Pukul 22.00 wib
Suasana hening menyelimuti apartemen sederhana wanita yang bernuansa biru orange tersebut. Hal tersebut bukan di sebabkan penguninya sudah terlelap namun karena 2 orang yang berada d ruang tengah tersebut sedang sibuk dengan pikiran masing masing. Setelah hening 10 menit akhirnya sang pria-lah yg memecah keheningan tersebut...
"Apa kabarmu Airin?" tanya pria tersebut pelan tanpa menatap sang wanita.
"Baik Kak...." jawab Airin dengan sedikit gugup juga tanpa menatap sang pria.
"Sekarang sudah malam dan aku yakin kau juga lelah karena sibuk seharian ini.... Jadi aku mau to do point saja..... Sebenarnya aku tidak mau mengganggumu malam-malam seperti ini... Tapi sepertinya belakangan ini sulit sekali bertemu denganmu..." ucap pria tersebut berusaha santai.
"Jadi apa yang ingin Kakak bicarakan?..." tanga Airin langsung yang sudah tidak tahan dengan suasana tegang seperti ini.
"Hmmm....." gumam pria tersebut diiringi senyuman miris.
"Apa sekarang kau sudah tidak betah berada lama bersamaku?..." lanjutnya.
"Bukankah Kakak yang bilang ingin to do point.... Jadi langsung saja... Aku lelah..." ucap wanita berambut hitam tersebut sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Baiklah....jadi kau ingin kita bagaimana?...." tanya pria tersebut kemudian menarik nafas sebentar seolah menyiapkan tenaga untuk melanjutkan pertanyaannya.
" Kau ingin kita lanjutkan atau ... berpisah?..." lanjut pria bernama Yanuar tersebut.
Sang wanita langsung membulatkan matanya dan tubuhnya pun langsung tegang. Airin benar tidak mengira kekasihnya akan bertanya seperti itu. Namun Airin hanya bisa menunduk tanpa menjawab pertanyaan kekasihnya.
Yanuar akhirnya menyandarkan tubuhnya di sofa untuk merilekskan tubuhnya yang dari tadi tegang. Dia sebenarnya tidak mau mengeluarkan pertanyaannya itu. Tapi dia sudah tidak sanggup lagi menahan perasaannya setelah sebulan ini dia tidak bertemu dengan kekasihnya itu. Dia benar-benar kalut dengan hubungannya itu.
"Apa kau bahagia bersamanya sebulan ini?..." tanya Yanuar.
"........." Airin diam karena terkejut dengan pertanyaan kekasihnya itu.
"Apa dia lebih baik dariku sehingga kau lebih memilih bersamanya sebulan ini.... Pulang pergi bersama, makan siang bersama bahkan berakhir pekan bersama....." Ucap pria itu pelan disertai senyum mirisnya.
"Kak?....Bagaimana Kakak tau?... Kakak mengawasiku? ... Kakak menguntitku?..." tanya Airin dengan suara yang sedikit tinggi.
Kali ini bukan hanya senyum miris yang tercipta di wajah tampan Yanuar. Tapi juga kini matanya sudah berkaca-kaca.
"Menguntit?!....aku tidak menyangka akan mendengar kata itu dari mulutmu Airin..." gumam Yanuar itu tapi masih dapat didengar Airin karena posisi mereka yang cukup dekat. Ekspresi terkejut langsung tercipta di wajah Airin. Dia juga tidak menyangka kenapa kata itu bisa keluar dari mulutnya. Airin sadar dia salah. Airin langsung menundukkan kepalanya dan memejamkan matanya mencoba meredam emosinya.
"Apakah kebiasaanku yang tiap pagi menjemputmu di apartemenmu, tiap jam makan siang selalu kekantormu untuk makan siang bersama dan tiap sore menjemputmu sepulang kerja bisa di sebut penguntit?... Bukankah kita memang melakukannya selama ini?..... Tapi sepertinya kau lebih memilih orang lain untuk melakukannya bersamamu sehingga sebulan ini aku hanya bisa melihatmu dengan pria itu. Yaah...mungkin aku memang penguntit....karena sebelumnya kau sudah bilang tidak bisa karena ada urusan. Tapi maaf karena aku tetap ingin menemuimu karena aku ingin melihatmu....." ungkap Yanuar panjang lebar dengan terdengar jelas nada kecewanya terhadap Airin.
Airin hanya diam. Airin tidak menyangka Yanuar mengetahui semuanya. Selama sebulan ini Airin sedang didekati oleh direktur barunya di kantor. Airin sadar seharusnya dia menolaknya karena Airin sudah memiliki kekasih. Namun entah kenapa Airin malah memberikan berbagai alasan agar dia bisa menolak ajakan Yanuar saat ingin bertemu.
Hubungan Yanuar dan Airin yang telah menginjak usia 8 tahun membuat Yanuar tidak pernah curiga kepada Airin. Saat hari pertama Airin menolak makan siang bersama, Yanuar tidak membantah atau banyak bertanya. Dia mengikuti kemauan Airin yang bilang akan makan siang dengan teman-teman kantornya untuk merayakan keberhasilan proyek mereka. Tapi Yanuar yang saat itu sudah di perjalanan ke kantor Airin tetap melanjutkan perjalanannya. Dia hanya ingin melihat kekasihnya itu walau dari jauh karena dia tidak ingin menggangu.
Tapi saat sampai dia melihat Airin pergi dengan seorang pria. Tidak ada teman-teman yang lainnya. Yanuar tetap berfikiran positif dan percaya pada Airin. Dia bahkan tidak bertanya pada Airin. Hal itu berlanjut selama sebulan. Akhirnya Yanuar tau ternyata pria itu Irfan Aditya, Direktur baru di kantor Airin. Pria itu sedang mendekati Airin. Ingin sekali Yanuar menghajar pria itu yang mencoba mendekati kekasihnya. Tapi melihat Airin yg sepertinya senang saat bersama pria itu membuat Yanuar tetap diam walau hatinya sakit. Dia berusaha bersikap seperti biasa kepada Airin. Yanuar tetap memberikan perhatiannya walau hanya lewat telpon atau pesan singkat. Yanuar sebenarnya merasa kalo Airin berubah. Airin jadi sedikit cuek dengan Yanuar, tapi lagi-lagi Yanuar mencoba sabar. Sampai akhirnya tiga hari yg lalu tepat hari ulang tahun Airin, Airin lebih memilih merayakannya bersama Irfan. Yanuar sangat kecewa. Padahal dia sudah menyiapkan banyak hal spesial tuk Airin.
"Apakah aku melakukan kesalahan Rin sehingga kau menghindariku?..." Tanya Yanuar penasaran sambil memegang kedua tangan Airin dan akhirnya berani memandang wajah sendu Airin. Airin hanya menundukkan wajahnya sambil memikirkan jawaban apa yang akan iya berikan kepada Yanuar.
"Apa aku menyakitimu Rin...?" tanyanya lagi dengan sedikit cemas.
"Ti....Tidak..."jawab Airin pelan.
"Lalu....apa kamu merasa bahagia bersamanya?... Apa kau lebih nyaman bersamanya Rin?..." Tanya Yanuar pelan dengan sedikit takut. Takut jika jawaban yang diberikan Airin mengecewakannya. Yanuar semakin takut saat Airin tidak juga menjawabnya setelah 5 menit.
"A...aku...hanya...merasa....sesak...bersama....mu..." jawab Airin pelan sambil memejamkan matanya. Menahan agar airmatanya tidak keluar.
Tess.... akhirnya airmata keluar dari pelupuk mata Yanuar. Yanuar menjadi benar-benar lemas sehingga tangan yang tadi menggenggam tangan Airib pun terlepas. Yanuar sangat tidak menyangka dengan jawaban Airin.
"Sesak??!...." gumam Yanuar entah bertanya pada Airin atau dirinya sendiri.
"Ya..." ucap Airin mencoba kuat.
"Kakak yang selalu berada disisiku selama 8 tahun ini, selalu mengantar jemput ku kemana pun, selalu menghabiskan waktu luang bersama, makan siang bersama, liburan bersama, akhir pekan bersama, itu semua membuatku sesak....tidak bisa bebas bernafas. Aku tidak punya waktu untuk bersama teman-temanku bahkan waktu untuk diriku sendiri..."ucap Airin penuh emosi dan airmata.
"Benarkah??..." gumam Airin. Dia masih tidak yakin dengan semua yang keluar dari mulut Airin.
"Kau tidak pernah mengatakannya selama ini...." ucap Yanuar pelan mencoba membela diri dan memberi alasan agar Airin mengerti dengan demikian hubungan mereka bisa terselamatkan.
"Untuk apa?... Apa kamu mau mendengar?... Bukankah kamu sangat egois. Bahkan saat kuliah dulu pun Kakak memaksaku satu kampus dengan Kakak padahal aku ingin di kampus lain..." jawab Airin lagi masih dengan emosi namun sedikit ditahannya. Semakin banyak kata yang keluar dari mulut Airin maka semakin banyak pulalah airmata yang keluar dari mata Yanuar.
Sungguh.... Yanuar tidak menyangka begini perasaan Airin selama ini berhubungan dengannya.
"Aku.... aku... benar-benar tidak tahu... Aku tidak menyangka perasaan kita berbeda.... Aku merasa sangat bahagia bisa selalu bersama denganmu...." ucap Yanuar pelan.
"Aku hanya tidak ingin kamu kesepian... aku tidak ingin kamu merasa aku tidak memperhatikanmu... aku hanya ingin menunjukkan kalau aku sangat mencintaimu..... Aku terlalu takut kehilanganmu...." lanjut Yanuar dengan tatapan kosong memikirkan ternyata rasa cintanya yang besar malah membuat orang yang dicintainya sesak. Yanuar hanya berusaha menjaga cintanya. Dia tidak ingin kejadian yang menimpa ayahnya juga menimpanya.
Dulu saat usia Yanuar 10 tahun orang tuanya bercerai karena ibunya mencintai pria lain karena ayahnya yang terlalu sibuk bekerja sehingga tidak ada waktu untuk istrinya. Ayahnya sungguh menyesali sikapnya walaupun sebenarnya Dia hanya ingin keluarganya bahagia dan hidup berkecukupan, tidak miskin seperti Dia dulu. Tapi nyatanya orang yang dicintainya malah pergi. Untungnya hak asuh kedua anaknya jatuh kepadanya.
"Maaf.... Aku benar-benar minta maaf....aku hanya tidak ingin kau pergi meninggalkanku... aku tidak tahu kau sesak karena itu....aku hanya merasa tidak bisa jika sehari saja tanpa bersamamu dan menjalankan semuanya bersamamu....aku mohon maafkan aku...." mohon Yanuar.
"Ya ....kau melakukan itu semua karena itu rutinitasmu dengan semua jadwal yang kau rencanakan semaumu. ... Kakak hanya mengikuti jadwal yang ada selama ini seperti saat Kakak sekolah.... Kakak tidak pernah memikirkan bahwa orang terkadang bosan dengan rutinitas yang monoton.... Aku juga seperti itu Kak, punya rasa jenuh... Tidak sepertimu yang memang selalu hidup sesuai jadwal....Bahkan mungkin kau menjalankan keseharianmu bersamaku selama ini hanya sekedar rutinitas tanpa perasaan..."balas Airin panjang lebar. Walaupun dia merasa kurang yakin tapi setidaknya dia harus mempertahankan egonya agar tidak berada diposisi yang bersalah telah menghancurkan hubungan mereka.
"Tidak....aku...." Yanuar tidak bisa melanjutkan katanya karena dia merasa percuma. Airin sudah menuduhnya, Airin tidak bertanya. Yanuar diam mencerna semua pembicaran dengan Airin malam ini. Kesimpulan Yanuar adalah jadi selama ini Airin tidak merasakan perasaannya yang tulus, perasaannya yang sangat bahagia saat bersama Airin. Yanuar selalu bersemangat dan seolah mendapat vitamin penambah tenaga jika bersama Airin, tapi ternyata Airin malah merasa sesak saat bersama Yanuar. Ternyata perasaan mereka berbeda.
Akhirnya kembali terjadi keheningan antara mereka berdua. Airin menunduk mencoba menahan isak tangisnya yang semakin keras apalagi setelah mengucapkan kalimat-kalimat terakhirnya. Seolah mencoba bertahan agar tidak meralat semua kata-kata yang keluar dari mulutnya. Airin tidak yakin, sangaaaat tidak yakin dengan semua kata-katanya itu. Tapi dia harus bertahan dalam perdebatan kali ini. Hingga akhirnya seperti biasa Yanuar akan meminta maaf.
Setelah keheningan yang lama dengan pemikiran masing-masing Yanuar mengusap wajahnya mencoba menghilangkan bekas-bekas airmatanya dan mencoba untuk melanjutkan pembicaraannya..
"Maaf....jika selama ini aku membuatmu sesak.... Apa kau bahagia bersama Irfan?..." tanya Yanuar mencoba santai dan tegar.
"Ya... dia selalu menanyakan dulu pendapatku sebelum melakukan apapun.... Dia selalu bertanya apa aku senang atau tidak.... Dia juga mau memenuhi keinginanku untuk merayakan ulang tahun ku kemarin di Jepang...." jawab Airin mencoba santai dan sedikit memanas-manasi Yanuar.
"Jadi kau benar-benar nyaman dan bahagia bersamanya sekarang?!!!...." gumam Yanuar dengan senyuman yang sangat miris dan mencoba untuk menahan agar airmatanya tidak jatuh kembali.
"Baiklah....jika kau sekarang bahagia bersamanya....aku akan merelakanmu....sekali lagi maafkan aku yang sudah membuatmu sesak selama ini.... berbahagialah sekarang kau bersamanya...." ucap Yanuar.
Yanuar mencoba mengumpulkan seluruh tenaganya agar dapat berdiri dan pergi dari hadapan perempuan mungil ini.
"Sepertinya aku harus pergi.... sekarang sudah lewat tengah malam....maaf mengambil waktu istirahatmu... Aku pergi.... istirahatlah... permisi..." ucap Yanuar sesantai mungkin seolah hanya perpisahan biasa. Airin hanya bisa membulatkan matanya seolah tidak percaya dengan kata-kata yang keluar dari mulut Yanuar. Tapi Airin pun tidak berbuat apa-apa. Dia hanya menundukkan kepalanya mencoba menyembunyikan kesedihannya dan mencoba menahan airmatanya yang sudah membanjiri pelupuk matanya.
Namun akhirnya airmata Airin tetap keluar saat Yanuar dengan lembut dan dalam mengecup pucuk kepala Airin sebelum akhirnya berjalan meninggalkan Airin sendiri di apartemennya itu.
Beginikah akhirnya tepat pukul 00.07 tanggal 9 September 2017 yang seharusnya sepasang kekasih merayakan hari jadian mereka yg ke 8 dengan suasana romantis dan bahagia tetapi yang ada hanya airmata.....
I wanna grow old with you
I wanna die lying in your arms
I wanna grow old with you
I wanna be looking in your eyes
I wanna be there for you, sharing everithing you do
I wanna grow old with you
Itulah sebenarnya harapan dua insan manusia itu saat mereka mengawali hubungan cinta mereka 8 tahun yg lalu.
Namun apakah hal itu dapat terwujud atau berakhir seperti ini....entahlah....