Ara dan Rani menaiki lift menuju lantai tempat Fatra menetap.
“Lu beneran udah ngomong sama Mas kan, kalau kita mau ke unitnya?” Tanya Ara kesekian kali, memastikan.
“Udah, Yaa Allah! Bawel bener lu!” Ara hanya menaikkan kedua bahunya.
Ting.
Pintu lift terbuka. Ara mengambil arah kanan, Rani mengambil arah kiri. Menyadari saudara kembarnya salah ambil jalan, Ara dengan sigap meraih tangan Rani.
“Lu mau kemane? Sini jalannya.” Ujar Ara.
“Ooh, maaf, lupa.” Rani meringis dan reflek menggaruk tengkuknya. Kini sepasang saudara kembar itu sudah berada di depan pintu unit Fatra. Ketika tangan Rani melayang di udara hendak mengetuk pintu, Rani tiba-tiba menghentikkan gerakannya.
“Napa?” tanya Ara tanpa suara. Rani meletakkan jari telunjuk ke bibirnya, seperti mengisyaratkan untuk diam. Dengan keheranan, Rani kemudian menempelkan telinga sebelah kirinya ke pintu. Rani mengernyit, menautkan kedua alisnya. Karena penasaran Ara mengikuti apa yang Rani lakukan. Menempelkan telinga sebelah kanannya ke pintu unit sang Kakak. Hening sejenak, sampai tiba-tiba terdengar bunyi suara pintu dibuka dari dalam. Kedua mata si kembar melebar bersamaan. Pintu kamar Fatra terbuka. Ya. Dibuka oleh sang empunya ruangan. Setelah pintu terbuka keseluruhan. Fatra sedikit terkaget melihat keberadaan adik-adiknya. Matanya membulat.
“KinKin!” Fatra menyebutkan nama panggilan untuk adik kembarnya. Karena memanggil nama langsung terlalu Panjang, Fatra menyingkat nama panggilan untuk mereka. Kinkin. Tak lain Kirani dan Kinara.
“Hehe.” Baik Rani dan Ara hanya meringis. Memperlihatkan deretan gigi mereka yang putih dan rapi. Fatra terlihat hanya mengenakan kaus dalam berwarna putih dan celana pendek selutut. Hingga kemudian dari arah belakang Fatra, muncul Hakim yang tidak memakai sehelai kain dibagian atas, dan hanya melilitkan handuk warna puthi dipinggangnya.
“Siapa, Tra?”
Sontak Rani dan Ara saling menatap. Mulut keduanya ternganga. Hingga
BRAAKK
“KINKIN!” Seru Fatra saat melihat adik-adiknya jatuh dengan lunglai. Ya. Rani dan Ara pingsan. Oh ya ampun.
“Gua duluan ya. Sory nih, beneran enggak enak gua.” Ucap Hakim kepada Fatra di depan unit sahabatnya itu. Hakim berpamitan untuk berangkat balik lagi ke kantor terlebih dulu.
“Santai. Enggak apa-apa. Gua yang sory, jadi bikin lu enggak jadi istirahat.” balas Fatra.
“Gampang. Di kantor juga bisa kok, oke deh, bye.”
“Yuk.”
Fatra lalu menutup pintunya dan berjalan ke ruang tengah menghampiri adik-adiknya.
“Bikin malu kalian ini.” Ujar Fatra setelah duduk merebahkan punggungnya ke sofa. Si kembar juga sama-sama sedang merebahkan badan mereka di sofa.
“Jadi kalian udah kemakan omongan Mama nih? Kalian yakin juga kalau Mas mu ini enggak normal? Iya?” geruduk Fatra menatap Rani dan Ara bergantian.
“Segitunya kalian juga berpikir jelek ke Mas.” Imbuh Fatra. Rani dan Ara hanya terdiam. Menunduk, dan sesekali memainkan jari jemari mereka.
“Hakim ke sini karena ingin ikut istirahat sebelum nanti sore balik lagi ke kantor. Kalian tahu kan hawanya di luar tuh panas? Hakim juga nebeng mandi disini. Timingnya aja berbarengan sama kedatangan kalian. Jangan mikir macam-macam. Mas mu ini, biarpun jones tapi msih normal.” Ucap Fatra menjelaskan semuanya. tahu apa yang ada di dalam pikiran ke dua adiknya itu. Rani dan Ara menegakkan badan mereka. Tatapan mereka masih menunduk. Malu.
“Emm.” Rani bergumam. Mencoba merangkai kata-kata
“Maaf ya mas.” Sekarang yang membuka suara Ara.
Fatra tidak menjawab. Hanya terdengar suara hembusan nafasnya. Hembusan nafas yang terdengar lelah.
“Sudah sejauh mana, Mama ngomong sama kalian?” tanya Fatra. Baik Rani dan Ara kompak menggeleng.
“Mmm.” Rani bergumam.
“Am em am em daritadi, ngomong enggak!” Darah di kepala Fatra mulai meletup-letup.
“Kita ke sini bukan karena Mama yang nyuruh kok Mas, iya kan Ra?” Pada akhirnya Rani berani bersuara. Meskipun jantungnya saat ini benar-benar berdegup lebih cepat. Takut melihat tatapan Fatra yang sedikit kesal. Ya jelas kesal. Niat hati ingin beristirahat, malah dihadapkan kejadian yang tidak diduga. Membuat malu dihadapan temannya lagi.
“Terus apa urgensi kalian datang ke sini? Mau bujukin Mas biar mau pulang lagi ke rumah?”
“I-iya mas.” Jawab Rani.
“Mas enggak mau pulang.”
“Lho? Kenapa?”
“Mas bisa stress kalau tiap hari diajakin bahas pernikahan terus sama Mama. Kerjaan Mas lagi banyak-banyaknya. Butuh ketenangan.”
“Nanti Rani sama Ara bilang wis sama Mama, supaya enggak bahas-bahas pernikahan lagi. Mau ya mas? Please?” Rani dan Ara mengatupkan kedua telapak tangannya seakan memohon dengan raut muka yang memelas.
“Enggak.” Jawab Fatra masih bertahan dengan pilihannya.
“Mama sakit lho, Mas” Ucap Rani.
Seketika Fatra langsung menegakkan punggungnya.
“Sakit?” Fatra membeo. Rani dan Ara kompak mengangguk. Tatapan Fatra kini menyendu. Rani dan Ara berdiri dan kini duduk mengapit Fatra.
“Kita tau Mas, Mamas pasti tertekan dengan keinginan Mama buat menikah.” Rani mulai berbicara.
“Tapi, di satu sisi, Mama cuma khawatir kalau Mas terjerumus ke hal-hal yang enggak baik. Ya, cara Mama mungkin kurang tepat, tapi, balik lagi, Mama begitu karena Mama bener-bener khawatir sama Mas.”
“Kalian tuh tau apa sih? Kuliah aja belum lulus, udah ikut-ikutan bahas pernikahan.”
“Bukan mau ikut-ikutan Mas. Kami disini cuma mau Mas Fatra pulang lagi ke rumah. Kalaupun enggak mau pulang dalam hal menetap, tengokinlah Mama. Mama sama sekali enggak mau makan. Enggak mau ngapa-ngapain. Bener-bener seperti orang yang hopeless. Mas tega lihat keadaan Mama seperti itu?” Rani menjelaskan tujuannya datang menemui Fatra. Fatra mengulum bibirnya. Seakan sedang berpikir.
“Mas satu-satunya anak laki-laki Mama lho. Siapa tau jodoh kami datang besok, terus kami ikut suami, gimana? Mama otomatis sendirian. Mas tega?” imbuh Rani.
“Haduh, kalian ini bener-bener. Iya, iya, mas balik.”
“YES!” Rani dan Ara bersamaan bersorak gembira sambil mengepalkan kedua tangan mereka.
“Hei, hei, hei. Mamas belum selesai ngomong.” Fatra menginterupsi yang langsung membuat Rani dan Ara kembali menurunkan kedua bahu mereka dengan lemas.
“Mamas bakal pulang. Tapi hanya sebatas nengokin Mama aja. Untuk pulang menetap Mas belum bisa. Mas bener-bener harus ngerampungin kerjaan Mas yang udah numpuk di kantor. Masih banyak gambar-gambar perencanaan yang harus mas selesaikan.”
Rani dan Ara mengangguk mantap. Keduanya lalu memeluk Fatra dengan erat.
“Sayang Mamas sekebon sesertifikatnyaaa!” Ucap Rani dan Ara gembira. Akhirnya mereka berhasil membujuk Fatra untuk pulang menemui mama mereka yang sedang sakit.
Dalam gelap malam yang sunyi, diperbatasan akhir malam menuju pagi. Perempuan paruh baya itu duduk bersimpuh terdiam. Jemarinya dengan luwes memutar butiran demi butiran pernik tasbih. Bibirnya perlahan tapi pasti terus melantunkan doa-doa. Kedua matanya terpejam dengan lembut. Tubuh itu bergetar sesekali. Tangannya berhenti dari aktifitas sebelumnya. Kedua mata yang sudah terhiasi dengan keriput sebagai tanda usia yang sudah menua pelan-pelan terbuka. Bibirnya gemetar. Pelupuk mata mulai memanas. Terdengar samar suara helaan nafas dan hembusannya. Dengan lirih, Nyonya Andri merapal, mengutarakan segala keresahan di dalam benaknya.
“Yaa Rabb Yaa Tuhan ku, mudahkanlah semua urusan anak-anak ku. Berikan mereka kemudahan dalam menjalani hidup mereka, mudahkanlah mereka dalam segala hal dan urusan. Baik urusan dunia dan akhirat. Dan, teruntuk anak laki-laki ku, semoag segera datang waktu itu, dimana diri Mu mempertemukannya dengan separuh agamanya. Perempuan yang sholihah dunia akhirat. Aamiin, Aaamiin, Aamiin. Terimalah doa ku Yaa Allah, kabulkan lah, dan ijabahlah.”
Lalu Nyonya Andri menengadah. Tak terasa, air mata yang beliau bendung akhirnya jatuh juga. Dalam benaknya hanya menginginkan kebahagiaan anak-anaknya. Tidak ada yang lain.