Vino bersama Leonna dan juga Adrian tengah menikmati makan malam bersama, setelah berjalan-jalan dan menonton film.
"Abang berangkat kapan?" Tanya Leonna.
"Besok sore," ujar Vino menikmati makanannya.
"Abang mau balik lagi kesini?" Tanya Adrian.
"Nggak tau Rian, tapi Papa dan Mama sudah minta Abang balik ke Spanyol." ujar Vino,
"Rian pengen ikut, pengen ketemu Jen." ujar Adrian.
"Kapan kapan Jen akan kesini bareng Mama Claud dan Papa Farel."
"Abang, kesini laginya jangan lama-lama." rengek Leonna manja.
"Akan Abang usahakan, Princes." ujar Vino.
Tak jauh dari mereka Michella datang bersama Datan untuk menikmati makan malam. "Kak, itu ada kak Chella dan kak Datan." ujar Adrian membuat Vino dan Leonna sama-sama menengok.
"Oh iya bener, Chell... Datan..." panggil Leonna membuat mereka menengok.
"Woi Ona, Rian, Bang." teriak Datan dan berjalan ke arah mereka.
"Hai Chell, Datan." sapa Vino tersenyum manis. Datan langsung duduk di atas kursi tanpa malu. Michellapun duduk tepat di samping kanan Vino dan di sebelah kiri Vino adal Leonna.
"Kalian abis darimana?" Tanya Leonna.
"Ini si kunyuk gagal kencan, dia minta gue traktir makan. Dia kan lagi kere sekarang," ujar Chella.
"Gue lagi galau tau," ujar Datan dan tanpa malu mencomot kentang goreng dari piring Leonna.
"Kasian bener kak Kunyuk, sekarang idupnya melarat." kekeh Adrian membuat yang lain ikut terkekeh.
"Pesen saja Datan, sepuas kalian." ujar Vino,
"Bener nih Bang?" Tanya Datan.
"Iya," jawab Vino.
"Gini kek, kan gak galau lagi." kekehnya membuat Chella dan Leonna menggelengkan kepala mereka.
"Kamu juga pesan saja, Chell." ujar Vino membuat Chella mengangguk. Mereka berduapun akhirnya memesan makanan.
"Ona, Leon gak ikut?" Tanya Chella,
"Nggak, dia di bengkel lagi semedi." jawab Leonna asal.
"Dia semedi apaan lagi, karena di hukum papa Dhika." ujar Datan.
"Semedi biar makin kuat ilmu pemikat ceweknya," kekeh Leonna.
"Tidak perlu semedi juga dia udah mempesona." celetuk Chella membuat Vino melirik Chella dengan kernyitan di dahinya.
"Alah mempesona di mata loe." ujar Leonna,
"Ya nama juga cinta buta, cowok jelek saja bisa di sangka Robert Pattinson." ujar Datan santai membuat Leonna dan Adrian terkekeh.
"Chella menyukai Leon?" Tanya Vino ingin meyakinkan.
"Iya Bang, dia fanz beratnya Leon. Sayangnya tak pernah dilirik." kekeh Leonna.
"Kagak perlu di sebutin gak pernah diliriknya kali Ona jelek," cibir Chella.
"Itu faktanya kali Lonja, akui aja deh." timpal Datan.
"Apanya yang di akui Kunyuk? Gue hanya penggemarnya, dan tak mungkin bisa lebih." ujar Chella merendah.
"Kak Lonja cemen nih. Masa gak bisa naklukin sang pangeran es." celetuk Adrian.
"Sulit Rian, dia tetap saja beku." ujar Chella menghela nafasnya. Pesanan Datan dan Chellapun datang menghentikan obrolan mereka berdua.
"Makanya kalau ngadepin si es batu jangan cuma di elus elus, kagak bakalan liur dia. Kalau mau, bakar dia sama api atau gak getokin pake palu biar ancur." kekeh Datan asal.
"Loe pikir kembaran gue itu es balok." cibir Leonna.
"Lah memang iya kan,," kekeh Datan.
Mulailah adu mulut antara Leonna dan Datan, sedangkan Chella, Vino dan Adrian hanya bisa menghela nafasnya pusing mendengar perdebatan mereka. "Chel, memang kamu tidak berniat mencari pria lain?" Tanya Vino membuat Chella menengok ke arahnya dan sedikit mengernyitkan dahinya.
"Ya berniat Bang, aku ingin pria yang bisa membuatku nyaman dan bisa membantuku melupakan perasaan sepihakku pada Leon." ujar Chella apa adanya tanpa merasa curiga dengan pertanyaan Vino.
"Begitu yah," Vino tersenyum manis hingga memperlihatkan lesung pipitnya.
"Dasar buaya kunyuk loe!!" ujar Leonna.
"Ona jelek,," timpal Datan.
"Sampai kapan kalian mau berantem? Kalau berantem terus, Abang tinggal nih," ancam Vino.
"Jangan Bang," ujar Leonna merangkul lengan Vino.
"Dasar manja." cibir Datan sambil kembali menikmati makanannya.
©©©
Michella mengantar Datan pulang dengan mobilnya, sedangkan Vino mengantar Leonna dan Adrian.
"Princes, Abang boleh bicara sebentar sama kamu." Tanya Vino saat mereka sampai di pekarangan rumah Dhika.
"Boleh Bang, ada apa?" Tanya Leonna.
"Ya sudah, Adrian masuk yah. Makasih Bang," ujar Adrian menuruni mobil dan memasuki rumah.
"Kita ke taman komplek yah," ujar Vino yang di angguki Leonna.
Tak lama, mobil Vino sudah berhenti di dekat taman komplek. "Ada apa Bang?" Tanya Leonna melepas setbeltnya dan menengok ke arah Vino yang terlihat sedang menarik nafas dalam-dalam. "abang ada apa?"
"Leonna, Abang-" Vino terdiam sesaat saat menengok ke arah Leonna, ia terlihat kembali menarik nafasnya dalam-dalam. "ya tuhan bagaimana aku mengatakannya, ini sungguh terasa sangat sulit." ujar Vino bingung mengusap wajahnya gusar.
"Ada apa Abang?" Tanya Leonna semakin penasaran. "Abang baik-baik saja kan?"
"Aku mencintaimu..."
Deg
Leonna mematung di tempatnya, matanya membelalak lebar mendengar ucapan Vino barusan. Vino menatap mata bulat Leonna dengan tersenyum manis.
"A-abang-" gumam Leonna, kaget bercampur bahagia bahkan Leonna tak mampu menyembunyikan senyum kebahagiaannya.
"Aku mencintaimu" seru Vino kembali membuat Leonna terkekeh senang mendengarnya.
'Ya tuhan, apa ini mimpi? Abang, mengungkapkan perasaannya padaku? Ternyata cintaku tak bertepuk sebelah tangan?' batin Leonna sangat bahagia.
"oh shitt!" umpat Vino pelan,
Leonna masih tersenyum bahagia melihatnya. Lidahnya terasa kelu untuk mengeluarkan suaranya. "bagaimana aku mengatakannya, ini sangat sulit bagiku, Leonna." ujar Vino terlihat gugup dan Leonna masih tersenyum senang.
"ini pertama kalinya Abang menyimpan perasaan ini pada seorang wanita, dan Abang sangat kesulitan untuk mengatakannya. Abang benar-benar kaku dan payah." kekehnya mengejek dirinya sendiri.
Leonna masih berbinar menatap Vino, iapun bingung harus mengatakan apa pada pangeran di hadapannya ini. "aku terlalu takut mengatakannya Leonna, tetapi saat pertama kali aku melihatnya, aku langsung jatuh cinta padanya.” Leonna mengernyitkan dahinya mendengar penuturan Vino itu, senyumannya yang tadi mengembang kini memudar hilang. “Kamu tau senyumannya membuatku terpana dan bahkan jantungku di buat berdetak begitu kencang. Kamu tau Leonna, dia wanita pertama yang membuatku seperti ini." ujar Vino terkekeh bahagia tanpa melihat raut wajah kecewa Leonna.
"Dia?"
"Iya dia, emmm-“ Vino tersenyum kecil. “Michella maksudku."
Deg
Leonna merasa hatinya di tusuk dengan belati yang sangat tajam tepat di jantungnya, hati yang awalnya berbunga-bunga langsung hancur seketika karena rajam itu. Leonna menunduk dengan pandangan masih tak percaya. 'abang menyukai Chella? Jadi benar selama ini, bukan karena kebetulan?'
"Hei Princes, kenapa?" Tanya Vino melihat Leonna yang menunduk.
"Ti-tidak, aku sedikit kaget mendengarnya." Leonna tersenyum kecil.
"Baiklah kita latihan lagi yah, kamu jadi Michellanya. Abang perlu latihan, Abang tidak mau terlihat konyol di hadapannya nanti." ceroscos Vino dengan bahagia, sedangkan Leonna hanya bisa tersenyum kecil dengan mata yang berkaca-kaca.
"Aku mencintaimu, Chella." seru Vino dan Leonna masih mematung di tempatnya, sungguh hatinya terasa sangat sakit. "A-aku mencintaimu."
"Aku juga mencintaimu, Bang." jawab Leonna lirih membuat Vino mematung dan tersenyum bahagia.
"A-apa dia akan menjawab seperti itu?" Tanya Vino dan Leonna mengangguk lirih. "Oh god," Vino menarik tubuh Leonna ke dalam pelukannya dengan sangat bahagia. Sedangkan Leonna menangis di pelukan Vino, hatinya hancur. Sangat hancur mendengar pernyataan cinta pangerannya tetapi untuk wanita lain. "apa Abang harus segera mengatakannya?"
"Hmm," gumam Leonna.
"Abang harus mengatakannya sekarang juga, karena besok Abang akan pergi." ujar Vino hendak melepas pelukannya dan Leonna segera mengusap air matanya dengan sebelah tangannya. Ia kembali memasang wajah seperti biasanya ceria. "terima kasih adikku sayang, Abang sangat bahagia." kekeh Vino terlihat sangat bahagia dan Leonna berusaha menampilkan senyuman terbaiknya di hadapan Vino walau hatinya sangat terluka.
"Abang akan mengantar kamu pulang dulu." ujar Vino hendak menyalakan mesin mobilnya.
"Tidak Bang," tahan Leonna membuat Vino menengok ke arahnya dengan kernyitan di dahinya. "Abang pergi saja, keburu Chella tidur. Leonna turun disini saja, lagian gak terlalu jauh dari rumah."
"Tidak apa-apa?" Tanya Vino dan Leonna menggelengkan kepalanya.
"Aku mau sekalian hirup udara malam," cicit Leonna yang sudah tak bisa menahan air matanya lagi.
"Baiklah, kamu hati-hati yah. Dan terima kasih sudah mau mendengarkan cerita Abang. Abang sangat menyayangi kamu, Princes." ujar Vino lembut dan mengecup kening Leonna. Leonna hanya memberi senyuman kecil dan beranjak keluar dari mobil, Vino menurunkan kaca mobilnya untuk melihat Leonna kembali.
"Semoga berhasil Bang." ujar Leonna masih memasang wajah riangnya.
"Oke Princes," mobil Vinopun berlalu pergi meninggalkan Leonna yang masih mematung di tempatnya.
Michella siapa lagi,,
Aku mencintaimu Chella....
"hikz...hikz...hikz..." isakan Leonna akhirnya keluar setelah sejak tadi ia tahan sekuat tenaga. "hikz..hikz..rasanya kenapa sakit sekali." isak Leonna sejadi-jadinya.
