Apalah Arti Menunggu

2027 Words
Telah lama aku bertahan Demi cinta wujudkan harapan Namun kurasa cukup ku menunggu Semua rasa t'lah hilang.... Alunan lagu terdengar merdu bergema di seluruh cafe. Cafe yang sangat tenang karena pengunjung sangat menikmati lagu yang disenandungkan oleh seorang gadis cantik bersuara emas. Lagu yang bertajuk Apalah Arti Menunggu tersebut seolah menjadi sebuah sindiran bagi seorang pengunjung di cafe Rainbow itu. "Lagu itu sepertinya cocok untukku...."gumam salah seorang pengunjung wanita cafe itu dengan tatapan sendu. Wanita itu nampak termenung mendengarkan lagu itu seperti menceritakan dirinya yang kini tengah menunggu seseorang yang Ia cintai. Rasanya sudah begitu lama bagi wanita itu menunggu pria yang Ia cintai. Saat termenung Ia teringat kembali pertemuannya dengan cintanya itu. Flashback Tap.....tap.....tap....tap.... Terdengar langkah terburu-buru di lorong sebuah sekolah menengah atas di saat seharusnya tenang karena saat ini sedang diadakan ujian kenaikan kelas. "Astaga....apa sudah dimulai....mati kau Ridho...?" gumam pria itu sambil terus berlari mengejar waktu agar tidak terlalu terlambat mengingat saat ini pelajaran yang diujikan adalah matematika yang pastinya sangat sulit bagi namja itu. Pria itu berlari sangat kencang sehingga saat belokan dan berpapasan dengan seorang wanita maka Ridho pun tidak dapat memberhentikan langkahnya dengan cepat. Bruukkkk suara benda jatuh terdengar keras. Ridho membulatkan matanya saat tanpa sengaja Ia menabrak wanita itu hingga terjatuh dan meringis sakit di bagian kepalanya tidak lama setelah itu wanita tersebut pingsan. "Ckckck....Ridho Ilahi....lagi-lagi kamu yang membuat ulah....apalagi sekarang?... Namamu benar-benar tidak cocok untukmu..." Ujar guru BK sambil geleng-geleng kepala. Ridho memang terkenal di sekolah itu selain karena ketampanan serta kemampuannya dalam bidang olah raga dan bahasa asing. Ridho juga sangat terkenal dengan kecerobohannya sehingga sering terlambat atau lupa dengan tugas rumahnya. "Hehehe....Maaf Pak Irfan....saya terlambat ikut ujian dan saya membuat gadis mungil pingsan..."ujar Ridho santai disertai cengirannya. "Apa? Kau apakan wanita itu?..." Tanya guru yang bernama Irfan Aditya itu curiga dan panik. Ridho pun segera menjelaskannya panjang lebar secara terperinci mulai dari Ia yang semalaman frustasi belajar matematika namun tidak juga mengerti kemudian Ia memilih bermain PSP untuk merilekskan pikirannya. Karena terlalu asik bermain membuatnya lupa waktu hingga Ia sadar bahwa sekarang sudah pukul 1 dini hari. Mengingat Ia yang sangat susah bangun pagi maka Ridho pun memilih langsung tidur agar bisa bangun pagi. Ketika pagi Ridho bangun tepat waktu setelah disiram dulu oleh Ibunya akibatnya dia kesiangan karena harus menjemur kasurnya yang basah. Kemudian karena Ridho kurang belajar semalam sehingga Ia mencoba belajar di bus namun lagi-lagi Ia s**l karena kelewatan 1 halte dari halte seharusnya Ridho turun. Alhasil Ridho berlari sangat kencang ke sekolahnya karena sudah cukup terlambat. Cerita Ridho diakhiri dengan kata-kata "Karena Aku terlalu kencang berlari sehingga membuatku menabrak bidadari mungil nan cantik..." ucap Ridho sembari mengingat wajah gadis yang kini masih pingsan di ruang UKS yang Ia titipkan pada petugas karena Ridho harus segera melapor. Guru BK itu lagi-lagi hanya bisa geleng-geleng kepala kemudian meminta Ridho menemui wanita itu dan nanti mengikuti ujian susulan bersama. "Halo..." sapa Ridho dengan senyum manisnya saat melihat mata wanita mungil yang baru Ridho tahu bahwa namanya adalah Cahaya Hidayati saat membaca name tag-nya. Setelah bisa melihat dengan jelas Cahaya hanya bisa mengernyit heran melihat wajah Ridho di dekatnya dengan senyumannya. Sejak saat itu Ridho selalu mengikuti kemanapun Cahaya pergi karena ternyata Cahaya siswi seangkatan dengannya dan pintar matematika. Ridho merasa Cahaya adalah jodohnya. Ridho yang ceroboh dan tidak pintar pelajaran berhitung dengan Cahaya yang sangat teliti dan displin serta pintar berhitung, terlihat sangat cocok menurut Ridho. Ridho terus mendekati Cahaya hingga kelulusan dengan alasan ingin privat pelajaran yang berhubungan dengan angka. Setelah lulus mereka menjadi berpisah karena berbeda universitas. Flashback end "Dimana kau Ridho Ilahi...aku merindukanmu..." Cahaya akui sejak Ridho mengikutinya hidupnya jadi berubah. Dia yang sangat disiplin hanya keluar rumah untuk sekolah dan bimbel sehingga tidak punya teman. Teman-temannya menganggapnya kutu buku yang membosankan. Namun Ridho tidak pernah bosan mendekatinya bahkan selalu membuatnya tersenyum dengan segala leluconnya. Ridho yang ceroboh dan usil menjadi Ridho yang manis dan lembut saat melihat Cahaya bersedih. Setelah mereka kuliah dengan beda universitas membuat keduanya menjauh dan Cahaya sadar Dia merindukan Ridho. Flashback Saat Cahaya tengah berjalan menunduk karena merasa kesepian tidak memiliki teman dan sedang merindukan seseorang yang dulu Ia anggap pengganggu. Namun Cahaya saat ini benar-benar membutuhkan seseorang yang bisa menghiburnya karena Cahaya merasa tersisih di kelasnya. Tersisih karena Cahaya yang dianggap sangat pendiam dan cuek. Saat sudah tiba di luar gerbang kampusnya tiba-tiba ada seseorang yang menariknya membuat Cahaya takut. Namun ketakutan itu berubah menjadi kebahagiaan saat Cahaya mendengar suara yang sangat Ia rindukan. "Cahaya Ku..... Kau merindukanmu.....Aku benar-benar merindukanmu....kenapa nomormu tidak aktif...kau tahu aku khawatir....bahkan kau juga sudah pindah dari rumahmu....bla...bla...bla..." Cahaya tidak mendengar lagi apa kalimat-kalimat yang Ridho ucapkan karena memang biasanya kalimat-kalimat Ridho yang banyak itu hanya mengandung satu kalimat penting seperti saat ini. Kalimat pentingnya adalah Ridho Illahi sangat merindukan Cahaya Hidayati. Biasanya Cahaya memang sengaja tidak mau mendengar kalimat-kalimat tidak penting Ridhi namun kali ini Cahaya tidak mendengarnya karena Cahaya sangat menikmati pelukan Ridho. Bahkan saat Ridho ingin melepas pelukannya untuk melihat wajah Cahaya, Cahaya menolaknya dengan lebih mengeratkan pelukannya membuat Ridho tersenyum senang. Setelah saat itu Ridho dan Cahaya berpacaran walau sebenarnya Cahaya tidak mengiyakan namun bagi Ridho pelukan tadi dan wajah merah Cahaya saat Ridho menyatakan cinta membuat Ridho yakin Cahaya mencintainya. Hubungan mereka berjalan lancar walau mereka berbeda universitas. Ridho sering mengajak Cahaya bertemu teman-temannya agar Cahaya juga memiliki teman dan lebih pandai bergaul. Setiap hari Ridho dan Cahaya selalu janjian bertemu di halte tempat Cahaya menunggu bus untuk ke kampus. Ridho selalu mengantar Cahaya sampai ke kelasnya baru Ia ke kampusnya tidak peduli dia harus terlambat karena bukankah Ridho terkenal karena itu juga. Walau sebenarnya Ridho memiliki motor dan mobil, namun Ridho lebih memilih menggunakan bus saat bepergian dengan Cahaya karena Ridho ingin bisa selalu melihat dan menggenggam tangan Cahaya saat bersamanya. Semenjak menjadi kekasih Ridho, Cahaya menjadi wanita yang lebih ceria dan Ridho menjadi lebih disiplin walau terkadang masih suka cereboh tentunya. Tak ada masalah berarti dalam hubungan mereka ketika mereka kuliah. Hanya sering cek cok kecil yang biasanya Cahaya yang memulai karena Ridho yang telat atau Ridho yang terlalu ramah sehingga membuat Cahaya cemburu. Namun masalah dapat dengan mudah diselesaikan dengan permintaan maaf Ridhi yang selalu romantis. Masalah mulai terjadi saat Ridho harus melanjutkan kuliah S2 di Jepang sebagai Sutradara. Sejak kuliah di Jepang Ridho menjadi sangat sibuk dan sulit dihubungi membuat Cahaya yang terbiasa dengan keberadaan Ridho disisinya sering mengeluh. Cahaya merasa Ridho sudah tidak mencintainya lagi hingga terjadilah perdebatan yang cukup panjang bahkan dengan nada tinggi untuk pertama kalinya. "Ridho.....apa yang sedang kau lakukan?" "Aku sedang mengerjakan tugasku Cahaya Ku sayang..." jawab Ridho lembut saat mendengar nada sedih di suara Cahaya. "Ridho kenapa kau jarang menghubungiku? Kau sudah lama tidak menghubungiku...." ucap Cahaya mulai menangis. "Cahaya....Aku..." " Aku merindukanmu Ridho .... apa kau tidak merindukanku? "Cahaya A..." "Ridho....apa kau tidak mencintaiku lagi?" " Ti..." "Ridho apa kau punya kekasih lain di sana?..hikz.... Apa kau sudah bosan denganku yang membosankan?.... hikz...Kalau kau memang tidak mau berhubungan lagi denganku,.. hikz.... sebaiknya kau katakan yang sebenarnya.... hikz....jangan membuat aku berharap....hikz...." " Cahaya aku sedang mengerjakan tesisku.....apa kau tidak mengerti?" untuk pertama kalinya Ridho berteriak kepada Cahaya karena Cahaya yang selalu memotong omongannya. "Ridho....kau membentakku....hikz...." "Cahaya....A..." "Jika kau masih mencintaiku temui aku sekarang....hikz..." " Aku tidak bisa Cahaya....Aku..." " Baiklah Aku akan menunggumu...kalau kau tidak datang juga berarti kita berakhir....hikz...." Cahaya langsung memutuskan sambungan tanpa mendengar jawaban Ridho. Flashback end Cahaya mengusap air mata yang mengalir di pipinya saat mengingat kenangan 3, 5 tahun yang lalu. Saat Cahaya kembali ke alam sadarnya lagu yang bertajuk Apalah Arti Menunggu itu masih terdengar. Sekarang Aku Tersadar Cinta Yang Kutunggu Tak Kunjung Datang Apalah Arti Ku Menunggu Bila Kamu Tak Cinta Lagi Dengan berakhirnya lagu itu Cahaya pun berdiri untuk meninggalkan cafe itu setelah orang yang ditunggunya tak kunjung datang ke cafe favorite mereka itu. "Cahya......" panggil seseorang dengan terengah tepat saat Cahaya baru keluar cafe. Cahaya hanya melihatnya sekilas kemudian melanjutkan langkahnya meninggalkan pria yang Ia cintai. "Ayolah Cahaya Ku sayang.... jangan marah Ok ?!... Aku baru terlambat 30 menit...." ucapnya Ridho dengan nada memelas dan berusaha mengiringi langkah Cahaya. "Ckk....tapi itu cukup lama bagiku.....bilang saja Kamu sudah tidak mencintaiku lagi jadi apa arti aku menunggu..."ujar Cahaya ketus mulai berlari. "Apa penyanyi cafe itu menyanyikan lagu itu lagi?.... Cahaya jangan lari dalam kondisimu seperti itu..." ucap Ridhi lalu mengejar dan langsung menggendong Cahaya ala bridal style karena tidak memungkinkan bagi Cahaya di gendong di punggung. "Ckck....bagaimana bisa kau seringan ini disaat usia kandunganmu sudah 6 bulan..." ucap Ridho terkekeh menggoda istrinya itu. Cahaya hanya merona lalu memeluk leher Ridho seolah melupakan kemarahannya pada Ridho karena membuatnya menunggu. Sepertinya Ridho sangat hapal dengan tabiat istrinya jika sedang hamil karena ini sudah anak kedua mereka. Jika Cahaya hamil dia menjadi manja dan sensitif. Bahkan menunggu