Empat

1460 Words
Happy Reading. * Aliya menggenggam erat tangan Ji Yeon kecil, bibirnya bergetar hebat menahan isak tangis yang siap meledak. Mana ada seorang ibu yang kuat melihat anaknya menderita, apalagi harus hidup dengan berbagai jenis peralatan medis yang menyangga hidupnya. Aliya benar-benar sudah tidak tahan dengan ini. "Yeon-ah tidak kah kau kasihan melihat Eomma? Dongsaengmu sudah pergi, apa kau juga mau ikut dia? Dan jika aku ikut dia, Eomma hidup dengan siapa? Hanya Yeon yang Eomma punya, dan Eomma mohon jangan tinggalkan Eomma" Aliya mengusap sayang dahi putrinya. "Biasanya orang yang berulang tahun akan dapat hadiah. Tapi saat ulang tahunmu kali ini maukan kau memberikan Eomma hadiah, dengan bangun dan membuka matamu lagi. Sama seperti dulu" lirih Aliya. "Hanya Yeon yang Eomma ingin lihat dan hanya Yeon yang Eomma rindukan. Bisakah Yeon bangun sekarang?" Aliya mencium lembut jemari kecil sang putri. Menatap sayu wajah Yeon yang terlihat semakin tirus. "Eomma akan menunggumu" Aliya menelusupkan kepalanya pada tangan mungil Ji Yeon dan mulai memejamkan matanya. * "Kau pasti membenci Appa?" Jimin tersenyum miris melihat pemkaman kecil yang ada didepanya. Chanyeol bilang ini makan dari janin Aliya yang mati karena kecelakaan itu dan Jimin tidak bisa menahan dirinya untuk tidak mendatangi makam dengan nama Park Ji Hoon itu. Bayi mereka laki-laki, Kyuhyun mengatakan jika janin itu laki-laki dan diberi nama Park Ji Hoon oleh Jungsoo. "Appa tidak melarangmu membenci Appa Aegi. Kau berhak membenci Appa-mu yang Bajingan ini. Kau tidak bisa melihat keindahan dunia ini juga karena Appa dan Appa telah mendapat hukuman yang setimpal. Eomma dan Noona-mu sangat membenci Appa dan Appa tidak marah akan hal itu. Appa memang tidak bisa mengingat apapun tapi hati kecil Appa selalu berkata bahwa Appa telah melakukan kesalahan yang besar dimasa lalu" Jimin menarik nafasnya panjang, menatap sendu makam anak keduanya ini. "Kasihani Appa Aegi, Appa belum siap kehilangan Eomma dan Noona-mu. Jangan bawa mereka, biarkan Appa menebus semua kesalahan Appa dulu. Appa menyesal dan ingin memperbaiki semuanya. Dan Appa mohon selamatkan mereka" * "Keluaarrr" Aliya berteriak saat Jimin memasuki ruang rawat Ji Yeon. "Kau tuli aku bila....greepp" Jimin menarik kasar tangan Aliya hingga tubuh mereka menempel. "Lepaasss" Aliya meronta dipelukan Jimin. Ia tidak mau berhubungan dengan Jimin lagi, ia sudah muak dengan semuanya. "Lepaskan aku Brengsekkk" Maki Aliya emosi. "Mianhae!" Isak Jimin. "Aku tidak peduli! Lepaskan aku!" Jimin mengeratkan pelukanya pada tubuh Aliya. Isak tangisnya juga semakin terdengar jelas. Jimin tidak peduli jika dikatakan lemah yang ia inginkan hanya menumpahkan apa yang ia rasakan selama ini. "Kau boleh membunuhku, tapi kumohon jangan memintaku pergi!" Aliya yang awalnya berontak jadi ikut terisak. Bahkan isakanya terdengar menggema diruangan Ji Yeon. Keduanya menangis menumpahkan apa yang mereka pendam selama ini. Kelelahan akibat penderitaan yang tidak habis mereka alami. "Aku minta maaf atas apa yang terjadi selama ini. Aku tidak tahu jika kau adalah istriku bahkan kebenaran tentang Ji Yeon dan Ji Hoon pun aku tidak tahu. Aku tidak tahu jika mereka semua merencanakan skenario ini untukku. Tapi aku yakin sekarang jika aku punya ikatan denganmu. Entah itu melalui anak kita atau status kita. Aku janji akan mencoba melupakan Lisa dan wanita dimasa laluku dan berusaha mencintaimu tapi kumohon jangan usir aku. Biarkan aku menemanimu menunggu Ji Yeon hingga sadar. Dan biarkan aku menjadi sanggahanmu jika kau lelah berdiri. Aku Mohon Aliya" tangis Aliya semakin keras mendengar ucapan Jimin. Sakit, hatinya sangat sakit. Mencoba bertahan dengan kebisuan bukan hal yang mudah. Dua kali hidup sebagai bayangan orang bukan hal yang mudah apalagi mengingat statusnya sebagai ibu dan anak. "Sakit Jim Hiks!" * Perlahan tapi pasti Aliya mulai menegakkan tubuhnya. Sinar mentari sudah naik dan jam juga sudah menunjukkan pukul 9 pagi. Aliya mengusap matanya saat masih merasa mengantuk. Matanya melirik samping dimana Jimin masih tidur nyaman dengan selimut sampai dada. Aliya menghela nafas dan hendak meringsut turun tapi tanganya lebih dulu ditarik oleh Jimin. "Mau kemana?" Tanya Jimin tanpa membuka matanya. "Mandi!" Jimin semakin mengeratkan pelukanya pada Aliya. "Lepas!" Kata Aliya "Tidak!" Tolak Jimin. "Aku harus menjaga Ji Yeon, Jim" kesal Aliya sambil mencoba melepaskan pelukan Jimin. "Ada yang lain!" Kata Jimin. "Park Jimin lepas. Atau kubunuh kau" desis Aliya yang mulai emosi. "Kau mau aku mati?" Kesal Jimin. "Iya jika kau tidak segera melepaskan pelukanmu ini" Jimin mendengus dan membuka matanya. "Kau mau apa?" Tanya Jimin. "Mandi!" Ketus Aliya. "Oke kita mandi bersama" Jimin menyingkap selimutnya dan memperlihatkan tubuh polosnya tanpa sehelaipun kain. Jimin mengangkat tubuh Aliya dengan ringan dan menuju kamar mandi. "Yakh kau gila!" Jimin hanya menunjukkan wajah datarnya dan meneruskan jalanya. "Jim Turun!" "Tidak!" * "Paman!" Aliya berlari masuk keruangan Ji Yeon saat melihat semua orang yang berada diluar ruangan Ji Yeon dengan wajah sebab. "Ji Yeon-ah!" Aliya mendekati Ji Yeon. Tubuh putrinya kejang hebat dan detak jantungnya tidak stabil. "Yeonnn-ahhh" Jimin memeluk Aliya erat saat melihat Kyuhyun menggunakan alat pemacu jantung untuk mengembalikan detak jantung Ji Yeon. "Jimmm!" Jimin mengeratkan pelukan pada Aliya saat Kyuhyun mulai menggunakan alat ti untuk Putrinya. "50 jeul" teriak Kyuhyun. "100, 150, 200" "Ji Yeon-ah Hiks! Eomma Mohon!" Isak Aliya. "Ji Yeonnnn" Tubuh Aliya limbung saat mendengar bunyi datar pada pendeteksi jantung Putrinya. "Paman!" Kyuhyun menggeleng lemah. "Ji Yeon-ah" sama dengan Aliya, Jimin juga limbung. "Maaf~~~" "Uisa detak jantungnya" Kyuhyun langsung siaga dan kembali mengambil alih Ji Yeon. "Jim bawa istrimu keluar" teriak Kyuhyun. "Paman!" "Keluar Jim!" Jimin segera menggendong Aliya keluar dari ruang Ji Yeon. "Jimin-ah!" "Kita harus keluar dulu. Biar Paman Kyuhyun yang mengatasinya" kata Jimin. "Ji Yeon, Jim!" Lirih Aliya. "Semua pasti baik-baik saja" * "Ji Yeon-ah Hiks!" Aliya memeluk erat tubuh kecil Ji Yeon. Putrinya selamat, Kyuhyun mengatakan jika detak jantung Ji Yeon kembali normal dan tidak lama kemudian Ji Yeon membuka matanya. "Ma.. Eomma" Aliya mengangguk. Dan kembali memeluk Ji Yeon. "Ada yang sakit?" Tanya Aliya dan dibalas gelengan singkat dari Ji Yen. "Pa~Appa" Aliya melepaskan pelukanya dan menatap Ji Yeon. "Pa~~Ma" Jimin mendekat pada mereka. Mengusap lembut rambut Ji Yeon. "Pa~~Ma!" Aliya mengangguk dan melepaskan pelukanya dan gantian Jimin yang memeluk Ji Yeon. "Pa~~~" Ji Yeon bertepuk tangan senang saat Jimin memeluknya. Sepertinya Ji Yeon sangat merindukan Jimin. * "Yakin tidak apa-apa?" Aliya mengangguk. Ji Yeon belajar berjalan karena sarafnya kaku. Ji Yeon juga belajar bicara dan baru belajar beberapa minggu saja Ji Yeon sudah lancar berbicara. Sepertinya Ji Yeon cepat belajar mengejar ketertinggalanya. "Appa mau itu" tunjuk Ji Yeon pada buah apel. "Ini?" Ji Yeon mengangguk. "Makan!" Jimin menyuapi Ji Yeon dan Ji Yeon dengan senang hati memakanya. "Mau tidur nak?" Tanya Aliya. "Ngak, Yeon mau makan" jawab Ji Yeon. "Kau tidak kekantor?" Tanya Aliya. "Ani! Aku mau menemani Yeon terapi" Aliya mengangguk dan duduk disamping Ji Yeon. "Eomma kenapa?" Tanya Ji Yeon saat melihat Aliya yang lemas. "Ani Sayang! Eomma hanya pusing" jawab Aliya. "Sakit?" Aliya menggeleng. "Minta obat atau diperiksa nde?" Aliya menggeleng. "Wajahmu pucat" Aliya tetap menggeleng. "Aku baik-baik saja Jim!" Jimin menghela nafas dan menggedong Ji Yeon. "Kemana?" Tanya Ji Yeon. "Ini saatnya terapi dan Yeon akan ditemani Appa dan Eomma kajja" Jimin menarik Aliya keluar dari ruangan Yeon. * "Hamill?" Tanya Jimin terkejut. "Hem 4 minggu!" Baik Aliya dan Jimin sama-sama terkejut. Mereka menemani Ji Yeon terapi dan tiba-tiba Jimin menarik Aliya keruang pemeriksaan karena wajah Aliya semakin pucat dan saat diperiksa Aliya dinyatakan hamil. "Paman tidak bohongkan?" Kyuhyun menggeleng. "Tidak!" "Tapi bagaimana bisa?" Tanya Aliya bingung. "Tanya pada Jimin, apa dia selalu menggunakan pengaman saat menyentuhmu" Jimin menggeleng. Walaupun dulu sebelum kebenaranya sebagai suami Aliya belum terungkap, Jimin juga tidak pernah menggunakan pengaman saat menyentuh Aliya. "Sudahlah. Mungkin ini adalah pengganti Ji Hoon dan kalian harus menjaganya dengan baik" kata Kyuhyun. * "Wae?" Tanya Jimin saat melihat Aliya yang ketakutan. "Ani!" Jimin menghela nafas dan membawa Aliya duduk kepangkuanya. "Katakan jujur!" Aliya menghela nafas pelan. "Aku takut Jim! Aku takut jika tidak bisa menjaganya lagi sama seperti dulu" kata Aliya. "Tidak ada yang perlu kau takutkan! Aku ada disampingmu" kata Jimin. "Ya untuk saat ini tidak tapi kedepan?" Jimin mengerutkan dahinya bingung. "Apa maksudmu?" Tanya Jimin bingung. "Ingatanmu belum kembali saat ini. Aku tidak yakin jika saat ingatanmu kembali kau akan menyeretku keklinik aborsi sama seperti dulu" Jimin terhenyak mendengar jawaban Aliya. "Aku sekejam itu?" Aliya hanya tersenyum tipis dan mengangguk. "Bukan hanya sekali kau bahkan terus mencoba untuk membunuh Ji Yeon saat masih ada dalam perutku" Jimin menatap Aliya tidak percaya. "Jadi ini alasan kenapa kau tidak mau mengakuiku sebagai suamimu?" Aliya mengangguk. "Aku hanya tidak siap terluka untuk kedua kalinya sebagai istrimu tapi justru aku semakin menderita saat mengaku temanmu dan melihatmu yang terus mengejar Lisa Eonni" Jimin memeluk tubuh Aliya. "Mianhae!" Lirih Jimin. "Jeongmal Mianhae, aku tidak tahu jika aku sekejam itu" Aliya hanya tersenyum samar mendengar penyesalan Jimin. "Maafkan aku" * "Ini tidak akan selesai secepat itu, aku masih hidup dan aku akan menuntaskan tujuanku. Aliya Kim aku datang. Sambutlah kedatanganku" T.b.c
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD