Vino tengah duduk di teras rumah Chella, tadi saat sampai Elza bilang kalau Chella tengah mandi. Vino sangat gugup, bahkan teh yang di suguhkan Elza sudah habis di teguk olehnya. Ini pertama kalinya ia mengungkapkan perasaannya kepada seorang gadis. Ia belum pernah berpacaran, karena masa mudanya dia habiskan dengan fokus di akademi pilot. Berkali-kali Ia mengusap tengkuknya rasanya sungguh gugup sekali. 'Kenapa gugup sekali, bahkan lebih gugup saat aku pertama kali membawa pesawat.' batinnya.
"Abang, sudah lama nunggu?" ucapan seseorang menyadarkan Vino. Iapun menengok ke arah Chella dan tersenyum manis.
"Lumayan Chell." Chella duduk di kursi yang ada di samping Vino.
"Ada apa Bang? Tumben sekali malam-malam datang kesini?"
"Itu-," Vino terdiam sesaat karena mendadak demam panggung. Chella hanya mengernyitkan dahinya melihat ekspresi Vino yang terlihat tak nyaman.
"Apa ada masalah, Bang?" Tanya Chella, Vino menatap mata Chella yang menatapnya penuh tanya.
"Chell,, aku-," Vino terdiam sesaat membuat Chella semakin penasaran. "aku mencintaimu."
Deg
Chella mematung di tempatnya mendengar penuturan Vino barusan. Apa dia salah dengar? Vino mengatakan cinta, padanya??? Yang benar saja.
Leonna....
Michella langsung memalingkan wajahnya saat nama Leonna begitu saja muncul di dalam benaknya. "aku tau, kamu pasti akan sangat kaget. Ini terlalu awal dan bahkan kita kenal mungkin belum sampai satu bulan. Besok aku akan kembali ke Spanyol dan kembali bekerja, aku takut akan lama kembali ke Indonesia. Kamu tidak perlu menjawabnya kalau kamu merasa ini terlalu cepat. Aku hanya ingin mengungkapkan perasaanku saja." ujar Vino berkata jujur.
"Kamu wanita pertama yang mampu membuat jantungku berdetak kencang saat bersamamu, aku tidak tau kenapa seperti ini. Bahkan kita baru saja saling mengenal, mungkin ini yang di namakan love at first sight."
Vino masih menampilkan senyuman terbaiknya kepada Chella, walau jantungnya sudah berdetak dengan sangat kencang. "Lupakan aku, Abang."
Ucapan Chella membuat Vino membelalak lebar, apa maksudnya dengan melupakannya??? Seketika bayangan Leon muncul di benaknya.
"Apa ini karena Leon?" Tanya Vino.
"Bukan, ini bukan karena Leon." Chella berpikir keras, bagaimana dia mengatakannya ke Vino, tidak mungkin dia bilang kalau Leonna menyukai Vino.
"Lalu kenapa Chell?" Tanya Vino memegang tangan Chella tetapi Chella langsung menarik kembali tangannya.
"Maaf Abang aku tidak bisa, aku mohon lupakan saja aku." Setelah mengatakan itu, Chella langsung beranjak memasuki rumahnya.
"Chell,"
Vino mengejar Chella tetapi Chella langsung menutup pintu rumahnya meninggalkan Vino yang berdiri di luar rumah. 'maafin Chella, tapi aku tidak bisa. Leonna mencintai Abang dan dia yang berhak memiliki Abang bukan aku.' batin Chella bersandar di daun pintu.
Sebenarnya ada rasa bahagia yang terselip di hati Chella, mendengar ungkapan dari Vino. Ini pertama kalinya ada seorang pria yang mengungkapkan perasaan padanya. Chella merasa bahagia, tetapi ia tidak bisa menerima Vino. Persahabatan orangtuanya juga persahabatannya dengan Leonna jauh lebih berharga daripada cintanya.
"Aku akan menunggumu, Chell. Aku memang bukan pria yang romantic, aku mungkin salah karena terlalu cepat mengatakan ini. Tetapi ketahuilah, aku bukan pria yang mudah ingkar. Aku akan selalu menunggumu sampai kamu mau menerimaku." ujar Vino membuat Chella terdiam, hingga tak lama terdengar deru mesin mobil menandakan Vino sudah berlalu pergi. Chella berjalan menuju jendela dan mengintip keluar dimana mobil Vino sudah melaju meninggalkan pekarangan rumahnya. 'Maafkan aku, Abang.'
©©©
Verrel tengah menatap hamparan gedung dan rumah dari atas balkon hotel. Ini sudah dua minggu Verrel berada di Negara Gingseng Korea, tetapi selama disini ia tak pernah melupakan Leonna. Bayangan Leonna terus saja muncul dalam pikirannya. Seperti saat ini, ia tengah memperhatikan foto Leonna yang ceria di dalam handphonenya. Hampir setiap hari ia menatap foto Leonna yang ada di dalam handphonenya.
Perlahan tangannya terulur untuk mengusap wajah Leonna yang ada di dalam handphonenya, Leonna terlihat sangat cantik sekali. Ia memiliki wajah yang kecil mirip seperti Barbie. Senyumannya begitu menenangkan dan tawanya membuat Verrel tak bisa menahan bibirnya untuk tidak tersenyum.
"Sebenarnya apa yang sudah kamu lakukan padaku, sampai aku tak bisa lepas dari bayanganmu. Kamu seakan candu bagiku. Tidak melihatmu sebentar saja, rasanya membuat diriku tak bisa konsen melakukan apapun."
Tiba-tiba saja sepasang tangan mungil memeluk Verrel dari belakang membuatnya sedikit terpekik kaget, ia segera berbalik hingga pelukannya terlepas. Di hadapannya ternyata Leonna tengah berdiri di sana dengan wajah cerianya. Leonna tersenyum manis ke arah Verrel. Tangan Verrel terangkat untuk membelai wajah Leonna tetapi seketika bayangan itu lenyap. Verrel menutup matannya, ini sudah kesekian kalinya dia berhalusinasi tentang sosok Leonna.
"Ya tuhan," Verrel menghembuskan nafasnya jengah seraya menyisir rambutnya ke belakang dengan jari tangannya. Ia merasa frustasi karena perasaan ini.
Bip bip
Suara bel kamar berbunyi, Verrel segera beranjak membuka pintu dan ternyata sekretarisnya tengah berdiri di sana, ia mengatakan kalau mereka sudah harus pergi untuk meeting bersama Mr. Kim.
'Semoga aku bisa fokus kali ini.' batin Verrel menyambar jas hitamnya dan memakainya lalu beranjak pergi bersama Sekretarisnya.
©©©
Semalaman Vino tak kembali ke rumah Lita, ia menghubungi keluarga Lita dan mengatakan akan menginap di rumah temannya. Vino hanya membutuhkan waktu untuk menyendiri.
Pagi ini di kediaman Dhika, ketiga anaknya tengah menikmati sarapan dalam diam. Adrian melirik kedua kakaknya yang terlihat merengut, Leonna terlihat malas menikmati sarapannya begitu juga dengan Leon yang terlihat enggan untuk makan. Dhika dan Lita juga melirik anak kembar mereka, yang terlihat kompak memasang wajah merengutnya di pagi hari.
"Ona, ayo berangkat." ujar Leon beranjak.
"Gak di habiskan sarapannya, Sayang?" Tanya Lita.
"Nggak Ma, sudah kenyang." ujar Leon seraya menyalami papa dan mamanya. Leon kembali melirik Leonna yang terlihat melamun.
Pletak
"Aduh," Leonna meringis seraya mengusap keningnya karena Leon menyentil keningnya. "Sakit es batu."
"Makanya jangan melamun, ayo berangkat." ujar Leon membuat Leonna beranjak dan menyambar tas selempangnya.
"Aku berangkat yah Ma, Pa." ujar Leonna dengan lesu.
"Iya sayang, hati-hati di jalan." ujar Lita.
"Leon, kamu yang bawa mobilnya." ujar Dhika
"Iya Pa." jawab Leon. Leonna mencium pipi Adrian sebelum berangkat.
Di depan rumah, Leonna menyerahkan kunci mobil Porsche merahnya ke Leon dan menaiki kursi penumpang tanpa berbicara apapun. Leonpun menaiki mobilnya dan mulai menjalankan mobil, Leonna terlihat enggan berbicara dan hanya menyandarkan kepalanya ke jok mobil sambil menatap keluar jendela.
"Loe kenapa?" Tanya Leon.
"Gak apa-apa." jawab Leonna.
"Gue ngerasain ke gundahan loe, katakan saja ada apa."
"Broken heart," jawab Leonna asal membuat Leon terkikik geli mendengarnya. "kenapa malah ketawa?"
"Laga loe broken heart, lagian pria mana sih yang mau sama cewek model loe." Ejek Leon berniat menghibur tetapi Leonna malah menangis. "eh kenapa nangis?" Tanya Leon kaget sambil meminggirkan mobilnya. Leonna menghapus air matanya yang tak mau berhenti menetes membasahi pipi.
Leon melepas setbeltnya dan memegang kedua pundak Leonna agar dapat melihat ke arahnya.
"Ada apa Ona? Loe nangis karena ledekan gue?" Tanya Leon, tetapi Leonna hanya terdiam saja dan terus menangis. "ya tuhan, kenapa loe jadi cengeng gini sih. Iya deh gue minta maaf, loe cantik banget kok pasti pria manapun akan mau sama loe. Buktinya di kampus banyak yang ngejar ngejar loe." ujar Leon mulai melembut.
“Tapi loe peringatin mereka semua buat gak ganggu gue.” Cicitnya.
“Bukan begitu, gue sayang sama loe. Gue hanya gak mau loe terluka karena mereka. Gue gak mau loe salah milih cowok Ona sayang.” Ucap Leon menghapus air mata Leonna.
"Hati gue merasa sangat sakit, gue kira rasanya akan hilang. Ini kenapa sakitnya terus terusan." isak Leonna.
“Loe sakit hati karena gue larang mereka deketin loe?”
“Bukan es batu, gue di tolak cowok.” Isaknya. "Gue mencintainya, Leon. Tapi dia nolak gue, sebelum gue mengungkapkan perasaan gue.” Leon menarik Leonna ke dalam pelukannya dan mengusap punggung kembarannya dengan lembut. "Gue kan selalu ingetin loe, jangan mudah percaya sama sikap dan ucapan cowok. Cowok yang serius sama loe, dia akan datang langsung ke Papa dan melamar loe, bukan seperti ini." ujar Leon.
"Gimana mau lamar, orang dia gak cinta sama gue,,hikz..."isak Leonna semakin menjadi.
"Cup cup cup,, udah yah jangan nangis lagi Ona sayang." ujar Leon mengusap kepala Leonna.
Dada Dhika maupun Leon begitu mampu menenangkan Leonna. Selain mereka berdua, Leonna juga merasa nyaman bersandar di d**a milik Verrel, entah kenapa. Tiga pria yang membuat hatinya merasa terlindungi dan nyaman.
"Udah jangan nangis lagi," Leon melepas pelukannya. "Hapus air mata loe, loe mirip seperti nenek sihir kalau nangis." ledek Leon membuat Leonna terkekeh kecil. "nah ini baru Ona, kembaran gue yang cantik dan selalu riang." Leon mencubit hidung Leonna dengan gemas.
"Gue gak mau liat loe nangis lagi, pokoknya kalau ada yang nyakitin loe lagi, lapor ke gue. Oke," Leonna menganggukan kepalanya. Leon kembali menjalankan mobilnya menuju kampus.
"Loe juga kenapa merengut dari kemarin?" Tanya Leonna yang sudah lebih baik.
"Gue cuma sebel saja gagal ikut turnamen basket, padahal gue kapten teamnya. Tapi Papa melarangnya." ujar Leon.
"Nanti gue bantu ngomong ke papa, biar loe ikut turnamen. Bagaimanapun kalau tanpa loe, kampus kita akan kalah." ujar Leonna.
"Thanks princes Ona sayang." ujar Leon mencubit pipi Leonna gemas.
©©©
Sesampainya di kampus, Leonna langsung memasuki kelasnya. Chella dan Datan sudah ada. Datan terlihat sedang mengobrol dengan seorang gadis, sedang Chella terlihat sedang merenung di kelasnya. 'Apa Chella menerima cinta Abang yah.' batin Leonna saat melirik Chella.
"Pagi Chell." sapa Leonna dengan riang membuat Chella menengok.
"Pa-pagi Ona." ujar Chella sedikit kikuk. 'kalau Leonna tau Abang nembak gue semalam, apa dia akan marah.' batin Chella.
"Ada apa? kok melamun?" Tanya Leonna seakan tak terjadi apapun.
"Tidak apa-apa, gue hanya sedikit tidak enak badan." Dusta Chella.
"Apa perlu gue anter ke ruang kesehatan?" Tanya Leonna.
"Tidak perlu, Ona." keduanya kembali sibuk dengan kegiatan mereka.
Vino menderek koper kecilnya dan pamitan ke bunda dan ayahnya, juga Adrian. "Vino pamit yah Bunda, Ayah."
"Kamu jaga kesehatan, dan hati-hati saat bekerja." ujar Lita.
"Iya siap Bunda." ujar Vino.
"Kamu hati-hati di jalan yah, Vino. Salam buat papa dan mamamu," ujar Dhika.
"Iya Ayah." ujar Vino.
"Assalamu'alaikum." teriak dua orang dan tak lama Leon dan Leonna datang. Leonna mematung di tempat saat melihat Abangnya, sejujurnya ia belum siap bertemu dengan Vino. Tetapi ia berusaha untuk bersikap seperti biasanya. "Abang mau pulang?" Tanyanya.
“Iya Princes, abang harus kembali sekarang." ujar Vino mengusap kepala Leonna. “Abang dengar kamu sedang galau?” tanyanya.
“Itu-,”
“Siapa yang melakukannya, Princes? Pria bodoh mana yang sudah melukai adikku yang cantik ini.” Ucapan Vino sungguh membuat Leonna meringis mendengarnya,
Adik? Benarkah hanya itu yang di rasakan Vino padanya.
“Aku tidak apa-apa kok Bang,” ucapnya diiringi senyumannya.
“Abang akan merindukanmu, Princes. Pokoknya kamu harus selalu menghubungi Abang dan bilang kalau pria itu menyakitimu lagi.” Leonna menganggukkan kepalanya. Vino menarik Leonna ke dalam pelukannya. Entah kenapa ia menjadi canggung berada di pelukan Abangnya.
Pandangan Vino tertuju ke Leon, ada perasaan tak suka saat mengingat kalau Chella menyukai Leon. "Abang berangkat yah, Princes." Vino melepaskan pelukannya dan mencium kepala Leonna. "Leon, Abang berangkat yah." Vino memeluk Leon. "jagain adik dan orangtua kamu."
"Siap Bang." Leon tersenyum seraya melepaskan pelukannya.
"Hati-hati di jalan Bang." ujar Leonna.
"Siap princes, Abang akan sangat merindukanmu." ujarnya tersenyum dan kembali mengusap kepala Leonna. "Bunda, Ayah, Rian. Aku berangkat."
"Hati hati dijalan, Sayang." ujar Lita.
Vino berlalu pergi dengan menderek koper kecilnya meninggalkan rumah.
©©©