sebentar saja bisa sangat lama baginya. Dan jika Cahaya sedang galau maka Ia akan mendramatisir keadaan seperti di cafe tadi. Ridhk hanya terlambat 30 menit karena harus menitipkan anak pertamanya yang berusia 18 bulan kepada orang tuanya karena Ridho ingin berkencan berdua saja dengan Cahaya hari ini. "Ridho... kenapa menggendongku ke halte?" Tanya Cahaya bingung karena sejak Ridho bekerja sebagai direktur 3 tahun lalu Ridho selalu memakai mobil untuk menghemat waktu. "Aku ingin kita berkencan dengan bus untuk mengingat masalalu kita dulu..." ucap Ridho lembut dan kini sudah duduk di kursi halte dengan Cahaya tetap dipangkuannya. "Tapi kau bilang aku tidak boleh lelah..."ucap Cahaya manja. "Karena itu Aku akan selalu menggendongmu selama kita berkencan seperti saat ini..." Cahaya langsung tersenyum dan merona mendapat perlakuan manis Ridho. Walau mereka sudah memiliki anak mereka selalu menyempatkan untuk berjalan-jalan bertiga bersama Alray anak pertama mereka atau hanya berdua saja seperti sekarang. "Ridho... Aku mencintaimu...."ucap Cahaya lalu mencium sekilas pipi Ridho membuat Ridho tersenyum. "Aku juga mencintaimu Cahaya Ku sayang...." ucap Ridho lalu mencium kening Cahaya namun cukup lama tanpa mempedulikan orang -orang di halte yang menatap mereka. Ciuman mereka berhenti saat Bus yang mereka tunggu datang. Dan Ridho sesuai janjinya menggendong Cahaya untuk menaiki bus membuat iri orang-orang disana atas kemesraan mereka. Epilog Saat mendengar ancaman Raisa untuk mengakhiri hubungan mereka Ridho buru-buru mengerjakan tugasnya lalu bergegas ke bandara untuk pulang ke Indonesia. Namun ternyata Ridho harus menunggu karena pesawat ke Indonesia saat ini sedang penuh. Ridhk terpaksa menunggu penerbangan berikutnya dengan gelisah. Saat Ridho tengah gelisah tiba-tiba hanphone Ridho berbunyi dan ada telpon dari Cahaya. "Cahaya Ku.... Maaf.....Pesawat ke Jakarta sedang penuh....Aku sedang menunggu pesawat penerbangan berikutnya..." ucap Ridho langsung sebelum Cahaya mengucapkan sesuatu. "Tidak.... tidak perlu Ridho karena Aku sudah di Jepang.." ucap Cahaya senang membuat Ridho terkejut. Belum sadar dari keterkejutannya Ridho sudah dikagetkan dengan pelukan seseorang di belakangnya yang mengucapkan sesuatu. "Ridho.... Aku merindukanmu... Kau mencintaimu...."ucap Cahaya sedikit berbisik. "Cahaya....kenapa kau kesini...Aku sudah akan menemuimu..." ujar Ridho heran karena Cahaya nekat menemuinya. "Tidak... bukankah Aku yang sangat merindukanmu jadi Aku juga yang harus berusaha melepas kerinduanku....Maaf atas kata-kataku tadi dan sudah membuatmu panik..."ucap Cahaya menunduk. "Baiklah....tapi kau tidak perlu kesini...." "Aku tidak mau hanya kamu yang terlihat hebat di depan keluarga kita karena harus menghadapiku yang terkadang manja dan egois.... Aku juga mau mereka melihatku bahwa Aku juga ingin membuatmu bahagia..."ucap Cahaya lalu memeluk erat Ridho. "Apa kau sangat merindukanku sampai marah seperti itu... padahal tadi pagi juga Aku menghubungimu... kkk "ujar Ridho terkekeh geli dengan sifat calon istrinya itu jika sudah sangat manja. Tiga minggu setelah itu Ridho sudah diwisuda dan menyelesaikan tesisnya. Satu bulan kemudian Ridho dan Cahaya pun menikah dan Ridho melanjutkan perusahaan Ayahnya yang di Indonesia yang berhubungan dengan entertainment. Setahun kemudian Ridho dan Cahaya akhirnya punya anak laki-laki yang diberi nama Alray Pratama. Dan rumah tangga mereka terus berlanjut sampai sekarang dan semoga selama-lamanya. The End
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD