Leonna tengah menikmati makan malam di rumah Elga dan Surya. Dhika sekeluarga tengah berkunjung ke rumah orangtua Dhika.
"Kenapa makannya kayak yang tidak semangat begitu, Leonna?" Tanya Surya kepada cucu perempuan kesayangannya.
"Tidak Opa, Leonna sedang tidak nafsu makan." jawab Leonna.
"Kakak masih dilemma, Opa. Kan udah ada yang lamar." celetuk Adrian dengan menyebalkannya.
"Putranya Daniel, jadi melamar Leonna, Dhik?" Tanya Elga.
"Iya mom, tapi Leonna belum kasih jawaban." jawab Dhika.
"Apa Leonna harus menikah muda?" Tanya Leonna lirih.
"Papa dan Mama tidak memaksa kamu untuk menikah muda, Sayang. Kami hanya menyampaikan amanat dari keluarga om Daniel." ujar Thalita.
"Tapi tidak ada salahnya juga kamu menikah di umur yang masih muda, Sayang," celetuk Elga.
"Tapi Leonna nggak cinta sama kak Verrel." gerutu Leonna.
"Cinta bisa mengikuti seiring waktu berjalan. Kalian bisa berpacaran setelah menikah." jelas Surya.
"Kamu pikirkan saja dulu," ujar Dhika membuat Leonna mengangguk.
Setelah menikmati makan malam bersama, Leonna tengah duduk di balkon kamarnya. Karena kini semuanya sudah kembali pulang.
Ia menatap boneka hanbok yang menggantung di handphonenya, di sisinya ada pigura dirinya dengan Vino. "Abang, kalau aku pilih Abang. Bisakah Abang melupakan Chella untukku?" gumam Leonna kembali menatap keluar jendela menatap hamparan langit luas.
Tak lama handphonenya berdering dan menampakan foto Vino disana.
"Panjang umur sekali, Abang menghubungiku. Pasti dia kangen sama aku." ujar Leonna kesenengan dan langsung mengangkat video call itu. "hallo Abang." Teriaknya begitu antusias membuat Vino terkekeh dari balik layar.
"Hallo Princes, bagaimana kabarmu?" Tanya Vino.
"Aku baik, Abang kemana saja. Lama nggak menghubungiku." ujar Leonna dengan manjanya.
"Maafkan Abang, Princes. Abang sibuk dengan pekerjaan, ini baru bisa libur sehari." ujar Vino dari sebrang sana. "bagaimana kabar keluarga, Bunda dan Ayah?"
"Alhamdulillah baik Abang, Abang dan keluarga gimana?" Tanya Leonna.
"Disini juga baik dan sehat," ucap Vino memberi jeda sedikit. "Princes, Chella ganti nomor yah." tanya Vino mampu membuat raut wajah ceria Leonna berubah menjadi sedih.
"I-iya Bang." cicit Leonna.
"Pantas saja, Abang sulit sekali menghubunginya. Abang boleh minta nomor handphonenya, sekalian sama pin BBnya kalau ada atau line juga boleh." ujar Vino dengan penuh harap membuat Leonna tersenyum kecil.
"Iya Bang." ujar Leonna.
Sakit hatinya mendengar penuturan Vino, bahkan sampai saat ini juga hanya Chella yang abangnya ingat. "Apa abang sangat menyukainya?" Tanya Leonna.
"Bukan menyukai lagi, tapi sangat mencintainya. Abang bahkan hampir gila karena merindukannya."
Deg …
Hati Leonna terasa nyeri mendengar penuturan Vino hingga air matanya ingin merebes keluar dari pelupuk matanya.
"Iya pa!!" teriak Leonna berpura-pura Dhika memanggilnya. "Abang, papa manggilku. Leonna tutup yah, nanti nomor Chella, aku kirimin." Ujar Leonna.
"Oke Princes, titip salam Abang untuk papa dan mama kamu." ujar Vino membuat Leonna mengangguk dan segera memutuskan sambungan video callnya. Leonna langsung menangis sejadi-jadinya.
