“Kamu enggak bisa kayak gini! Kamu harus jelasin ke aku!”
“Enggak ada yang harus dijelasin! Dari awal aku udah enggak yakin sama hubungan ini!”
“Dari awal?! Dari awal kamu bilang?! Terus selama ini artinya apa?!”
“Cukup Fatra!”
Suara keras dari perempuan itu langsung membangunkan Fatra dari tidurnya. Fatra seketika mengambil posisi duduk. Bulir-bulir keringat membasahi dahi, dan beberapa bagian wajahnya. Nafas Fatra terengah, jantungnya berdegup lebih cepat dan tidak beraturan. Tangan kanannya memegang d**a, tangan kirinya menyeka keringat di dahi. Dia menoleh ke dinding dan mendapati jam yang bertengger di tembok itu menunjukkan pukul tiga dini hari. Malam itu Fatra memilih tidak pulang ke Unit. Ya. Fatra saat ini berada di kamarnya, di kediaman sang Mama. Fatra memejamkan matanya sejenak, menghela dan menghembuskan nafas perlahan, berusaha untuk membuat perasaannya lebih tenang.
Suara gemericik air memenuhi kamar mandi. Fatra mencuci wajahnya di wastafel kamar mandi pribadi di dalam kamarnya. Setelah selesai mencuci wajah, Fatra keluar dan duduk di tepi ranjang. Wajahnya tertunduk, menatap cahaya lampu yang terpantul ke lantai dari marmer di kamar itu. Teringat kembali potongan mimpi itu. Mimpi yang barusan hadir di tidurnya. Sudah lama sekali mimpi itu tidak menghantui, namun kini, tidak ada angin, tidak ada hujan, mimpi itu datang lagi. Mimpi yang terpaksa membuat hatinya merasakan lagi luka. Mimpi yang menghadirkan lagi kenangan yang ingin sekali dia lupakan. Kalau boleh meminta, ingin rasanya Fatra hilang ingatan sekalian.
“Sudah mau berangkat?” Tanya Nyonya Andri kepada Fatra yang terlihat sudah menghabiskan sarapannya. Nasi goreng dengan ayam katsu.
“Iya Ma.” Jawab Fatra mengangguk. Kemudian suara si kembar, Rani dan Ara terdengar dari belakang.
“Lho, Mamas udah mau berangkat?” Tanya Ara yang melihat Masnya sudah selesai sarapan dan berdiri hendak mencium tangan Mamanya.
“Kok buru-buru?” Imbuh Rani.
“Siapa yang buru-buru? Kalian aja yang siang turunnya.” Jawab Fatra.
“Fatra berangkat dulu Ma.” Pamit Fatra setelah mencium tangan Mamanya dan mendaratkan kecupan ringan di dahi sang Mama. Fatra kemudian berangkat menuju kantor. Tidak lupa menyelempangkan drafting tube-nya.
“Hati-hati.” Pesan Mama, Rani, dan Ara bersamaan.
“Yoi.” Jawab Fatra sambil berlalu.
Rani menarik kursi dan duduk di sebelah mamanya, sedangkan Ara mengambil kursi duduk di sebelah Rani.
“Kalian enggak ad akelas hari ini?” Tanya Nyonya Andri kepada putri kembarnya. Rani menjawab sambil menyendokkan nasi ke piringnya.
“Ada. Tapi nanti jam sepuluh.” Ara mengangguk mengiyakan.
“Mamas jadinya semalam nginep, Ma?” Sekarang Ara yang bersuara.
“Iya. Alhamdulillah.”
“Gimana jadinya? Udah ada rencana nentuin tanggal?” Tanya Rani sedikit terkekeh.
“Mama sudah pasrah sama Allah. Mama hanya mengandalkan doa. Ya, semoga Mas mu segera Allah pertemukan dengan jodohnya.” Jawab Nyonya Andri sambil mengelap bibirnya dengan tissue.
“Mama udah angkat tangan kayaknya, haha.” Goda Ara. Diantara Rani dan Ara, Ara-lah yang sedikit lebih gesrek. Lebih suka ceplas-ceplos dalam berbicara.
“Ya, gitulah. Kalian juga doakan Mas mu. Biar enggak mubadzir.”
“Mama nih, dikira anaknya makanan kali, segala mubadzir.” Celoteh Ara menyuapkan nasi goreng ke mulutnya. Nyonya Andri dan Rani tertawa.
“Embuhlah, capek Mama.” Ucap Nyonya Andri.
“Ma, Mama kenapa sih, kayaknya pengen banget Mamas cepet-cepet nikah?” Tanya Ara membenarkan posisi duduknya, menatap Nyonya Andri dengan seksama.
“Mama udah kepengen punya cucu ya?” Imbuh Rani.
“Kalau Ara atau Rani yang nikah dulu, gimana, Ma?” Tanya Ara spontanitas. Nyonya Andri yang sedang menenggak minum, terhenyak dan hampir tersedak mendengar pertanyaan itu.
“Ngawur kamu tuh.” Ara hanya tertawa.
“Lho, kan jodoh enggak ada yang tau Ma. Siapa tahu bulan depan ada laki-laki yang datang melamar Ara atau Rani. Iya enggak Ran?” Ara menyenggol-nyenggol lengan saudara kembarnya. Rani yang fokus makan hanya tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepala. Tidak habis pikir dengan tingkah Ara yang terkadang membuat orang mengelus d**a.
“Lulus dulu, baru mikirin nikah. Emang udah ada calonnya?”
“Emm, belum sih, haha.” Lihat, kini tawa Ara semakin terdengar jelas setelah melihat ekspresi Nyonya Andri yang mungkin di dalam hatinya membatin, ‘anak ini benar-benar pintar menguji kesabaran mamanya.’
Nyonya Andri kemudian berdiri dan berlalu meninggalkan Ara dan Rani.
“Kamu nih.” Gumam rani. Ara hanya nyengir memperlihatkan deretan giginya. Kemudian Rani dan Ara melanjutkan makan pagi mereka.
Di Kantor, Fatra terlihat hanya memainkan kursor computer sambil menyandarkan punggung di kursi kerjanya. Dia arahkan ke atas, ke bawah, ke kanan, dan ke kiri tanpa tujuan. Layar monitor yang dia buka hanya menampilkan gambar autocad, sama sekali tidak dia kerjakan. Pikirannya tidak fokus. Padahal beberapa hari yang lalu, Fatra mengatakan kepada adik-adiknya bahwa saat ini dirinya sedang memiliki banyak pekerjaan yang harus dia selesaikan.
“Woi!” Tiba-tiba muncul suara dari arah belakang yang sontak membuat Fatra terkaget.
“Astagfirullah.” Ucap Fatra mengelus d**a. Ternyata suara itu milik Niko. Selain Hakim, Fatra juga memiliki satu sahabat lagi, dia adalah Niko. Teman satu kelas sewaktu SMA dulu. Niko mengambil kursi yang berada di dekatnya, lalu duduk tepat di samping Fatra.
“Mikir apa lu?” Tanya Niko tanpa basa-basi. Fatra melepaskan kursor yang sedari tafi dia pegang.
“Untung enggak jantungan gua.” Gumam Fatra. Niko mengambil sebuah permen yang ada di toples kaca bertuliskan ‘MILIK FATRA’. Fatra memang suka menyetok beberapa jenis makan ringan untuk menamaninya bekerja. Salah satunya permen kopi.
“Kalau enggak gua kagetin, bisa-bisa kesambet lu.” Ucap Niko membuka permen lalu melahapnya. Fatra hanya mendengkus mendengar perkataan Niko.
“Mikirin apa sih? Negara?” Yang ditanya hanya mengendikkan kedua bahunya.
“bentar-bentar.” Niko menautkan kedua alisnya. Niko kemudian berkata kembali
“Terakhir kali, gua lihat muka lu kusut gini tuh, sehari setelah lu diputusin Melati.” Kedua mata Niko memicing,
“Lagi mikirin Melati lu, ya?” Fatra menegakkan punggungnya dan mendengkus.
“apaan sih?”
“Lha terus?”
“Bukan urusan lu.”
“Ya urusan gua lah. Bro, kita temenan udah lama. Bahagia lu, bahagia gua, sedih lu ya, sedih lu sendiri aja. Haha.”
“Kampret lu.” Niko hanya tertawa mendengar umpatan Fatra. Tenang, Fatra termasuk tipikal yang soft spoken. Jadi, mau dia berkata sekasar apapun akan tetap terdengar sopan. Emang ada yang kaya gitu? Ada, Fatra contohnya.
“Tra, gua ada kenalan cewek. Umur sekitar dua puluh limaan. Insyaallah baik orangnya, berhijab juga. Gua kenalin yuk? Mau ya?” Fatra memutar kedua bola matanya. Baik Niko atau Hakim, tidak pernah menyerah berusaha untuk mengenalkan dirinya kepada perempuan-perempuan. Sebagai teman, sahabat, dan rekan kerja yang baik, Niko dan Hakim juga ingin melihat temannya itu bisa menemukan pasangan hidup sesegera mungkin. Lima tahun sudah dirasa lebih dari cukup untuk menjomblo dan menutup hati. Saatnya kini Fatra harus menjemput kebahagiannya. Niko dan Hakim sendiri sudah berkeluarga. Hakim bahkan sudah memiliki anak, sedangkan Niko baru saja berduka karena istrinya mengalami keguguran beberapa waktu yang lalu.
“Cewek absurd mana lagi yang mau dikenalin ke gua? Heh?”
“Bukan ceweknya yang absurd, lu yang kaku. Ketemu cewek udah kayak diajak interview kerjaan. Ya cewek-cewek pada kaburlah.” Jawab Niko melempar Fatra dengan penghapus kecil berwarna putih. Sejenak Niko memandang dalam wajah sahabat yang sudah dia anggap seperti saudaranya itu. Tangan kanan Niko tergerak, menepuk bahu Fatra. Fatra menoleh.
“Udah saatnya lu bahagia Tra. Lima tahun udah lebih dari cukup buat lu. Move on! Meskipun lu bersih keras bilang udah move on, tapi mata lu enggak bisa bohong kalau lagi bahas Melati. Bahagiain nyokap mumpung masih ada umur. Pepatah kita ngomong, witing tresno jalaran soko kulino, tumbuh cinta karena terbiasa. Hati lu enggak akan bisa kebuka kalau bukan lu sendiri yang mulai. Oke?”
Niko lalu berdiri dan sempat menepuk-nepuk bahu Fatra lagi. Niko kemudian melangkah berlalu dari hadapan Fatra. Fatra terdiam. Fatra lalu menghela nafasnya pelan sebelum pada akhirnya berdiri dan melangkah menyusul Niko.