“Kita bujuk Mas Fatra yuk, Ran?” Ajak Kirani kepada saudara kembarnya Kinara. Kinara dan Kirani masih di dalam kamar mereka berdua. Bersiap-siap berangkat ke Kampus.
“Bujuk bijimane?” tanya Ara. Gadis itu sedang memasukkan beberapa perlengkapan kuliah ke dalam tas ranselnnya.
“Ya dibujuk biar mau pulang. Lu gak kasihan sama Mama? Udah kosong hampa gitu sawangannya.” jawab Rani, sembari duduk mendekati Ara.
“Lagian Mama kenapa sih, elah? Udah tau Mas Fatra tuh paling males kalau diajakin bahas nikah. Eh, dibahaaas mulu.” Ujar Ara menggeleng-gelengkan kepala. Sudah hafal apa yang akan terjadi kalau Mama dan kakak satu-satunya itu membahas pernikahan. Rani hanya menaikkan kedua bahunya. Ara menutup tas ranselnya, kemudian duduk menghadap Rani.
“Mama berlebihan enggak sih, kalau gitu? Ya, pernikahankan bukan hal gampang ya? Seumur hidup. Kalau salah milih orangkan malah jadi masalah. Niat pengen bahagia, eh, malah menderita.” ujar Ara.
“Di satu sisi gua juga gitu mikirnya, tapi di sisi lain pasti Mama ada alasan juga.”
“Emang alasannya apaan coba? Umur? Laki-laki mah mau sampe umur berapa juga kagak masalah kali. Beda sama cewek. Kalau Mama punya anak cewek terus seumuran Mas Fatra, belum nikah, boleh khawatir.”
“Heh! Kita kan anak mama juga oneng.” ujar Rani mendorong pelan kening Ara dengan telunjuknya.
“Eh, iya ya.”
“Lu mau emang, kalau besok seumuran kayak Mas Fatra belum nikah?” tanya Rani.
“Ih! Ogah lah! Amit-amit.”
“Makanya itu. Yuk bujuk Mamas, biar mau pulang. Siapa tahu kalau Mamas pulang, mama langsung sembuh.” Rara masih berusaha mengajak kembarannya itu. Ara menggigit sedikit bibir bawahnya, seakan menimbang-nimbang.
“Ayo to Ra! Buat Mama!” Ujar Rani sedikit gemas sambil menggoyang-goyangkan kedua bahu Ara.
“Ih! Iya, iya! Tapi kalau Mamas enggak mau, gimana?”
“Ya kita paksa sampai maulah! Harus!” jawab Rani mantap.
“Bisa ye gitu?”
“Kudu dong! Pokoknya semua buat Mama, yang penting mama Ara!”
“Iyo, iyo! Bawel ih! Kapan gitu nyusul Mamas?”
“Nanti siang aja gimana? Habis kelas siang kita free kan?”
“oke!”
Rani senang bukan main. Dipeluknya Ara dengan bahagia. Ara tersenyum dan balas memeluk pelukan Rani.
Sementara itu di King Land, kantor di mana Fatra bekerja.
“Tra, lo jadi balik ke unit?” tanya Hakim, salah satu sahabat Fatra yang sedang menyandarkan kepala ke sandaran kursi kerjanya.
“Jadi. Tapi gue mau ke toko merah dulu, mau cari kertas kalkir sama rapido. Lo kalau mau langsung ke unit enggak apa-apa.” jawab Fatra sambil membereskan beberapa lembar revisian gambar di meja kerjanya.
“Oke. Passwordnya?”
“Tanggal lahir nyokap.”
“Ceilah, dimana-mana orang bikin password pake tanggal jadian atau tanggal nikah.” Ledek Hakim beranjak dari duduknya.
“Halah banyak omong lo.” Ujar Fatra yang kini memasukkan kertas-kertas itu ke tas ranselnya. “Gue duluan ya.” pamit Fatra yang kemudian diacungi jempol oleh Hakim.
Fatra sudah berada di dalam toko merah, salah satu toko yang menjual alat tulis dan perlengkapan kantor. Fatra menyusuri lorong dimana terdapat bermacam jenis buku. Mulai dari buku tulis, buku gambar, buku yang lembarnya kotak-kotak kecil, dan masih banyak lagi. Saat Fatra hendak mengambil buku sketsa ukuran sedang, tiba-tiba ada tangan lain yang juga hendak mengambilnya. Jemari mereka hampir saja bersentuhan. Lalu kedua pasang mat aitu bersitatap untuk sejenak.
“Eh.” Ucap pelan seorang perempuan berjilbab yang saat ini berada di hadapan Fatra. Tunggu, wajah laki-laki ini tidak asing dalam benaknya. Fatra pun ternyata memikirkan hal yang sama. Tidak asing degan wajah perempuan ini.
“Mbak Bulan, udah dapat barangnya?” suara seorang perempuan lain yang menghampiri keduanya. Bulan tersadar, kemudian buru-buru mengalihkan pandang.
“Ehem.” Bulan berdehem sejenak, mencoba bersikap biasa.
“Udah, Fa. Udah.”
“Yuk, cari yang lain, Mbak, keburu ashar.” Ajak perempuan lain itu yang bernama Tifa.
“Iya. Ayo.”
Bulan dan temannya yang bernama Tifa itu kemudian berlalu dari hadapan Fatra. Fatra masih terdiam di tempatnya. Otaknya masih berpikir, dimana dia pernah melihat perempuan yang baru saja bertatapan dengannya itu. Fatra menghela nafas, sebelum akhirnya mengambil buku sketsa tadi dan berjalan mencari barang lagi. Bulan saat ini sedang berdiri di depan kasir, menunggu barangnya dihitung.
“Sebentar ya, Kak. Komputernya baru eror semua.” Ucap kasir Mbak kasir kepada Bulan.
“Oh, iya Mbak, enggak apa-apa. Kalau dimanual aja bisa?”
“Bisa. Kakaknya enggak keberatan kalau di manual notanya?”
“Enggak apa-apa, Mbak. Tapi boleh minta capnya?”
“Bisa, Mbak, bisa. Yang enggak bisa kalau minta nota kosong.”
“Itumah saya juga tahu, Mbak.” Ucap Bulan tertawa kecil, sang kasir pun ikut tertawa juga. Saat kasir membuat nota manual untuk Bulan, Fatra datang dengan membawa keranjang berisi barang-barang belanjaannya. Bulan menoleh karena merasa ada seseorang berdiri di dekatnya. Dan saat pandangan mereka bertemu kembali, Bulan buru-buru mengalihkan pandang. Namun tidak dengan Fatra, Fatra tetap menatap Bulan dengan ekspresi datarnya. Setelah Bulan selesai bertransaksi Bulan langsung bergegas pergi. Bulan tidak langsung keluar, tetapi mampir dulu ke tempat penitipan tas untuk mengambil tasnya. Sedangkan Tifa menuggu di luar.
Bulan menyerahkan nomor loker tasnya di simpan, Bulan menaruh kantong plastik belanjaannya ke atas meja di hadapannya, lalu menunduk menggulir layar ponselnya. Tak berselang lama, Fatra ke tempat penitipan juga untuk mengambil tasnya, tetapi Bulan tidak menyadari karena fokus dengan ponselnya. Tak disangka Fatra juga menaruh kantong plastik belanjaannya tepat di sebelah kantong plastik milik Bulan, tetapi Fatra menoleh ke samping, berlawanan dengan Bulan. Mereka sama-sama tidak menyadari keberadaaan masing-masing.
“Ini Mbak.” Ucap petugas penjaga menyerahkan tas Bulan.
“Oh, iya.” Bulan menoleh sejenak, “Makasih, Mas.” ucap Bulan sambil meraih tasnya lalu menyambar kantong plastik belanjanya. Tanpa pikir panjang Bulan kembali berjalan menuju pintu keluar.
“Mbak.” Terdengar suara memanggil dari arah belakang Bulan, tetapi Bulan tidak menggubris karena Bulan masih sibuk dengan ponselnya.
“Mbak.” Suara itu terdengar lagi. Bulan tidak merespon malah mempercepat langkahnya karena takut Tifa menunggu terlalu lama di luar. Namun tiba-tiba langkah Bulan terhenti ketika ada sosok laki-laki dengan tubuhnya yang tinggi berhenti menghadang Bulan.
“Astaghfirullah.” Pekik Bulan terkaget sampai kedua matanya terpejam. Lalu Bulan pelan-pelan membuka matanya.
“A-ada apa ya, Mas?” tanya Bulan kepada sosok laki-laki itu. Dan ternyata sosok laki-laki itu adalah Fatra.
“Itu milik saya.” Jawab Fatra tanpa basa-basi sambil menunjuk kantong plastik yang ditenteng Bulan. Bulan melihat ke arah yang ditunjuk Fatra.
“Ini?” tanya Bulan mengangkat sedikit kantong plastik itu.
“Iya. Itu milik saya. Punya Mbaknya masih di tempat penitipan tas. Saya udah cek tadi.” ucap Fatra.
“Ini punya saya, Mas.” Bulan bersih keras mempertahankan kantong plastinya.
“Bukan, Mbak. Yang Mbak bawa itu milik saya. Mbaknya salah ambil waktu di tempat penitipan tadi.”
“Masnya mau nipu, ya?” Bulan semakin erat menggenggam kantong plastik yang dirasa miliknya itu.
“Ha? Apa? Nipu?” Fatra menautkan kedua alisnya.
“Misi ya, Mas. Saya buru-buru.” Bulan hendak kembali melangkah, namun Fatra tak membiarkan. Fatra kembali menghadang langkah Bulan.
“Mbak, saya serius. Yang Mbak bawa itu belanjaan saya. Buat apa saya nipu?”
Bulan menatap Fatra dengan was-was. “Coba lihat aja kalau enggak percaya.” Tambah Fatra. Akhirnya Bulan mengikuti perkataan Fatra. Dibukanya pelan-pelan plastik yang dibawanya itu. Bulan kemudian membasahi bibir bawahnya, sesaat kemudian melirik Fatra.
"Saya enggak bohong, kan?" tanyab Fatra dengan nada sedikit sinis.
"Ma-maaf." ucap Bulan dengan suara cicitnya nyaris berbisik. Bulan kemudian menyodorkan kantong plastik milik Fatra kepada si empu. Fatra menghela nafas, kemudian menyambar kantong plastik dari tangan Bulan dengan cepat. Bulan sampai tersentak.
"Lain kali yang teliti. Punya Mbaknya masih di tempat penitipan. Tadi niatnya mau saya ambilin, tapi karena Mbaknya ngatain saya penipu, enggka jadi."
Setelah selesai dengan kata-katanya, Fatra kemudian melangkah pergi begitu saja. Bulan menghela nafas, menatap punggung Fatra yang lebar itu yang semakin jauh. Dengan mata yang mulai berkaca-kaca, Bulan berkata dengan lirih.
"Judes banget, sih."