Farel baru saja selesai memeriksa beberapa olahan dari pabrik miliknya. Saat memasuki ruangannya terlihat Claudya tengah menata makanan disana. "Nanda?" panggil Farel yang kaget melihat Claudya ada disana.
"Hallo Sayang, aku sengaja bawakan makan siang untukmu. Kamu pasti belum makan kan," ucap Claudya.
"Makasih Nanda. Jen belum pulang? Vino juga?" Tanya Farel.
"Jen belum pulang, katanya ada kegiatan." ujar Claudya. "Vino juga sepertinya akan pulang malam."
"Vino sudah jarang sekali tinggal di rumah, dia selalu sibuk." ujar Farel duduk di sofa tepat di samping Claudya.
"Iya, sampai sulit sekali mengambil cuti." tambah Claudya. "sayang, kamu sudah dengar kabar dari Thalita dan Dhika?" Tanya Claudya.
"Iya, Dhika sudah memberi kabar kemarin kalau Leonna akan menikah pekan ini." ujar Farel.
"Kita ke Indonesia?" Tanya Claudya.
"Ya pasti, bagaimanapun juga Leonna, Leon dan Adrian adalah anak kita juga. Apalagi Leonna yang sangat dekat dengan Vino dan kita." ujar Farel. "aku sudah siapkan tiket untuk keberangkatan kita besok ke Indonesia. Hanya saja Vino aku belum tau." ujar Farel.
"Vino nanti kita kasih kabar saja kalau adiknya menikah," ucap Claudya.
"Siapa yang menikah Ma?" pertanyaan dari seseorang membuat Claudya dan Farel menengok ke ambang pintu dimana Vino tengah berdiri dengan masih memakai seragam captainnya.
"Kapten Vino panjang umur sekali," kekeh Claudya, Vino menyalami Claudya dan Farel.
"Adik aku siapa yang nikah Ma, Pa?" Tanya Vino
"Leonna, Vino." Ucap Farel.
"Le-leona?" pekik Vino sangat kaget.
"Iya, Leonna akan menikah dengan Verrel anak dari Daniel dan Serli pekan ini." jelas Claudya.
"Pekan ini??" pekik Vino semakin kaget.
"Leonna belum memberitahumu memang?" Tanya Farel.
"Kok mendadak sekali," gumam Vino merasakan ada perasaan tidak rela. Vino langsung beranjak keluar ruangan Farel, meninggalkan Farel dan Claudya yang saling memandang bingung.
Vino berjalan menuju ladang yang terdapat sebuah gubuk kayu. Ia mencari nomor Leonna untuk menghubunginya. 'apa maksudnya ini? kenapa Leonna menikah tanpa mengabariku? Bahkan aku tidak tau calonnya siapa. Benar-benar anak ini, membuatku emosi.'
"Hallo Leonna." bentak Vino sudah sangat kesal. "apa maksud kamu menikah tanpa mengabariku? Kamu anggap apa aku ini????" pekik Vino kesal.
"A-abang, a-aku..." Leonna terdengar ketakutan dan kebingungan di sebrang sana.
"Kamu bahkan gak cerita sama abang sama sekali, Kamu kenapa sih Leonna? Kenapa sekarang kamu terlihat menghindari Abang?" Tanya Vino memborong.
"Maafkan Leonna, aku terpaksa tidak bercerita ke Abang. Leonna takut mengganggu Abang."
"Omong kosong macam apa itu, Leonna??? Kamu seakan baru mengenal Abang. Abang menyayangi kamu, Leonna. Dan kamu malah tidak menganggap Abang sama sekali." ujar Vino benar-benar emosi.
"Maafkan Leonna," tangis Leonna sudah pecah di sebrang sana.
"Abang kecewa sama kamu, mungkin kalau Mama dan Papa tidak memberitahu Abang, abang sama sekali tidak akan tau berita ini. Kamu tidak menginginkan Abang datang?" Tanya Vino.
"Bu-bukan seperti itu Bang, Leonna sibuk mengurusi pernikahan yang akan di laksanakan pekan ini." ucap Leonna.
"Begitu yah, Abang paham. Maaf abang sudah mengganggumu, Leonna." ujar Vino penuh penekanan dan mematikan telpon secara sepihak.
"Arrggghhh !!!" Vino meninju tiang dari kayu di sampingnya karena kesal. "kenapa kamu lakukan ini, Leonna." pekik Vino sangat kesal.
Entah apa yang Vino rasakan, tetapi Vino merasa sangat marah dan tidak rela. Apalagi Leonna sangat tidak menghargainya.
Sedangkan di Indonesia, Leonna menangis sejadi-jadinya di dalam kamarnya. Hatinya hancur mendengar amukan Abang tersayangnya. Ini pertama kalinya Vino membentaknya.
'hiks...hiks...hiks...aku tidak menghubungi Abang karena aku takut perasaan ini semakin membuatku menolak kak Verrel. Bagaimanapun aku sudah memilih kak Verrel dan aku ingin melupakan Abang, tapi kenapa Abang semarah itu? Maafkan Leonna, sungguh Leonna minta maaf.' isak Leonna
"Ona," panggilan seseorang membuat Leonna menghapus air matanya dan berangsur membenarkan duduknya. Michella berdiri di ambang pintu dan berjalan mendekati Leonna. "loe baik-baik saja kan?" Tanya Michella mengelus pundaknya.
"Gue gak tau, Chell." gumam Leonna menghapus air matanya, Leonna tidak terbiasa menangis di depan orang lain.
"Apa ini ada hubungannya sama abang Vino?" Tanya Chella tepat sasaran membuat Leonna menengok ke arahnya. "kalau loe cinta sama abang, kenapa loe gak katakan sejujurnya. Kenapa loe harus nerima kak Verrel?" Tanya Chella.
"Karena abang mencintai wanita lain,"
Deg …
Chella mematung mendengar penuturan Leonna barusan. Tangannya yang berada di pundak Leonna kini sudah jatuh seakan tak ingin menyentuh Leonna. Chella mendadak gugup dan berkeringat dingin. Leonna yang bisa membaca gerak gerik Chella hanya tersenyum kecil. "sudahlah, gue juga tidak tau siapa yang abang cintai. Tapi dia berkata jujur kalau dia sangat mencintai wanita itu, gue memilih mundur dan menerima lamaran kak Verrel." ujar Leonna membuat Chella semakin mematung.
"Tidak Ona, loe berhak bahagia sama pria yang loe cintai. Dan pria itu bukanlah kak Verrel melainkan abang Vino, berkatalah jujur sama abang. Gue yakin abang tidak akan menyakiti hati loe." ujar Chella.
"Abang memang tak akan menyakiti hati gue, tetapi dia akan mengorbankan hatinya sendiri. Dan gue tidak mau itu terjadi, Sudahlah Chell." ucap Leonna.
"Tidak Leonna, please perjuangin cinta loe. Loe berhak bahagia sama Abang, gue yakin lambat laun abang akan mencintaimu, hanya perlu waktu saja, Ona. Gue mohon, abang tidak akan bisa bahagia sama wanita yang di cintainya, percaya sama gue." ujar Chella meyakinkan membuat Leonna menatapnya seakan mencari keraguan di matanya tetapi tak ada sedikitpun.
'Haruskah aku membatalkan pernikahan ini dan mengatakan ke Abang kalau aku mencintainya?' batin Leonna.
"Loe harus gapai kebahagiaan loe, Ona." ujar Chella.
"Bisa loe tinggalin gue sendiri? gue butuh waktu, Chell." gumam Leonna.
"Oh o-ke," gumam Chella. "kalau loe butuh apa-apa, panggil gue yah. Gue ada di bawah bantuin yang lain." ucap Chella membuat Leonna mengangguk.
Chella berlalu pergi, sedangkan Leonna hanya bisa menyandarkan tubuh ke kepala ranjang dengan pikiran yang melayang entah kemana. 'Kalau aku membatalkan pernikahan ini, apa kak Verrel tidak akan terluka?' Batin Leonna
Ucapkanlah sejujurnya, jangan ada yang di sembunyikan dari Verrel. Apapun itu...
Ucapan Dhika terngiang di kepala Leonna secara tiba-tiba. 'sebaiknya aku mengatakannya ke kak Verrel dan biarkan saja keputusan kak Verrel yang ambil,' batin Leonna.
Leonna segera menghubungi Datan untuk datang ke dalam kamarnya.
"apa loe, manggil manggil gue. Mana manggilnya udah kayak manggil setan lagi loe." gerutu Datan saat masuk kamar Leonna membuat Leonna terkikik.
"Abis kalau gak pakai jampi jampi, loe kagak bakalan datang." kekeh Leonna
"Ada apa sih?" Tanya Datan.
"Loe bisa tolongin gue, gak? Tolong bantu gue keluar dari rumah." ujar Leonna.
"Loe gila, loe mau kemana sih Ona? Pengantin itu harusnya diem manis di dalam kamar," ujar Datan.
"Ayolah Datan, gue ada urusan penting." ucap Leonna.
"Kalau ketauan papa Dhika, bisa di bedah gue." celetuk Datan.
"Kagak bakalan, papa gue baik." bela Leonna.
"Tapi kalau berhubungan sama anak gadisnya, bisa muncul tanduk tanduknya."
"Ayolah kunyuk,, loe kagak guna banget sih gue minta bantuan sedikit juga," keluh Leonna.
"Memang loe mau kemana? Ayo deh gue anter," ujar Datan.
"Tapi gimana cara keluarnya? Kan tu di bawah pada rame." ujar Leonna membuat Datan terdiam.
"Gampang, lagian gak ada daddy dan mom. Jadi mereka gak bakalan ngerecokin kita." ujar Datan.
©©©
Datan menunggu di dalam mobil, sedangkan Leonna berjalan menghampiri Verrel yang sudah duduk di salah satu kursi meja di café Amour. Sebelumnya Leonna sudah menghubungi Verrel untuk bertemu disini.
"Hai kak" sapa Leonna membuat Verrel tersenyum dan menarik kursi untuk Leonna duduk, Verrel kembali duduk di tempatnya.
"Ada apa Delia? Aku sampai harus kabur dari Bunda dan Ayah." ujar Verrel membuat Leonna tersenyum kecil.
"Kak, lima hari lagi kita akan menikah. Dan aku ingin mengatakan sesuatu sama kakak." cicit Leonna memantapkan hatinya.
"Katakanlah, jangan takut." ucap Verrel dengan senyumannya.
"Emm,, kak. A-aku,," Leonna kembali terdiam, rasa takut melingkupinya. Verrel masih sabar menunggu Leonna melanjutkan ucapannya.
"Katakanlah De," Verrel masih menunggu dengan sabar, hingga tak lama pesananpun datang.
"Ice Greentea kesukaan kamu." tambah Verrel membuat Leonna mengernyitkan dahinya.
'Bagaimana Verrel tau, aku bahkan belum pernah makan bersama dengannya.' batin Leonna dan menyeduh minuman miliknya. "kakak tau minuman kesukaanku?"
"Begitulah," ucap Verrel tersenyum kecil. 'apa yang tidak aku ketahui tentang kamu, Delia.' batin Verrel. "Apa yang mau kamu tanyakan?"
"Tapi kakak jangan marah yah." ujar Leonna.
"Katakanlah," ujar Verrel mulai penasaran dan bertanya-tanya.
"Maafkan aku Kak, tapi aku mencintai pria lain"
Deg …
Leonna berbisik tetapi masih mampu terdengar oleh Verrel. Verrel awalnya kaget, tetapi Verrel memahaminya. Leonna masih menunduk karena takut dan terlihat gugup.
"Hei,, kenapa menunduk begitu." Verrel menyentuh tangan Leonna yang terasa dingin. "sampai dingin begini." tambah Verrel meremas tangan Leonna dan mengusapnya lembut seakan ingin memberikan kehangatan pada Leonna.
Leonna menengadahkan kepalanya menatap Verrel yang masih mengusap tangannya. "Kakak tidak marah?"
Verrel tersenyum ke arah Leonna. "Kenapa aku harus marah, hmm?" Tanya Verrel dengan lembut. Walau hatinya terasa sakit, tetapi Verrel tidak bisa menyalahkan Leonna dan memarahi Leonna. Bagaimanapun Leonna berhak mencintai siapapun.
"Tapi kan aku-, kita-" jawab Leonna terbata-bata.
"Cinta itu tidak bisa di paksakan, dan cinta juga berhak menentukan siapa yang akan kita cintai. Bukankah cinta itu anugrah dari tuhan." ujar Verrel masih memasang senyuman manisnya.
"Kak-"
"Ssssttt,," Verrel menggenggam erat tangan Leonna. "kamu berhak mencintai siapapun, aku tidak ada hak untuk melarang kamu mencintai pria lain. Sekarang katakanlah, apa kamu ingin membatalkan pernikahan ini?" Tanya Verrel yang masih sekuat tenaga menekan luka di hatinya.
Mendengar penuturan Verrel, Leonna terdiam. Hatinya merasa tidak ingin kalau pernikahan mereka sampai batal. Tapi Vino? Bahkan dia masih marah sama Leonna.
"Kalau kamu tidak bisa menjawabnya, tidak apa-apa. Aku sudah paham maksud kamu, De." ucap Verrel. "aku akan bicara sama orangtuaku untuk membatalkan pernikahan ini." ujar Verrel membuat Leonna menatap Verrel tidak percaya.
"Kamu jangan takut, aku juga yang akan bicara dengan om Dhika. Aku akan membatalkan pernikahan ini dengan alasan kalau aku memiliki gadis lain, dan mencintainya. Jadi kamu tidak akan terkena masalah apapun." ujar Verrel.
"sekarang gapailah cinta kamu, dan hiduplah berbahagia. Jangan pernah merasa terbebani olehku. Oke." Verrel mengusap kepala Leonna dengan lembut diiringi senyuman menawannya.
“Bukan ini maksudku,” cicit Leonna.
Verrel mengernyitkan dahinya bingung. “Bisakan Kakak memberiku waktu selama 2 hari ini. Setelah itu aku akan memberi keputusan kepada Kakak, apa kita akan melanjutkan pernikahan atau tidak."
Terdengar helaan nafas dari Verrel. “Sejujurnya ini sedikit tak adil, tetapi baiklah. Pikirkan baik-baik semuanya, kalau kamu sudah mendapatkan jawaban maka temui aku.”
“Kakak bisa menungguku?”
“Kenapa tidak,” ucap Verrel membuat Leonna tersenyum senang.
Bukankah cinta itu gila. Hanya melihatnya bahagia dan tetap tersenyum, aku rela melakukan apapun untuknya. Termasuk melepaskannya untuk pria lain.
“Kamu pulang sama siapa? Biar aku antarkan pulang." ucap Verrel
"Sama Datan," cicit Leonna.
"Baiklah, ayo kita pulang. Ini sudah larut malam." tambah Verrel yang di angguki Leonna. Keduanya berjalan bersama menuju parkiran dan Datan sempat bersalaman dengan Verrel.
©©©
Setelah mengantar Leonna menaiki mobil Datan, Verrelpun beranjak menaiki mobilnya. Ia mencengkram setir mobilnya dengan kuat hingga buku-buku tangannya memutih. Emosinya meledak, rasa kesal dan terluka saat ini dia rasakan. "kenapa Delia?" gumam Verrel. "mungkin aku terlalu bahagia karena akan menikah denganmu." gumam Verrel menyandarkan kepalanya ke setir mobil.
Di dalam mobil Datan., Leonna terlihat menyandarkan kepalanya ke sandaran jok mobil. "loe ngomong apaan sama kak Verrel?" Tanya Datan.
"Gue bilang kalau gue mencintai pria lain."
Ciiiitttttt
Datan mengerem mobil seketika, membuat Leonna hampir saja membentur dashboard tetapi tertahan karena memakai sabuk pengaman. "loe mau bunuh gue!!" pekik Leonna yang sangat kesal.
"Loe yang mau bunuh gue karena serangan jantung." emosi Datan tak kalah kesalnya. "heh Ona, otak loe dimana hah? loe pindahin ke dengkul atau ke kaki sih?" Tanya Datan kesal.
"Otak loe yang pindah ke dengkul." cibir Leonna kesal.
Pletak
"Aduhhhhh,," pekik Leonna karena Datan menyentil keningnya. "sakit kunyuk, sialan loe." Leonna mengusap keningnya.
"Heh Ona, Loe bener-bener otak kecoa yah." ujar Datan kesal.
"Kecoa kagak ada otaknya, lebih enak otak udang." celetuk Leonna.
"Otak udang terlalu bagus, kalau loe otak kecoa yang kagak punya otak. Heh denger Ona jelek, loe jangan so cantik dan so laku. Mau nyari yang kek gimana lagi? udah dapet model kak Verrel yang sempurna malah loe tolak, dasar otak kecoa." ujar Datan kesal.
Pletak ….Kini giliran Leonna yang menyentil kening Datan, membuatnya mengelus keningnya sendiri.
"Gue gak cinta sama kak Verrel, Kunyuk. Gue cintanya sama abang Vino." ujar Leonna,
"Cinta, cinta,cinta dan cinta. Bikin gue pengen muntah dengernya, cinta model kayak gimana tuh yang malah melumpuhkan sistem kerja otak manusia." ujar Datan kesal. "Loe kan sudah jelas-jelas tau kalau pangeran loe itu cinta sama si Lonceng gereja alias si Lonja. Loe masih ngebet aja sama pangeran loe itu.”
"Gue gak tau, Kunyuk." keluh Leonna frustasi.
"Ya tuhan, kenapa kau menciptakan wanita-wanita tanpa otak seperti si Ona dan si Pipit. Cinta benar-benar membutakan mereka berdua." gerutu Datan,
"Sudah deh Kunyuk jangan lebay dan berlebihan, sekarang ayo lanjut pulang sebelum Mama nyari." ujar Leonna,
"Denger Ona, gue sayang sama loe. Gue kasih saran. Jangan membatalkan pernikahan ini, loe bakalan nyesel." ujar Datan mulai menjalankan kembali mobilnya. Leonna hanya bisa bersandar sambil memijit pangkal hidungnya. "yang gue tau, kak Verrel mencintai loe dengan tulus." tambah Datan,
"Gak mungkin." celetuk Leonna.
"Loe gak percaya? Oke kita lihat dua atau tiga hari lagi." tambah Datan membuat Leonna terdiam.
©©©
Setelah dua hari berlalu, saat ini Leonna sudah memutuskan sesuatu. Ia keluar dari kamarnya tengah malam saat semuanya sudah beristirahat walau ada sebagian kerabatnya yang masih sibuk berbincang. Leonna menuruni pohon yang berada di dekat balkon kamarnya.
Ia harus menemui Verrel sekarang juga, ia tidak ingin menggantungkan Verrel dan membuatnya menjadi gelisah. Ia keluar dari pekarangan rumahnya. ‘Rumah kak Verrel gak terlalu jauh dari sini, apa aku jalan kaki saja yah.’
Leonna celingak celinguk mencari taxi yang tidak mungkin ada di jam segini. Ia akhirnya memutuskan untuk jalan kaki dengan menutupi kepalanya dengan kupluk jaket yang ia pakai. Selama di perjalanan ia mencoba menghubungi Verrel hingga tak lama di angkat juga.
“Kakak, aku sedang jalan menuju ke rumah Kakak.”
“Kamu dimasa sekarang? Ini sudah larut malam, Delia. Kita bisa bertemu besok.”
“Aku tidak bisa Kak, aku sulit keluar dari rumah. Aku ingin bertemu Kakak sekarang.”
“Oke, sekarang kamu dimana? Tunggu di tempat yang ramai. Aku kesana sekarang,”
“Aku akan tunggu di mini market dekat komplek rumah. Kakak jangan lama yah, sebenarnya aku sangat takut.”
“Oke,”
Leonna mematikan sambungan telponnya dan celingak celinguk melihat ke kanan kiri karena takut. Ia sungguh kesal dengan adanya adat di pingit hingga sulit sekali bertemu dengan Verrel. Ia juga menggenggam erat cutter yang dia bawa untuk berjaga-jaga. Di mini market itu terlihat sepi sekali walau masih buka karena termasuk mini market 24 jam. Ia berniat untuk masuk tetapi di dalamnya terlihat pria semua dan sepi. Mana wajah mereka terlihat wajah m***m semua. Entah karena Leonna yang parno tetapi ia sangat ketakutan.
“Hei,”
“Jangan dekat-dekat.” Leonna mengacungkan cutter itu hingga ujung cutter yang tajam berada tepat di depan wajah seseorang itu.
“Wow, santai De. Ini aku, Verrel.” Verrel terlihat mengangkat kedua tangannya ke udara membuat Leonna mampu bernafas lega. Ia menjatuhkan cutternya, dan langsung berhambur di pelukan Verrel.
“Aku takut,”
“Aku sudah ada disini, ayo sebaiknya kita bicara di dalam mobil.” Verrel mengelus kepala Leonna dan menuntunnya menuju ke arah mobil sportnya. Leonna yang mungkin terlalu parno, hingga tak menyadari kedatangan Verrel.
Saat ini keduanya sudah duduk di dalam mobil, Verrel melajukan mobilnya memasuki area komplek rumah Leonna dan berhenti di dekat taman komplek. Tak ada yang mengeluarkan suara, mereka sibuk dengan pikiran masing-masing. Verrel menunggu Leonna membuka suaranya.
“Kak,”
“Katakan saja, aku menunggumu.” Ucap Verrel terlihat begitu tenang walau jantungnya sudah berdetak sangat cepat.
"Cintaku bertepuk sebelah tangan, Kak. Dia tidak membalas perasaanku."
Verrel terpekik kaget mendengar penuturan Leonna barusan. "ini sangat memalukan, cintaku tak terbalaskan." Kekehnya terdengar miris, Verrel tak bisa untuk tidak menggusap kepala Leonna, membuatnya menatap ke arah Verrel. Mata biru itu begitu menenangkan bagi Leonna. Verrel selalu menampilkan wajah tenang dan hangatnya hingga Leonna tak merasa canggung saat bersamanya. "Kak, aku tidak akan memaksa Kakak untuk tetap menikah denganku. Kakak punya hak untuk menentukan pilihan. Aku hanya ingin mengatakan yang sejujurnya sebelum kita menikah, bagaimanapun hubungan yang di dasari dengan kebohongan tidak akan berlangsung dengan baik." “Apa kamu memutuskan untuk melanjutkan pernikahan ini?” Tanya Verrel.
“Apa Kakak merasa keberatan? Aku sebenarnya tidak berniat untuk menjadikan Kakak sebagai pelampiasanku. Aku hanya ingin terbuka dan berusaha membuka lembaran baru dengan tidak di dasari kebohongan.” Ucap Leonna.
“Aku menyukai kejujuranmu, Delia.” Verrel masih menampilkan senyumannya.
"Sekarang Kakak sudah tau kebenaran perasaanku, keputusan menikah tetap ada di tangan Kakak. Apa Kakak masih mau melanjutkannya ? Leonna tidak akan memaksa." ujar Leonna membuat Verrel mematung di tempatnya. "Aku tidak ingin membebani Kakak, bagaimanapun setelah menikah kehidupan kita akan berbeda."
Verrel masih terdiam menatap mata bulat Leonna yang terlihat begitu indah. “Aku ingin membuka lembaran baru, tetapi aku takut Kakak tidak mau.”
"Semuanya tidak mungkin secepat itu.Kita bisa berteman bukan untuk saling mengenal lebih dekat?" Tanya Verrel membuat Leonna mematung.
“Apa Kakak sungguh mau menikah denganku? Atau kita berteman seperti layaknya seorang teman?” Tanya Leonna yang sedikit tidak paham.
“Kamu maunya bagaimana?” Tanya Verrel menaikkan sebelah alisnya.
“Aku-?”
“Kenapa wajahmu memerah?” Verrel terkekeh melihat wajah Leonna yang terlihat memerah.
“Jangan menatapku seperti itu,” Leonna menundukkan kepalanya karena sangat malu sekali.
“Aku akan tetap menikahimu, kecuali kamu membatalkannya.” Bisik Verrel tepat di telinga Leonna membuatnya menengadahkan kepalanya. Jarak di antara mereka begitu dekat, membuat hidung mereka bersentuhan.
“Kita akan tetap menikah?” cicit Leonna.
“Ya, Delia. Aku sangat menyukaimu.” Bisik Verrel.
“Kak-“ tatapan Verrel mengatah ke arah bibir merah Leonna yang sangat menggoda. Ia mendekatkan wajahnya pada Leonna, hampir saja bibir mereka bersentuhan kalau tidak ada suara nyaring yang mengganggu mereka. Leonna dan Verrel sama-sama terkekeh.
“Kamu lapar?” Tanya Verrel karena suara perut Leonna yang terdengar nyaring.
“Itu-,” Leonna menundukkan kepalanya. ‘Astaga ini perut sungguh merusak suasana. Kenapa berbunyi di saat yang tidak tepat.’
“Ayo kita cari makan,” Verrel kembali ke posisinya semula, tetapi sebelum menjalankan mobilnya ia memasangkan setbelt di tubuh Leonna. “Tidak apa-apa kan aku menculikmu dulu sebelum acara pernikahan.” Goda Verrel dengan kekehannya.
“Lakukan saja sesuka Kakak, sejujurnya aku merasa terkurung selama ini di dalam rumah,” kekeh Leonna.
“Oke mau makan apa?”
“Apa yah, makan sate enak kali yah Kak.”
“Bailah Princes, kita kuliner sate.” Ucap Verrel menginjak gas mobilnya.
Tak lama mereka sampai di tempat jualan sate yang berada di pinggir jalan. Keduanya menuruni mobil dan memesan sate. “Kak aku ingin 25 tusuk boleh yah,”
“Serius?” Tanya Verrel yang di angguki Leonna. “Oke.”
Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya sate merekapun datang. Leonna langsung melahapnya dengan sangat lahap membuat Verrel mengernyitkan dahinya.
“Kamu berapa hari gak nemu makan, De?” pertanyaan Verrel membuat Leonna terkekeh sendiri.
“Jangan tanya kapan aku terakhir makan enak, aku terus di jejelin vegetarian. Di sangka aku ini rabbit apa,” gerutunya membuat Verrel terkekeh.
“Tapi kenapa?”
“Kata Oma sih, biar badanku gak melar saat menikah nanti. Apalagi aku harus stop makan coklat itu, ah pokoknya menyiksa sekali. Melebihi di dalam penjara.” Gerutunya sambil terus menikmati makannya.
Verrel hanya menatap Leonna dengan senyumannya. Ia sudah begitu menyukai Leonna, jadi melihat sikapnya yang bagaimanapun ia tidak perduli. Orang cantik bebas melakukan apapun, hhe.
“Kak,”
“Hmm,”
“Aku mau nambah, boleh.”
“Kamu yakin?” Tanya Verrel yang di angguki Leonna dengan sangat antusias. “Ya sudah pesan lagi saja.”
“Bang, tambah 15 tusuk lagi yah,” ucap Leonna.
“Gak salah Neng?”
“Apanya yang salah?” Tanya Leonna bingung melihat pedagang sate itu menatapnya dengan ekspresi syok. “Bang, aku bukan sunderbolong, lihat nih punggungku gak bolong dan kakiku napak tanah.” Pekik Leonna karena melihat wajah ketakutan pedagang sate. Verrel terkekeh melihatnya,
“Tambah yah,”
“Oke deh Neng, di tunggu yah.”
Setelah puas menikmati makanannya, merekapun berlalu pergi meninggalkan tempat sate itu. “Kamu kenyang sekarang?” Tanya Verrel.
“Banget Kak, tadi itu sangat enak.” Ucap Leonna seraya mengusap perutnya sendiri.
“Kita pulang yah,”
“Aku tidak mau pulang, gimana kalau kita ke pantai saja.”
“Ini sudah lewat tengah malam, De. Gimana kalau kamu di cariin?”
“Ayolah Kak, aku bosan di kurung terus.”
“Baiklah,” Verrel akhirnya mengalah, ia menjalankan mobilnya menuju pantai.
Sesampainya disana, Leonna langsung keluar dari mobil dan berlari ke arah pantai dengan berteriak sangat antusias. “Sejuk banget,” kekehnya.
Verrel menarik lengan Leonna hingga dia berbalik ke arahnya. Verrel menarik sleting jaket Leonna hingga batas leher. “Kamu akan masuk angin nanti,” ucapnya membuat Leonna speechless. Leonna kembali berlari di bibir pantai dengan sangat senang, sedangkan Verrel memilih mengumpulkan beberapa kayu untuk membuat api unggun agar mampu menghangatkan tubuh mereka berdua.
Setelah mengumpulkannya cukup banyak, ia mulai menyalakan api unggun hingga menyala. “Wah ada api unggun,” Leonna sangat antusias.
“Duduk disini,” Verrel mengambil duduk di dekat api unggun dan menepuk tempat di sampingnya. Leonnapun duduk di samping Verrel dan menatap lurus ke depan. Menatap hamparan lautan luas dan indah saat malam hari.
“Aku sangat menyukai suasana terbuka seperti ini,” ucap Leonna. “Aku merasa sangat bebas, dan begitu menyukai pantai.”
“Aku tidak begitu menyukai pantai, tetapi aku menyukai pemandangannya.” Ucap Verrel.
“Lalu apalagi yang Kakak suka dan gak suka, mungkin sebaiknya aku mencatatnya biar hapal. Aku kan tidak tau apapun tentang Kakak. Begitu juga sebaliknya kan.”
‘Kamu salah, Delia. Aku mengetahui semuanya tentang kamu.’ Batin Verrel saat Leonna tengah berceloteh tentang dirinya sendiri.
“Apa ada yang ingin di tanyakan?” Tanya Leonna.
“Tidak, itu sudah sangat jelas sekali,” ucapnya membuat Leonna mengangguk patuh. “Aku tidak memiliki banyak kelebihan, mungkin kekurangan banyak sekali. Kamu akan menyesal menikah denganku,” kekeh Verrel.
“Memang apa saja?” Tanya Leonna menengok ke arah Verrel dengan memeluk kedua lututnya.
“Aku suka sekali lari di pagi-pagi buta, terus aku juga kurang suka makanan pedas dan siap saji, aku membenci cacing dan sejenisnya.” Ucap Verrel.
Leonna terkekeh mendengarnya, “lalu apalagi?”
“Aku orang yang suka kebersihan, mungkin nanti akan sedikit bawel. Jadi harap di maklum saja, dan aku juga tidak begitu mahir bercanda.” Ucap Verrel terdiam sesaat. “Mungkin masih banyak lagi kekuranganku, aku tidak tau.”
“Astaga Kak, bukan kekurangan kalau itu sih. Bagus kali hidup sehat,” kekeh Leonna. “Kakak tenang saja, aku akan beradaptasi dengan cepat.” Ucapnya dengan mencubit pipi Verrel.
“Yakin?”
“Ya insa allah,” keduanya terkekeh.
Setelahnya tak ada lagi yang mampu mengeluarkan suara mereka. Keduanya sibuk menatap lurus ke depan. Verrel tersentak saat tubuh Leonna oleng dan bersandar ke pundaknya. Ternyata Leonna sudah terlelap, Verrel tak tega membangunkannya. Ia melepaskan jaket yang ia pakai dan ia gunakan untuk menyelimuti tubuh Leonna. Lengan sebelah kirinya merangkul pundak Leonna dan membawanya ke d**a bidangnya. Leonna terlihat nyaman sekali tidur di sana. Verrel hanya tersenyum memperhatikan wajah cantik Leonna saat tertidur.
©©©
Leonna tersadar saat sinar matahari menusuk ke retina matanya, ia mengerjapkan matanya berkali-kali dan menatap sekeliling. Ternyata dirinya tertidur di dalam jok mobil dengan jaket Verrel yang masih menyelimuti tubuhnya. Ia perlahan mengucek matanya dan bangun dari rebahannya. Matanya menangkap sosok Verrel yang terlelap di jok pengemudi tepat di sampingnya dengan hanya memakai kaos pendek berwarna hitamnya. Kedua tangannya terlihat memeluk tubuhnya sendiri.
“Pasti Kakak kedinginan,” gumamnya seraya menyelimuti tubuh Verrel dengan jaket miliknya.
Leonna beranjak keluar dari mobil dan merenggangkan kedua tangannya ke udara. Ia mengikat rambut panjangnya asal. Tanpa ia sadari Verrel sudah terbangun, ia mengangkat jaket Leonna yang berada di tubuhnya. Senyuman terukir indah di bibirnya. Ia menatap keluar mobil dimana Leonna berada. Leonna terlihat merenggangkan kedua tangannya dan memiringkan badannya ke kiri dan ke kanan. Ia melakukan pemanasan kecil saat bangun tidur.
“Relax sekali rasanya.” Gumamnya, ia berbalik ke arah mobil dan terlihat Verrel tengah tersenyum padanya. “Kakak sudah bangun?”
“Yah, baru saja. Kamu lapar?” tanya Verrel dan Leonna mengangguk antusias. “Kalau begitu ayo naiklah kita pulang dan membeli makan di jalan nanti.” Leonna kembali mengangguk dan menaiki mobil Verrel.
©©©
Selesai sarapan di sebuah restaurant, kini Verrel dan Leonna sudah sampai di depan rumah keluarga Adinata.
Saat memasuki pengarangan rumah, Dhika sudah berdiri di ambang pintu dengan melipat kedua tangannya di d**a. “Kak, gimana ini.”
“Kamu tenang yah De, biar Kakak yang ngadepin Papa kamu.” Ucap Verrel seraya menuruni mobilnya diikuti Leonna. Mereka berjalan mendekati Dhika yang menatap mereka berdua dengan tajam.
“Bisa jelaskan?” tanya Dhika dengan tenang tetapi penuh penekanan membuat Leonna menelan salivanya sendiri. Tak lama Daniel keluar dari dalam rumah diikuti Okta.
“Hah ini pelakunya datang juga,” keluh Okta.
“Kalian ada disini juga?” tanya Leonna dengan polosnya.
“Iyalah calon menantu, Papa kamu menghubungiku semalam karena kamu hilang. Ternyata Verrel juga hilang,” ucap Daniel.
“Anak muda sekarang, kagak betahan amat di pingit seminggu. Sampai ada acara kabur segala.” Kekeh Okta.
“Kalian darimana saja?” tanya Daniel.
“Maafkan kami, sebenarnya semalam Verrel menghubungi Leonna untuk bertemu karena ada yang ingin kami bicarakan.” Ucap Verrel membuat Leonna menengok kearahnya. Ia tidak menyangka kalau Verrel melindunginya dengan mengambil kesalahannya.
“Apa yang kalian bicarakan sampai harus pergi semalaman dan menginap dimana kalian berdua?” tanya Dhika masih datar.
Bahkan Dhika terang-terangan memperhatikan Leonna dari atas hingga bawah seakan ingin memastikan putrinya tidak melakukan sesuatu yang di luar batas.
“Papa, Leonna dan kak Verrel tidak melakukan apapun. Leonna bersumpah sampai saat ini kami masih menjaganya. Semalam Leonna dan Kak Verrel menghabiskan waktu di pantai sambil mengobrol. Leonna bisa pastikan kalau kami tidak melakukan apapun.” Ucapnya memegang lengan Dhika seakan ingin meyakinkan.
“Maafkan saya om Dhika, saya yang bersalah. Saya memaksa Leonna untuk bertemu karena ingin mengatakan sebuah kejujuran.”
“Kejujuran apa maksudmu, Rel?” tanya Daniel.
“Kejujuran,” Verrel melirik ke arah Leonna dengan senyuman kecilnya. “Kejujuran kalau Verrel memiliki masalalu bersama wanita lain dan Verrel masih mencintainya.”
Deg...Leonna mematung di tempatnya. Kenapa Verrel mengambil kesalahan Leonna. Seakan-akan Verrel yang bersalah, kenapa????
“Apa yang kamu katakan, Verrel?” tanya Daniel sedikit emosi, bisa-bisanya putranya mengatakan hal itu di depan mertuanya sendiri.
“Jadi?” tanya Dhika menatap mata Verrel dengan tajam, Verrel membalas tatapannya tanpa rasa takut.
“Dan Leonna mampu menerimanya, kami bisa memulai semuanya dari awal. Bukankah masalalu itu tetaplah masalalu, aku hanya tidak ingin ada kebohongan di antara kami berdua. Bagaimanapun kedepannya kami akan selalu bersama.”
“Emm, dan Leonna tidak masalah akan hal itu.” Cicit Leonna.
“Ahh kalian berdua sungguh dewasa sekali, good boy. Jangan lakukan kesalahan yang sama seperti orangtua kalian.” Ucap Okta menepuk pundak Verrel.
“Kalau begitu sebaiknya kita pulang, ingat kalian masih dalam masa pingitan.” Ucap Daniel membuat Verrel mengangguk.
Setelah berpamitan ke mereka semua, Verrel bersama Daniel dan Okta berlalu pergi meninggalkan kediaman Dhika. Leonna menatap Verrel dengan tatapan yang tak terbacanya.
“Pria yang baik bukan,” ucap Dhika setelah kepergian Verrel, Daniel dan Okta.
Leonna menengok ke arah Dhika dengan kernyitannya. “Papa tau dia tengah melindungimu dengan mengakui kalau semuanya itu adalah dirinya.” Ucapan Dhika membuat Leonna mematung di tempatnya.
“Cepatlah mandi, omamu akan melakukan beberapa ritual lagi.” Dhika berlalu pergi memasuki rumahnya dengan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana tranning hitamnya.
Leonna masih mematung di tempatnya memikirkan ucapan Dhika dan sikap Verrel tadi. ‘Kenapa Kakak melakukan ini?’
©©©