8. Bertemu Teman Lama.

1207 Words
“Mbak Bulan, masuk pagi ta hari ini?” Suara seorang gadis tiba-tiba menginterupsi Bulan yang sedang menata barang-barang di gondola. “Eh, Annisa. Iya, Mbak Resa katanya kemarin mau ada acara, jadi ngajakin tukeran jadwal.” Jawab Bulan menoleh ke arah Annisa. Annisa ini gadis manis berperawakan mungil. Tinggi badannya seleher Bulan. Padahal Bulan ini tinggi badannya sekitar seratus lima puluh senti. Jadi bisa dibayangkan kan betapa mungilnya Annisa. Annisa juga merupakan salah satu pengurus KOPMA. Annisa menjabat sebagai staff keuangan. Annisa mengambil duduk di kursi dekat ujung meja kasir. Tempat di mana biasanya para partime membantu memasukkan barang-barang konsumen ke dalam plastik untuk di kemas. “Jam segini masih sepi ya Mbak?” Bulan menoleh sebentar ke jam dinding. Waktu masih pagi. Jam menunjukkan pukul tujuh lebih tiga puluh menit. “Em, enggak tentu sih, Nis. Kadang rame, kadang sepi. Tapi coba deh Nisa joget-joget di depan gerbang sana. Pasti nanti jadi rame. Hehe” celoteh Bulan. Annisa yang hendak menyuapkan wafer ke dalam mulutnya langsung mendelik mendengar perkataan Bulan. Annisa menurunkan wafernya kemudian membalas perkataan Bulan. “Idih, sesat Mbak Bulan nih.” Bulan hanya terekekeh mendengarnya. Bulan telah selesai menata beberapa makan ringan di gondola yang posisinya di depan kasir. Lalu Bulan mengambil kemoceng dan membersihkan beberapa rak gondola yang berdebu lantaran kosong. “Kamu ngapain ih, pagi-pagi gini udah sampe KOPMA? Kantor juga masih sepi belum ada orang?” Tanya Bulan. “Aku tuh nungguin Pak Helmi Mbak.” Jawab Annisa sambil mengunyah wafer cokelat yang dia pegang daritadi. “Ecie, duh. Bakal dapet undangan nih.” Goda Bulan. “Mbak Bulan nih, daritadi sesat terus ih!” Geram Annisa. Bulan lagi-lagi hanya tertawa. “Aku doain nanti Mbak Bulan yang jodoh sama Pak Helmi, lho.” Balas Nisa. “Waduh. Masa nanti aku sama berondong? Haha.” Meskipun mereka memanggilnya dengan panggilan Pak. Tetapi Helmi sendiri masih seorang mahasiswa. Panggilan Bapak/Ibu di KOPMA hanya untuk formalitas. Karena hampir seluruh pengurus KOPMA itu semuanya masih mahasiswa aktif. “Enggak masalah kan Mbak, malah lebih so sweet.” “Udah-udah. Masih pagi ngomognya malah ngalor ngidul.” “Lho, Mbak Bulan duluan kan yang mulai? Huuu.” Bulan mengukir senyum di bibirnya dan menggeleng-gelengkan kepala. Bulan tidak berlama-lama membersihkan gondola tersebut. Setelah selesai dengan acara bersih-bersihnya, Bulan kembali duduk di kursi kasir, membuka laci dan menghitung uang pecahan untuk modal. Bulan terlihat sudah sangat terampil menghitung lembaran demi lembaran uang. Sudah berpengalaman bekerja menjadi kasir hampir tujuh tahun, bukanlah hal yang sulit bagi Bulan menghitung uang dengan cepat. Sudah seperti layaknya teller Bank. Tidak lama kemudian, konsumen datang satu per satu memasuki swalayan KOPMA. “Mari, silakan berbelanja.” Sapa Bulan dengan ramah kepada para konsumen yang memasuki swalayan. Sementara itu di kediaman Fatra dan Mamanya.... “Kalau udah mau selesai, nanti tiga puluh menit sebelum pulang, telepon Fatra ya.” Ucap Fatra kepada Nyonya Andri sambil memakaikan Mamanya seatbelt. Fatra dan Mamanya saat ini berada di dalam mobil. Nyonya Andri berkata kalau hari ini ingin berkunjung ke rumah teman lamanya di daerah Sapen. Lokasinya kurang lebih berada di daerah belakang salah satu Mall di Jogja. Berangkatnya sekalian Fatra berangkat ke Kantor. “Nanti kamu bolak-balik? Kantor ke Sapen, ke rumah, terus ke Kantor lagi kan enggak deket. Nanti Mama minta jemput Rani saja, atau enggak ya naik taxi.” “Enggak apa-apa Ma. Mama berangkatnya sama Fatra, pulang juga sama Fatra. Oke.” Fatra kemudian menyalakan mesin mobil dan menjalankannya. “Gimana kerjaan mu? Sepertinya betah di tempat yang sekarang?” Tanya Nyonya Andri di saat mobil Fatra sudah masuk ke jalan utama. “Ya, alhamdulillah Ma. Kalau dibilang betah ya, semoga aja.” “Aamiin. Yang bener yang kerja, yang jujur.” “Pasti Ma, insyaallah.” Nyonya Andri hanya tersenyum, kemudian melemparkan pandangannya keluar jendela. Menatap jalanan Kota kelahirannya ini yang semakin ramai. Beberapa saat kemudian Fatra dan Mamanya sampai di tempat tujuan. Fatra memberhentikan mobilnya di depan sebuah rumah sederhana. Rumah sederhana bergaya zaman dulu tetapi memilik halaman depan yang lumayan luas. Halaman rumah itu muat untuk parkir dua mobil. “Fatra antar ya?” “Enggak. Enggak usah. Kamu langsung berangkat saja ke Kantor. Nanti keburu terlambat.” Jawab Nyonya Andri menolak Ketika Fatra ingin mengantarkannya sampai ke depan pintu utama. “Masih ada waktu kok Ma.” “Sudah, enggak usah. Lebih baik kamu berangkat sekarang. Mama enggak mau nanti kamu jadikan alasan kalau terlambat.” Nyonya Andri kemudian melepaskan seatbeltnya, membuka pintu dan turun perlahan dari dalam mobil. Setelah memastikan mamanya sudah turun, Fatra kemudian melanjutkan perjalanan ke Kantor. Nyonya Andri menatap mobil anaknya yang semakin menjauh dan sampai pada akhirnya tidak terlihat lagi. “Mbak!” Terdengar suara dari arah belakang Nyonya Andri. Nyonya Andri pun menoleh. Senyum sumringah tidak bisa beliau bendung. Nyonya Andri kemudian melangkah menghampiri sumber suara itu. “Sudah lama sampainya?” Tanya si pemilik suara yang memanggil Nyonya Andri tadi. “Enggak, barusan saja.” Jawab Nyonya Andri. Nyonya Andri memeluk lembut tubuh seorang perempuan yang seumuran dengannya. Namanya Nyonya Ajeng. Nyonya Ajeng adalah teman sekaligus sahabat Nyonya Andri sejak mereka duduk di bangku kuliah. Memiliki pandangan dan prinsip hidup yang sama membuat pertemanan mereka awet bahkan sampai lulus kuliah. Nyonya Andri kemudian memeluk sahabatnya itu sejenak. “Diantar siapa?” Tanya Nyonya Ajeng sesaat setelah pelukan mereka terurai. “Si Sulung.” Nyonya Ajeng mengangguk mengiyakan. “Yuk masuk.” Nyonya Ajeng kemudian mengapit lengan Nyonya Andri, mereka pun melangkah bersama masuk ke dalam rumah. “Jadi gimana jadinya, Fatra itu?” Nyonya Ajeng menyuguhkan teh hangat beraroma melati dan beberapa jajanan pasar, seperti dadar gulung, semar mendem, lemper, arem-arem, dan klepon. “Walah, kok akeh banget to Yu, suguhane?” Ujar Nyonya Andri melihat Nyonya Ajeng menyodorkan banyak jenis makanan. “Halah, sithik yo Yu. Rapopo, ben wareg.” Nyonya Andri hanya menggeleng-gelengkan kepala. Nyonya Ajeng kemudian duduk di sebelah Nyonya Andri. Terdengar helaan nafas Nyonya Andri. “Ya, gitu. Terakhir kali aku ajakin ngobrol tentang pernikahan, malah aku ditinggal pergi.” “Iyo, po? Pergi kemana?” Tanya Nyonya Ajeng sedikit terkaget. “Ke Apartemennya. Hampir dua pekan Fatra enggak pulang ke rumah. Kalau enggak di susulin si kembar, mungkin sampai sekarang belum mau pulang.” “Fatra lak baik-baik aja kan? Atau masih belum bisa move on dari mantannya itu? Siapa nama ne? Lupa aku.” “Melati.” “Nah, iya. Melati. Kok betah men Fatra ki njomblo wae?” “Embuhlah Yu. Aku yo heran. Kok ada orang bertahun-tahun belum bisa lupa sama mantan. Padahal Melati ya sudah punya pasangan. Bahkan seperti tidak terjadi apa-apa setelah mereka putus. Sedangkan Fatra?” Nyonya Andri menatap lurus ke arah jendela. Tatapannya berubah menjadi sendu. Kembali membayangkan Fatra di masa-masa terpuruknya dulu ketika diputuskan oleh Melati. Nyonya Ajeng yang melihat tatapan Nyonya Andri, perlahan menggenggam kedua tangan Nyonya Andri. Ditepuk-tepuk seakan memberikan semangat. “Sabar ya, Yu. Semoga Allah mudahkan Nak Fatra bertemu dengan jodohnya. Sebaik-baik jodoh dunia dan akhirat.” Nyonya Andri membalas genggaman tangan sang sahabat. Beliau mengganggukkan kepala dan tersenyum. “Aamiin.” Suara burung yang bersahutan pun menghiasi suasana pagi itu. Ditambah dengan langit yang biru cerah tanpa awan. Semoga doa dan harapan Nyonya Andri untuk Fatra segera di ijabah sang Maha Kuasa.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD