Kedua tangan Fatra bertengger di pinggangnya. Wajahnya berpaling ke kiri. Sedikit menunduk dan tersenyum samar, pilu. Jantungnya berdegup, berkecamuk tak menentu. Dadanya memanas, seolah dibakar amarah yang entah berasal darimana.
“Mama.” panggilnya lirih
“Sudah sejauh itu Mama berpikir tentang Fatra? Sudah seburuk itukah Fatra dimata Mama? Hanya karena pernikahan?” perlahan Fatra menatap kedua mata sang mama. Tangannya turun, luruh, menggantung dengan lemas.
“Fatra bener-bener udah enggak bisa tinggal di sini lagi.”
Fatra melangkah pergi meninggalkan mamanya yang masih bergeming. Pertahanan Bu Andri runtuh juga. Air matanya terjun bebas membasahi pipi. Nafasnya terisak namun sedikit tertahan. Dipegangi dadanya. Seakan-akan menguatkan dirinya sendiri dan berusaha supaya tangisnya tidak menjadi-jadi. Beberapa saat kemudian Fatra terlihat membawa tas backpackernya. Menjinjing tas laptop dan tak lupa tas tabung berisi gambar-gambar kerjanya di kantor.
“Kamu mau kemana, Fatra?” tanya Bu Andri.
“Ke Apartemen” jawabnya singkat.
“Mama enggak kasih izin.” Bu Andri cepat mencoba mencegah Fatra.
“Fatra enggak bisa di sini kalau keadaannya kayak gini terus. Fatra enggak bisa dan enggak mampu ngadepin Mama dengan tuntutan pernikahan. Fatra belum mau Mama.” Ucap Fatra mencoba dengan nada sehalus mungkin. Mencoba untuk tetap sabar.
“Mama takut Fatra! Mama takut anak laki-laki Mama, satu-satunya, terjerumus hal-hal yang tidak baik. Mama sayang sama kamu. Mama tuh ngeman-eman kamu le.” Pecah juga tangis Bu Andri. Kedua pundaknya naik turun, tergugu, terisak, dan suaranya sangat terdengar pilu.
“Fatra masih normal Mama. Fatra masih suka perempuan. Cuma untuk menikah, Fatra belum ada pikiran ke sana. Pernikahan itu lama Mama. Enggak sebentar. Dari pagi sampai pagi lagi akan sama-sama terus. Sama orang yang itu-itu aja.” Fatra memegang kedua bahu mamanya, menenangkan.
“Mama bantu carikan ya? Mama punya banyak kenalan. Anak-anaknya manis-manis dan cantik-cantik. Mau ya?”
“Bukan masalah manis dan cantik Ma, tapi ini.” Fatra menunjuk dadanya. Masalah hati dan perasaan.
“Fatra minta izin untuk tinggal sementara di unit. Fatra enggak kemana-mana. Fatra enggak akan jauh-jauh dari Mama. I just need some time alone.”
Fatra mengecup kening mamanya. Betapa Fatra sangat menyayangi perempuan yang telah melahirkannya itu. Hanya saja Fatra tidak akan kuat apabila membahas pernikahan. Entahlah, hatinya belum terketuk dan terpanggil untuk menikah. Bukan karena belum move on dari mantan kekasihnya. Bahkan Fatra sudah lama mengikhlaskan Melati, sang mantan yang telah bahagia dengan pasangannya yang sekarang. Hanya saja, Fatra masih enggan untuk kembali membuka hati. Sampai kapan? Hanya Fatra dan Tuhan yang tahu.
***
Fatra tidak langsung pulang ke apartemennya. Setelah beradu argument dengan sang mama, Fatra butuh pengalihan emosi. Butuh sesuatu untuk menenangkan pikirannya barang sejenak. Akhirnya Fatra berhenti di sebuah rumah makan yang bernuansa semi outdoor. Rumah makan yang mengusung tema keluarga, meskipun saat ini dia datang ke sana sendirian. Sebenarnya di rumah makan itu ada tiga front line untuk pemesanan, tetapi karena Fatra datang menjelang ibadah sholat isya, jadi hanya ada satu petugas front line. Fatra berdiri di belakang dua orang perempuan yang sedang sibuk memilih menu. Yang satu memakai berhijab syar’i dan yang satu lagi berpakaian casual namun tetap sopan. Samar-samar, Fatra mendengar obrolan dua perempuang di depannya.
“Mbak Bulan mau pesen apa?” tanya perempuan yang tidak berhijab.
“Bingung Yesha.” Jawab perempuan yang bernama Bulan itu, yang memakai hijab.
“Gimana kalau ini? udang bakar madu sama udang bakar keju?” tanya lagi Yesha, yang tidak memakai hijab.
“Boleh sih. Tapi kalau udang bakar bumbunya pedas enggak? Aku enggak bisa makan pedas soalnya.”
“Nanti bilang aja enggak usah pedas.” , “Bisa request enggak pedaskan, Mbak?” tanya Yesha kepada perempuan yang bertugas menjadi front line saat itu.
“Bisa Kak. Nanti tinggal kasih catatan aja di bawah kertasnya kalau mau tidak pedas.” Jawab karyawati itu yang menggunakan ID card bernama Sarasvati.
Sementara Fatra mulai bersedekap di belakang. Satu kakinya mulai bergerak naik turun seperti per yang perlahan kehilangan sabar untuk menunggu.
“Mau tambah lagi enggak? Kayaknya nasi daun jeruknya enak, Mbak. Mau coba juga?” tanya Yesha sambil menunjuk gambar paket nasi jeruk di gambar menu.
“Eh, pesanan kita udah banyak, lho. Yakin bisa habisin? Jangan mubadzir Sha. Kitan cuma berdua.” Jawab Bulan.
“Mumpung habis gajiankan, Mbak? Nanti kalau enggak habis tinggal minta dibungkusin aja.” ucap Yesha sambil mengibaskan satu tangannya.
“Hem, kamu ini.” Yesha hendak membuka mulut kembali, tetapi tiba-tiba ada suara dari arah belakang yang membuat Bulan dan Yesha berjingkrak kecil.
“EHEM!”
“Astaga.” Ucap Yesha, “Astaghfirullah.” Ucap Bulan hampir bersamaan. Bulan dan Yesha menoleh ke belakang. Dan terlihatlah sosok laki-laki yang bertubuh tinggi sedang bersedekap, menatap mereka dengan tatapan yang dingin, menunggu antrean untuk memesan di belakang mereka. Bulan dan Yesha membalikkan badan mereka menghadap front line lagi, Bulan semakin mendekat ke arah Yesha, kemudian berbisik.
“Udahan aja pesennya ya. Mas-mas di belakang mau pesen juga kayaknya.”
“Tapi Mbak, aku masih mau pesan. Mumpung di sini tahu.” Ucap Yesha sedikit merengek.
“Mbak. Yang mau pesan dan makan di sini enggak cuma kalian aja.” ucap Fatra dengan lantang.
“Tuhkan.. yuk udah. Mbak takut Sha, beneran.”
“Ih, Mbak Bulan, nih.” Yesha mendengkus dan berdecak sedikit kesal.
“Udah Mbak. Ini aja yang kita pesan.” Ucap Bulan kepada Saras, sang front line sambil menyodorkan kertas berisikan menu pesanan mereka.
“Baik, silakan ditunggu ya, Kak. Ini nomor mejanya.” Jawab Saras memberikan kayu bertuliskan nomor meja untuk Bulan dan Yesha. Yesha menerimanya, kemudian mereka menyingkir dari hadapan Fatra untuk menuju meja mereka. Setelah kedua perempuan di hadapannya menyingkir, Fatra akhirnya maju beberapa langkah ke depan untuk memesan makanan.
“Mari silakan. Ada yang bisa dibantu?” tanya front line Saras kepada Fatra.
***
“Masnya garang banget.” Ucap Yesha kepada Bulan saat mereka sudah sampai di pondok mereka. Jadi rumah makan ini terdapat beberapa spot untuk makan. Ada yang meja kayu biasa dengan kursi, ada yang lesehan, dan ada spot yang berbentuk seperti pondok atau saung di sawah. Bulan dan Yesha memilih spot yang bentuknya pondok agar bisa melihat cahaya lampu temaram yang digantung-gantung di dalam lampion.
“Bukan Masnya yang garang, Sha. Kita aja yang kelamaan milihnya.” Ujar Bulan.
“Lho, kok Mbak malah belain dia, sih?” protes Yesha.
“Bukannya belain Ayeshaku sayang, tapi beneran. Kita yang lama milihnya. Ada kali lima belas menit, mah. Alhamdulillah tadi sepi, cuma kita doang sama Mas-mas yang tadi.”
“Ah! Tetap aja aku enggak puas. Masih pengen pesen padahal.” Ujar Yesha menjulurkan kedua kakinya lalu bersandar pada pinggiran pondok.
Tak lama kemudian, Fatra, mas-mas garang yang dimaksud Yesha berjalan mendekat. Menyadari kedatangannya, Bulan langsung mengambil ponsel, pura-pura sibuk dengan gawainya itu. Yesha menatapnya dengan sedikit sinis. Fatra melewati mereka, lalu duduk di pondok yang ternyata bersebelahan persis dengan pondok Bulan dan Yesha.
“Idih. Kenapa harus duduk di situ sih, dia?” ucap Yesha berbisik tepat di telinga Bulan.
“Udah biarin aja, Sha. Dia juga bayar makan di sini.” Jawab Bulan. Terdengar helaan nafas berat dari Yesha. Perlahan Yesha menoleh kea rah Fatra. Perlahan seperti ingin mengintip. Sialnya, saat Yesha melihatnya, Fatra juga sedang melihat ke arahnya. Buru-buru Yesha mengalihkan pandangnya ke arah semula. Fatra hanya mendengkus melihatnya.