Episode 10

2928 Words
Saat ini Leonna tengah duduk di dalam kamarnya dengan menatap pantulan dirinya sendiri di depan cermin. Ia bahkan tak menyadari kalau itu adalah dirinya. Leonna terlihat seperti seorang princes sungguhan yang sangat cantik. Aura kecantikannya keluar karena Leonna bukan tipikal wanita yang suka berdandan. Khem ...Leonna menengok ke asal suara dan sedikit terpekik saat melihat Vino berdiri disana. Leonna tidak menyangka Vino akan datang ke acara pernikahannya. Ia pikir Vino masih marah padanya. "a-abang."   Vino tersenyum kecil saat sudah berdiri tepat di hadapan Leonna. Ia mengusap pipi Leonna dengan lembut. "kamu pengantin yang paling cantik di dunia," puji Vino membuat Leonna tersipu.  Vino menarik Leonna ke dalam pelukannya. " maafkan Abang, Abang tak bermaksud marah padamu. Abang hanya kecewa karena sikapmu yang seakan tak menganggap Abang sebagai kakakmu." ucap Vino membelai punggung Leonna. Leonna melepas pelukannya, "maafkan Leonna, abang." cicitnya dan seketika air matanya luruh membasahi pipi. 'cintaku akan pupus sekarang, aku tetap tidak bisa mengatakan perasaanku sama Abang.' "Kenapa menangis?" Tanya Vino segera menghapus air mata Leonna. "make upnya hancur lho." goda Vino diiringi kekehannya. Ia juga merasa tak rela melepaskan princes kesayangannya ini. "A-abang, Leonna-" gumam Leonna. "Abang paham, kamu pasti merasa bersalah yah sama Abang. Sudahlah, abang tidak mungkin bisa terus mendiamkan kamu." ucap Vino membuat Leonna menunduk dan menangis sejadi-jadinya. Vino kembali merengkuh tubuh Leonna ke dalam pelukannya. "Jangan menangis, Princes. Kamu membuat Abang semakin tak rela melepaskanmu untuk menikah." ucap Vino. "abang tak menyangka, ternyata adik kecil Abang, princesnya Abang akan menikah hari ini." ucapan Vino semakin membuat Leonna menangis mendengarnya. "hikz..hikz..." Leonna bahkan mencengkram kuat kemeja Vino yang basah karena air matanya. 'Aku menangis karena aku tidak akan pernah memiliki Abang sampai kapanpun juga.' batin Leonna. "Sudah sudah jangan menangis, abang akan tetap memanjakanmu dan menjagamu walau kamu sudah menikah." Vino mengecup kepala Leonna.  Iapun melepas pelukannya dan menghapus air mata Leonna yang tidak sampai merusak make up Leonna. "smilenya mana?" Tanya Vino membuat Leonna tersenyum kecil. "gini dong, ini baru Leonna yang tidak pernah cengeng." ujar Vino membuat Leonna terdiam dan terus menatap Vino dengan sendu. "Sudah cantik, ayo kita turun." Vino menarik pergelangan tangan Leonna. "Aku mencintaimu, Abang." Deg,,, Vino mematung di tempatnya karena kaget dengan penuturan mendadak dari Leonna barusan. Vino berbalik ke arah Leonna dan menatap mata hazel Leonna yang kembali berair. "Aku mencintaimu," tambah Leonna membuat Vino mengernyitkan daihinya. Leonna kembali tersenyum dan memeluk tubuh kekar Vino dengan menyandarkan kepalanya ke d**a bidang Vino. "Aku mencintai Abang sebagai kakakku. Karena Abang adalah pahlawan kecilku." cicit Leonna bersamaan dengan air matanya yang luruh membasahi pipi. Vino tersenyum mendengar penuturan Leonna barusan. “Aku seperti adipatinya Pinces, yang akan selalu melindungi tuan putrinya.” Bisik Vino membuat Leonna semakin menangis. 'Biarlah seperti ini, kalau memang Abang bukan jodohku. Maka biarkan kami berdua bahagia dengan pasangan dan kehidupan kami masing-masing. Setidaknya aku sudah mengatakan isi hatiku padanya, walau dia menganggapnya  lain' batin Leonna. "Abang juga sangat mencintai dan menyayangi kamu, Princes." Vino mengecup kepala Leonna. "Apa tali kasihnya sudah selesai?" Ucapan seseorang membuat Vino dan Leonna menengok ke ambang pintu dimana sang mama yang sangat cantik tengah berdiri. Walaupun usia Thalita sudah memasuki kepala empat, tetapi kecantikannya tidak berkurang sedikitpun. Dia tetap terlihat cantik dan membuat Dhika semakin mencintainya setiap hari. "Kalian berpelukan sampai melupakan Mama." Thalita berjalan mendekati kedua anaknya. "lho, ini pengantin kenapa menangis?" "Princes aku ini sepertinya grogi, Bun." ucap Vino membuat Leonna terkekeh kecil. "Begitu yah, baiklah Sayang ayo kita rapihkan makeup kamu. Kamu terlihat menyeramkan." seru Thalita berlebihan membuat Leonna tersenyum kecil. Thalita membantu merapihkan make up Leonna, dan Vino sudah keluar ruangan terlebih dulu. "Ma," "hmm," "Apa saat Mama menikah dengan Papa sangat grogi?" Tanya Leonna. "Iya Sayang, Mama sampai berkeringat dingin." ucap Thalita. "tetapi setelah sah, rasanya lega sekali. Kamu tau, saat itu hati Mama begitu berbunga-bunga. Pria yang selalu Mama cintai sudah sah menjadi suami Mama." cerita Thalita. "Rasanya sangat bahagia yah bisa menikah dengan pria yang kita cintai." celetuk Leonna membuat Lita menghentikan gerakannya. "Itu memang benar, tetapi terkadang cinta juga akan tumbuh karena terbiasa setelah menikah." jelas Thalita. "Apa Mama yakin, kalau Leonna akan mencintai kak Verrel?" "Yakinlah Sayang, Mama yakin Verrel pria yang baik untuk kamu." "Kenapa Mama begitu yakin?" Tanya Leonna mulai penasaran. "Karena Papa kamu juga meyakininya. Mama sangat yakin dengan feeling Papa kamu. Kamu hanya butuh waktu saja." ucap Thalita. "baiklah Princes, ajang curhatnya di stop dulu. Ayo kita ke bawah, calon suamimu sudah menunggu." ucap Thalita membuat Leonna tersenyum kecil dan berjalan berdampingan bersama sang Mama tersayang. Langkah Leonna terhenti saat melihat sang Abang tengah berdiri tak jauh di depannya. Hati Leonna mendadak kembali ragu dan merasa tak rela. "Ada apa Sayang? Ayo." ucap Thalita karena langkah Leonna mendadak berhenti dan pandangannya kembali terarah kepada Vino dengan mata yang berkaca-kaca. Dan pandangan itu tak luput dari pandangan Verrel yang memang tengah duduk di depan penghulu. Verrel menatap arah pandang Leonna dan sedikit kaget melihat siapa yang Leonna lihat membuatnya mengernyitkan dahinya. 'Vino? Apa dia pria yang Delia cintai? Tapi Vino kan kakaknya.' batin Verrel masih memperhatikan tatapan Leonna yang terlihat sangat sedih. "Leonna ayo," ucap Thalita. "Ma, a-aku." Leonna menundukan kepalanya. 'Haruskah aku mundur sekarang? Tuhan bagaimana ini?' "Leonna, ada apa Sayang? ayo, semuanya sudah menunggu kamu." Tingkah Leonna membuat Verrel yakin kalau Vinolah pria yang Leonna cintai. Verrel sudah berlapang d**a kalau kali ini pernikahannya kembali gagal. Vino terlihat berjalan mendekati Leonna dan mengusap kepalanya membuat Leonna menengadahkan kepalanya dan menatap Vino dengan sendu. Dan pemandangan itu pun tak luput dari Chella, Datan dan Leon. 'Maafin gue Ona, karena gue loe terpaksa nikah sama pria yang nggak loe cintai. Gue malah menjauhkan loe dari pangeran loe.' batin Chella. "Abang," Leonna kembali memeluk Vino sambil menangis. Semua orang hanya berpikiran kalau Leonna hanya merasa sedih karena akan berpisah dengan saudaranya. kecuali Verrel, Chella, Leon dan Datan, tetapi Leon masih mengira-ngira antara yakin atau tidak. "Sudah jangan menangis, tidak baik lho menangis di hari pernikahanmu. Ini adalah hari bahagia maka berbahagialah." ujar Vino mengusap punggung Leonna yang di balut kebaya putih tulang cantik yang pas dengan tubuhnya. Vino melepas pelukannya dan menghapus air mata Leonna. Ia menarik tangan Leonna dan berjalan menuju tempat dimana Verrel berada, Verrel terlihat memalingkan tatapannya dengan perasaan yang tidak karuan. Thalita mengikuti mereka dari belakang. Vino mendudukkan Leonna di sisi Verrel. "Jaga dia," ucap Vino menepuk pelan pundak Verrel yang di balut tuxedo hitamnya. Verrel hanya terdiam dan pandangannya kini terarah ke arah Leonna di sampingnya yang menunduk sendu. "Apa bisa di mulai?" Tanya sang penghulu dan di angguki yang lain. Dhika mulai berjabatan tangan dengan Verrel, sesekali Dhika menengok ke arah Leonna. Dhika tak menyangka kalau hari ini dia akan menikahkah Princes kesayangannya. 'Papa berharap kamu selalu bahagia, Sayang.' batin Dhika. "Saya nikahkan engkau dengan putri kandung saya Leonna Fidelia Adinata binti Pradhika Reynand Adinata dengan mas kawin tersebut tunai." ucap Dhika dan Verrel masih terdiam. Entah kenapa hatinya mendadak kembali bimbang, Verrel takut menyakiti hati Leonna dengan berada di tengah-tengah Leonna dan Vino. Ia tidak ingin menghancurkan kisah cinta mereka berdua. Semua orang di buat bingung dan harap-harap cemas melihat Verrel yang masih terdiam terutama Daniel dan Serli. "jangan sampai Verrel berbuat konyol dan mempermalukan kita." gumam Daniel mengingat perkatakaan Verrel waktu itu yang mengatakan mencintai wanita lain. Verrel melirik ke arah Leonna yang masih menunduk sendu. "Verrel" panggil Dhika. "Maafkan saya, em sa-" ucapan Verrel tertahan karena Leonna memegang tangannya. Verrel semakin bimbang antara melanjutkan atau membatalkan. Leonna menengok ke arah Verrel hingga tatapan mereka bertemu, Leonna seakan berbicara lewat matanya. ‘Ingatlah kesepakatan kita, Kak.’ Verrel berharap ini bukanlah kesalah.'bismillahirohmannirohim' batin Verrel. "saya terima nikahnya Leonna Fidelia Adinata binti Pradhika Reynand Adinata dengan mas kawin tersebut tunai," Sah... Semua orang mengucapkan syukur dan mampu bernafas lega terutama Daniel dan Serli. "si Verrel hampir saja membuatku jantungan." gerutu Daniel "Dia tidak akan membuat kita malu, Ayah." ucap Serli yang sangat bahagia akan pernikahan ini, akhirnya putra semata wayangnya menikahi wanita yang tepat. Verrel memasangkan cincin berlian putih dengan mata kecil dari batu permata safir yang indah. Ia memesan cincin itu langsung dari Eropa dan dia ukir sendiri dengan memberi nama dirinya dan Leonna di dalam cincin itu. V&L Cincin itu terlihat pas di jari manis Leonna, dan terlihat semakin cantik melingkar di jari manis putih Leonna. Leonna mencium tangan Verrel dan Verrel dengan ragu mengecup kening Leonna. 'Aku berjanji akan membahagiakan kamu, Delia. Dan aku tak akan pernah menyakitimu sedikitpun.' batin Verrel. Dhika dan Daniel berpelukan bahagia karena persahabatan mereka bisa menjadi sebuah keluarga. Mereka bahagia bisa berbesan,               "Besan, gue bahagia banget." ucap Serli heboh seraya memeluk Thalita membuat Thalita tertawa senang melihat keantusiasan Serli. Leonna dan Verrel melakukan ritual sungkem kepada kedua orangtua mereka. Serli bahkan memeluk Leonna dengan sayang dan mencium kening Leonna begitupun dengan Daniel yang memeluk Leonna layaknya anaknya sendiri. Dhika memeluk Leonna dengan sayang dan bahkan berkaca-kaca. 'Begini rasanya melepaskan seorang anak untuk menjalani kehidupan barunya.' batin Dhika. "Sayang, Papa akan selalu berdoa untuk kebahagiaanmu. Dan sampai kapanpun kamu akan tetap menjadi Princes kesayangan papa. Rumah Papapun akan selalu terbuka untuk kamu, sering-seringlah main kerumah." ucap Dhika mengecup kepala Leonna dengan sayang. Leonna mengangguk antusias di pelukan Dhika. "Papa tidak menyangka sekarang princes kecil papa sudah menikah dan menjadi seorang wanita dewasa." "Leonna sayang papa, apa Leonna masih bisa bermanja-manja sama papa?" Tanya Leonna. "Pasti sayang, kamu bisa bermanja ke Papa sepuas kamu. Kamu akan tetap menjadi Princes kecil papa." Dhika melepas pelukannya dan menghapus air mata Leonna.  Leonna lalu berjalan mendekati Thalita dan menangis di pelukan Thalita. "Berbahagialah selalu, Sayang." ucap Thalita membuat Leonna mengangguk. Verrel rengkuh di depan kaki Dhika. "Papa percaya sama kamu Rel, jangan kecewakan papa dan tolong jaga Princes kecil Papa." ucap Dhika. "Pasti Om, eh Pa." ucap Verrel. ©©© Setelah acara ijab Kabul, acara selanjutnya adalah acara resepsi yang di laksanakan di salah satu hotel berbintang 5 milik keluarga Oktavio. Acara resepsi bertema party night di balkon sebuah hotel yang sudah di hias semewah dan seromantis mungkin. Banyak yang mengucapkan selamat kepada Verrel dan Leonna, walau wajah Leonna tidak terlihat sangat bahagia.   Leonna memakai gaun mahal rancangan Hian Tjen asal Milan Italia. Gaun pengantin berwarna gold itu terlihat sangat mewah membungkus tubuh Leonna. Gaun yang di lapisi dan bertaburan kristal swarovski. Leonna terlihat sangat cantik menggunakan gaun itu, ekornya tidak terlalu panjang dan tidak terlihat glamour tetapi lebih elegant seperti sosok seorang Prnces di kerajaan. Interior hotelpun di sulap menjadi sebuah kerajaan Princes yang sangat mewah dan indah. Layaknya keturunan bangsawan dari Inggris. Verrel terlihat tampan dengan memakai kemeja putih yang pas dengan tubuhnya yang kekar, rompi brukat berwarna abu membungkus tubuhnya dengan dasi abu yang terlihat cocok dengannya. Jas gold yang senada dengan Leonna membungkus tubuh indahnya hingga terlihat sangat elegant. Wajahnya bersinar cerah dengan mata birunya yang berbinar layaknya lautan. Verrel terlihat merengkuh pinggang Leonna dengan posesife dan mereka memperlihatkan senyuman terbaik mereka bedua ke para tamu. Mereka berdua terlihat bak seorang Princes dan Prince di sebuah kerajaan. "Bolehkah papa meminjam istri kamu, Rel. Papa ingin berdansa dengannya." ucap Dhika menghampiri mereka berdua. "Iya Pa, silahkan." "Princes Leonna, maukah kamu berdansa dengan papamu ini?" Tanya Dhika mengulurkan sebelah tangannya dan Leonna langsung menyambutnya diiringi senyuman lebarnya. Dhika membawa Leonna ke lantai dansa dan mulai berdansa di sana. "apa kamu bahagia?" Tanya Dhika dan Leonna mengangguk. "Jangan berbohong sama Papa," "Leonna bahagia Pa, kak Verrel sangat baik." ucap Leonna membuat Dhika tersenyum. "Syukurlah" ucap Dhika. Di meja bundar yang di sediakan untuk para tamu dan kerabat, brotherhood terlihat duduk bersama. Farel berjalan mendekati meja mereka dengan merengkuh pinggang istri tercintanya. "Apa kabar mister Kepo." sapa Farel. "Hallo mister Psyco,, kapan datang?" Tanya Okta.     "Tiga hari yang lalu, bagaimana otak loe? masih geser?" pertanyaan Farel yang sekarang berani membalas lelucon Okta.  Angga, Seno, Chacha dan Irene yang ada di sana di buat tertawa mendengar penuturan Farel. "Sialan loe, mister Psyco." Cibir Okta. "Masih geser ternyata" tambah Farel santai. Terlihat Leon mengajak Thalita untuk berdansa. Hingga tak lama semua pasangan turun untuk berdansa. Dhika masih berdansa dengan Leonna, Leon dengan Thalita, Verrel mengajak Pretty berdansa, Randa bersama Samuel, Datan bersama Chella, Vino bersama Jen, Farel bersama Claudya, Serli bersama Daniel, Okta bersama Chacha, Seno bersama Irene, Dewi dengan Edwin dan Elza dengan Jack. Hanya Adrian dan Rindi yang tidak ikut berdansa. Dansapun berubah menjadi dansa yang memutar pasangan mereka. Kini Leonna berdansa dengan Leon dan Thalita bersama Dhika. "Loe harus bahagia yah Ona jelek, kalau kak Verrel nyakitin loe kasih tau gue." ucap Leon. "Oke es batu." jawab Leonna. Tidak hanya mereka, kali ini Chella yang mematung saat pasangannya adalah Vino. Keduanya masih saling bertatapan cukup lama. Mereka merasakan kecanggungan yang teramat. "Hai," sapa Vino dengan senyuman manisnya membuat Chella tersenyum kecil. Vino mulai merengkuh pinggang Chella membuat tubuhnya menempel dengan tubuh Chella. Jarak wajah mereka begitu dekat dengan pandangan yang saling terpaut satu sama lain.  Entah apa yang terjadi, tapi kali ini jantung Chella berdetak kencang. Seketika Chella memalingkan pandangannya dan menunduk walau badannya masih bergerak kesana kemari berdansa dengan Vino. "Bagaimana kabarmu?" Tanya Vino. "Aku baik," gumam Chella sedikit menjauhkan tubuhnya dari tubuh Vino tetapi Vino masih menahannya membuat Chella menengadahkan kepalanya dan mata mereka kembali beradu. "Aku merindukanmu," gumam Vino membuat Chella mematung dan seketika berganti pasangan. Dimana Leonna yang berpindah ke Vino dan Chella ke Leon. Vino menatap geram Leon yang berdansa dengan Chella. "Abang anggurin aku," rengek Leonna yang sebenarnya tau arah pandang Vino kemana. "Maaf princes," Vino tersenyum dan mulai berdansa dengan sang pengantin. "Abang tenang saja, si es batu gak suka sama Chella." ucap Leonna berusaha menunjukkan sikap biasa saja. Kali ini Verrel yang sedang berdansa dengan Randa melirik ke arah Leonna dan Vino. "Tenang bro, dia gak bakalan kabur." bisik Randa membuat Verrel tersenyum kecil.. Leon yang berdansa dengan Chella masih memasang wajah dingin dan datarnya. Apalagi Leon tak merapatkan tubuh mereka. Chella menatap wajah tampan Leon yang terlihat cuek saja. Tetapi jantungnya tak berdetak kencang seperti bersama Vino tadi.  'Bukankah aku selalu berharap bisa berdekatan sedekat ini dengan Leon dan menatap wajah tampannya dari jarak dekat. Tetapi kenapa sekarang rasanya biasa saja. Ada apa denganku?' Leonna kembali berpindah dan berdansa dengan Datan. "Heh Ona, inget yah sekarang fokus ke suami loe. Kalau nanti Chella dan abang loe jadian, loe harus bisa ikhlasin." "Gue belum siap," ucap Leonna. "Jangan maruk loe,, kasian suami loe." ujar Datan. "Gue kagak maruk,, tapi cinta gue tak sampai," cibir Leonna sebal. "Iya pokonya itu lah, loe jangan sampai nyakitin abang gue. Awas loe berani nyakitin dia, gue kandangin loe sama si Conel." ancam Datan membuat Leonna mencibir. Di para orangtua, kini giliran Dhika yang berdansa dengan Dhika dan Thalita dengan Farel.  "bagaimana keadaan kamu, Lita?" Tanya Farel. "Aku baik Mas,, Mas sekarang terlihat lebih bersinar dan bahagia."ucap Lita. "Ya, mas bahagia bersama keluarga Mas. Untungnya dulu Mas gak sampai merebut kamu dari Dhika, kalau itu terjadi Mas gak tau sekarang hidup kita akan bahagia atau tetap seperti dulu, kelam." ucap Farel. "Aku bahagia melihat Mas seperti ini," ucap Thalita. "Cinta kamu ke Dhika sungguh besar. Mas awalnya berpikir kamu itu bodoh karena mau maunya bertahan hidup selama beberapa tahun bersama iblis hanya demi pria yang sudah menyakitimu." ucap Farel. "Tetapi sekarang aku paham, kenapa kamu melakukannya. Cinta memang bisa membuat orang nekat dan berani berkorban. Sekarang mas salut sama ketulusan cinta kamu ke Dhika." "Aku begitu mencintainya, Mas." ucap Thalita melirik Dhika yang tengah berdansa dengan Claudya. "dia adalah hidupku. Imam yang akan selalu aku ikuti sampai mati." ucap Thalita tersenyum menatap Dhika. "Jagalah keluargamu, dan berbahagialah. Karena di masa tua mas juga ingin menghabiskan waktu mas bersama Nanda. Karena suatu saat nanti Vino dan Jen akan menikah dan punya kehidupan sendiri." jelas Farel dengan senyuman berbinarnya. "Aku senang melihat mas seperti ini." "Hai amoeba," sapa Okta saat kini dirinya berdansa dengan Claudya. "Hai mister kepo." ucap Claudya tersenyum.  Okta dengan sengaja merapatkan tubuhnya dengan Claudya. "aku ingin membuat suamimu mengamuk." bisik Okta yang masih senang mengganggu Farel, membuat Claudya terkekeh. Benar saja, Farel yang masih berdansa dengan Thalita langsung menghentikan gerakannya dan berjalan mendekati Okta. Ia menarik tubuh Claudya menjauh dari Okta. "Aishh dasar mister Psyco, mengganggu kebahagiaan orang lain saja." keluh Okta dengan santai membuat Claudya terkikik dan semuanya menghentikan dansa mereka dan fokus ke arah Okta dan Farel. "Minta di tinju loe, Kepo." ucap Farel kesal, "Kagak, gue cuma minta di peluk saja sama istri loe." ucap Okta dengan santai. "Si gator nyari gara-gara," ucap Angga. "Kalau begitu lawan dulu gue." ucap Farel melepas jasnya. "mundur Nanda, akan aku beri pelajaran buaya kepo satu ini." tambah Farel memberikan jasnya ke Claudya yang masih terkekeh. "Siapa takut, loe jual gue beli asal harganya kagak mahal." jawab Okta membuat yang lain terkekeh. Mereka tak menganggap ini serius karena mereka sudah terbiasa seperti ini saat bertemu. "Ayo Dad, keluarkan jurus raja buayanya." Teriak Datan . "Satu dua tiga." keduanya melakukan suit kertas gunting batu. "Gue menang," sorak Okta membuat Farel mendengus kesal. "Come here Amoeba, peluk aku." ucap Okta membuat yang lain terkekeh dan menggelengkan kepala mereka. "Maafkan aku sayang, kamu kalah sih." kekeh Claudya seraya memeluk Okta membuatnya tersenyum menyebalkan ke arah Farel.  Claudya kembali melepas pelukannya. Dan tiba-tiba saja Chacha memeluk tubuh Farel. "Nelaaa!" Pekik Okta tetapi Chacha cuek saja memeluk Farel yang juga di balas oleh Farel yang tersenyum menyebalkan ke arah Okta dan bahkan mereka lama sekali berpelukannya. "Udeh kenapa sih," Okta menarik lengan Chacha membuat Chacha mendengus kesal. "Kamu bisa peluk-peluk istri orang, kenapa aku nggak." ucap Chacha cuek. "Isshh dasar nenek lampir ganjen." celetuk Okta. "Dasar aki aki keladi." balas Chacha membuat yang lain semakin tertawa. ©©©  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD