Delapan

1476 Words
Happy Reading. * Aliya mengusap lembut kening Ji Yeon yang sedang tidur dipelukan Jimin. Bocah itu kelelahan karena bermain di Lotte Word seharian dengan Lisa dan saat sampai diruangan Ayahnya, Ji Yeon langsung meringsek diranjang Jimin lalu tidur tanpa memberi salam atau menciumnya dulu. Jimin tidur cepat juga karena Aliya yang menyuruh, gips Jimin sudah lepas sempurna dan kemungkinan Lusa Jimin bisa pulang, walaupun jalannya masih pincang. "Magnae" Aliya menoleh dan menemukan Chanyeol dan Nida yang memasuki ruangan Jimin. "Eonni, Oppa kalian datang?" Sapa Aliya pelan. "Mereka tidur?" Tanya Chanyeol sambil memperhatikan Jimin dan Ji Yeon dengan dalam. "Ya! Aku menyuruh Jimin tidur cepat dan Ji Yeon kelelahan karena bermain di Lotte Word seharian. Duduklah Oppa, Eonni" ujar Aliya. "Kapan Jimin bisa pulang?" Tanya Nida. "Lusa Eonni, kakinya sudah mulai membaik walau dia masih harus jalan pincang" jawab Aliya. "Mobilnya menabrak pohon?" Tanya Nida. "Ya! Mungkin Jimin mengantuk" jawab Aliya. "Polisi sudah memberi keterangan?" Tanya Nida lagi. "Belum! Mobil Jimin masih diperiksa, agak susah karena bagian samping dan depanya ringsek" Nida mengangguk mengerti. "Pasti pohonnya be~~" "Ini disengaja" cetus Chanyeol tiba-tiba. "Disengaja? Apa maksud Oppa?" Tanya Aliya. "Kau lupa jika suamimu adalah pengemudi hebat. Mana bisa Jimin menabrak pohon padahal dia sadar" kata Chanyeol yang membuat Aliya semakin bingung. "Apa yang Oppa fikirkan?" Tanya Nida. "Heejoon bilang padaku jika saat Jimin meninggalakan kantor siang itu dia dalam keadaan sadar dan sehat. Jimin tidak mabuk atau mengantuk. Jam 12 siang Jimin pergi dari kantor dan jam 12.30 Jimin kecelakaan. Terhitung 30 menit dari peristiwa kecelakaan. Lokasi kejadinya didaerah Cheong-dam-dong pinggiran samping hutan. Kau bilang jika Jimin menabrak pohon, jika memang Jimin hanya menabrak pohon pasti hanya bagian depanya saja yang ringsek, bagian samping akan aman tapi bagian samping juga ikut ringsek" jelas Chanyeol dalam. "Aku tidak mengerti!" Cetus Nida. "Ada yang menabrak bagian samping mobil Jimin hingga mobil Jimin menabrak pohon" jawaban Chanyeol sukses membuat Aliya kaget. "Oppa~~~" "Dan tempat itu juga menjadi tempat dimana kalian kecelakaan 3 tahun lalu. Cheong-dam-dong pinggir hutan" * "Cari saja Tae!" Kata Sooyoung pada Taehyung. "Nde imo!" Taehyung terus mengacak-acak album lawas milik Sehun. Sehun tidak ada dirumah, pria itu pergi ke Roma untuk perjalanan bisnis dan minggu depan baru pulang dan Taehyung tidak mau menunggu selama seminggu kedepan. "Apa imo pernah dengar yang namanya Jung Jisang?" Sooyoung menghentikan kegiatan tanganganya saat mendengar pertanyaan Taehyung. "Tunggu Jung Jisang kau bilang?" Tanya Sooyoung. "Nde imo! Jung Jisang, imo kenal?" Tanya Taehyung antusias. "Tunggu Jung Jisang? Jung Jisang? Jung Ji~~~ah dia teman Hyung-mu dan Jimin, Tae. Imo ingat, ya Jisang teman Hyung-mu dan Jimin. Mereka berteman dari Junior High School dan dulu mereka bertiga sering bermain kesini" jawab Sooyoung yang mulai mengingatnya. Wajah Taehyung langsung mengeras, jika Jisang teman Jimin, kenapa Jisang tidak mengaku pada Aliya jika teman Jimin. Dan Jisang juga langsung pergi saat yang lain sampai keruangan Jimin. Dan kenapa Jisang menyembunyikanya? Hanya Sehun yang akan menjawab ini semua. Ya Sehun adalah kuncinya. Dan Taehyung yakin jika ini ada yang tidak beres termasuk Paman tampan yang dimaksud Ji Yeon. Jungkook tidak akan menitipkan hadiah untuk Ji Yeon padanya jika sudah bertemu sendiri dengan Ji Yeon. Aliya bilang jika Jungkook menemani Ji Yeon padahal Jungkook ada dibandara untuk berangkat kembali ke Amerika. Dan itu berarti yang menemani Ji Yoen bermain bukan Jungkook tapi orang lain. "Tae kau baik-baik saja?" Taehyung menatap dalam Sooyoung. "Bantu aku menemukan album lawas milik Sehun Hyung, imo" * "Kau baik-baik saja?" Tanya Jimin pada Aliya. "Hem! Kau istirahat saja" jawab Aliya pelan. "Aliya!" Aliya tersenyum dan melepaskan genggaman tangan Jimin. "Aku akan keoptik kandungan dulu. Kasihan jika Aegi-nya tidak diperiksa. Kau jaga Ji Yeon sebentar ya" Aliya langsung meninggalakan Jimin. "Dia kenapa?" Tanya Jimin bingung. * "Bawa padaku!" "Saya mengerti Tuan! Tapi apa yang akan kita lakukan pada bocah itu?" "Memusnahkanya! Aku benci melihat keturunan Park Jimin yang terlahir dari rahim wanitaku" "Saya mengerti Tuan!" * Aliya hanya diam diluar pintu ruangan Jimin, Aliya tidak jadi keoptik kandungan malah hanya diam dikursi tunggu. Mata Aliya menerawang jauh kedepan. Setiap perkataan Chanyeol kemarin masih terus tergiang ditelinganya. "Siapa yang membenci Jimin?" Aliya mengusap lembut perut buncitnya. Ketakutan mengenai keselamatan Jimin dan Ji Yeon membuatnya lemah. Sadar atau tidak dari dulu nyawa Jimin dan Ji Yeon selalu dalam bahaya sedangkan dirinya selalu aman. Sebenarnya apa yang diinginkan orang yang mengincar Jimin, jika pun orang itu membenci Jimin sudah pasti Aliya juga akan menjadi targetnya, tapi ini hanya Jimin dan Ji Yeon yang diincar. "Kau selalu aman dari berbagai peristiwa. Dulu saat kalian kecelakaan kau hampir saja merenggang nyawa tapi kau selamat karena ada yang mendonorkan darah dan juga ginjalnya untukmu. Jimin dan Ji Yeon hampir mati tapi kau lebih dulu selamat. Padahal jika dinalar otak waras kau juga akan mengalami luka yang sama seperti Ji Yeon, karena pada saat itu Ji Yeon ada dipelukanmu. Dan perlu kau tahu, janinmu mati bukan karena benturan tapi karena obat peluruh" Aliya memejamkan matanya erat saat perkataan Chanyeol kembali tergiang diotaknya. "Apa yang diinginkanya dariku? Kenapa juga dia selalu melindungiku? Dan kenapa dia terus melukai keluargaku? Apa ini?" Aliya meremas kuat perutnya. "Jangan tinggalkan Eomma Chagi, jangan tinggalkan Eomma seperti Kakakmu" lirih Aliya. "Dia juga mengincar anak yang ada dalam kandunganmu!" Air mata Aliya menetes saat perkataan Chanyeol kembali terigiang ditelinganya. "Aku tidak mau peristiwa itu terulang lagi!" Isak Aliya. * Ji Yeon sedang menunggu jemputan, tadi Ji Yeon ditinggal karena Aliya membantu Jimin beres-beres untuk pulang dan Ji Yeon hanya bilang iya tadi. "Huh Eomma kenapa?" Tanya Ji Yeon kesal. "Apa Eomma telat?" Ji Yeon mendudukkan dirinya dikursi tunggu yang biasanya digunakan untuk menunggu jemputan. "Na-na-na" Ji Yeon mengoyang-goyangkan kaki mungilnya sambil bersenandung untuk menghilangkan rasa bosannya. "Yeon!" "Paman Tampan!" Ji Yeon berseru senang saat melihat seorang pria tinggi yang ada didepanya. "Sini peluk Paman!" Tanpa menunggu dua kali Ji Yeon langsung melompat kepelukan pria itu. "Paman kenapa lama sekali tidak menemui Yeon?" Tanya Ji Yeon manja. "Mian Sayang Paman sibuk" Ji Yeon menggembungkan pipinya kesal. "Yeon jadi kangen" kata Ji Yeon manja. "Sekarangkan Paman ada disini. Yeon jangan marah lagi Nde?" Ji Yeon mengangguk pelan. "Yeon mau ikut Paman bermain?" Tanya Pria itu dan tentu saja Ji Yeon mangangguk mau. "Yeon mau ik~~~" "Yeon-ah!" Ji Yeom menoleh dan menemukan Taehyung yang berjalan kearahnya. "Paman Tae" Taehyung langsung berlari dan menarik Ji Yeon dari pelukan laki-laki itu. "Paman!" Taehyung menatap tajam pria ini. "Siapa kau?" Tanya Taehyung dingin. "Saya~~~" "Ini Paman Tampan!" Jawab Ji Yeon semangat. "Paman Tampan kenalakan ini Paman Tae, Pamannya Yeon" ujar Yeon mengenalkan mereka. "Apa yang kau lakukan pada keponkanku?" Desis Taehyung sinis. "Saya tidak melakukan apapun Tuan~~~" "Siapa namamu?" Ji Yeon hanya diam dibelakang Taehyung, Ji Yeon tidak mengerti apa yang dibicarakan keduanya. "Sa~saya Han Jaewon" jawab laki-laki itu. "Kuperingatkan padamu Han Jaewon jangan pernah ganggu rumah tangga adikku. Jangan pernah sekalipun kau kembali mencelakai ipar dan keponakanku dan sekalipun jangan pernah sentuh adikku. Dan katakatan pada Tuanmu Jung Jisang untuk tidak melanjutkan rencana sialnya!" Tubuh Jaewon bergetar mendengar ucapan Taehyung dan itu tidak luput dari pandangan Taehyung. 'Kena kau' "Yeon-ah kajja kita pulang!" Taehyung langsung menggendong Ji Yeon menjauh meninggalkan Jaewon yang membeku. "Ottokheyo Hyung?" * "Paman kenapa?" Tanya Ji Yeon. "Tidak apa-apa Sayang!" Kata Taehyung lembut dan Ji Yeon hanya mengangguk mengerti. "Untuk sekarang Yeon Home Schooling dulu Nde?" Kata Taehyung tiba-tiba. "Kenapa memangnya?" Tanya Ji Yeon bingung. "Yeon harus menemani Eomma menjaga Appa, kasihan Appa harus sendirian jika Yeon meminta Eomma untuk mengantar Yeon kesekolah" ujar Taehyung beralasan pada Ji Yeon. "Tapi~~~" "Hanya sementara" kata Taehyung. "Arasho!" Jawab Ji Yeon pasrah. "Anak pintar!" * "Apa?" Tanya Aliya saat Jimin tidak segera melepaskan tanganya. "Temani!" Kata Jimin dengan suara yang sedikit rendah. "Temani? Kau mau tidurkan? Kenapa harus ditemani?" Tanya Aliya aneh. "Ayolah!" Aliya tertawa melihat Jimin yang merengek. "Kau merengek? Wah kejutan" Entah kenapa melihat Aliya yang tertawa lepas Jimin menjadi salah tingkah. Detak jantung Jimin berdetak sangat cepat dan abnormal, rasanya sangat menyenangkan. "Kau ini ada-ada saja" hampir saja Aliya terjungkal karena tarikan Jimin. Untung tubuhnya mendarat dirajang. "Jim!" Jimin langsung menindih tubuh kecil Aliya. "Bolehkan aku merindukanmu?" Tanya Jimin dalam. Sementara Aliya mencoba menghentikan Jimin yang semakin menekan tubuh mereka. "Apa yang kau katakan Jim?" Jimin tersenyum simpul dan menundukkan wajahnya. "Bogoshi~~" "Magna~~~YA Tuhan" mendengar teriakan Taehyung, Aliya langsung mendorong tubuh Jimin yang sedang menindihnya. "Ada apa Paman?" Tanya Ji Yeon sambil mencoba masuk kedalam kamar orang tuanya tapi langsung ditahan oleh Taehyung. "Kita jalan-jalan saja Yeon-ah. Paman akan belikan boneka panda besar untukmu nanti. Kajja" Taehyung langsung menarik Ji Yeon kebawah meninggalkan Jimin dan Aliya yang salah tingkah. "YA CICIL LAGI KEPONAKAN UNTUKKU" wajah Aliya memerah mendengar teriakan Taehyung. "Kita teruskan Nde?" "Hah?" Jimin tersenyum mesum dan menarik Aliya kembali. "Ji Yeon sudah pergi jadi tinggal kita berdua" Aliya memejamkan matanya erat saat mendengar ucapan sensual Jimin. "Ayolah!" Aliya menghela nafas dan mengangguk pelan. "Kajja!" Aliya hanya tersenyum malu. "Jimhinn-ah" T.b.c
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD