Tujuh

1527 Words
Happy Reading. * Aliya meringis saat merasakan tendangan kuat dari perutnya. Dari tadi pagi bayinya ini tidak mau diam dan terus saja bergerak. Aliya sendirian dirumah, Jimin sedang dikantor, Ji Yeon sekolah dengan Lisa yang mengantarnya. "Kenapa nak?" Tanya Aliya bingung, Aliya merasakan jika Handphone-nya bergetar dan saat Aliya melihatnya tertera nama Jimin disana. "Yeobseo Jim!" "~~~~" "APA?" * Aliya berlari disepanjang koridor rumah sakit dengan keadaan awut-awutan. Aliya tidak perduli pada tatapan aneh yang ditujukan orang-orang padanya. Ia ingin segera melihat Jimin. Telfon tadi mengatakan jika Jimin kecelakaan dan Aliya tidak bisa menahan dirinya untuk segera datang. "Park Jimin!" "Ruang 2513 Nona!" Aliya langsung berlari bahkan kondisinya yang sedang hamil tidak ia pedulikan. "Jimin-ah!" Aliya masih berlari sampai menemukan ruang yang dimaksud resepsionis tadi. "Nyonya Park!" Aliya menoleh dan menemukan seorang lelaki yang ada dikursi tunggu. "Anda Nyonya Park Jimin kan?" Aliya mengangguk. "Saya yang membawa suami anda kemari. Kenalakan saya Jisang, Jung Jisang" kata laki-laki tadi. "Ah Nde Tuan Jung! Aliya Park Imnida!" Balas Aliya menjabat tangan Jisang. "Bagaimana suami saya bisa kecelakaan Tuan?" Tanya Aliya panik. "Mobil suami anda menabrak Pohon dan selebihnya saya tidak tahu!" Aliya menatap sendu kamar rawat Jimin. "Jangan pergi!" Lirih Aliya. * "Eomma, Appa kenapa?" Tanya Ji Yeon pada Aliya. "Sakit Sayang!" Jawab Aliya. "Sembuhkan?" Aliya mengangguk. "Kau pulang saja dulu!" Aliya menggeleng. "Ani Eonni. Aku akan disini saja" kata Aliya. "Aku akan kekantin untuk membeli makanan kau titip sesuatu?" Tawar Lisa dan dibalas gelengan dari Aliya. "Yeon ingin titip sesuatu Sayang?" Ji Yeon juga menggeleng. "Aku keluar" Aliya masih sibuk mengawasi Jimin dalam diam. Kepala Jimin diperban, tangan dan kakinya patah rasanya Aliya ingin menangis melihat kondisi Jimin, tapi ditahan karena ada Ji Yeon. Aliya harus terlihat tegar didepan putrinya. "Eomma tangan Appa!" Teriak Ji Yeon dan Aliya menyadari jika tangan Jimin bergerak. "Uisa Suami saya!" * "Sakit?" Tanya Aliya pada Jimin. "Ani hanya aneh saja karena rasanya kaku!" Jawab Jimin. "Appa baik-baik saja?" Tanya Ji Yeon. "Nde Sayang! Appa baik-baik saja!" Jawab Jimin. "Jangan sakit lagi!" Jimin mengangguk dan mengusap sayang dahi Ji Yeon. "Bagaimana bisa mobilmu menabrak pohon Jim?" Jimin termenung mendengar pertanyaan Aliya, entah kenapa ia tidak bisa menjawabnya. Jimin sadar saat kecelakaan, Jimin juga tidak dalam keadaan mengantuk atau capek, tapi bagaimana bisa Jimin menabrak pohon. "Entahlah aku juga lupa" jawab Jimin lesu. "Yang penting Jimin Oppa tidak papa Magnae!" Kata Lisa yang baru datang. "Oh Eonni!" Sapa Aliya. "Kau oke Oppa?" Jimin hanya mengangguk singkat. Jimin masih belum Lisa berbicara lancar dengan mantan wanita yang pernah menjadi penguasa hatinya dulu. "Yeon akan kuajak pulang. Kasihan dia kelelahan dan aku akan kemari lagi untuk mengantarkan baju kalian. Tidak papakan jika Yeon tidak kuajak kembali?" Tanya Lisa dan dibalas anggukan dari Aliya. "Yeon tidur dengan imo Nde?" Yeon tampak tidak setuju mendengar pertanyaan ibunya tapi kasihan juga Appa jika dirinya tidur disini. "Hem! Yeon akan tidur dengan Lisa imo!" Jawab Yeon. "Oke pamit dulu pada Appa dan Eomma nak" kata Lisa. "Yeon pulang dulu ya Appa jangan sakit lagi" Ji Yoen mencium pipi kanan-kiri Jimin dan mengecup sekilas bibir merekah Ayahnya. "Yeon pulang dulu Eomma. Saeng" Ji Yeon juga melakukan hal yang sama pada Aliya, dan tidak lupa Ji Yeon mengusap sayang perut Aliya. "Noona pulang dulu Nde? Saeng jangan nakal. Besok Noona kesini lagi. Noona akan bolos dan menemani Saeng menjaga Appa. Noona pergi!" Aliya tersenyum saat Ji Yeon mengusap dan mengecup sayang perutnya. "Sudah kajja kita pulan Baby. Oppa, Magnae aku pulang dulu!" Pamit Lisa sambil menggendong Yeon. "Hati-hati Eonni. Titip anakku ya?" * Jimin tidak bisa memeluk Aliya karena tanganya yang digips, dan itu artinya dia haua tidur sendirian. "Siapa yang memberimu kabar?" Tanya Jimin. "Jisang, Jung Jisang. Dia yang menghubungiku dengan nomormu" jawab Aliya. "Jung Jisang?" Aliya mengangguk. "Kau kenal?" Tanya Aliya. "Aniya, aku tidak kenal dia!" Jawab Jimin. "Istirahat saja Jim. Kau pasti lelah!" Jimin merengut mendengar perintah Aliya. "Wae?" Tanya Aliya. "Aku tidak bisa memelukmu" jawab Jimin jengkel. "Gwenchanayo! Cha tidur saja!" * Keadaan Jimin semakin membaik walaupun gips dikakinya belum bisa dibuka dan mau tidak mau Jimin harus berjalan dengan Kruk. Hari Aliya tidak bisa menunggu Jimin karena Ji Yeon tidak mau diantar siapapun selain Aliya, akhirnya Jimin sendirian dengan Lisa. "Kakimu masih susah berjalan Oppa?" Tanya Lisa berusaha menghentikan kecanggungan yang ada diantara mereka. "Ya! Masih sedikit sakit" Jimin bukanya apa, dia hanya ingin menjaga jarak dengan Lisa. Mengingat Aliya adalah istrinya walaupun Jimin belum mengingatnya secara utuh tapi kehadiran Ji Yeon dan Bayinya cukup membuat Jimin mengerti. Dan melupakan Lisa juga tidak semudah membalik telapak tangan. Dirinya mencintai Lisa sejak 2 tahun yang lalu dan melupakanya tidak semudah yang dibayangkan orang. "Kau perlu sesuatu?" Tanya Lisa lagi. "Aniya Lis! Aku tidak butuh apapun. Dan ya Lis bisakah kau tinggalkan aku? Aku ingin tidur dan kau tidak perlu menungguku. Jika aku butuh sesuatu aku bisa panggil Dokter. Kau bisa pergi!" Lisa tersenyum samar mendengar permintaan Jimin. "Gumawo!" Kata Lisa. "Gumawo? Untuk?" Tanya Jimin bingung. "Karena sudah mengusirku dan aku tidak harus merasa tidak enak pada Aliya. Walaupun dia adalah adik iparku tapi tetap saja aku menghormatinya. Dengan pengusiranmu ini membuatku sadar jika kau sudah mulai membuka hatimu untuku Aliya. Entah kau sadari atau tidak tapi sepertinya nama Aliya mulai memenuhi hatimu" Jimin tertegun mendengar perkataan Lisa. Benarkan dirinya mulai mengikis nama Lisa dan menggantinya dengan nama Aliya? Tanggung jawab dan rasa bersalahnya telah berganti Cinta, dan apa yang dikatakan Lisa adalah benar? Apa dirinya mulai mencintai Aliya? "Aku akan keluar!" * "Eomma tinggal atau Eomma tunggu?" Tanya Aliya pada Ji Yeon. "Tunggu!" Aliya mengangguk dan mendudukkan dirinya disofa tunggu khusus ibu-ibu. "Yeon masuk saja. Eomma tunggu disini!" Ji Yeon mengangguk, mencium pipi Aliya dan berlari menuju kelasnya. "Aliya-shi!" Aliya menengok saat mendengar namanya dipanggil. "Oh Jisang-shi!" Kata Aliya. "Kau disini?" Tanya Jisang sambil mendudukkan dirinya disamping Aliya. "Aku menunggu Putriku!" Jawab Aliya. "Putri? Kau punya anak?" Tanya Jisang. "Ya! 4 tahun umurnya dan dia sekolah disini" jawab Aliya. "Jadi itu yang kedua?" Tanya Jisang menunjuk perut Aliya. "Ye! Ah Ya Jisang-shi aku ingin mengucapkan terima kasih karena sudah menolong suamiku. Mian baru sempat mengucapkanya, waktu itu aku sedang panik dan tidak memperhatikan sekitar!" Kata Aliya. "Aku mengerti Aliya-shi. Dan bagaimana kabar suamimu?" Tanya Jisang. "Baik! Walau dia masih harus berjalan menggunakan Kruk tapi Gips ditanganya sudah diambil!" Jawab Aliya. "Ah Syukurlah!" "Apa yang kau lakukan disini?" Tanya Aliya. "Mengantar kakak iparku mendaftarkan anaknya" jawab Jisang. "Oh!" * "Eugh!" Jimin melenguh saat merasakan tepukan pelan pada pipinya dan saat matanya perlahan terbuka wajah Ji Yeon sudah ada didepanya. "Appa ireona!" Ujar Ji Yeon kecil. "Sudah pulang Sayang?" Tanya Jimin pelan. "Hem dari tadi! Appa malah asik tidur" Jimin tersenyum canggung dan mendudukkan dirinya dan manarik Ji Yeon kepangkuanya. "Eomma mana?" Tanya Jimin. "Toilet!" Jawab Ji Yeon. "Oh ya Appa tadi Yeon bertemu Paman Tampan lagi! Dan Yeon diberikan coklat" Kata Ji Yeon antusias. "Paman Jungkook?" Tanya Jimin. "Bu~~~" "Oppa sudah bangun?" Jimin dan Ji Yeon mengalihkan fokus mereka pada Aliya yang baru keluar dari kamar mandi. "Hem!" Jawab Jimin. "Sayang turun kasihan Appa" kata Aliya. "Gwenchanayo! Biarkan saja Yeon seperti ini!" Kata Jimin. "Tapi kakimu Oppa!" Jimin tersenyum simpul dan menggeleng. "Baiklah!" Kata Aliya pasrah. "Eomma sini!" Kata Ji Yeon menepuk kasur kosong disamping Jimin. "Tidak Sayang, Eomma disini saja!" Kata Aliya. "Ayolah Eomma!" Rengek Ji Yeon. "Gwenchanayo! Kesini saja" kata Jimin menarik tangan Aliya. "Sempit Jim!" Jimin menggeleng pelan. "Eomma Saeng bagaimana?" Tanya Ji Yeon. "Baik Sayang!" Kata Aliya. "Sudah periksa kandungan?" Tanya Jimin dibalas gelengan kepala dari Aliya. "Tidak ada waktu Jim! Aku tidak bisa minta tolong terus pada Lisa Eonni. Lagi pula Ji Yeon akhir-akhir ini tidak mau ditinggal!" Ujar Aliya. "Ditinggal? Yeon mau kok ditinggal! Ada Paman tampan yang menemani Yeon. Seperti tadi" kata Ji Yeon. "Paman Tampan? Paman Jung~~~" "Magnae!" Ketiganya menoleh dan menemukan Taehyung yang masuk kedalam ruang rawat Jimin. "Oh Oppa Wae?" Tanya Aliya sambil menghampiri Taehyung. "Aku hanya ingin mengantarkan pakaian kalian!" Jawab Taehyung. "Oh Gumawo Oppa" kata Aliya. "Bagaimana keadaanmu Hyung?" Tanya Taehyung. "Baik!" Jawab Jimin singkat. "Ah ya Jungkook titip ini untuk Ji Yeon!" Kata Taehyung. "Jungkook Oppa?" Tanya Aliya. "Hem! Dia menitipkan ini sebelum kembali ke Amerika" jawab Taehyung. "Kenapa tidak diberikan tadi saat menemani Ji Yeon bermain" kata Aliya. "Bermain kapan?" Tanya Taehyung. "Tadi saat disekolah!" Jawab Aliya. "Jinja? Lalu kenapa dia menitipkan ini padaku?" kata Taehyung bingung. "Mungkin Jungkook tidak sempat!" Kata Jimin. "Ah mungkin saja" tambah Taehyung. "Dan ya siapa yang mengantarkan Jimin Hyunh ke rumah sakit?" Tanya Taehyung. "Jisang, Jung Jisang!" Jawab Aliya. "Jisang?" Tanya Taehyung. "Hem Oppa kenal?" Taehyung tampak berfikir. Ia pernah mendengar nama Jisang tapi kapan dan dimana Taehyung lupa. Tapi Taehyung yakin jika tidak asing dengan nama Jisang. "Oppa!" Taehyung tersentak saat Aliya menepuk pundaknya. "Ah ya Mian!" Kata Taehyung. "Ada apa?" Tanya Aliya. "Aniya! Aku hanya merasa tidak asing dengan nama Jisang!" Kata Taehyung. "Jinja?" Taehyung tampak berfikir keras. Jisang? Jung Jisang? Siapa laki-laki itu? "Ah nanti kufikitr lagi! Oppa kembali dulu masih ada urusan!" Pamit Taehyung. "Hati-hati dan terima kasih Oppa" Taehyung mengangguk dan keluar dari ruangan Jimin. "Jisang? Jung Jisang? Siapa dia?" Taehyung masih saja berfikir. "Sehun Hyung! Ya dia pasti tahu siapa Jung Jisang" T.B.C
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD