10. Menikah?

1140 Words
“Untung tadi ada Mbaknya itu. Coba kalau enggak.” Ujar Nyonya Andri kepada Fatra yang tengah fokus menyetir. Terdengar Fatra menghela nafas panjang. Kemudian Fatra bertanya. “Bukan untung ada Mbaknya yang Fatra pikirin. Tapi Mama, kenapa Mama tiba-tiba ada di sana? Katanya Mama main ke rumah Bude Ajeng?” “Mama tadi niatnya mau ke Supermarket, mau beli beberapa bahan untuk bikin kue. Mama sendiri karena Bude Ajeng di rumah sedang nyiapin alat-alatnya. Belum sampai Supermarket, eh, maghnya Mama kambuh.” Jawab Nyonya Andri sambil menyandarkan punggungnya ke jok. Hening sesaat, sesekali Nyonya Andri melirik Fatra dari ekor matanya, tetapi yang dilirik masih setia fokus denga napa yang ada di hadapannya sekarang. Nyonya Andri berdehem memecahkann suasana hening itu. “Kamu enggak penasaran sama Mbaknya yang tadi, Tra?” Fatra memutar kedua bola matanya. “Enggak.” Jawab Fatra singkat. Nyonya Andri menegakkan badannya, sedikit memajukan wajah untuk melihat wajah anak laki-lakinya itu. “Enggak mau tahu juga gimana dia nolong Mama?” Kembali Nyonya Andri bertanya. “Enggak. Yang penting Mama baik-baik aja, that’s enough.” Nyonya Andri kembali menyandarkan punggungnya di jok dengan helaan nafas yang berat. Benar-benar anaknya ini, batinnya. Suasana pun hening lagi sampai akhirnya mereka sampai di rumah. Sesampainya Fatra dan Nyonya Andri di rumah, mereka disambut si kembar Ara dan Rani. Ara dan Rani terlihat sedang asyik menonton televisi di ruang tengah. Rani duduk bersandar di sofa dengan remote di tangannya, sedangkan Ara duduk dengan kedua kaki selonjor dengan semangkuk makaroni pedas di pangkuannya. “Assalamualaykum.” Ucap Fatra dan Nyonya Andri saat memasuki rumah. Rani dan Ara menoleh ke sumber suara dan menjawab salam itu bersamaan. “Waalaykumsalam.” “Darimana, Ma?” Ara bertanya. “Dari rumahnya Bude Ajeng." Jawab Nyonya Andri merebahkan diri di sebelah Rani. Rani menegakkan badannya. Sedangkan Fatra menuju dapur yang kemudian membuka kulkas dan meminum air mineral. “Sama Mamas?” Tanya Ara lagi. Nyonya Andri mengangguk. Ara dan Rani ada kegiatan pagi-pagi sekali hari ini di Kampus, sehingga mereka tidak tahu kalau Nyonya Andri keluar bersama Fatra. Ditambah Nyonya Andri sebelumnya tidak bercerita kalau ada agenda ke rumah temannya itu karena acara main ke rumah Nyonya Ajeng pun juga acara dadakan. “Fatra ke kamar ya, Ma.” Ucap Fatra selepas melepas dahaganya dan dengan langkah lebar yang dia miliki dia melangkah menuju kamarnya. “Mama sudah makan?” Kali ini Rani yang bertanya. “Sudah tadi, makan roti.” “Mau makan lagi? Mbak Mirah masak sayur asem kesukaan Mama.” Mendengar sayur asem, raut wajah Nyonya Andri sedikit menyendu. Seperti ada kenangan yang tiba-tiba datang dan menembus relung hati. Menyadari perubahan raut wajah sang mama, Rani menautkan kedua alisnya, lalu dengan hati-hati Rani bertanya. “Mama, Mama kenapa?” Ara yang sedari tadi fokus menonton acara televisi dan mengunyah makaroni itu pun menoleh ke belakang, ke arah Rani dan Mamanya. “Bukan Mama yang suka sayur asem, tapi Papa.” Jawab Nyonya pelan tetapi masih bisa ditangkap oleh indera pendengaran anak kembarnya. Rani dan Ara saling tatap sejenak. Ara beranjak dari duduknya dan kini mengambil duduk di sebelah sang mama. Ara merangkul mamanya lembut dari belakang. “Mama kangen sama Papa?” Ara bertanya dengan ibu jarinya yang mengusap lembut bahu sang mama. Nyonya Andri kemudian mengangguk. “Setiap apa yang Papa suka, Mama juga pasti akan suka. Ya, seperti sayur asem. Dari dulu Mama enggak suka sama sayur asem. Sayur kok rasanya asem. Tapi karena Papa suka, enggak ada hari tanpa sayur asem, mau enggak mau setiap hari Mama harus masak itu. Dan akhirnya Mama jadi ketularan suka.” Ucap Nyonya Andri mengenang mendiang suaminya. Sejenak Nyonya Andri memejamkan kedua matanya. Berusaha mengatur degup jantung yang selalu menderu ketika ingat sang suami. Ara dan Rani kemudian memeluk Nyonya Andri dengan pelukan yang lembut tetapi menghangatkan. “Andai Papa masih ada.” Gumam Nyonya Andri. “Ssst..Mama enggak boleh bilang gitu, Mama. Enggak boleh berandai-andai. Papa sudah berpulang sudah takdir Tuhan. Siapa pun enggak bisa lari dari takdir Tuhan. Takdir Tuhan itu pasti yang terbaik untuk hambaNya Mama.” Tak terasa air mata kini membasahi pelupuk mata mereka, baik itu Ara, Nyonya Andri, dan Rani. Ketiganya menangis sambil masih berpelukan. Rani dan Ara sangat lemah kalau itu berhubungan dengan Nyonya Andri. Mereka tidak bisa melihat perempuan yang melahirkan mereka itu bersedih. Bagi mereka kesedihan sang mama adalah kesedihan mereka juga. Rani dan Ara saling mengeratkan pelukan mereka untuk menguatkan sang mama. Sementara itu, Fatra sudah selesai dengan kegiatan bersih-bersih badannya. Terasa segar setelah seharian beraktivitas di luar kantor. Hari ini Fatra terjun langsung ke lapangan untuk meninjau proses pembangungan rumah pribadi yang di mana dia yang mendesign langsung. Setelah mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil berwarna putih, Fatra langsung merebahkan diri di kasur empuknya. Oh ya, semenjak di hari di mana Fatra menjenguk mamanya yang kala itu sedang sakit, Fatra memilih untuk kembali tinggal di rumah mamanya. Fatra hanya mencoba menurunkan ego. Rasa was-was apabila mamanya kembali mengungkit pernikahan itu ada. Tetapi Fatra hanya ingin membuat mamanya tenang dan tidak larut dalam pikiran-pikiran buruk terhadapnya. Bukan karena apa-apa, hanya saja Fatra takut mamanya kembali jatuh sakit. Padahal sebelum papanya wafat, Fatra telah berjanji akan terus berusaha menjaga sang mama dan kedua adiknya. “Menikah?” Gumam Fatra dengan tangan kanan yang ia letakkan di atas dahinya sambil menatap lurus ke langit-langit kamar. “Apa gua harus nikah?” Gumamnya lagi. “Apa gua udah beneran siap buat nikah?” Mata memejamkan sejenak kedua matanya. Kemudian Fatra bangkit dari tidur dan mengambil fotonya bersama Melati. Diusapnya gambar melati perlahan dengan ibu jarinya. “Aku udah ikhlas kalau kamu memang sudah bahagia dengan hidup mu yang sekarang Mel.” Fatra kemudian tersenyum getir. Lalu pelan-pelan Fatra menyobek foto itu menjadi beberapa bagian. Diremasnya kemudian lalu ia lemparkan ke tempat sampah di bawah nakasnya. “Ya, aku udah ikhlas, udah ikhlas.” Ucap Fatra seakan meyakinkan dan menguatkan dirinya sendiri. Bukan hal yang mudah untuk Fatra membukan hatinya lagi. Sudah beberapa kali Fatra mencoba membuka hati setelah diputuskan Melati. Tetapi rasa takut ditinggal selalu muncul dan tak bisa ia elak. Begitu besar rasa sayangnya kepada Melati saat mereka berpacaran dulu. Selalu mengusahakan apa yang Melati mau. Tidak perduli pada dirinya sendiri. Dan Melati sendiri adalah perempuan pertama untuk Fatra. Sikap apa adanya dan sederhana yang membuat Fatra jatuh hati kepada Melati. Namun yang masih menjadi tanda tanya besar sampai saat ini adalah apa yang membuat Melati tiba-tiba memutuskan hubungan mereka secara sepihak? Itu yang masih mengganjal di hati Fatra. Dan rasa itulah yang yang seakan menjadi tembok penghalang untuknya bisa kembali membuka hati. Namun perlahan, Fatra akan merobohkan tembok itu. Akan menghancurkan tembok itu. Apakah Fatra bisa? Ya. Dengan berbekal amanah dari sang papa untuk menjaga mamanya, Fatra yakin akan bisa menghancurkan tembok rasa takut itu dan akan membuat mamanya bahagia. Semampu yang ia bisa.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD