Tiga belas

1741 Words
Happy Reading. * "Gumawo Jaewon-shi" ujar Aliya tulus pada Jaewon. Jimin menceritakan semua kebenaran tentang kejadian 5 tahun yang lalu dan Aliya harus berterima kasih kepada Jaewon. Walaupun Jaewon ikut terlibat dalam kecelakaannya dulu tapi Jaewon sudah menyelamatkan nyawa anak-anaknya. "Senang bisa membantu Aliya-shi. Tapi jika kau ingin memenjarakan ku atas kejadian dulu maka aku akan terima" kata Jaewon yang tidak melupakan kejadian dulu. "Tidak Jaewon-shi. Kau sudah menyelamatkan nyawa suami dan anak-anak ku dan itu lebih dari cukup untuk membalas semua itu. Lagi pula kau hanya mengikuti rencana Jisang. Kau hanya alat" kata Aliya lembut. "Gumawo Aliya-shi" Aliya mengangguk sambil tersenyum dan melirik kearah Jimin. "Bagaimanapun terima kasih Jaewon-ah" kata Jimin lembut dan Jaewon hanya tersenyum. "Kalian mau mengantar ku kebandara?" Aliya dan Jimin tertawa mendengar pertanyaan Jaewon. "Sepertinya kita cocok menjadi teman" kekeh Jimin dan membuat Jaewon terbahak. "Baik-baik kita teman" * "Appa~~~" Ji Hyun terus merengek pada Jimin yang tengah sibuk memejamkan matanya. Ji Hyun ingin pergi ke rumah Lisa dan Jimin tidak mau mengantar. Aliya dan Ji Yeon pergi ke supermarket dan hanya Jimin dan Ji Hyun yang ada dirumah. "Hyunie mau apa kerumah Bibi Lisa?" Tanya Jimin tanpa membuka matanya. "Main dengan Daniel" jawab Ji Hyun polos. "Tunggu Eomma dan Noona pulang dulu nanti Hyunie pergi dengan Noona" Ji Hyun menggeleng tidak mau. Ia ingin sekarang mainnya. "Ayolah Appa" Ji Hyun terus merengek dan Jimin hanya menghela nafas pasrah. Ji Hyun akan sangat memaksa jika punya keinginan. Persis sepertinya, hah kenapa Ji Hyun juga meniru sifatnya yang ini. Kenapa Ji Hyun tidak menuruni sikap Aliya saja. Mereka kembali satu rumah dan Jimin jujur mengenai semuanya pada keluarganya. Taeyeon langsung menangis dan memeluk Jimin saat itu. Bahkan Jimin masih ingat semua wajah kaget keluarganya. Tapi semuanya sudah berlalu dan saatnya mereka memulai kehidupan yang baru. "Kita pergi ke Minimarket dekat sini nde? Appa belikan Hyunie Snack" tawar Jimin dan masih juga tidak mempan untuk membujuk putranya. Ya Tuhan Park Ji Hyun kenapa kau sangat keras kepala. "Appa tidak sayang Hyunie" ujar Ji Hyun cemberut dan membelakangi Jimin, melihat tingkah putranya Jimin hanya menghela nafas pelan dan memijat keningnya pelan. "Oke-oke kita pergi kerumah Daniel" kata Jimin yang mengalah akan keinginan putranya. Sontak Ji Hyun langsung mengangkat wajahnya dan menatap berbinar kearah Jimin. "Yeh Appa baik. Hyunie sayang Appa" teriak Ji Hyun dan melompat kepelukan Jimin. Sontak Jimin menangkapnya. "Awas nanti jatuh" peringat Jimin dan hanya mendapatkan cengiran dari Ji Hyun. "Tidak akan. Appa let's go" * "Eomma~~~" Ji Hyun kaget saat melihat Aliya dan Ji Yeon yang ada dirumah Lisa. "Sayang kau disini?" Tanya Aliya yang meraih Ji Hyun dalam gendongannya. "Eomma kesini?" Tanya Ji Hyun bingung. "Noona-mu ingin menemui Bibi Lisa" jawab Aliya pelan. "Noona Eodisoyeo?" Tanya Ji Hyun sambil celingak-celinguk. "Kamar sayang. Hyunie mau menyusul?" Tanya Aliya yang masih sibuk dengan Ji Hyun dan hanya melirik Jimin yang masih diam ditempat. "Daniel?" Tanya Ji Hyun. "Dikamar juga" Ji Hyun langsung meringkus turun dari gendongan Aliya dan berlari menuju kamar Lisa. Ji Hyun mau ikut Noona, Daniel, dan Bibi Lisa. "Kenapa tidak bilang mau kesini?" Tanya Jimin yang meraih Aliya dalam pelukannya. "Diluar rencana Jim. Ji Yeon langsung ingin kesini setelah selesai belanja" jawab Aliya yang melepaskan pelukan Jimin. "Aku akan kekamar untuk tidur. Paling-paling anak-anak akan minta menginap. Taehyung Oppa tidak pulang hari ini" ujar Aliya dan menuju kamarnya sontak Jimin mengikutinya. Tidak ada untungnya juga diam disini sendiri. Enak juga bersama istrinya. * "Aku masih tidak mengerti bagaimana Jisang bisa tergila-gila padamu?" Tanya Jimin yang masih penasaran akan keinginan Jisang. Jaewon memang menceritakan semuanya tapi Jimin masih belum mengerti kemana fikiran Jisang hingga bisa tergila-gila pada Aliya. "Aku sendiri tidak tau. Aku merasa tidak pernah mengenal Jisang sebelumnya" Jimin hanya diam dan menatap luar jendela dengan pandangan yang masih tidak mengerti. "Bukankah kalian dulu berteman?" Tanya Aliya yang mengingat perkataan Taehyung waktu itu. "Memang tapi Jisang tidak pernah terbuka tentang kehidupan pribadinya pada kami. Dia lebih cenderung pendiam" jawab Jimin. "Hah sudahlah akan tidak selesai jika kita terus membahas Jisang. Lagi pula dia sudah dipenjara dan aku tidak mau mengingat apapun tentang masa lalu yang kelam dan sekarang aku ingin dengar ceritamu tentang surat itu" ujar Aliya yang menatap tajam Jimin. Surat perpisahan yang membuat Aliya tidak berhenti menangis dan terus merasa bersalah jika membacanya. "Huh kepalaku pusing" keluh Jimin dan membuat Aliya semakin tidak mau mengalah akan keinginannya. "Tidak boleh kau harus cerita. Apa maksudnya itu dan apa maksudmu dengan tidur didepan kamarku? Lalu mencuri sarapan setiap pagi? Apa arti semua itu?" Tuntut Aliya yang tidak terbantahkan. Jimin harus menjawab semua pertanyaannya sekarang. "Baik-baik aku akan menjawabnya sekarang" pasrah Jimin dan membuat Aliya langsung menatap lurus kearah Jimin. "Jadi begini~~~~" Aliya menjadi pendengar yang baik saat Jimin terus bercerita. Dan saat Jimin bercerita Aliya hanya mampu menutup mulutnya tidak percaya. Kebenaran disampaikan Jimin membuat Aliya tidak mempercayainya sama sekali. Park Jimin yang terkenal egois dan arogan bisa merasakan hal seperti itu. Dan Aliya tidak menyadari hal itu sama sekali. "Lalu kenapa kau mau menggugurkan kandunganku saat itu?" Tanya Aliya yang ingat pertengkaran mereka waktu itu. "Aku hanya tersulut emosi saat kau menuduhku. Aku bisa menerima Ji Yeon dan kenapa aku tidak bisa menerima Ji Hoon? Kuakui saat kau hamil Ji Yeon aku masih gila dan belum bisa menerima semuanya. Apalagi dengan kabar tentang Seulgi Noona, aku jadi berandalan dan tidak punya aturan. Tapi setelah Ji Yeon lahir pikiranku berubah dengan hatiku. Aku ingin memulai semuanya dari awal tapi aku takut kau tidak mau" jawab Jimin sambil menerawang jauh kedepan. "Aku memang belum jadi suami dan ayah yang baik. Tapi aku ingin berusaha, tapi kau justru menyembunyikan kehamilamu saat itu, aku tentu tidak bisa menerimanya, apalagi dengan tuduhan yang kau lontarkan saat itu. Aku semakin tidak terkendali dan itu akibatnya" Aliya merasa bersalah pada Jimin. Ia juga salah disini, andai waktu itu Aliya tidak menyembunyikan semuanya pasti kejadiannya tidak akan serumit ini. "Mianhae" lirih Aliya dan membuat Jimin menatapnya. "Ini bukan salahmu. Lagi pula kau pasti tidak akan percaya padaku. Apalagi dulu aku terus ingin membunuh Ji Yeon dan kau hanya berjaga-jaga" kata Jimin dan menarik dagu Aliya untuk menatapnya. "Aku terlalu gegabah" Jimin menggeleng dan menarik Aliya dalam pelukannya. "Semua sudah berlalu Aliya dan kesalahan yang kau buat tidak sebanding dengan kesalahan yang kubuat. Aku jauh lebih bersalah, bajingan dan brengsek. Jadi berhenti merasa bersalah. Semuanya sudah selesai dan kita akan hidup bahagia bersama anak-anak" kata Jimin lembut dan membuat Aliya mengangguk. "Kumohon jangan minta aku pergi?" Mohon Jimin dengan suara pelan. "Tidak akan" tegas Aliya dan mengeratkan pelukannya. Aliya tidak akan egois lagi, anak-anaknya membutuhkan Jimin dan Aliya sendiri mencintai Jimin. Semua sudah jelas dan tidak perlu ada yang didebatkan. Mereka sudah lama menderita dan saatnya mereka bahagia. Jimin, Aliya, Ji Yeon dan Ji Hyun. Semua harus bahagia. "Jangan sembunyikan apapun dariku" punya Aliya lembut. "Tidak~~~" "Eomma~~~" perkataan Aliya terhenti karena mendengar teriakan yang Aliya yakini adalah dari Ji Hyun. "Dia sangat mirip denganmu" kekeh Aliya dan melepaskan pelukan Jimin lalu menuju pintu. Ji Hyun masih belum sampai untuk meraih knop pintunya. Ji Hyun pendek sama seperti Jimin. "Appa~~~" "Sebentar Hyunie" * "Tidak Appa bintang lebih cantik" kekeh Ji Hyun yang menatap tajam Jimin sementara Aliya dan Ji Yeon hanya diam melihat ayah dan anak yang sibuk berdebat. Malas meladeni dua bocah yang tidak mau mengalah satu sama lain. Jimin paling parah, masa tidak mau mengalah dengan anaknya sendiri. Mereka tidur dalam satu kamar, Ji Hyun ada disamping Aliya dan Ji Yeon ada disamping Jimin. Keduanya ditengah dan Aliya, Jimin dipinggir. Keduanya sibuk membicarakan bintang dan bulan, membandingkan mana yang lebih cantik. Jimin memilih bulan dan Ji Hyun memilih bintang. Keduanya sama-sama tidak mau mengalah dan berakhir berdebat. "Bulan lebih terang Hyunie" kata Jimin yang masih tidak mau mengalah. Dan Aliya jadi jengkel sendiri, kenapa Suaminya yang menyebalkan ini masih terus membahasnya? Tidak bisakah Jimin mengalah sekali saja pada anak mereka? "Ish bulan hanya ada satu, bintang lebih banyak pasti keterangannya melebihi bulan" Ji Yeon juga kesal dengan adiknya. Tidak bisakah Ji Hyun diam dan berhenti membahas bintang? Ji Yeon benar-benar sudah bosan. "Po~~~" "Jika kalian masih ingat berdebat lebih baik keluar kamar. Eomma dan Noona mau tidur" kesal Ji Yeon yang membuat Jimin dan Ji Hyun bungkam. Ji Yeon akan sangat mengerikan jika marah dan keduanya tidak mau kena amukan Ji Yeon. "Kau tidur samping Appa, Noona mau peluk Eomma, sana" Ji Yeon bangkit dari posisi tidurnya dan menarik Ji Hyun untuk tidur disampingnya Jimin. "Awas jika berisik" ancam Ji Yeon dan memeluk Aliya, sedangkan Aliya hanya bisa membalas pelukan Ji Yeon dan ikut memejamkan matanya. "Appa sih. Lihatlah Noona jadi menyebalkan lagi" kesal Ji Hyun yang menyalahkan Jimin. Jimin sendiri tidak terima disalahkan begitu saja. "Enak saja Appa. Kau yang salah Hyunie" Ji Hyun menatap jengkel kearah ayahnya. "Dasar Appa tidak peka. Tidak mau mengalah dengan anaknya sendiri. Huh dasar orang tua" kesal Ji Hyun yang menunggungi Jimin. "Mwo kau bilang a~~~" "Ehem~~~" Jimin menghentikan ucapannya saat mendengar deheman keras Aliya. Apalagi tatapan tajam itu. Huh Jimin tidak mau kena amukan Aliya. Ia masih ingin melihat pagi besok. "Aku tidur oke?" Kata Jimin takut dan langsung memejamkan matanya. "Dasar" kesal Aliya yang mengusap lembut dahi Ji Hyun. Jimin akan terus berdebat jika tidak dihentikan. Sikap Jimin yang sedikit kekanak-kanakan kadang membuat Aliya jengkel dan kesal tapi bagaimanapun juga Jimin tetap suaminya. Dan Jimin sudah banyak berkorban untuk mereka. Aliya bersyukur saat Tuhan masih begitu baik pada mereka. Menyelamatkan Jimin dan mempertemukan mereka. Aliya tidak tau apa yang terjadi jika Jimin benar-benar tidak selamat waktu itu. Tapi sudahlah semua sudah berlalu dan mereka akan memulai kehidupan baru yang bahagia. "Jalja" lirih Aliya dan mengusap pipi Jimin tapi saat akan menarik tangannya justru ditarik oleh Jimin. "Kiss~~~" Aliya tersenyum dan mendekatkan wajahnya pada Jimin tapi saat sampai pada bibir Jimin, Aliya tidak menciumnya. "Cium Ji Hyun saja. Oke" Bisik Aliya dan menjauhkan wajahnya. Sontak Jimin mendengus kesal. "Dasar" Jimin langsung membelakangi Aliya dan Aliya hanya terkekeh geli. "Dasar Childish" Goda Aliya yang mengusap lengah Jimin. Sepertinya Aliya harus terbiasa hidup dengan sikap manja Jimin. "Aku mencintaimu Jimin jelek" ujar Aliya pelan dan memejamkan matanya untuk tidur. "Aku juga mencintaimu sayang" balas Jimin yang masih bisa didengar oleh Aliya dan reaksinya tentu saja tersenyum. Sepertinya hidup mereka akan penuh dengan warna. Park Jimin, Park Aliya, Park Ji Yeon dan Park Ji Hyun. Babak baru akan dimulai dan mereka akan benar-benar bahagia kali ini. "Appa Hyunie mimpi buruk Huaaaa~~~" "Hyunie, Noona mau tidurrrrr" End.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD