Saat ini aku tidak punya pilihan lain, membuka cadar dan tidak sama saja. Aku akan mempermalukan keluarga. Lazio melirikku sembari tersenyum tipis, ia merapikan jasnya sebelum melangkah maju. Pertanda setuju membantu.
Pria berbadan tinggi itu berdehem, membuat orang-orang memerhatikannya termasuk Mas Umar. Kakak pertamaku ditolong adikku, membawanya ke sisi Abah. Kasihan dia sudah babak belur.
"Hahahaha kalian semua sudah ditipu orang ini," kata Lazio sembari bertepuk tangan.
"Siapa kamu?" tanya Mas Umar.
Lazio merapikan rambutnya dengan jemari, sangat tampan dan gagah dibandingkan Mas Umar yang notabenenya pendek.
"Perkenalkan saya Lazio, orang yang berkali-kali ditolak Zeyara, saya berani bersumpah bahwa Zeyara adalah gadis terhormat yang tidak pernah melakukan hal tercela seperti yang dituduhkan.
"Di Jakarta Zeyara selalu diperebutkan para pria, tapi dia lebih memilih menikah dengan orang hina yang tega memfitnahnya ini. Zeyara selalu menjaga jarak dan pandangan terhadap lawan jenis, dia wanita paling hebat yang pernah saya temui.
"Pria manapun akan langsung jatuh hati pada sikapnya yang pandai menjaga diri. Jadi bisa dipastikan bahwa semua tuduhan yang dilayangkan padanya adalah fitnah, saya menjadi saksinya."
Lazio pandai membuat orang goyah lewat intonasi suaranya yang tegas dan meyakinkan, padahal kami hanya bertemu sekali, tapi dia bisa menilai orang dengan sangat kritis.
"Coba kamu buktikan semua omongan kosongmu itu." Mas Umar menantang.
Orang-orang kembali berbisik. Kali ini aku maju. "Untuk apa membuktikan sesuatu yang sudah jelas?"
Lazio berjalan di antara aku dan Mas Umar, ia membuatku berada di belakang punggungnya.
"Saya akan menikahi Zeyara untuk membuktikan bahwa dia wanita mulia yang siapapun ingin memilikinya," ucap Lazio. Membuatku tercengang.
Tak hanya aku, tapi juga semua orang. Penghulu yang sedari tadi makan sembari menonton keselek hingga ditepuk-tepuk, biji salak keluar dari mulutnya.
Kami mengalihkan pandangan lagi ke Lazio, aku mendekat padanya, berbisik. "Kamu jangan ngawur."
Suasana sudah kondusif, pembelaan dari Lazio membuat orang meragukan Mas Umar. Jadi tidak perlu sampai menikahiku.
Lazio balas berbisik, "aku nggak bercanda. Kita harus total kalau mau menang."
Ini akal-akalan Lazio atau memang sungguhan? Firasatku mengatakan dia mengambil kesempatan dalam kesempitan. Tapi tidak mungkin dia mau menikahi sembarangan perempuan hanya untuk membantu. Pasti ini bagian dari rencananya.
"Dia wanita rusak, apa matamu buta?" tanya kakak perempuan Mas Umar. Menunjuk foto-foto wanita yang mirip aku.
Mbak Sila, dia adalah orang yang paling memusuhi keluargaku sejak dulu. Selalu sinis dan berkata kasar.
"Jangan sok-sokan nolong, keluargamu tidak akan setuju memiliki menantu sepertinya, sama seperti keluarga kami."
Kali ini Mbak Sila benar, Lazio punya keluarga. Dia tidak mungkin asal menikah tanpa melibatkan keluarganya.
"Kau tidak perlu khawatir, aku anak yatim." Lazio menjawab dengan enteng. Bibirnya tersenyum.
Mas Umar dan keluarga mulai resah, mereka saling berbisik. Sepertinya yang dikatakan Lazio benar, kalau aku tidak menikah dengan Lazio sekarang, maka mereka yang akan menang.
Lazio berjalan ke arah Abah dan Ummi, matanya memandang lekat mata Abah yang napasnya masih naik turun.
"Saya meminta izin menikahi Zeyara, dia adalah wanita luar biasa yang pernah saya temui."
"Apa kamu yakin dan tidak terbawa emosi sesaat?" tanya Abah.
Kakak keduaku yang sedari tadi menenangkan Abah ikut bersuara, "kalau kamu mengasihani kami, demi Allah itu tidak perlu."
Lazio menggeleng, "saya menikahi Zeyara bukan karena kasihan. Saya tulus menyukainya."
Ucapannya membuat siapapun merasa terharu, hatiku sempat goyah dan berpikir itu sungguhan. Aku melihat ke arah Mas Umar. Dia terlihat kesal.
Aku bingung, haruskah menikah dengan orang yang baru dikenal untuk menyelamatkan harga diri keluarga, atau diam saja menyaksikan Mas Umar dan keluarganya mempermalukan keluargaku.
Aku memejamkan mata, beristighfar, meminta petunjuk pada Allah. Aku sudah shalat istikharah dan meminta petunjuk tentang pernikahan. Allah memberiku mimpi tentang seorang pria ijab kabul atas namaku, meski tidak jelas wajahnya.
Mungkinkah pria di mimpi itu Lazio bukan Mas Umar? Aku membuka mata. Suasana masih kacau dan Lazio sedang bercakap dengan Abah. Meminta izin menikahiku.
"Kamu belum melihat wajah anak saya, apa kamu yakin akan menikahinya?" tanya Abah sekali lagi.
"Saya yakin dengan pilihan saya, tolong izinkan saya menjadi pendamping hidup putri anda. Saya berjanji akan menghormatinya seumur hidup."
Abah diam sejenak, tangannya memintaku mendekat. Aku segera datang dan ikut berlutut di samping Lazio. Gaun pengantin membuatku kesulitan.
"Apa kamu bersedia dipinang pemuda ini?" tanya Abah.
Aku menoleh, Lazio tersenyum hangat membuat jantungku berdebar tidak karuan. Aku memejamkan mata beristighfar. Meminta kepada Allah semoga keputusanku tidak salah.
"Zeya bersedia." Kalimat itu keluar begitu saja.
"Apa sebelumnya kamu sudah mengenal pria ini?" tanya Abah lagi.
"Sudah, Bah."
"Apa menurutmu dia pria yang baik?"
Aku diam sesaat, mengingat pertemuan kami di bandara. Lazio menghormatiku yang tidak mau bersentuhan, dia humoris dan mudah bergaul. Dia juga menepati janji untuk datang ke pernikahanku meskipun kami hanya bertemu sekali.
Aku memejamkan mata, bingung, tidak bisa disimpulkan dia pria yang baik atau tidak. Pertemuan pertama kami terlalu singkat. Tapi sekarang dia mau menikahiku untuk menyelamatkan harga diri. Kupikir dia sungguh orang baik.
"Dia pria yang baik."
Lazio tersenyum mendengarnya, ia menunduk. Sama sepertiku yang meliriknya.
Dari arah belakang Mas Umar berteriak, "apa-apaan kalian?! Yang mau menikah hari ini adalah aku dan Zeya. Kenapa malah jadi orang asing ini?"
Teriakan itu tidak dihiraukan, orang-orang berfokus padaku dan Lazio. Termasuk Abah yang menepuk kedua bahu kami.
"Kalau begitu, Abah izinkan kalian menikah."
"Terima kasih sudah mengizinkan saya menikahi Zeyara sekarang." Lazio mencium tangan Abah dengan takzim. Sepertinya dia orang yang sungguh tulus. Hatiku goyah di antara senang dan takut.
"Sekarang?" tanya Abah terkejut.
"Saya takut kehilangan Zeyara jika tidak menikahinya sekarang juga."
"Bagaimana dengan keluargamu, pernikahan tidak bisa dilakukan jika keluargamu tidak setuju."
"Saya anak yatim, hidup sebatang kara. Saya ingin menjadikan Zeya dan Abah keluarga saya. Saya mohon izinkan saya menggantikan orang itu menikahi Zeyara hari ini."
Abah terlihat berpikir, bertanya ke Ummi dan kedua kakakku. Mereka menyetujuinya dengan tatapan amarah pada Mas Umar.
"Zeya, apa kamu mau menikah dengan pemuda ini hari ini juga?" tanya Abah.
Aku mengangguk. "Zeya bersedia." Melirik ke Mas Umar dan keluarganya yang penuh emosi.
"Hentikan! Apa-apaan kalian?!" Teriak Mas Umar di samping kami. Dia tidak mau menikahiku tapi tidak rela aku dinikahi pria lain. Sungguh lucu sekali.
"Baiklah kalau itu keputusan kalian berdua, Abah izinkan."
Lazio berdiri tanpa membantuku mengangkat gaun yang berat, aku tidak protes karena dia tahu kami harus menjaga jarak sebelum sah.
"Tapi, Nak. Mahar apa yang bisa kamu berikan untuk putriku di pernikahan yang sudah kacau ini?" tanya Abah.
Lazio mengeluarkan kalung yang dipakai, berbandul liontin perak berbentuk kunci. Ada simbol kecil yang tidak terlihat jelas. Ia memberikan itu ke Abah.
"Ini peninggalan orang tua saya yang berharga," ucapnya. Lalu mengeluarkan dompet. Memberikan semua dollar di sana. "Saya hanya membawa uang segini. Apakah cukup?"
Lazio memberikan pecahan 100 dollar 20 lembar, 50 dollar 12 lembar dan 20 dollar 5 lembar. Itu angka yang banyak. Sementara uang rupiah tidak ia keluarkan sama sekali. Aku sempat lihat ia memiliki sekitar
700 ribu.
"Ini sudah lebih dari cukup, Zeya apa kamu menyutujui maharnya?" tanya Abah.
Aku mengangguk setuju. Sementara Mas Umar terus berteriak dan menunjukkan foto-foto yang dibawa pada semua orang.
"Wanita rusak itu mau menikah, apa kalian pikir pria yang mau menikahinya itu sudah gila?!"
"Ini gila! Seharusnya tidak seperti ini!"
Kami tidak ada yang menghiraukannya.
Kakak-kakakku dan panitia menyiapkan tempat ijab kabul yang sudah berantakan. Sementara Lazio yang berada di sebelahku terus tersenyum, sepertinya dia sungguh senang dengan pernikahan dadakan ini.
Tapi Mas Umar terus menerus mengoceh di samping Lazio, menunjukkan foto-foto dan menyakinkan Lazio membatalkan rencananya.
"Apa kau tidak lihat betapa rusaknya wanita itu? Bagaimana bisa kamu menikahinya? Batalkan acara ini sebelum kamu menyesal seumur hidup."
Mas Umar terus meyakinkan Lazio yang tidak menghiraukannya. Kemudian Lazio mendekat di samping telinga Umar. Ia berkata pelan tapi masih bisa aku dengar.
"Kalau kau mengoceh lagi, aku akan membunuhmu."
bersambung