarganya. Setelah melakukan banyak hal akhirnya mereka menemukan Jisang yang bersembunyi di Swedia. Cukup lama mereka menemukan Jisang, butuh waktu 1.5 tahun dan dalam kurun waktu itu Jimin hanya puas melihat keluarga kecilnya dari jauh. Menemukan Jisang, Jimin tidak langsung membawanya kekantor polisi. Jimin tentu balas dendam atas apa yang dilakukan Jisang pada keluarganya. Jika saja tidak ada Jaewon mungkin Jisang sudah mati ditangan Jimin. "Biarkan bajingan itu dibunuh polisi. Jangan kotori tanganmu" Jimin menetralkan nafasnya dan menatap benci pada Jisang yang sudah tidak berdaya karena terjangannya. "Temui keluargamu" kata Jaewon lembut pada Jimin. * Setelah menangkap Jisang saat itu Jimin tidak punya keberanian untuk bertatap muka langsung dengan keluarganya. Ia takut ditolak lagi dan Jimin memilih mengawasi mereka dari jauh dan menyamar sebagai supir Taxy. Jimin hanya berani muncul didepan Ji Hyun karena Ji Hyun tidak pernah menemuinya secara langsung dan Ji Hyun juga tidak pernah mendengar suaranya. Berbeda dengan Ji Yeon yang sudah pernah hidup dengannya. Jimin pastikan menyamarannya akan langsung terbongkar saat itu juga. Jimin berhasil dekat dengan Ji Hyun walaupun harus memakai penyamaran yang cukup rumit. Setidaknya ia bisa berbicara dengan putranya. Sebenarnya penyamaran Jimin tidak akan ketahuan jika Ji Hyun tidak dengan berani membuka topinya. Saat itu Ji Hyun masih menunggu jemputan karena Aliya dan Ji Yeon pergi ke Jepang. Jimin datang menemui putranya dan saat memberikan ubi manis pada Ji Hyun seperti biasa, justru Ji Hyun menarik topinya dan membuangnya begitu saja. Jimin kaget dan hampir saja lari tapi Ji Hyun lebih dulu berteriak dan memanggilnya dengan menangis. Jimin tertangkap, dan Jimin tidak bisa lari. Yang Jimin lakukan tentu saja menatap bersalah pada Ji Hyun dan memeluk erat putranya. Jimin semakin merasa bersalah saat putranya terus menangis dan merancau jika merindukannya, apalagi dengan kejujuran Ji Hyun yang bilang jika Ji Yeon dan Aliya selalu menangisi Jimin. "Maafkan Appa Hyunie" lirih Jimin yang masih memeluk Ji Hyun yang menangis. "Appa tidak sayang pada Hyunie?" Jimin melepaskan pelukannya dan mengusap sayang pipi chubby Ji Hyun yang sebab karena menangis. "Jangan katakan itu sayang. Appa sangat menyayangi Hyunie. Hanya saja Appa takut" jelas Jimin lembut. "Jangan tinggalkan Hyunie" Jimin kembali memeluk Ji Hyun dan menggeleng keras. "Tidak akan" keduanya larut dalam romansa ayah dan anak dan tidak sadar jika Lisa serta Taehyung melihat semuanya. "Jimin Oppa" semuanya terbongkar dan Jimin tidak punya pilihan lain selain jujur. Setelah semuanya tau, Jimin membawa Ji Hyun ke Jepang untuk melihat Ji Yeon kompetisi. Saat itu Ji Hyun-lah yang dilihat Ji Yeon tapi Jimin lebih dulu sadar dan menarik Ji Hyun menjauh dari Ji Yeon. Jimin juga yang memberikan bunga pada Ji Yeon saat itu, hanya saja Jimin menyuruh orang lain. Dan saat dibandara sebenarnya Jimin tidak merencanakan pertemuan mereka. Ji Hyun merengek ingin Snack dan Jimin tidak bisa menolaknya. Meninggalkan Ji Hyun sebentar dan membeli Snack tapi justru Ji Yeon melihat adiknya. Ji Yeon melihat Ji Hyun, Jimin tidak sengaja menemukan keduanya bersama dan Aliya menemukan mereka bertiga. Ketiganya bertemu tanpa rencana dan memang sudah takdir yang membawa mereka bertemu. Dan tidak akan pernah ada yang menang melawan takdir. Semuanya harus memulai awal baru tanpa bayangan gelap dan kebencian. Hanya akan ada masa depan yang cerah saat ini. Tbc.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD