6. Hidup Kelam

1084 Words
Lazio tahu apa yang ada di pikiran Zeya, pasti terkejut karena menikahi pria non muslim. Dalam hati Lazio tertawa, raut wajah di balik cadar itu pasti lucu. Apalagi sekarang Zeya salah tingkah. "Ta... tapi di KTP Mas Jio Islam." Zeya belum percaya. "KTP mudah diubah." Lazio mengangkat kedua bahunya. Zeya terdiam lagi, terlihat bingung. Tamu undangan tidak banyak. Keluarga Zeya taat protokol kesehatan dan hanya mengundang sedikit orang. Lazio melihat sekeliling. Anak buahnya berjaga di sekitar rumah ini. "Apa kau keberatan?" tanya Lazio. Zeya tak langsung menjawab, wanita bercadar yang tadinya terlihat tegas kini kebingungan. Pasti keberatan tapi tidak mau berterus-terang. "Lagi pula sekarang Mas Jio muslim, kedepannya bisa belajar agama." Lazio mendeskripsikan kalimat itu dengan 'sudah terlanjur jadi kedepannya kamu harus belajar agama'. Bisa dibilang gadis itu tidak ada pilihan lain karena terlanjur menikah. Zeya mengalihkan pandangan, melihat ke arah tamu undangan. Berusaha menghindari tatapannya. Bulu mata lentik dan sorot mata cantik itu memikat Lazio sejak pertama kali bertemu. Ia sendiri tidak menyangka bisa melakukan tindakan sejauh ini untuk gadis yang baru ditemui, kalau saja keluarga Lin tidak membuat masalah, maka ia tidak perlu naik pesawat komersial dan bertemu Zeya. Lazio Oktarios, pemuda berusia 30 tahun yang terkenal playboy. Jalan hidupnya jauh dari kata lurus, masa kecil dihabiskan dengan kebingungan antara keyakinan orang tuanya. Membuatnya tak memiliki agama yang jelas hingga sekarang. Baginya Tuhan sama saja, mengajarkan kebaikan dan membenci perbuatan buruk. Sayangnya pekerjaannya adalah yang terburuk di antara yang terburuk. Sejak masuk Siluet, ia sudah melakukan banyak kejahatan, pembunuhan, perbuatan tercela dan sangat jauh dari kehidupan normal. "Tembak yang benar, dasar bodoh!" Teriakan Tuan besar ketika menyuruhnya membunuh seorang mata-mata keluarga mafia lain. Usianya baru 15 tahun, tangannya bergetar mengarahkan pistol ke kepala mata-mata yang baru ditangkap, membuat tembakan pertama meleset. "Aku akan membunuhmu kalau kau gagal lagi." Saat itu Lazio hampir menangis, kalau dia tidak menembak maka Tuan besar akan membunuhnya. Para tukang keluarga Siluet yang saat itu berjumlah sekitar 250 orang mengelilinginya. "Cepat tembak!" Teriak Tuan Besar lagi. Lazio menutup matanya, mengarahkan pistol ke kepala mata-mata tersebut. Menarik pelatuk dan bunyi tembakan terdengar nyaring beserta teriakan. Di usianya ke 15 tahun, ia menjadi pembunuh. Lazio terduduk lemas. Membenci ayahnya yang memasukkannya ke tempat ini. Saat itu ia pikir bahwa ayahnya memiliki hutang dan menjadikannya jaminan. Tuan besar berjalan mendekat dan menepuk pundaknya. "Kau memang anak yang berbakat. Aku akan mendidikmu menjadi pria hebat." Tuan besar tertawa lebar dan pergi meninggalkannya, melangkahi mayat mata-mata yang Lazio tembak. Kekejaman Tuan Besar diakui semua orang. Bisnis keluarga Siluet melebar. Tak hanya miras, tapi juga pengedar narkoba serta jual beli senjata. Dalam waktu singkat Siluet menjadi mafia nomor 1 di Indonesia, namanya ditakuti di dunia hitam. Setiap orang yang melihat lambangnya akan bergetar ketakutan. Setelah beberapa waktu, Lazio tahu bahwa Tuan besar adalah ayah biologisnya. Kenyataan yang membuatnya semakin hilang arah. Pikirannya sangat kacau hingga ingin berlari sejauh mungkin. Dia menyimpan rapat kenyataan itu dan bertindak seperti tukang pukul biasa, ia masuk ke Tim peretas dan mendapatkan pendidikan non formal bersama anak berbakat lain. "Aku mau belajar menembak," ucapnya suatu waktu. Dari sekian banyak pilihan bela diri di Siluet. Ia memilih menembak. "Kenapa? Bukankah selama ini kau takut memegang pistol?" tanya kepala tukang pukul, Barnos. Ia memang cerdas, tapi sangat lemah di bela diri. Setelah dipaksa menembak di hari pertama datang. Lazio selalu berkeringat dingin setiap melihat pistol. Hanya saja, ini Siluet, ia harus kuat supaya bisa bertahan hidup. Apalagi sekarang Siluet semakin besar. Musuh bertambah setiap perebutan kekuasaan. Ambisi Tuan Besar menjadi nomor 1 tidak memedulikan tukang pukul mati berjatuhan. "Aku akan menjadi ahli menembak." Kebanyakan Tim peretas tidak memegang senjata, mereka bekerja di bawah arahan Tuan Besar untuk memanipulasi data, melegalkan impor ganja dan meretes data negara. Tim peretas tidak ikut penyerbuan seperti tukang pukul pada umumnya, juga tidak ikut memperluas wilayah kekuasaan. Mereka berada di balik layar. Melihat keadaan dan membereskan kekacauan. "Baiklah, aku akan bilang pada Tuan Besar. Kalau kau yang meminta sudah pasti diizinkan, ntah kenapa Tuan Besar selalu memanjakanmu." Mendengar itu Lazio hanya tersenyum tipis, sebagai ayah biologis, Tuan besar cukup perhatian padanya. Hanya saja tidak bisa ditampakkan terang-terangan atau Pram akan cemburu. Pram adalah calon penerus Tuan Besar, anak sah. "Tuan besar tahu kalau aku hebat hahaha. Aku tunggu kabar baiknya Tuan Barnos." "Hahaha kau selalu percaya diri. Aku akan memberitahumu secepatnya." Lazio tidak merasa istimewa setelah mengetahui kenyataan kelahirannya, karena bisa jadi ada anak lain di markas ini yang sama seperti dia. Lazio sendiri mengetahui kenyataan setelah mengakses data lama Tuan Besar. Ia menemukan percakapan antara ibunya dan Tuan besar, rekaman suara tersembunyi, sudah dihapus tapi berhasil dia pulihkan. Setelah Barnos meminta izin, akhirnya Lazio masuk kelas menembak. Pertama memegang pistol setelah kejadian itu tubuhnya bergetar. Masih terbayang jeritan kematian dari orang yang dia bunuh. "Bisa jadi Pram atau anak Tuan Besar yang lain membunuhku," ujar Lazio, berusaha menguatkan hatinya. Perebutan kekuasaan di dalam markas jauh lebih berbahaya dibandingkan di luar. Ia harus bersiap dengan segala kemungkinan demi bertahan hidup. Lazio memegang pistol, penuh tekad dan keyakinan, apapun yang terjadi dia harus hidup. Sejak kecil hidupnya tidak jelas, sekarang dia berambisi untuk bisa melindungi dirinya sendiri. Dor! Setelah dua kali percobaan, Lazio berhasil menembak botol kaca. Mereka latihan di ruang bawah tanah. Kedap suara. Di sini banyak ruangan khusus yang tersembunyi. Tepuk tangan terdengar dari guru menembaknya, kagum dengan kehebatan Lazio. "Bravo! Kau berbakat sekali. Baru kali ini aku bertemu anak genius dalam hal menembak." Xeny, mantan sniper yang pernah membunuh kepala negara Hongkong. Kemampuannya diakui oleh orang-orang di dunia hitam. Di usianya yang ke 50 tahun, wanita itu bekerja melatih para tukang pukul Siluet. Teman lama Tuan Besar. "Kalau begitu jadikan aku lebih kuat darimu, Guru." "Kau pasti akan menjadi ahli menembak hebat." Lazio baru sadar bahwa dia berbakat menembak, dari jarak yang cukup jauh dan memejamkan mata, ia berhasil menembak kepala seorang mata-mata di percobaan kedua. Pantas Tuan benar menjulukinya genius. Sejak saat itu Lazio terus berlatih sampai menjadi ahli menembak nomor 1 di Siluet, Pram saja segan padanya. Tuan besar sangat bangga. Tapi sejak saat itu pula, ia semakin sering membunuh orang. "Mas Jio!" Suara keras Zeya membangunkan lamunannya, Lazio menoleh. Zeya terlihat bingung karena dia terlalu lama melamun. Lazio sempat lupa tadi pagi menikahi wanita bercadar ini. "Ada apa?" "Resepsinya udah ditutup, ayo kita masuk." Lazio melihat jam tangannya, masih pukul tujuh. "Baru jam segini, kamu nggak sabar banget masuk kamar." Lazio menggoda. Senyuman di wajahnya sangat lebar. Lazio menjadi tidak sabar melihat wajah Zeya dan menarik wanita itu ke ranjangnya. bersambung
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD