Leonna tengah duduk bermalas-malasan di atas sofa ruang televisi. Film yang tengah berputar di biarkan begitu saja tanpa ingin dia tonton. Ia asyik melamun dan terfokus dengan kegalauannya. 'gak enak ternyata galau itu.' batinnya. Ia mengambil handphone dan memainkan sebuah permainan yang ada di dalamnya untuk mengusir rasa galaunya.
"Assalamu'alaikum," teriak Adrian yang baru pulang sekola. "lho Kakak nggak ngampus?"
"Udah balik," Leonna masih fokus memainkan handphonenya dengan wajah merengut.
"Tuh muka makin keriputan aja, banyak cemberut." celetuk Adrian duduk di sofa lain di dekat Leonna. "Bi, buatkan aku jus dong yang seger."
"Berisik!!" gerutu Leonna.
"Idih mainannya angry bird, kayak bocah. Kalau mau main tuh main pokemon go, lagi terkenal sekarang Kak. Mana nguji adrenalin lagi." ujar Adrian.
"Nggak tertarik," ujar Leonna.
"Tertariknya cuma sama ciumannya kak Verrel yah." ledek Adrian membuat Leonna langsung melotot sempurna.
"Adrian!! Nyebelin." Leonna menimpuk Adrian dengan bantal sofa.
"Haha,, itu muka cemberutnya langsung merona. Aku rasa Kakak galau karena kak Verrel pergi ke Korea." ejek Adrian langsung berlari menghindari amukan Leonna.
"Adrian!! Awas kamu." Leonna berlari mengejar Adrian hingga menuju ruang tamu.
"Assalamu'alaikum"
Puk
Leonna mematung di tempat saat tidak sengaja menimpuk oranglain yang baru saja datang. Adrian terkikik melihat kakaknya yang tengah saling bertatapan dengan orang yang menjulang tinggi di ambang pintu.
"Den, ini jusnya." Terdengar teriakan bi Siti.
"Aku datang Bi, masuk kak Verrel." kekeh Adrian menyadarkan keduanya. "ciee,, kak Verrelnya datang. Awas tuh iler netes." bisik Adrian menyebalkan saat melewati Leonna, membuat Leonna mencibir kesal.
"Ma-maaf Kak, tadi aku-" Leonna kebingungan harus menjawab apa. Verrel tersenyum manis kepadanya.
"Tidak apa-apa, santai saja De." ujar Verrel membuat Leonna membalas senyumannya Verrel.
"Masuk Kak." Leonna yang sedikit gugup segera memungut bantal sofa dan mengajak Verrel untuk duduk disana. "Bi, buatkan minuman." teriaknya saat keduanya sudah duduk di atas sofa.
"Tante dan Om belum pulang?" Tanya Verrel.
"Belum Kak, Kakak bukannya sedang ke Korea?" Tanya Leonna.
"Iya De, aku baru balik tadi siang. Kamu tidak kuliah?" Tanyanya.
"Sudah pulang Kak." ujar Leonna dan bi Sitipun datang dengan membawakan minuman untuk Leonna dan Verrel.
"Sebenarnya aku ada sedikit keperluan sama om Dhika, sekalian aku mau ngasih oleh-oleh." ujar Verrel.
"Biasanya sebentar lagi Papa dan Mama pulang. Kakak tunggu saja." ujar Leonna membuat Verrel mengangguk.
"Aku juga bawa sesuatu buat kamu, ini." Verrel menyerahkan bingkisan kecil ke Leonna.
"Apa ini, Kak?" Tanya Leonna penasaran.
"Buka saja" perintah Verrel, dan Leonna langsung membukanya.
"Wah boneka hanbok. Lucu banget Kak." Leonna sangat antusias menerima boneka khas Korea dengan pakaian tradisional Korea itu. Verrel tersenyum melihat ke antusiasan Leonna, dia terlihat tengah memainkan boneka itu dengan antusias. Pandangan Verrel mendadak jatuh ke arah bibir merah milik Leonna yang terlihat sangat menggoda. Verrel tak bisa memungkiri, selama ini bibir itu membuatnya selalu penasaran dan selalu terbayang kejadian terakhir di Lombok. Verrel ingin menyentuhnya kembali. 'Come on Verrel, loe jangan terpancing.' batin Verrel dan langsung memalingkan wajahnya ke arah lain.
"Bonekanya cantik." gumam Leonna.
"Mirip seperti kamu," ujar Verrel membuat Leonna menatap Verrel dan keduanya tersenyum manis. Leonna maupun Verrel tak ada yang ingin memalingkan pandangan mereka berdua yang saling bertautan.
Khem
Leonna maupun Verrel terkesiap dan langsung memalingkan wajah mereka berdua dengan salting dan gugup. "serius sekali tatapannya, sampai ucapan salampun tidak di jawab." ujar seseorang yang tak lain adalah Dhika.
Dhika yang baru saja datang bersama Thalita, dan sedikit kaget melihat Leonna dan Verrel.
"Sore Om, Tante." sapa Verrel menstabilkan detak jantungnya. Ia mencium tangan Dhika dan Thalita.
"Kamu sudah pulang dari Korea, Rel?" Tanya Thalita.
"Sudah tante tadi pagi, aku datang mau nganter beberapa oleh oleh dan kebetulan ada urusan dengan om Dhika." jelas Verrel.
"Oh begitu, sepertinya Leonna dapat oleh oleh yang special." goda Thalita.
"Mama apaan sih." ujar Leonna dengan manja dan sedikit malu.
"Ya sudah Verrel, kamu tunggu sebentar yah. Om mau mandi dulu."
"Oh iya Om."
Dhika dan Litapun berlalu pergi masuk ke dalam rumah. "Di minum Kak." ujar Leonna membuat Verrel mengangguk. Entah kenapa Verrel selalu saja kesulitan berbicara saat berdekatan dengan Leonna.
"Oh iya, Kakak juga beli gantungan boneka hanbok. Kamu mau pakai buat gantungan handphone." Verrel mengeluarkan dua buah gantungan hp sepasang boneka hanbok.
"Lucu yah imut imut." kekeh Leonna.
"Kalau kamu suka, ambil saja." ujar Verrel.
"Kalau dua keramean Kak." ujar Leonna, leonna mengeluarkan handphonenya dari saku hot pantnya. "gimana kalau aku yang cowok. Di handphone Kakak yang ceweknya, lucu kan tuh." ujar Leonna dengan antusias.
Leonna terlihat sibuk memasukan tali gantungan ke dalam handphonenya yang terlihat sulit. Tanpa berkata apapun, Verrel membantu Leonna membuat tangan mereka bersentuhan dan wajah mereka saling berdekatan. Leonna mendadak gugup saat hembusan nafas mint milik Verrel menerpa wajahnya, darahnya terasa berdesir hebat saat kulit mereka berdua bersentuhan. Pandangan Leonna menuju ke wajah tampan Verrel yang tepat berada di hadapannya. Leonna baru menyadari satu hal, kalau Verrel begitu tampan. Alisnya terukir indah dan tidak terlalu tebal, hidungnya terpahat indah seperti perosotan begitu mancung dan tajam. Rahangya terpahat tegas dan garis wajahnya juga terlihat tegas. Bulu matanya terlihat lentik di tambah bola matanya yang berwarna biru, sebiru lautan luas yang indah. Rahangnya sedikit di tumbuhi bulu-bulu kecil yang menggemaskan dan menggoda.
Verrel terlihat masih terlihat fokus dengan aktivitasnya yang tengah memasangkan gantungan handphone itu. Pandangan Leonna lalu turun dan berhenti tepat di bibir merah pucat berisi milik Verrel. Bibir itu sungguh menggoda, dan begitu lembut. Bayangan saat bibirnya dan bibir Verrel bersentuhan kembali terbayang di benaknya membuat Leonna semakin gugup dan merona. Tanpa sadar Leonna menggigit bibir bawahnya dengan tatapan yang tak lepas dari pandangan bibir Verrel. Verrel yang merasa di perhatikan, membuatnya menatap ke arah Leonna dan tatapan mereka beradu dengan jarak yang sangat dekat. 'Jangan menggigit bibir bawahmu, Delia. Ini tidak akan baik.' batin Verrel.
Leonna semakin menggigit bibir bawahnya karena bayangan bibir mereka yang bersentuhan begitu saja terbayang. Entah dorongan dari mana, Verrel langsung menarik tengkuk Leonna dan mencium bibir Leonna. Leonna sangat kaget dan melotot sempurna mendapatkan ciuman tiba-tiba dari Verrel.
Tetapi tubuh Leonna tak bisa bergerak sedikitpun, getaran aneh dalam tubuhnya membuatnya menikmati sentuhan lembut dari Verrel. Leonna bahkan memejamkan matanya menikmati ciuman lembut itu, bahkan lumatan kecil. Lidah Verrel bahkan dengan mudahnya menerobos masuk ke dalam mulut Leonna yang sudah terbuka. Ini pengalaman pertama bagi Leonna, ia tak pernah merasakan sensasi seperti ini sebelumnya. Tetapi entah kenapa, Leonna begitu menikmati kelembutan bibir Verrel. Bahkan tanpa sadar tangan Leonna memegang kedua pundak Verrel dan meremas kemeja yang di gunakan Verrel.
Verrel melepas pangutan mereka saat di rasa mereka butuh asupan oksigen. Keduanya mengambil udara sebanyak-banyaknya dengan nafas yang tersenggal. Ia kembali melihat bibir Leonna yang merah dan sedikit bengkak, entah kenapa bibir itu mendadak menjadi candu baginya.
Verrel kembali memangut bibir Leonna membuat Leonna semakin kaget tetapi masih tak berbuat apapun. Leonna terlihat pasrah dan menikmatinya. Verrel semakin menekan tengkuk Leonna untuk memperdalam ciuman mereka. Leonna hanya bisa menerima apa yang Verrel lakukan padanya.
"Ya tuhan!!" pekikan seseorang membuat Verrel segera melepas ciumannya.
Di samping mereka, Thalita berdiri menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Verrel maupun Leonna sama-sama berdiri tegak karena kaget. Leonna menundukkan kepalanya karena sangat malu sudah kepergok sang mama.
"Ada apa Sayang?" Tanya Dhika yang datang menghampiri mereka. Thalita tak menjawabnya, tetapi Dhika memahami apa yang membuat istrinya kaget. Karena rambut Leonna terlihat berantakan dan bibirnya bengkak. Verrel tak jauh berbeda, kemeja yang dia pakai terlihat lecek karena ulah Leonna tadi. "Leonna masuk kamar." "Pa, aku tadi-" Leonna kebingungan harus menjawab apa.
"Masuk kamar, Leonna." perintah Dhika dan Leonnapun berjalan menuju kamarnya setelah mengambil hp dan boneka hanboknya. Leonna bahkan tak berani melirik ke arah Verrel karena malu. 'Oh sial, apa yang loe lakuin Rel.' batin Verrel.
"Duduklah Verrel." Verrelpun duduk di sofa dengan sedikit tegang. Dhika dan Lita ikut duduk di sana.
"Om, Tante. Aku minta maaf masalah barusan, Verrel yang salah. Aku hilang kendali." ujar Verrel.
"Apa kamu mencintai Leonna?" Tanya Dhika membuat Verrel terdiam sesaat.
"Verrel, Leonna itu masih kecil. Dia belum memahami apapun." ujar Lita.
"Saya paham Tante. Om Dhika, sebenarnya aku sudah jatuh cinta sama Leonna sejak kita masih kecil." ujar Verrel berkata jujur.
'Apa pria yang nyakitin Leonna itu Verrel? Tapi kurasa bukan.' batin Dhika.
"Kalau om dan tante tidak mempercayainya, saya siap melakukan apapun untuk membuktikannya." ujar Verrel.
"Nikahi Leonna."
Deg...
Ucapan Dhika membuat Verrel sekaligus Lita terpekik kaget. "ni-kahi?" gumam Verrel.
"ya Verrel, kalau kamu serius padanya. Bukankah ayah kamu sudah melamar Leonna untukmu." ujar Dhika santai.
"Ayah? Melamar Leonna untuk aku?" Tanya Verrel kaget.
"Iya, kamu tidak tau?" Tanya Dhika.
"Saya belum tau mengenai itu Om, tapi kalau memang Om meminta saya untuk menikahi Leonna. Saya akan bersedia,” ucap Verrel menghembuskan nafasnya perlahan.
“Saya siap menikahi Leonna."
Dhika tersenyum melihat keseriusan Verrel."tapi bagaimana dengan Leonna, Om?" Tanya Verrel.
'Kalau bukan Verrel, berarti ada pria lain yang Leonna cintai. Sebaiknya aku segera menikahkan Verrel dengan Leonna daripada Leonna terus menerus terluka karena cinta bertepuk sebelah tangannya.' batin Dhika. "Leonna itu urusan Om, nanti Om yang akan bicara sama ayah kamu."
"Kamu serius kan sama Leonna, Rel? dia anak perempuan tante satu-satunya. Tante ingin yang terbaik untuknya." ujar Lita.
"Iya tante, saya akan berusaha untuk selalu membahagiakan Leonna." ujar Verrel membuat Lita dan Dhika saling pandang.
"Om percaya sama kamu, Verrel." ujar Dhika.
Setelahnya Verrel dan Dhikapun membahas masalah pekerjaan yang niat awalnya ingin Verrel rundingkan dengan Dhika. Verrel tengah membuat struktur proyek pembuatan Klinik khusus anak dan Verrel meminta bantuan Dhika untuk ikut berpartisipasi dalam pembangunan klinik itu.
Di dalam kamar Leonna mundar mandir tidak karuan, jantungnya berdetak sangat kencang. Bayangan Verrel yang menciumnya dengan begitu intens terus berputar di kepalanya. Bahkan Leonna terus bercermin memperhatikan bibirnya yang masih bengkak. "Ya tuhan, apa yang baru saja aku lakukan?" gumam Leonna menyentuh bibirnya sendiri. "kenapa aku bisa sampai terbuai sama ciuman kak Verrel. Oh Leonna kenapa kamu selalu bersikap konyol." gumam Leonna terus mondar mandir tak karuan.
"Leonna." panggilan sang papa membuat Leonna melotot sempurna, ia langsung loncat ke atas ranjangnya dan menutup tubuhnya dengan selimut hingga batas leher. "Leonna," panggil Dhika lagi memasuki kamar dan terlihat Leonna sudah memejamkan matanya.
Dhika berjalan memasuki kamar dan duduk di sisi ranjang membuat Leonna semakin berdebar takut papanya menyadari kalau dia hanya pura-pura tidur. "bangunlah, kamu tak pandai berbohong." ucapan Dhika membuat Leonna menciut, perlahan ia membuka matanya dan berangsur duduk dengan kepalanya yang di tundukkan. Leonna hanya memainkan ujung selimutnya karena takut di marahi papanya.
"Apa pria itu, Verrel?" Tanya Dhika to the point dan Leonna langsung menggelengkan kepalanya. "berarti bukan yah, apa kamu mencintai Verrel?" Tanya Dhika membuat Leonna menengadahkan kepalanya menatap manik mata coklat tajam milik papanya.
"Tidak Pa." cicit Leonna.
"Kalau kamu tidak mencintainya, kenapa kamu mau di cium olehnya?" pertanyaan Dhika membuat Leonna terdiam. Ia berpikir keras untuk menemukan jawaban yang tepat untuk Dhika, tetapi hasilnya malah nihil. Tak ada jawaban dari pertanyaan Dhika.
"Leonna, Papa sangat mengenal kamu sayang. Papa sebenarnya kesal saat tadi Verrel memperlakukanmu seperti itu." ujar Dhika membuat Leonna menatap ke arah Dhika.
"Maafkan Leonna, Pa." cicitnya.
"Papa sudah memaafkanmu, karena Verrel mau bertanggung jawab dan menikahimu."
Deg...
"Me-menikah, Pa?" gumam Leonna terpekik kaget.
"Iya, papa tidak mau kejadian tadi terulang lagi." ujar Dhika.
"Tapi Pa, Leonna kan gak melakukan sesuatu yang fatal. Leonna kan cuma-" ucapan leonna terhenti.
"Itu sama saja, Sayang. Papa takut selanjutkan akan lebih dari itu." ujar Dhika membuat Leonna merengut.
"Nggak Papa, Leonna tidak mungkin melakukan hal itu lagi." Rengek Leonna berusaha mencari celah untuk membatalkan pernikahan.
"Kalau begitu, kenapa tadi kamu tidak melawan. Kenapa hanya diam saja?" Tanya Dhika membuat Leonna terdiam. "Papa tidak akan memaksa kamu, keputusan tetap ada di tangan kamu. Kamu pikirkan saja, apa kamu menerima lamaran Verrel atau tidak." ujar Dhika membuat Leonna terdiam.
"Kamu pikirkan saja dulu, dan jangan mengambil keputusan terlalu cepat. Tapi-." Dhika memberi jeda dalam ucapannya. "kalau Papa atau Mama memergoki kalian lagi, Papa akan seret kamu ke KUA." ujar Dhika diiringi terkekehannya membuat Leonna terkekeh malu.
"Papa selalu menganggap kamu anak berumur 10 tahun, tapi Papa salah. Princes Papa sekarang sudah menjadi seorang gadis dewasa." ujar Dhika membelai pipi Leonna.
"Leonna akan selalu jadi Princes Papa kan." cicit Leonna memeluk Dhika dengan manja.
"Pasti sayang, kamu akan selalu menjadi Princes kecil Papa." Dhika mengecup kepala Leonna dengan sayang.
©©©
Di spanyol, Vino baru saja pulang dari pekerjaannya. Dengan masih memakai seragam pilotnya, ia menderek koper kecil. Ia berjalan memasuki rumah keluarga Winston. "Vino pulang." ujarnya dan tak lama, seorang gadis kecil dengan masih memakai seragam SMAnya berlari ke arah Vino.
"Abang," teriaknya dan memeluk Vino.
"Halo Jen, kamu baru pulang sekola?" Tanya Vino membuat Jen mengangguk antusias.
"Abang, bawa oleh-oleh kan?" Tanya Jen.
"Jen, biarkan abangmu masuk dulu. Kamu sudah menagih oleh oleh saja." ujar seorang wanita paruh baya yang masih terlihat cantik.
"Mama tidak ke klinik?" Tanya Vino.
"Tidak sayang, tidak terlalu banyak pekerjaan di klinik." ujar wanita itu yang tak lain adalah Claudya. "Jen, biarkan Abangmu beristirahat dan mandi dulu." perintah Claudya.
"Yes Ma." ujar Jen seraya melepas pelukannya dan membiarkan Vino pergi.
Saat ini Vino tengah membersihkan tubuhnya di bawah guyuran air shower, sudah tiga minggu berlalu. Tetapi bayangan Chella tak pernah hilang dari benaknya. Bahkan sekarang nomor dan beberapa kontak lainnya milik Chella sudah tak aktif lagi membuat Vino kesulitan untuk menghubunginya. Itu sungguh membuat Vino frustasi. 'Mungkin kami tak di takdirkan untuk bersama.' batin Vino, kedua tangannya menyentuh dinding di depannya dan membiarkan tubuhnya di guyur air shower. 'Apa begitu besarnya cinta Chella untuk Leon? Sampai sampai dia tak bisa menerimaku?'
Tiga puluh menit sudah berlalu, Vino berjalan menuruni undakan tangga dengan sudah memakai pakaian rumahannya. "Hallo Pa." sapa Vino, saat melihat Farel baru saja datang.
"Kamu sudah kembali, Boy?" Tanya Farel.
"Iya, beberapa saat yang lalu." Vino mengambil duduk di kursi meja bar. Claudya menyuguhkan minuman untuk Vino dan Farel di atas meja bar.
"Jen mana, Nanda?" Tanya Farel.
"Tadi sih bilangnya mau mandi." ujar Claudya. "bagaimana? Tidak ada masalah di pabrik?"
"Tidak, syukurlah semuanya kembali berjalan lancar." jawab Farel menyeduh tehnya.
Farel memang membangun sebuah pabrik besar khusus untuk memproduksi tanaman yang dia tanam. Dan sekarang perkebunannya mulai maju pesat, banyak pesanan dari dalam dan luar negri yang memesan hasil olahan perkebunan di sana. Dan ada beberapa yang Claudya racik hingga menjadi sebuah obat.
"Vino, akhir-akhir ini kamu sering sekali melamun." Tanya Farel.
"Bukan apa-apa Pa, hanya lelah saja." dusta Vino seraya meneguk minumannya.
"Papa harap begitu." ujar Farel, Vino tak bergeming dan tetap menyeduh minumannya dalam mug miliknya.
"Halo Papa." Sapa Jen dengan ceria. Sifat periang Jen tak jauh berbeda dengan Leonna, hanya saja Leonna lebih aktif dari Jen.
"Hallo sayang, gimana di sekola?" Tanya Farel.
"Lumayan Papa, Jen di buat pusing sama pelajaran Kimia." Ceroscosnya.
"Kalau Kimia, masternya papamu Jen. Dia sangat jago dalam hal itu." ujar Claudya.
"Bener Pa?" Tanya Jen.
"Jangan di dengar mamamu, lagian Papa sudah lupa sama pelajaran." keluh Farel.
"Papa payah nih." celetuk Jen.
Claudya melirik Vino yang diam saja tak ikut berbicara, tidak seperti biasanya. Kecanggungan itupun di rasakan oleh Farel. Farel tau anak laki-lakinya sedang tidak baik-baik saja.
©©©
Chella sesekali melirik Leonna yang hari ini menjadi seseorang yang pendiam, entah apa yang di pikirkannya. "Ona, loe kenapa?" Tanya Chella menyadarkan Leonna.
"Gue gak apa-apa, Chell. Hanya ada sedikit masalah." ujar Leonna dengan malas.
'Apa Leonna marah sama gue yah? apa dia baru tau kalau Vino nembak gue?' batin Chella, tidak sesuai dengan pemikiran Leonna.
'Ya tuhan, apa aku harus terima lamarannya kak Verrel? Lalu Abang gimana? Tapi kan abang gak cinta sama aku, dan kak Verrel? Aku bahkan tidak tau apa aku mencintainya atau tidak.' batin Leonna. ‘Tapi aku nyaman berada di dekatnya. Astaga dewi cinta ayolah tunjukkan siapa pangeranku.’
"Selamat siang semuanya" ucapan tegas dari depan kelas menyadarkan semua mahasiswa dan mahasiswi di dalam kelas yang tengah berbincang-bincang. Keadaan mendadak hening dan menegangkan saat wanita berkaca mata itu masuk ke dalam kelas. Semua siswa dan siswi mulai membuka pelajaran study Biosains. Kecuali Leonna, Chella dan Datan, ketiganya sibuk dengan aktivitas mereka sendiri.
Leonna dan Chella sibuk dengan pikiran dan lamunan mereka, sedangkan Datan tengah menikmati alam mimpinya bersama para bidadari-bidadari dari kayangan. Dosen yang berdiri di depan kelas itu melirik ke arah meja mereka bertiga.
Dosen yang terkenal galak dan tegas itu berjalan ke arah meja ketiganya yang sejajar. Dengan membawa rotan yang selalu dia bawa kemana-mana.
Brak
"Maafin gue, Na."
"Aku mau kak Verrel."
"Jangan ninggalin gue, bidadari."
Teriak ketiganya spontan membuat semua siswa dan siswi tertawa terbahak-bahak. Leonna dan Chella langsung menatap horor ke dosen di depannya, berbeda dengan Datan yang nyawanya belum terkumpul semua.
"Ya tuhan siapa yang mengganggu tidur siangku. Bidadari itu pada kabur kan." keluh Datan mengucek kedua matanya.
"Saya yang mengganggumu." ucapan tegas seseorang membuat Datan menengok dan melotot sempurna melihat wajah menyeramkan seseorang. 'Oh god, emaknya annabelle ngamuk.' batin Datan.
©©©
Selesai permata kuliahan, Leonna bersama Chella dan Datan berjalan menuju parkiran mobil.
Tiiiinnn tinnnn tinnn
"Iye iye sabar es batu." teriak Leonna mengakhiri obrolannya dengan Datan dan Chella.
“Kagak sabaran banget tuh si es batu.” Ucap Datan.
“Tau tuh, bye guys.” Leonna beranjak pergi dan memasuki pintu penumpang mobil. Tanpa berkata apapun lagi, Leonpun menjalankan mobilnya meninggalkan kampus.
"Gue di lamar sama kak Verrel." celetuk Leonna tiba-tiba.
Ciiitttttt …
Leonna hampir terpental ke depan membentur dashboard mobil, kalau saja tidak memakai sabuk pengaman. "Loe apaan sih es batu, loe pengen gue mati konyol???" pekik Leonna.
"Loe bilang apa barusan?" Tanya Leon kaget.
"Gue di lamar sama kak Verrel." ujar Leonna.
"Serius loe? terus loe nerima gak?" Tanya Leon penasaran.
"Belum, gue dilemma." ujar Leonna.
"Idih pake acara dilemma segala, kayak manusia aja loe." celetuk Leon seraya menjalankan mobilnya kembali.
"Menurut nganaa???" ujar Leonna kesal.
"Bukannya loe alien yah." kekeh Leon.
"Kalau gue alien, trus loe apa es batu? Loe juga manusia jadi-jadian, kan loe kembaran gue." celetuk Leonna kesal.
"Sudah terima saja," ujar Leon membuat Leonna mengernyitkan dahinya. "biar di rumah tenang, kagak rusuh terus karena ada loe." kekeh Leon.
Plak
"Nyebelin!!" Leonna menepuk lengan Leon membuat Leon terkekeh.
"Pokoknya, gue akan dukung apapun yang bisa buat loe bahagia, Ona sayang. Kalau ada yang coba nyakitin loe, gue yang akan ada di barisan paling depan." Ujarnya membelai kepala Leonna membuat Leonna tersenyum senang.
"Manisnya kembaranku ini, sini sini aku peluk." Leonna merentangkan kedua tangannya.
"Ogah, loe kotor dan bau." celetuk Leon membuat Leonna mencibir.
©©©
Verrel tengah berdiri di balkon kamar dengan perasaan yang tak menentu, ia menatap gantungan handphone, pasangannya ada di handphonenya Leonna. "Aku sangat berharap kamu menerima lamaranku Leonna, aku akan memberikan seluruh akan berusaha membahagiakan kamu." gumamnya seraya membelai boneka hanbok wanita yang terlihat lucu.
Di tempat lainpun, Leonna tengah duduk di atas ranjang sambil memainkan gantungan boneka hanbok yang menggantung di handphonenya.
Vino ataukah verrel???
Leonna dalam keadaan dilemma saat ini......
Memilih tetap menunggu dan berharap ke Vino...
Atau
Menerima Verrel dan memulai kehidupan barunya bersama Verrel....
Manakah yang harus leonna pilih?????
©©©