Langit malam seakan merasakan kegundahan hati Leonna yang menangis sejadi-jadinya di tempatnya berdiri. Hujan deras turun dan mengguyur tubuhnya hingga basah kuyup. "Aku mencintaimu, Abang. Kenapa kamu lakukan ini,,hikz...hikz..." isak Leonna sejadi-jadinya.
Leonna berjalan tertatih sambil menangis di bawah guyuran air hujan yang sudah membasahi seluruh tubuhnya. Leonna bersandar di salah satu pohon pinus yang ada di sana dan kembali menangis. 'Cinta pertamaku sudah kandas begitu saja, bahkan sebelum aku mengungkapkannya. Aku sudah mengartikan lain kasih sayang Abang padaku, ternyata dia hanya menganggapku sebagai adiknya dan tak pernah lebih dari itu.'
'Tapi apa salahnya kalau aku mencintainya? Apa salahnya aku mencintai Kakak angkatku sendiri? Kenapa tuhan? Kenapa cinta pertamaku harus sesakit ini. Aku tak pernah merasakan cinta sebelumnya, dan ini cinta pertama sekaligus sakit hati pertama yang aku dapatkan.' batinnya.
Leonna sampai di rumahnya, dan berjalan tertatih dengan pandangan kosong, badannya sudah basah kuyup. "Assalamu'alaikum."
Dhika dan Lita yang sedang berada di ruang televisi menengok dan kaget melihat kondisi Leonna. Keduanya beranjak menghampiri putrinya.
"Sayang, kamu kenapa?" Tanya Lita khawatir. Leonna menatap sendu Mama dan Papanya.
"Papa...hikzz," Leonna langsung memeluk tubuh Dhika dan menangis sejadi-jadinya di pelukan Dhika.
"Kamu kenapa, Princes."ujar Dhika mengusap kepala dan punggungnya. Thalita berlalu untuk membawakan handuk, Leonna masih menangis sejadi-jadinya di pelukan Dhika. "Ada apa? siapa yang buat kamu seperti ini, Leonna?" Dhika tak bisa diam saja mendengar isakan Leonna yang memilukan.
Dhika sangat jarang melihat Leonna menangis, dan saat ini Leonna menangis dengan begitu memilukan. Thalita datang dan menyelimutkan handuk putih itu di punggung Leonna. Dhika melepas pelukannya dan menatap wajah princesnya yang terlihat tersedu-sedu.
"Katakan sama papa, apa yang terjadi?" Tanya Dhika.
"Sakit Pa,,hikzzzz." isak Leonna.
"Kamu kenapa sayang? kamu terjatuh?" Tanya Lita,
"I-iya Ma." isak Leonna.
"Mana yang terluka? Biar Mama obati," ujar Lita khawatir.
"Disini Ma, Pa." ujar Leonna memegang dadanya. "disini rasanya sangat sesak dan sakit,, hikzz..hikzz.. Leonna harus apa, kenapa rasanya sakit sekali..hikzz." isak Leonna membuat Lita dan Dhika paham apa yang terjadi.
Dhika kembali memeluk Leonna dan memberinya kehangatan. "Papa, cinta pertamaku bertepuk sebelah tangan. Cintaku belum terucapkan tetapi aku sudah mendapat penolakan,,hikzz" isak Leonna sejadi-jadinya membuat Dhika dan Lita saling pandang. Lita mengusap kepala Leonna dengan sayang memberikan kekuatan kepada putrinya.
"Cinta tak bisa di paksakan, Sayang." ujar Lita. "dan jangan berkecil hati, karena cinta sejatimu yang sebenarnya akan datang menjemputmu."
"Tapi Leonna mencintainya, Ma, Pa. Leonna sudah mencintainya sejak lama." ujar Leonna.
"Siapa?" Tanya Dhika.
"Dia sangat dekat dengan keluarga kita, Pa." isak Leonna membuat Dhika dan Lita kembali saling pandang tak tau siapa.
"Siapa sayang? kalau memang dekat dengan kita, berarti Papa sangat mengenalnya." ujar Dhika yang di angguki Leonna.
"Papa dan Mama sangat mengenalnya." cicit Leonna.
"Siapa?" Tanya Dhika tak sabar.
"Leonna tidak bisa mengatakannya." Dhika hendak menanyakan lagi tetapi Lita memegang lengannya dan menggelengkan kepalanya seakan memberi tanda ke Dhika untuk tidak bertanya lagi.
"Sebaiknya kita ke kamar yuk, kamu perlu berganti pakaian. Nanti kamu masuk angin," Lita merangkul Leonna hingga terlepas dari pelukan Dhika. Thalita membawa Leonna ke kamarnya dan Dhika masih berdiri di tempatnya menatap kepergian Leonna dan Lita.
'Siapa pria yang menyakiti Leonna?' batin Dhika tak terima melihat anaknya begitu terluka.
Di dalam kamar, Leonna baru saja selesai mandi dan kembali duduk di atas ranjangnya dengan memeluk kedua lututnya. Thalita masuk ke dalam kamar mengantarkan s**u hangat untuk Leonna.
"Minum susunya dulu, Sayang." Lita menyodorkan susunya ke Leonna. Iapun menerimanya dan meneguknya sedikit.
"Apa kamu sudah merasa baikkan sekarang?" Tanya Lita.
"Iya Ma," jawab Leonna lirih.
"Sayang," Lita yang duduk di hadapan Leonna memegang tangan Leonna yang tak memegang gelas s**u. Ia mengusapnya dengan lembut. "saat kita menemukan cinta, kita harus memilih antara untuk jatuh atau untuk bangun. Tidak semua cinta akan membuat kita terus terbangun tanpa pernah terjatuh." jelas Lita membuat Leonna mendengarkannya dengan seksama. "kita boleh jatuh cinta, asal jangan terlalu dalam. Jadi dimana saat kita terbangun, kebahagiaan itu akan datang secara perlahan, dan disaat kita jatuh, kita tak akan terjatuh semakin dalam."
"Apa Mama dulu juga begitu sama cinta pertama Mama." cicit Leonna.
"Mama sama sepertimu, Sayang. Mama terlalu terpesona akan cinta Papa kamu. Tanpa pikir panjang, Mama menyerahkan seutuhnya cinta Mama untuk Papa. Dan kamu tau, saat badai menerjang, Mama tak sanggup menahannya. Mama terjatuh sangat dalam karena cinta." jelas Lita. "Mama ingin kamu tidak merasakan rasa sakit yang pernah Mama rasakan."
"Tapi kan Mama sama Papa sekarang sudah bersatu."
"Karena kami berjodoh. Cinta dan jodoh itu berbeda sayang. Mama bersyukur karena tuhan menjodohkan Mama dengan Papa kamu yang begitu Mama cintai. Tapi belum tentu pria yang kamu cintai saat ini, dia jodohmu." ujar Lita.
"Lalu bagaimana Leonna tau kalau laki-laki itu pantas untuk Leonna berikan cinta tulus Leonna?" Tanya Leonna.
"Dengan orang yang tepat." ujar Lita tersenyum penuh arti.
"Maksud Mama?" Tanya Leonna tak paham.
"Kamu akan memahaminya suatu saat nanti." ujar Lita.
"Aku tidak mengerti maksud mama, cinta, jodoh, orang yang tepat, terbangun, jatuh. Leonna tak paham Ma." ujar Leonna lirih. "tapi rasanya di sini sangat sakit, Ma." ujar Leonna menyentuh dadanya.
"Apa dia menolakmu secara terang-terangan?" Tanya Lita dan Leonna menggelengkan kepalanya.
"Aku bahkan tak mengatakan apapun, tapi dia mengatakan mencintai gadis lain,"
"Maka ikhlaskanlah." Leonna mengernyitkan dahinya tak paham. "cinta tak harus selalu memiliki, hanya dengan melihatnya bahagia. Itu sudah cukup." ujar Lita.
"Tidak bisa seperti itu Ma, bagaimanapun juga tidak ada yang akan bahagia melihat prianya bersama wanita lain." ujar Leonna merengut.
"Kalau kamu memaksanya untuk bersamamu, apa dia akan bahagia? Apa dia bisa membahagiakan kamu? sedangkan dia mencintai wanita lain?" Tanya Lita membuat Leonna terdiam.
"Ya,, ya nggak. Leonna gak tau Ma, Leonna gak tau." ujarnya kembali menangis.
Lita menarik kepala Leonna ke pundaknya dan mengusap kepalanya dengan lembut. "Jangan kamu pikirkan, kamu jalani saja kehidupanmu seperti biasa. Lambat laun semua ucapan Mama akan kamu pahami suatu saat nanti. Kamu akan beranjak dewasa, dan akan banyak pelajaran yang akan kamu dapatkan."
"Mama kamu benar sayang," ujar Dhika yang dari tadi berdiri di ambang pintu memperhatikan kedua wanita yang berharga dalam hidupnya.
"Papa," gumam Leonna menatap ke arah papanya.
"Kamu masih sangat muda, Sayang. Hidupmu bukan hanya untuk sekarang, hidupmu masih panjang. Dan kamu akan semakin memahami apa itu cinta dan lelaki mana yang berhak mendapatkan cinta kamu nanti." ujar Dhika mengusap kepala Leonna.
"Apa mungkin Leonna bisa mencintai pria lain?" gumam Leonna.
"Bisa sayang,," ujar Lita. “Pasti bisa,”
"Tapi Mama sama Papa gak pernah mencintai wanita atau lelaki lain." ujar Leonna membuat Dhika dan Lita terkekeh mendapat pertanyaan anaknya yang bertubi-tubi.
"Begini Leonna sayang, kalau kamu sudah bersama pria yang kamu cintai, apalagi yang kamu mau? Tidak ada keinginan untuk mencintai pria lainnya lagi kan?" Tanya Lita yang di angguki Leonna.
"Misalnya begini, kamu menginginkan sebuah pakaian yang sangat bagus dan mahal, tetapi pakaian itu milik orang lain. Dan kamu memiliki pakaian yang tak kalah bagusnya dan itu begitu cocok saat melekat di tubuh kamu. Kamu mau memilih mana? Merebut milik orang lain, atau merasa cukup dengan pakaianmu?" Tanya Dhika.
"Ya cukup dengan pakaianku, Pa. Aku gak mungkin merebut milik oranglain, tapi apa hubungannya?" Tanya Leonna mengernyit.
"Jawabannya kamu jawab sendiri, kamu gadis yang pintar" Dhika tersenyum misterius membuat Leonna merengut lucu.
"Mama dan Papa malah membuatku semakin galau," rengeknya.
"Sudah, habiskan s**u kamu." ujar Lita Dan Leonnapun meneguk susunya hingga tandas. Dan kembali memberikannya ke Thalita.
"Tapi Leonna ingin memiliki pasangan seperti Papa, Leonna ingin pria itu mencintai Leonna setulus Papa mencintai Mama. Leonna ingin seperti Mama yang selalu bahagia mendapatkan cinta dari Papa." Ujarnya panjang lebar membuat Lita tersenyum.
"Kamu akan mendapatkannya, Mama yakin." Thalita mencium kepala Leonna dengan sayang.
"Mama kamu benar, Princes." ujar Dhika. "Sekarang tidurlah, sudah malam dan jangan menangis lagi seperti tadi, kamu membuat Papa ikut sedih." ujar Dhika mengecup kening Leonna.
"Iya Pa."
"Selamat malam princesnya Mama dan Papa." Lita dan Dhikapun berlalu keluar kamar.
©©©