Happy Reading.
*
"Eommaa!" Ji Yeon berteriak memanggil Aliya yang baru pulang dari rumah sakit untuk Chek Up. Bocah 4 tahun itu berlari sambil merentangkan tanganya minta dipeluk dan Aliya dengan senang hati memeluk anaknya.
"Ehem!" Baru saja Aliya hendak menggendong Ji Yeon suara Jimin lebih dulu mengistruksinya.
"Appa Jahat" Ji Yeon meringsut lepas dari pelukan Aliya.
"Ayolah Sayang! Ada Dongsaeng diperut Eomma. Nanti Dongsaeng-nya kejepit Ji Yeon" kata Jimin memberi alasan. Kandungan Aliya sudah berusia 6 bulan dan perutnya sudah membesar.
"Ara Yeon tahu" ketus Ji Yeon sambil berjalan kearah kamarnya.
"Yeon-ah tunggu Sayang" Ji Yeon meneruskan langkah kecilnya tanpa memperdulikan teriakan ibunya.
"Jim lihat dia!" Kesal Aliya.
"Tenang saja nanti aku bujuk. Kau istirahat saja" Jimin mengecup dahi Aliya sayang dan berjalan menyusul Anaknya.
"Hah un..." mata Aliya menyeringit saat melihat sebuah boneka besar dikursi. Ji Yeon memang punya boneka Beruang besar tapi tidak ada yang warnanya hitam.
"Ahjumma!" Panggil Aliya keras.
"Ya Nyonya!"
"Boneka itu punya siapa?" Tanya Aliya.
"Nona Muda!" Aliya menyeringit bingung. Jimin tidak pernah membelikan boneka beruang warna hitam untuk Ji Yeon.
"Dari siapa?" Tanya Aliya.
"Saya tidak tahu Nyonya. Tadi saat Nona Muda pulang dari taman sudah membawa boneka ini" jelas Ahjumma Lee.
"Ji Yeon pergi sendirian?" Tanya Aliya.
"Tadi dengan Yesul" Aliya mengamati boneka itu.
"Bawa kekamarku" Ahjumma Lee mengangguk.
*
"Jim aku mau bicara!" Tegas Aliya.
"Mwo?" Tanya Jimin.
"Ji Yeon dapat boneka lagi!" Kata Aliya.
"Dari?" Tanya Jimin.
"Aku tidak tahu. Boneka beruang besar warna hitam" Jimin mengalihkan pandanganya pada Aliya.
"Apa lagi?" Aliya menghela nafas pelan.
"Aku merasa jika ada yang mengawasi Ji Yeon, Jim. Dari setelah dia sadar dari komanya sampai sekarang Ji Yeon terus mendapatkan barang-barang dari orang yang tidak dikenal. Jika pun itu teman yang kau lupakan itu, pasti dia akan menemui kita. Tapi sampai saat ini dia tidak menunjukkan dirinya pada kita. Dia mendekati Ji Yeon dan menghindari kita Jim" jelas Aliya yang mulai frustasi.
"Apa maksudmu ada yang ingin mencelakai Ji Yeon?" Aliya menggeleng tidak tahu.
"Bagaimana bisa ada yang mencelakai Ji Yeon sementara tidak banyak yang mengetahui kehadiran Ji Yeon. Perlu kau tahu hanya Sehun dan Taehyung Oppa temanmu dulu dan hanya mereka yang tahu jika Ji Yeon ada. Aku tidak pernah mengekspos Ji Yeon dimuka umum dan jika pun itu temanmu. Pasti hanya Sehun dan Taehyung Oppa, tapi jika yang dikatakan Ji Yeon jika paman tampan pasti bukan Sehun dan Taehyung Oppa! Mereka tidak akan menemui Ji Yeon secara sembunyi-sembunyi" yang dikatakan Aliya ada benarnya juga. Jika pun itu Sehun atau Taehyung keduanya pasti akan langsung terang-terangan tapi ini tidak.
"Kau mengerti maksudkukan?" Jimin mengangguk mengerti.
"Akan kutanyakan pada Sehun Hyung tentang siapa saja temanku" Aliya menghela nafas pasrah dan mengangguk.
"Sekarang tidurlah kau kelelahan karena dari tadi pagi tidak istirahat kasiahan anak kita" Jimin meraih Aliya agar duduk diranjang.
"Tidak perlu fikirkan apapun. Ji Yeon pasti akan baik-baik saja" Aliya mengangguk faham.
"Untuk saat ini Ji Yeon kita awasi dulu Jim. Aku tidak mau terjadi sesuatu pada Putriku" Jimin menganguk.
"Itu urusan gampang. Kau tidur saja dulu"
*
Aliya mengusap wajahnya gusar, lagi Ji Yeon kembali mendapatkan kiriman boneka. Dan saat ditanya dari mana, Ji Yeon hanya bilang dari Paman Tampan. Ya Tuhan apalagi ini. Mereka ada ditempat pendaftaran sekolah dan saat Aliya ketoilet sebentar Ji Yeon sudah mendapatkan boneka beruang lagi.
"Yeon-ah maukah kau berjanji pada Eomma?" Ji Yeon manatap ragu ibunya lalu mengangguk.
"Jika ada orang yang memberikanmu apapun itu. Entah itu boneka atau coklat jangan mau Nde?" Ji Yeon menatap ragu ibunya.
"Wae Eomma?" Aliya tersenyum lembut dan mengusap rambut Ji Yeon.
"Eomma hanya ingin kau tidak mengalami masalah karena mendapat benda dari orang la...."
"Jadi kau melarangku hem!" Sela seseorang.
"Oppa!"
"Paman tampan!"
*
"Kenapa tidak langsung menemuiku?" Tanya Aliya.
"Surprise!" Aliya hanya menggelengkan kepalanya kesal.
"Kukira ada yang akan menjahati anakku" ketus Aliya.
"Kau ini ada-ada saja. Mana bisa aku menjahati bocah bimut ini" kekeh Jungkook.
"Dasar kelinci!" Jungkook hanya tersenyum manis.
"Kau juga kelinci" ketus Jungkook.
"Haish sudah lah!" Kesal Aliya.
"Kau tahu dari mana jika Ji Yeon ada?" Tanya Aliya.
"Tae Hyung! Kau jahat tidak bilang padaku" Aliya hanya tersenyum simpul. Dirinya berteman dengan Jungkook sejak kecil dan saat memasuki Senior High School tingkat dua Jungkook pindah ke Amerika dan Aliya menikah setelah lulus dari Senoir High School, Jungkook tidak bisa hadir kepernikahanya karena ada acara kelulusan.
"Dia sudah sembuhkan?" Tanya Jungkook pada Aliya.
"Hem! Bukankah kau sudah menjenguknya dirumah...."
"Eomma!" Ji Yeon menyela ucapan Aliya.
"Wae Yeon-ah?" Tanya Aliya.
"Yeon mau pulang. Capek" kata Ji Yeon.
"Jinja? Ya sudah pamit dulu pada paman Jungkook" kata Aliya.
"Yeon pulang dulu Paman, nanti jika mau main lagi kerumah Yeon saja Nde?" Jungkook menganguk dan mencium kening Ji Yeon.
"Pasti Sayang"
*
"Jadi itu temanmu?" Aliya menceritakan semuanya pada Jimin tentang kemunculan Jungkook.
"Hem!" Kata Aliya.
"Sudah kubilang jangan khawatir! Kau saja yang berlebihan" Aliya hanya tersenyum manis.
"Mian!" Jimin menggelengkan kepalanya melihat tingkah istrinya ini.
"Baby Park tidak menyusahkan?" Tanya Jimin.
"Ania! Dia sangat tenang hari ini. Mungkin tahu jika ibunya sedang mendaftarkan kakaknya kesekolah!" Kata Aliya.
"Anak pintar" Jimin mengecup sayang perut besar Aliya.
"Eomma~~~" panggil Ji Yeon yang ada didepan pintu sambil membawa boneka panda kesukaanya.
"Wae Aegi?" Jimin bejalan menghampiri Putrinya dan menggendongnya.
"Yeon mau tidur dengan Dongsaeng" Jimin tersenyum melihat wajah lucu putrinya.
"Hanya dengan Dongsaeng saja? Tidak mau dengan Appa dan Eomma?" Ji Yeon tersenyum malu dan mengangguk.
"Kajja kita tidur" ajak Jimin.
"Yeon ditengah atau..."
"Pinggir, Eomma ditengah dan Appa dipinggir. Yeon tidak mau mendengar dengkuran keras Appa" Jimin mendengus mendengar pekikan putrinya.
"Appa berisik ya?" Tanya Aliya jail.
"Sangat. Jika Appa mendengkur seperti pesawat mau bertempur. Berisik" Jimin mendudukkan putrinya dipinggir seperti permintaanya. Tenang saja, ranjang Jimin menempel dengan tembok jadi Ji Yeon akan aman jika tidur dipiggir.
"Nah Yeon tidur nde?" Ji Yeon mengangguk dan menarik selimut untuk menutupi tubuh kecilnya.
"Saeng sini!" Aliya tersenyum dan membaringkan tubuhnya disamping Ji Yeon.
"Tidur dengan Noona Nde?"
"Eonni" sela Jimin.
"Noona!" Kesal Ji Yeon.
"Eonni" kata Jimin.
"Noonaaa" teriak Ji Yeon.
"Eon..."
"DIAM. TIDUR" Ji Yeon langsung berbaring menghadap ketembok sementara Jimin langsung memejamkan matanya.
"Dasar!" Aliya mendengus kesal dan tidur. Senyum Aliya mengembang saat merasakan usapan lembut diperunya. Jimin dan Ji Yeon pelakunya.
"Jalja Saeng. Noona tidur dulu Nde?" Kata Ji Yeon.
"Eonni"
"Ehem"
T.B.C