Episode 11

1238 Words
Saat ini Leonna dan Verrel sudah berada di dalam kamar hotel yang sudah di sediakan untuk pengantin baru. Suasana romantis selalu melekat di kamar-kamar pasangan pengantin baru. Leonna baru saja keluar dari kamar mandi dan terlihat Verrel sedang berbicara dengan seseorang melalui telpon. Ia yang sudah segar dan berganti pakaian memilih duduk di atas ranjang. Verrel memasuki kamar mandi setelah memutuskan sambungan telponnya. Leonna masih merenung memikirkan malam ini, haruskan dia melakukan malam pertamanya dengan Verrel. Seperti nasihat sang Mama kemarin. Ceklek... Pintu kamar mandi terbuka dan menampilkan Verrel yang sudah berpakaian lengkap dan terlihat segar. Verrel melihat Leonna yang masih duduk di sisi ranjang. Suasana berubah menjadi canggung. "Istirahatlah Delia, kamu pasti lelah. Aku akan tidur di sofa." ucap Verrel seraya mengambil bantal untuknya. "Kak-" ucapan Leonna tertahan. "Tidak apa-apa, aku mengerti kamu belum terbiasa dan merasa canggung. Aku tidak akan membuatmu semakin tak nyaman. Bukankah kita baru memulai hubungan pertemanan ini. Jadi jangan merasa terbebani," ucapnya. "Makasih Kak." ucap Leonna yang di angguki Verrel. "Tidurlah," ucap Verrel. "Good night," Verrel berjalan menuju sofa panjang yang ada disana dan merebahkan tubuhnya.   Leonna masih memperhatikan Verrel. Entah kenapa hatinya merasa menghangat dan nyaman dengan perlakuan Verrel yang begitu baik padanya.  Iapun ikut merebahkan dirinya dan mulai terlelap. Kini Verrel yang terbangun dan duduk di atas sofa dengan menatap Leonna yang tertidur.  Ia beranjak dan berjalan ke sisi ranjang. Ia dapat menatap wajah cantik dan tenang Leonna saat tertidur. 'Aku tau saat ini aku bukan siapa-siapa untuk kamu. Tapi aku akan berusaha untuk selalu membahagiakan kamu dan membuatmu nyaman Delia. Walau aku bisa di katakan bukan suami yang baik, tetapi kebahagiaanmu lah yang utama. Karena aku mencintaimu Leonna, bahkan dari 12 tahun yang lalu. Cinta ini hanya akan selalu menjadi milikmu.' Verrel kembali berjalan menuju sofa tetapi sebelum sampai ke sofa, Verrel mendengar suara bisik-bisik beberapa orang. ‘Kok gak ada suaranya yah’ ‘Mereka main cantik mungkin biar gak berisik dan ganggu orang.’ ‘Emang bisa main cantik gitu, Dad?’ ‘Diem kamu, Little crocodile. Kamu masih di bawah umur.’ ‘Om diem kenapa, Percy gak bisa dengar apa-apa nih.’ Verrel menggelengkan kepalanya mendengar bisik bisik di luar sana. Keluarganya terutama pamannya begitu absurd. ‘Astaga, kenapa kalian menguping di kamar anak gue.’ ‘Diem loe Niel, loe pasti kepo juga kan.’ ‘Memang kedengeran? Bukankah kamar hotelnya kedap suara?’ Verrel terkikik, sepertinya sang ayahpun mengikuti jejak pamannya itu. ‘Heh Crocodile, Little Crocodile, ngapain kalian?’ Verrel tau suara melengking itu pasti suara tante nelanya. ‘Diem nela, nanti pengantin baru keganggu. Sini sini, dengerin deh.’ ‘Ya tuhan, kalian semua benar-benar yah.’ Dan itu Verrel sudah sangat mengenalnya, itu suara sang bunda kesayangannya. ‘Diem loe metromini.’ ‘Ya tuhan Ayah, kenapa ikut-ikutan. Loe juga Chacha,, astaga keluarga loe itu keluarga absurd semua.’ Verrel semakin terkikik mendengar amukan sang Bunda, dan iapun berjalan untuk membuka pintu. "kyaaaaaaa!" Bruk ... Kini di hadapan Verrel ada Datan dan Percy yang terjatuh. Sedangkan para orangtua langsung merubah raut wajah mereka yang salting dan pura-pura sibuk ke yang lain. "Ada apa?" Tanya Verrel dengan santai. Datan dan Percy cepat cepat berdiri dan berdehem kecil. "Ada apaan Kak?" Tanya Leonna yang terbangun karena suara berisik. Semuanya dapat melihat Leonna yang terlihat sayu dengan rambut yang berantakan. "Sepertinya sudah daritadi deh mereka melakukannya." bisik Percy ke Datan. "Anak loe main kilat kali yah." bisik Okta yang di jawab kedikan bahu oleh Daniel. "Daddy, Mom, Ayah, Bunda, Datan, kak Percy?" ucap Leonna dengan kernyitannya. "kalian semua disini? Ada apa?" "Ini nih Sayang, mereka semua pengen matanya bintitan." ujar Serli. "sudah, sebaiknya kalian istirahat lagi. kasihan Leonna terlihat kelelahan." "Habis berapa ronde bro?" bisik Percy ke Verrel dan Verrel hanya mendengus kesal. Apanya yang berapa ronde, Percy sengaja meledek Verrel yang tak mendapatkan jatah malam pertamanya. "Ayooo pergi," ujar Serli menjewer telinga Daniel. "Oke oke bunda sayang." ujar Daniel yang mengaduh dan Verrel hanya terkikik melihatnya. "Dan apa kalian mau jadi penunggu pintu kamar ini?" Tanya Verrel menyindir mereka semua membuat Chacha malu dan segera menarik tangan Okta dan Datan. Kini pandangan Verrel mengarah ke arah Percy yang terkikik.       "Oke oke,, gue bye." kekeh Percy berlalu pergi. "Mereka kenapa Kak?" Tanya Leonna masih bingung. "Lagi main petak umpet." ujar Verrel asal. "sudahlah jangan di hiraukan, lebih kamu tidur lagi." ujar Verrel setelah menutup pintu kamarnya. "Iya deh Kak, good night Kak." ujar Leonna berjalan menuju ranjangnya. Dan Verrel merebahkan tubuhnya di atas sofa. ©©© Pagi-pagi sekali Verrel sudah membangunkan Leonna untuk mengajaknya solat subuh berjamaah. Leonna yang memang sudah terbiasa terbangun subuh untuk melakukan solat berjamaah bersama keluarga besarnya saat di rumah orangtuanya tidak kesulitan saat di bangunkan Verrel. Selesai melaksanakan solat berjamaah berdua, Verrel menoleh dan terpaku saat melihat wajah cerah Leonna yang di balut mukena putih motif bunga itu. Leonna terlihat khusu dalam berdoa. Tanpa terasa bibir Verrel tertarik ke atas melihat kecantikan natural yang terpancar dari diri Leonna yang sekarang sudah menjadi istrinya. Leonna selesai berdoa dan menatap ke arah Verrel yang masih memperhatikannya. Ia tersenyum manis kepada Verrel dan mengambil tangan Verrel untuk di kecupnya. Sungguh indahnya kehangatan ini. Andaikan cinta Verrel tak bertepuk sebelah tangan, mungkin akan sangat sempurna keindahan ini. "Kamu sangat cantik, Delia." ucap Verrel membuat Leonna menatap manik mata biru milik Verrel yang berseri dan tajam. Tanpa sadar pipi Leonna memanas dan ada guratan merah di pipinya membuat Verrel terkekeh melihat wajah Leonna yang tersipu. "Jangan tertawa Kak." ucap Leonna kesal dan beranjak terlebih dulu. "Kamu terlihat lucu, Delia." kekeh Verrel. "Kakak nyebelin," ujar Leonna memunggungi Verrel karena malu ketahuan bulshing. Verrel sudah bersiap mengganti pakaiannya dengan pakaian olah raga. Tranning dan kaos putih polos sudah melekat di tubuh tegapnya membuat otot-otot tubuhnya tercetak jelas di balik kaos. "mau kemana Kak?" Tanya Leonna yang tengah bergumul di atas ranjang. "Mau jogging, mau ikut?" ajak Verrel. "Ikut Kak," ujar Leonna segera beranjak, tetapi naas kakinya terlilit selimut. Bruk ... Tubuh Leonna ambruk ke tubuh Verrel membuat keduanya saling menindih dan kaki mereka saling bertautan. Kalau orang mengintip dari balik pintu, hanya akan terlihat kaki mereka yang saling bertautan seperti tengah melakukan sesuatu.   Dan itu terbukti, karena baru saja Datan melewat untuk ke lantai bawah, karena pintu terbuka sedikit dan tidak sengaja mengintip. Mata Datan membelalak lebar melihat dua pasang kaki yang sedang bertindih. "Ya tuhan itu kaki si Ona ngapain ngelilit ke kaki bang Verrel, wah bener-bener nih si Ona keturunan siluman ular, tuh kaki pake dililit lilit segala." Gumamnya dan segera beranjak sebelum ketahuan. Leonna masih bertatapan dengan mata Verrel dengan jarak yang begitu dekat. Hembusan nafas mint Verrel menerpa wajahnya. Setelah cukup lama bertatapan, Leonnapun tersadar dari keterpakuannya. Ia segera beranjak dari atas tubuh Verrel dengan canggung.  "Kita lari sekarang?" Tanya Verrel menstabilkan detak jantungnya. "Iya Kak." ujar Leonna beranjak menuju kamar mandi untuk lari pagi bersama. Tak lama, merekapun sudah melakukan lari bersama mengelilingi taman hotel hingga mereka berhenti dan duduk di kursi taman dengan keringat yang sudah memenuhi pelipis dan leher mereka. Verrel menyodorkan sebotol air minum ke Leonna. Dan Leonna segera meneguknya begitupun Verrel. Setelah cukup lama terdiam, Verrel mengusap peluh di pelipis Leonna membuat Leonna menengok dan keduanya saling bertatapan satu sama lain.  Ada perasaan aneh yang menyelimuti hatinya. Verrel masih mengusap keringat di pelipis dan leher Leonna dan pandangan Leonna tak lepas dari wajah Verrel yang terlihat tampan dan mempesona dengan peluh yang membanjiri kening dan lehernya. ©©©      
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD