Aku memantapkan diri menikah hari ini, tanpa tahu bahwa mempelainya berubah. Mungkin, Allah memang menghadirkan Lazio menjadi pengantin priaku.
Aku melirik Lazio, pria gagah dengan rahang tegas, maju demi melindungi harga diri dan menyelamatkan keluargaku. Ia mengusir Mas Umar dan keluarganya. Para panitia pun beralih mempercayai Lazio dan membantu mengamankan acara.
Panita menyiapkan aula pernikahan lagi, membereskan kursi yang berserakan, dekor yang rusak dibenahi. Kakak keduaku berbicara pada penghulu, meminta maaf karena ijab kabul harus ditunda.
"Silakan kemari, kami akan merias anda." MuA rias pengantin berbicara pada Lazio.
"Sebenarnya nggak perlu karena aku sudah tampan."
Langkah santai Lazio mengikuti dua perempuan itu masuk ke dalam ruangan dengan percaya diri.
Tiba-tiba aku dikejutkan adik laki-lakiku. Wajahnya muram, seolah sangat sedih dengan pernikahan kakaknya.
"Mbak, kalau nggak ingin nikah jangan dipaksa."
Aku tersenyum dan menepuk pundaknya. "Kamu nggak perlu khawatir, ini kemauan Mbak sendiri."
Raut sedihnya tidak berubah, ia melirik Lazio sudah menghilang di balik pintu. Seperti tidak suka kakaknya menikah dengan pria yang baru pertama ditemui keluarga.
"Aku takut Mbak menderita, apalagi kita nggak kenal keluarganya."
"Kita sudah kenal keluarga Mas Umar, endingnya seperti ini. Kenal keluarganya atau nggak, sama sekali nggak menjamin. Jodoh udah diatur sama Allah."
"Kasih satu alasan mengapa Mbak harus menikah sama dia?"
"Karena dia baik?"
Adikku menggeleng. "Kita nggak tahu dia baik atau nggak."
"Dia bertanggung jawab?"
Adikku menggeleng lagi. "Kalau ngomong bertanggung jawab, temen-temen Mas Rio banyak yang suka sama kakak dan bisa bertanggung jawab."
Aku berpikir sejenak. "Karena dia alim?"
"Banyak orang alim temennya Mas Rio dan murid abah."
Aku kembali berpikir. "Karena dia ganteng. Temen Mas Rio nggak ada yang seganteng dia."
Adikku diam. Kali ini mengangguk setuju. "Kali ini aku kalah."
Adikku membenarkan ucapanku hingga membuatku tertawa. Aku melihat sekeliling, semua kembali seperti semula seolah tidak pernah terjadi apapun.
Aku melangkah mengambil foto perempuan yang mirip denganku dan mengenakan pakaian sexy, pria yang aku percaya membawa surga malah melakukan hal hina.
Padahal aku selalu menyebut Mas Umar dalam doa, berharap dia akan memimpinku ke surga. Tapi ternyata dia ... manusia sesat.
"Jangan dilihat," ucap adikku sembari merebut foto itu. Ia meremasnya.
"Aku mau balik ke ruang make up dulu," kataku.
Kakak pertama sudah diobati Ummi dan senang berbicara pada panitia untuk merubah dekor yang rusak, aku mengembuskan napas berat. Acara dilanjutkan dan aku menunggu di ruangan sampai ijab kabul selesai.
"Mbak pucat banget, minum dulu, jangan gugup." Adik perempuanku memberi minum.
"Makasih." Aku mengambilnya, berusaha menenangkan diri sembari minum dengan hati-hati, takut merusak riasan.
Telingaku masih mendengarkan proses ijab kabul yang terdengar lewat sound sistem. Kejadian Mas Umar tadi masih membayangi.
Aku meremas jemari ketika Lazio mengucap syahadat dan menjawab pertanyaan pertanyaan penghulu. Rasanya seperti dia baru pertama mengucap syahadat dan masuk islam.
Beberapa kali aku menyaksikan orang masuk islam, hatiku bergetar seperti ada malaikat di mengelilingi, ikut terharu. Perasaan itu kini hadir ketika mendengar suara Lazio mengucap syahadat dan dilanjutkan ijab kabul.
"Saya terima nikah dan kawinnya Zeyara Parvin Az-Zahra binti Qomaruddin dengan mas kawin tersebut dibayar tunai."
"Saksi sah?"
"Sah."
Penghulu memulai doa, aku menitikkan air mata. Rasa haru itu tiba-tiba menyelimuti seluruh tubuh. Adik perempuanku memeluk erat, ia ikut menangis.
Hari ini aku menikah dengan orang dengan yang Allah pilihkan. Ia mengucap janji suci atas namaku di hadapan semua orang. Pria yang tidak sengaja aku temui di bandara itu kini mengetuk pintu. Bersiap menyambutku yang sudah jadi istrinya.
Adikku membukakan pintu, membuatku bisa melihat Lazio memakai jas berwarna putih menatapku dengan senyum merekah. Tangannya terulur.
"Kemarilah."
Tanganku memakai henna ragu menyambutnya, belum pernah bersentuhan dengan pria yang bukan mahram. Tanganku sangat dingin karena gugup, aku menaruh tanganku di atas tangannya, baru bersentuhan langsung aku ambil lagi. Sangat gugup.
Orang-orang bersorak, menyuruhku menyambut uluran tangan Lazio. Masih saja ragu-ragu hingga Abah menghampiri.
"Nggak papa, Nak. Dia sudah sah menjadi suamimu."
Bibirku tersenyum di balik cadar, malu. Perlahan tanganku berada di atasnya, untuk pertama kali Lazio memegang tanganku. Dia tampak senang.
Sorakan dari orang-orang membuatku malu, banyak yang merekam dan adikku menyiarkan langsung memakai akun IG. Acara sangat meriah seperti tidak ada insiden sebelumnya. Seolah pesta pernikahan ini memang untuk kami berdua.
Lazio menggandengku menuju mimbar, penghulu memandu kami melakukan seserahan mahar. Setelah menerimanya, aku mencium tangannya. Ia pun mencium keningku.
Jantungku berdegup sangat kencang karena pertama kali dicium seorang lelaki. Tapi ketika melihat wajah Lazio yang tersenyum membuat perasaan ini tak karuan.
"Sekarang silakan sungkem pada orang tua."
Abah dan Ummi sudah duduk di kursi, kami menghampiri mereka dan berjongkok. Ummi mencium keningku dengan linangan air mata. Tak sanggup berkata-kata.
Perkataan Abah pada Lazio membuatku menoleh, melihat mata Abah berkaca-kaca.
"Nak Lazio, Abah membesarkan Zeya dengan penuh kasih sayang, dia harta berharga yang Abah jaga. Sekarang Abah diserahkan dia padamu, tolong jaga baik-baik dan tuntunlah dia ke surga.
"Kalau suatu hari nanti kamu sudah tidak mencintai putriku lagi, tolong jangan sakiti dia, kembalikan dia pada Abah, sekecil apapun dia terluka, demi Allah Abah tidak rela."
Mendengar itu aku terisak, Abah sangat menyayangiku. Ia selalu memberikan yang terbaik dan menjagaku.
"Saya akan mengingatnya dengan baik." Lazio mencium tangan Abah.
Lazio terhitung jarang bicara setelah ijab kabul, apa mungkin dia sedih karena tidak memiliki orang tua? Tatapannya pada keluargaku yang harmonis terlihat berbeda. Senyum simpul terkesan miris.
Kami berdiri dan menyalimi kakak pertamaku, beliau mencium dan memeluk erat. Ia sangat menyayangiku dibandingkan adiknya yang lain. Kakak pasti merasa kehilangan.
"Jangan sakiti adikku apapun yang terjadi," ucap Kakak memberi peringatan kepada Lazio.
"Saya akan mengingatnya."
Setahuku KTP Lazio ditahan dengan dalih membuat buku nikah. Aku tahu para kakakku tidak percaya dengan orang yang baru pertama ditemui, tapi Abah memiliki firasat bahwa Lazio pantas untukku.
Abah sering menjodohkan orang yang datang mencari calon, kebanyakan mereka cocok dan langgeng. Mungkin firasat Abah untuk Lazio adalah baik hingga setuju kami menikah meskipun baru kenal.
Setelah menyalimi semua orang, aku melirik Lazio. Dia tampak santai dan selalu tersenyum manis. Semua prosesi pernikahan dijalankan dengan baik.
"Besok aku ada janji di Inggris, malam ini harus pulang ke Jakarta."
Aku lupa kalau pernikahan ini mendadak, ia tidak ada persiapan sama sekali.
"Aku akan bilang ke adikku untuk membereskan barang-barangku."
Sebagai istri, aku harus ikut kemana pun suami pergi. Lagi pula rencananya memang setelah menikah akan tinggal di Jakarta. Rumah Mas Umar dan pekerjaannya di sana. Hanya saja keluarga besar kami di sini. Lazio pun tak jauh beda, rumahnya di Jakarta dan pekerjaannya di sana.
"Kamu mau ikut?" tanya Lazio heran.
Aku menelengkan kepala, apakah maksudnya dia pergi sendiri tanpa membawaku?
"Aku kan istrimu, mana mungkin nggak ikut."
Mendengar itu Lazio tersenyum jahil. Kepalanya manggut-manggut. "Ah, iya benar. Istriku. Berapa usiamu tadi? Dua puluh dua?"
"Dua bulan lagi dua tiga. Kalau umur kamu berapa ya? Lupa."
"Bukan lupa, tapi kamu nggak tahu. Umurku tiga puluh. Matang, mapan dan tampan."
Aku tertawa kecil mendengarnya, narsisnya itu yang membuatku nyaman.
"Kak Lazio?" tanyaku, memberi isyarat untuk membuat panggilan.
"Bagaimana kalau suamiku sayang?"
Panggilan itu sangat menggelikan. Aku menggeleng.
"Mas Lazio."
"Emb... cintaku saja gimana?" Lazio masih menawar.
"Lazio." Aku tegas. Tidak mau.
"Oke oke, panggil aja Mas Jio."
"Deal, Mas Jio."
"Terus aku menggil kamu gimana? Istriku sayang?"
Kalimat sayang di pernikahan dadakan ini terlalu canggung, aku menahan senyum di balik cadar. Geli mendengarnya.
"Panggil Zeya aja."
"Ck, nggak asik."
"Kalau begitu terserah."
"Untuk wanita yang membuatku masuk Islam, panggilannya harus spesial."
Eh, apa? Aku menelengkan kepala lagi. Wanita yang membuat Lazio masuk Islam? Di bandara, dia melafalkan doa mau tidur dan makan. Juga tahu pertanyaan di alam kubur. Aku tidak menduga sama sekali kalau Lazio non muslim.
"Mas Jio... non muslim?"
"Beberapa jam lalu aku tidak punya agama yang jelas."
Tubuhku membeku, bagaimana ini? Ternyata aku menikahi pria yang tidak kenal Tuhan.
bersambung