“Setidaknya, di balik rasa kecewa yang pernah saya rasakan kepada Mama saya, Tuhan mudahkan jalan saya untuk membahagiakan Mama untuk yang terakhir kali. Mama saya melihat saya menikah dengan pilihannya. Enggak bisa saya bayangin kalau sampai akhir hidup Mama saya, saya enggak menikah. Yakin, saya akan lebih kecewa sama diri saya sendiri.” Ucap Pak Irfan mengakhiri sedikit kisah hidupnya. Fatra mengulum bibirnya. Bingung bagaimana harus merespon Pak Irfan yang tiba-tiba menceritakan kenangan yang mungkin membuka ingatan yang pasti menceloskan hati. Pak Irfan menghela nafas panjang, tertangkap di indera penglihatannya itu sang anak buah bergeming. “Woi!” Pak Irfan memetik jarinya beberapa kali tepat di depan mata Fatra. Fatra terkesiap, lalu dia menghela nafas pendek. “Sorry ya, pagi-