'Apa seterusnya cintaku akan bertepuk sebelah tangan? Apa harus seperti ini terus, kenapa abang lebih mencintai Chella di banding aku.' batin Leonna.
Leonna beranjak keluar kamarnya setelah menyambar kunci mobil dan blezernya. Keadaan rumah sudah sepi karena semuanya sudah tertidur. Leonna beranjak diam-diam keluar dari rumah. Ia melajukan mobilnya tanpa arah, hatinya kembali hancur.
Bukan menyukai lagi, tapi sangat mencintainya.
Abang bahkan hampir gila karena merindukannya.
"Kenapa Abang? Leonna di sini mencintai Abang,,hikz." Leonna sesekali menghapus air matanya, hatinya terasa sangat sakit.
Tiiitttttttt
Leonna terpekik saat hampir saja bertabrakan dengan sebuah mobil sport di hadapannya, untunglah mobil sport yang baru saja muncul dari arah lain melaju dengan kecepatan rendah sehingga bisa menghindari tabrakan itu. Leonna mengatur nafasnya karena hampir saja terjadi kecelakaan. Sang pemilik mobil sport keluar dari mobilnya, pria bertubuh jangkung dengan memakai kemeja berwarna kremnya, bagian tangannya sudah di lipat hingga siku. Langkahnya yang ringan dan begitu elegant membuat Leonna menengok ke arah seseorang yang tengah berjalan ke arah mobilnya.
"Kak Verrel," gumam Leonna saat sadar kalau pria itu adalah Verrel.
Tok tok tok
"Keluar,," perintah Verrel yang masih belum mengetahui kalau sopir mobil Porsche merah itu adalah Leonna.
Leonna melepas setbeltnya dan keluar dari dalam mobil hingga berhadapan dengan Verrel. "Delia??" pekik Verrel kaget saat melihat Leonna yang menangis sendu.
"hikz..hikzz..." isak Leonna tiba-tiba membuat Verrel kebingungan.
"Apa kamu terluka, De? Dimana yang sakit?" Tanya Verrel, yang awalnya ingin menegur sang sopir karena tidak membawa mobil dengan baik, di urungkannya karena ternyata sopir itu adalah Leonna. Dan kekesalan Verrelpun langsung kabur entah kemana.
"Kak-" ucapan Leonna tertahan, ia langsung memeluk tubuh Verrel membuat Verrel semakin kaget. Leonna menangis sejadi-jadinya di d**a Verrel dan memeluk tubuhnya dengan sangat erat, sedangkan Verrel masih berdiri kaku di tempatnya.
"hikz...hikzz...hikz..." isak Leonna sejadi-jadinya. Kedua tangan Verrel bergerak perlahan untuk membalas pelukan Leonna hingga sekarang tangannya mengelus kepala dan punggung Leonna.
"hikz...hikz...hikz..." isak Leonna sejadi-jadinya seakan mengeluarkan segala kesakitan dalam hatinya. Verrel dengan setia masih bertahan di tempatnya dengan mengusap kepala dan punggung Leonna dengan lembut. Ia tak bisa berbicara, Verrel membiarkan Leonna mengeluarkan semua bebannya lewat tangisannya.
Tak lama, sudah tak terdengar lagi suara isakan dari Leonna. Verrel yakin Leonna sudah mulai tenang. Iapun melepas pelukannya hingga mereka kini saling bertatapan. Wajah sendu Leonna terlihat basah dengan mata dan hidung yang merah, bahkan beberapa helai rambut menempel di wajahnya. Dengan telaten, Verrel merapihkan anak rambut itu dan menghapus air mata Leonna dengan senyuman menawannya. "sudah tenang?" Tanya Verrel yang di angguki Leonna.
"Jangan menangis lagi, oke." Verrel mengusap kepala Leonna.
"Iya Kak, maaf aku membuat baju Kakak basah." ujar Leonna tersenyum kecil.
"Tidak apa-apa, lain kali kalau sedang dalam keadaan emosi dan sedih jangan membawa mobil sendiri. Itu bahaya Delia, hampir saja mobil kita bertabrakan." ujar Verrel yang di angguki Leonna. "Ini sudah larut malam, sebaiknya kamu pulang. Aku akan mengantarmu sampai depan rumah. " ujar Verrel dengan senyumannya dan beranjak meninggalkan Leonna.
"Aku mau menikah dengan Kakak."
Deg
Langkah Verrel terhenti saat mendengar ucapan Leonna barusan. Verrel berbalik ke arah Leonna dengan tatapan tak percaya. "ka-kamu bilang apa barusan?" Tanya Verrel mencoba meyakinkan.
"Aku mau menikah dengan Kakak." cicit Leonna terlihat malu-malu.
"Apa kamu serius?" Tanya Verrel masih tak percaya dan Leonna mengangguk. 'Maafkan Leonna, mungkin dengan begini rasa sakit ini bisa hilang.'
"Aku akan bicara dengan papa Dhika." ujar Leonna.
"Aku gak tau harus jawab apa, De. Tapi ini sungguh membahagiakan." ujar Verrel terlihat sangat bahagia, Leonna hanya tersenyum. "terima kasih, Delia." Verrel memeluk tubuh Leonna kembali bahkan mengangkat tubuh Leonna membuat Leonna memeluk leher Verrel dengan erat. "aku akan berusaha untuk membahagiakan kamu." ujar Verrel yang di angguki Leonna.
'Semoga ini bukan pilihan yang salah, aku tak bisa terus bertahan menanti cinta abang sampai kapanpun juga, karena cinta abang hanya untuk Chella.' batin Leonna.
Verrel menurunkan Leonna dan melepas pelukannya, ia membelai kedua pipi Leonna membuatnya tersenyum menatap mata biru milik Verrel yang berbinar indah dan begitu menenangkan. "kita bisa memulai segalanya dari awal, kan Kak?" Tanya Leonna yang di angguki Verrel.
"Kamu benar, kita akan memulai hubungan ini dari awal." Verrel mengecup kening Leonna dengan sayang. 'tanpa memulai dari awalpun, aku sudah memulainya dari aku kecil. Delia. Aku sangat mencintai kamu,,,' batin Verrel.
"Sekarang aku ingin pulang." ujar Leonna yang di angguki Verrel.
"Aku akan mengikutimu dari belakang." ujar Verrel.
Leonna bersama Verrel sama-sama memasuki mobil mereka. Dan melaju meninggalkan tempat itu. Sesampainya di depan rumah Leonna, Verrel kembali melajukan mobilnya, saat sudah memastikan Leonna masuk ke dalam rumah.
©©©
Leonna berjalan memasuki rumah dengan hati yang lumayan plong. d**a Verrel memang mampu menenangkan dirinya. "Leonna." panggilan seseorang menghentikan langkahnya yang hendak menaiki undakan tangga. Leonna menengok ke sumber suara dan terlihat sang papa baru keluar dari arah dapur.
"Papa" gumam Leonna sedikit kaget.
"Dari mana kamu? ini sudah pukul 11 malam." Tanya Dhika.
"Leonna,, Leonna habis mencari angina, Pa." cicit Leonna.
"Jangan di ulang Leonna, apalagi keluar secara diam-diam tanpa pamit. Kalau kamu kenapa-kenapa, tidak akan ada yang tau." ujar Dhika.
"Iya pa, maafin Leonna." cicit Leonna.
"Ya sudah, sekarang kamu istirahat. Ini sudah malam." ujar Dhika hendak kembali ke kamarnya.
"Pa, Leonna mau menerima lamaran kak Verrel." Ucapan Leonna mampu menghentikan langkah Dhika. Dhika menengok ke arah Leonna dan menatap Leonna dengan sangat lekat.
"Papa tidak yakin, kamu bisa menerimanya." ujar Dhika mengamati mata Leonna. "jangan mempermainkan pernikahan sayang, pikirkanlah dengan matang. Karena pernikahan akan terjadi sekali seumur hidup, kamu harus mantapkan hati kamu."
"Leonna sudah yakin Pa, Leonna mau menerima kak Verrel menjadi suami Leonna. Leonna tidak bisa lagi berharap pada pria yang mencintai wanita lain." ujar Leonna.
"Kamu menjadikan Verrel sebagai pelarian kamu, begitu?" Tanya Dhika
"Itu-" Leonna terdiam.
"Katakanlah sejujurnya pada Verrel kalau kamu mencintai pria lain. Jangan menipunya." jelas Dhika.
"Tapi Pa, bagaimana kalau kak Verrel tidak mau menerima Leonna?" Tanya Leonna.
"I tu resiko kamu, tetapi yang pasti kamu sudah berkata jujur sama Verrel," ujar Dhika.
"Tetapi Leonna takut, Pa." ujar Leonna.
Dhika membawa Leonna ke taman belakang dekat kolam renang, mereka duduk di sana seraya menikmati keindahan malam yang indah penuh dengan bintang. "jangan pernah takut untuk berkata jujur, Sayang" ujar Dhika seakan mengingat masa lalunya. "kalau kita tidak saling terbuka dan jujur dari awal, suatu saat akan timbul kesalahpahaman. Jadi lebih baik di tinggalkan karena sudah berkata jujur, daripada di tinggalkan karena kesalahpahaman" ujar Dhika lirih.
"Maksud Papa gimana? Kesalahpahaman apa?" Tanya Leonna seakan tak paham.
"Papa dan Mama dulu pernah mengalaminya. Dulu Mama tidak pernah mau berkata jujur pada Papa dan akhirnya kesalah pahaman itu terjadi. Papa meninggalkan Mama kamu dan memilih menikah dengan tante Natasya. Papa bahkan mencampakkan dan menolak Mama, karena Papa pikir Mama memang bersalah dan sudah mengkhianati Papa. Papa sungguh merasa bodoh, Papa sadar setelah Mama kamu pergi meninggalkan Papa sendiri." jelas Dhika.
"Jadi itu alasan kenapa Papa harus menunggu Mama sampai 10 tahun lamanya?" Tanya Leonna yang di angguki Dhika.
"Papa ingin kamu tidak mengalami apa yang pernah Papa dan Mama rasakan. Maka dari itu selalu terbukalah dan berkata jujurlah pada Verrel, kalau kamu memang sudah yakin untuk memilihnya." jelas Dhika.
"Kenapa Papa mau menunggu Mama selama itu, Pa? Apa Papa yakin kalau Mama adalah jodoh Papa?" Tanya Leonna.
"Tidak, Papa hanya yakin kalau hati Papa selalu untuk Mama kamu. Papa menunggu mama kamu, karena rasa cinta yang Papa miliki. Papa yakin mama kamu akan kembali, walau tak bersama papa, setidaknya papa bisa melihat mama kamu sudah bahagia." ujar Dhika.
"Setulus itu cinta papa sama mama? Bahkan waktu sudah berlalu beberapa tahun lamanya." ujar Leonna.
"Cinta tak lekang oleh waktu, Sayang. Cinta papa sama mama kamu sangat besar, dia cinta pertama papa. Papa bahkan jatuh cinta padanya saat pertama kali bertemu." kekeh Dhika.
"Oh ya? Gimana Pa ceritanya?" Tanya Leonna sangat antusias.
"Mama kamu di undang tante Dewi datang ke café, saat itu café baru saja opening. Saat mau berkenalan, papa terpaku melihat kecantikan natural milik mama kamu. Mama kamu bahkan terlihat malu-malu saat itu, dan papa menyukainya apalagi saat dia tersipu." ujar Dhika menerawang kedepan, mengingat kenangan indahnya dengan Thalita.
"Dan saat itu juga mama langsung jatuh cinta pada seorang malaikat tanpa sayap yang menjelma menjadi pemilik café." celetuk seseorang membuat Leonna dan Dhika menengok ke sumber suara. Thalita tengah berdiri di ambang pintu tak jauh dari mereka.
"Kenapa kamu bangun, Sayang?" Tanya Dhika.
"Karena tidak ada guling hidupku yang biasa aku peluk." kekeh Thalita tanpa malu.
"Idih Mama genit amat, ada aku juga." ujar Leonna terkikik.
Thalita berjalan mendekati mereka berdua, dan duduk di atas pegangan kursi yang di duduki Dhika, dengan tangannya merangkul leher Dhika. "Leonna seneng lihat mama dan papa yang selalu mesra, Leonna selalu mengharapkan cinta yang tulus seperti kalian." ujar Leonna tersenyum.
"Seperti yang papa katakan tadi sayang, jangan takut untuk berkata jujur. Itulah awal hubungan yang baik." ujar Dhika.
"Papa kamu benar sayang, mama merasakannya saat itu. Karena mama tidak berkata jujur sama papa, mama hampir saja kehilangan papa kamu untuk selama-lamanya. Mungkin sekarang papa kamu akan menjadi kakak iparnya mama." ujar Lita.
"Dan Leonna tentunya tidak akan pernah ada." kekeh Leonna.
"Kamu akan merasakan kebahagiaan yang sangat, saat mendapatkan cinta yang tulus dari pria yang tepat." ujar Lita.
"Karena mama juga sudah merasakannya yah." ujar Leonna.
"Maybe. Jangan disini, Papa kamu ini suka ke geeran." bisik Thalita tapi masih mampu di dengar Dhika.
"Aku tidak pernah ke geeran, aku memang selalu membuatmu bahagia." jawab Dhika dengan bangganya membuat Leonna terkikik.
"Iya suamiku sayang, kamu memang selalu membahagiakan aku." celetuk Thalita mencubit hidung mancung Dhika.
"Sudah ah, lama-lama Leonna bisa pengen cepet-cepet nikah." kikik Leonna. "papa, Leonna tetap akan menerima pernikahan ini. Dan selamat malam Mama Papaku tersayang." Leonna mencium Thalita dan Dhika bergantian lalu beranjak pergi.
"Sayang, Leonna menerima lamaran Verrel?" Tanya Lita yang diangguki Dhika.
"Aku harap ini bukan keputusan yang salah." ujar Dhika.
"Semoga saja," gumam Thalita.
"Baiklah, ayo kita ke kamar," ujar Dhika.
"Di gendong yah." ujar Thalita membuat Dhika terkekeh.
"Sudah tua juga masih manja," ujar Dhika.
"Ayolah pak Dokter, gendong aku sampai kamar." ujar Thalita.
"Baiklah baiklah, kalau sampai aku encok kamu tanggung jawab yah."
"Tidak akan encok pak Dokter." celetuk Lita dan Dhika langsung membopong tubuh Lita menuju kamarnya.
©©©
Verrel tersenyum senang saat memasuki kediamannya. Serli dan Daniel belum menutup matanya dan masih asyik bergelut mersa di depan televisi.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam," Daniel dan Serli sama-sama menengok ke arah Verrel. "kenapa pulangnya malam sekali?" Tanya Serli. "Duduklah dulu, Bunda akan siapkan teh untuk kamu."Serli hendak beranjak tetapi di tahan Verrel. Verrel memeluk tubuh bunda tersayangnya dengan erat.
"Eh eh apa apaan itu, kenapa istri ayah di peluk seerat itu." protes Daniel, Verrel hanya tersenyum dan masih memeluk tubuh Serli.
"Sepertinya jagoan Bunda ini sedang bahagia sekali." ujar Serli membalas pelukan anaknya yang lebih tinggi darinya.
"Cukup memeluknya." protes Daniel melepas pelukan Verrel dan Serli. Ia segera merangkul Serli dengan possesivenya membuat Serli dan Verrel terkekeh.
"Astaga ayah, apa salahnya berbagi dengan anak sendiri. Aku juga ingin memeluk ibuku." protes Verrel.
"Aduh kalian berdua selalu saja, kamu juga sudah tua masih saja manja." ujar Serli. "sini duduk dan cerita ke Bunda, ada apa?" Serli menarik Verrel untuk duduk di atas sofa.
"Bun, Ayah. Leonna menerima lamaran Verrel." ujar Verrel terlihat berbinar dan itu membuat Daniel dan Serli saling pandang.
"Yeesss,, akhirnya bunda jadi besanan sama Lita." ujar Serli bersorak ria, membuat Daniel dan Verrel terkekeh.
"Kamu bukannya seneng karena anakmu, malah seneng punya besan sahabat sendiri." celetuk Daniel membuat Serli terkekeh.
"Dua duanya Ayah, Bunda seneng karena kedua-duanya." ujar Serli.
"Gak kebayang besanan sama si Dhika." kekeh Daniel. "jadi kapan kita akan pergi melamar langsung ke rumahnya?"
"Secepatnya, Ayah. Verrel ingin secepatnya melamar Leonna dan menikahinya." ujar Verrel dengan senyum menawannya.
"Anak bunda sudah tak sabar yah ingin segera menikah." goda Serli.
"Ayah akan membuat janji dengan camermu itu." ujar Daniel.
"Apaan camer?" Tanya Serli.
"Calon Mertua, kamu gak gaul Bun." ujar Daniel membuat kedua orang di dekatnya terkekeh.
©©©
Malam inipun tiba, malam dimana keluarga Daniel datang ke rumah keluarga Dhika. Thalita menyambut mereka dengan sangat antusias, dan segera membawa mereka ke ruang keluarga.
"khem," Daniel berdehem sesaat. "maafkan saya pak Dhika, malam malam saya bersama keluarga datang mengganggu aktivitas anda." ujar Daniel dengan gaya formal membuat Dhika melempar bantal sofa ke arah Daniel diiringi kekehannya.
"Geli gue denger loe ngomong kayak gitu." Ucap Dhika membuat yang lain terkekeh.
"Aku juga geli denger kak Daniel bicara seperti itu. Santai saja," ujar Thalita.
"oke oke, begini lho bro. Gue bareng keluarga datang buat melamar wanita cantik yang duduk di sisi kiri loe itu untuk jagoan gue." Ucap Daniel.
"Bagaimana Sayang?" Tanya Dhika menyentuh pundak Leonna yang masih menunduk.
"Iya papa," cicit Leonna dan semuanya mengucapkan syukur.
"Wah wah,, berkhianat loe berdua yah. Sepupu durhaka loe, Niel. Keponakan gue mau ngelamar kagak ajak-ajak gue. Gue sebagai om nya yang paling unyu disini berhak ikut andil." cerocos seseorang membuat semuanya menengok dan terlihat keluarga sang Aligator datang tanpa di undang.
"Loe udah mirip jelangkung, datang tak di undang dan ngilang kagak di antar." ujar Serli.
"Kejam yah loe semua kagak ajak-ajak gue. Verrel itu keponakan gue." ujar Okta duduk di samping Verrel, sedangkan Chacha dan Datan ikut duduk disana setelah menyalami semuanya.
"Loe kagak di butuhin disini, Gator." celetuk Daniel.
"Dasar sepupu durhaka loe." Okta melempar keripik ke arah Daniel.
"Ona, loe sok anggun deh pake menunduk malu-malu gitu. Biasanya juga petakilan." celetuk Datan membuat Leonna mencibir kecil.
"Bagaimana, sudah lamarannya? Leonna, daddy jamin keponakan daddy ini sangat baik dan dia bisa membahagiakankan kamu. Terimalah dia Leonna, nanti Daddy kasih kamu voucher liburan ke Bali." ujar Okta membuat Leonna berbinar menatap Okta.
"Serius Dad?" Tanya Leonna yang di angguki Okta.
"Tapi terima dulu, keponakan om yang tampan ini seperti pamannya." ujar Okta dengan bangga.
"Seperti bapaknya," protes Daniel.
"Bapaknya udah aki-aki," timpal Okta.
"Daddy juga sudah aki-aki." celetuk Datan.
"Dasar little Crocodile. Awas yah." cibir Okta membuat yg lain terkekeh. "gimana Princes, mau nerima?" Tanya Okta.
"Sudah di jawab daritadi juga, loe aja yang mengganggu ke khusuan acara lamaran ini." celetuk Daniel.
Lamaran macam apa ini, para orangtua heboh sendiri. Sedangkan sang calon pengantin sibuk menatap Leonna yang terlihat cantik malam ini. Ia terlihat anggun menggunakan dress berwarna biru langit dan rambutnya yang di atur seindah mungkin dengan hiasan mutiara di kepalanya. Ini pertama kalinya Verrel melihat Leonna memakai dress dan itu membuatnya terlihat semakin cantik. Wajahnya yang selalu tampil natural, kini menggunakan make up yang mampu mempertajam mata indahnya.
Tanpa sadar Verrel tersenyum mengagumi Leonna tanpa memperdulikan kehebohan di sekitarnya. Pandangan Verrel tak lepas dari tatapan Leon. Leon merasa lega akhirnya kembaran yang dia sangat sayangi mendapatkan orang yang tepat dan Leon berharap tak akan pernah ada kesedihan di kehidupan Leonna kelak.
"Titip kembaran gue yah, Kak." ujar Leon mencubit pipi Leonna membuatnya menepis tangan Leon.
"Pasti Leon." ujar Verrel.
"Ciee kakak nikah, asyik nih bisa bebas berciuman." celetuk Adrian tetapi seketika menutup mulutnya sendiri.
"Memang mereka pernah berciuman?" Tanya Serli penasaran.
"Tanya saja sama jagoan loe, Ser." goda Thalita.
"Wah,, nakal kamu yah Verrel." ujar Okta.
"Verrel," Verrel mendadak gugup di tatap oleh kedua orangtuanya.
"Sudahlah Bunda, Ayah." ujar Verrel akhirnya.
"Bunda penasaran Verrel. Besan, bagaimana ceritanya?" Tanya Serli ke Lita.
"Mama ceritain yah Leonna, Verrel." kekeh Thalita membuat Leonna semakin menunduk malu. Thalita menceritakan semuanya membuat Daniel dan Serli terpekik kaget.
"Hahaha,, Bravo Rel. loe memang keponakan gue." Kekeh Okta seraya menepuk pundak Verrel.
"Mirip banget sama om buayanya." celetuk Chacha dan kini Dhika yang terkekeh.
"Tapi syukurlah Verrel lebih beruntung karena tidak sampai di siram kuah pop mie sama Leonna." celetuk Dhika,
"Memang Daddy pernah di siram kuah pop mie, Pa?" Tanya Datan.
"Diamlah kau bocah," ujar Okta.
"Apes bener Daddy,, nenek lampir di lawan sih." celetuk Datan terkekeh.
"Nakal yah kamu," Serli menjewer Verrel membuatnya mengaduh.
"Kalau begini, kita harus segera menikahkan mereka, Besan." ujar Daniel.
"Bener tuh, gue setuju. Pekan ini kita nikahkan mereka berdua." ujar Okta membuat Leonna dan Verrel terpekik kaget.
"Brilliant ide loe, Gator." ujar Daniel,
"Pa-" protes Leonna.
"Tidak tidak,, gue tidak setuju. Setidaknya minimal satu bulan untuk menikahkan mereka." ujar Dhika.
"Alah laga loe, dulu aja loe lebih ngebet pengen cepet-cepet nikahin Thalita. Mana minta besoknya lagi buat nikah." celetuk Okta.
"Iya bener, si Dhika sampe manyun gara-gara pernikahan mereka nunggu dua minggu." celetuk Daniel.
"Itu beda kasus." kilah Dhika.
"Alah, bilang aja loe udah tidak tahan pengen genjatan senjata." kekeh Okta,
"Walau umur sudah tua, kalian tak berubah." Thalita hanya menggelengkan kepalanya. "satu bulan lagi saja, kasian Leonna kaget. Ntar malah terserang penyakit jantung lagi dia."
Setelah itu mereka kembali heboh dan berbicara, para istri hanya bisa menggelengkan kepala mereka. Verrel tak berhenti menatap wajah Leonna yang masih terlihat malu-malu.
©©©