“Loh kok masuk Perumahan?” Tanyaku bingung saat Bella memasuki komplek Perumahan rumah Aldy.
“Ke temen gue, ada perlu sebentar, rumahnya di komplek ini, gak jauh kok masuk ke dalamnya.”
Bella tidak mengetahui bahwa ini adalah daerah tempat Aldy tinggal. Ia juga terlihat sibuk mengingat dimana letak posisi rumah temannya, lalu ia mengeluarkan ponsel dari dalam sling bag nya kemudian mencoba untuk menghubungi orang tersebut. Di arahkannya setir ke blok C, aku mulai gugup, karena blok C adalah blok rumah Aldy, dan benar saja, kami melewatinya.
Aku merosotkan tubuhku ke bawah, agar tidak begitu terlihat di kaca, ku tutup wajah ku sedikit dengan tas yang ku bawa, saat melintasi rumah Aldy, tepat sekali ia sedang berada di depan halaman rumahnya, duduk di atas motor bersama pacar barunya, Aldy mengenakan kaos putih polos dengan jeans berwarna hitam, kebetulan laju kecepatan mobil yang Bella kendarai sangat pelan karena ia masih sibuk menghubungi serta mengingat dimana letak rumah temannya berada, sampai-sampai sepertinya ia juga tidak menyadari bahwa aku agak sedikit gugup sambil bersembunyi.
Disana juga ada Tante Lidya, mereka bertiga terlihat sedang asyik mengobrol, sepertinya Aldy dan pacar barunya akan pergi ke suatu tempat. Dan benar saja, seperti apa yang aku duga, motornya mulai melaju perlahan ke luar gerbang di saat mobilku telah hampir berlalu melintasi depan rumahnya.
Aku menghela napas panjang, berharap Aldy tidak belok ke kiri agar ia tidak berada tepat di belakang kami, karena ia sangat hapal dengan warna serta nomor plat mobilku. Aku memberanikan diri untuk menoleh ke belakang, syukurlah, ternyata setelah keluar dari gerbang, mereka berbelok ke arah kanan.
“Ah, s**l. Kemana sih cecunguk satu ini?!” Nadanya tinggi sambil memaki di depan layar ponsel yang sedang berada di sebuah panggilan.
“Seharusnya kalian janjian di hari sebelumnya.”
“Sudah, tapi dia susah dihubungi dari sejak gue nunggu lo di depan rumah.”
Aku menghela napas sambil membuang muka dan melanjutkan fokus mendengarkan lagu yang masih terputar di radio tape, Bella mengarahkan setirnya menuju ke luar Perumahan tersebut dan kembali melanjutkan perjalanan menuju tempat souvenir.
Laju kami terhentikan oleh lampu merah, sinar matahari perlahan masuk menembus kaca mobil. Aku menyandarkan tubuhku lagi dan memejamkan mata untuk kembali mendengarkan lagu.
I choose cryin' over you
I choose silence over being lied to
I choose drinkin' alone, drownin' in my tears in my bedroom
'Cause it'll make me happier than you do
I choose crying over you
Bagaimana bisa senyumannya tetap sebahagia itu di saat aku telah tidak lagi berada di sisinya? Bagaimana bisa seseorang yang baru datang di hidupnya dapat membuatnya begitu cepat melupakan seseorang yang pernah mengisi hari-harinya selama ratusan hari? Bagaimana bisa ia terlihat bahkan jauh lebih baik saat bersamanya dibandingkan saat bersamaku. Dan lagi, bagaimana bisa aku melupakannya jika dalam keadaan terpejam saja wajahnya masih bisa ku lihat dengan jelas.
Tak ingin terus menerus melihat bayangannya saat terpejam, aku mencoba membuka mata dengan perlahan. Ku lihat, tinggal tersisa 25 detik lagi untuk lampu berubah menjadi warna hijau, aku menoleh ke arah samping kiri yang ternyata berpapasan dengan datangnya pengendara sepeda motor yang tak lain adalah Aldy dengan pacar barunya. Aku yang terkejut menyadarinya langsung bersembunyi menutupi wajahku di bawah Air conditioner mobil.
“Hah? Ada apa sih, Kak?” Bella terkejut melihatku yang spontan bersembunyi dengan posisi duduk tetapi badan tegeletak di atas jok.
“Gak, ini ada yang jatuh. Lo fokus aja ke depan.” Aku pura-pura membuat tanganku sibuk mencari seakan-akan benar-benar ada sesuatu yang jatuh. “Cepat jalan!!!” Lanjutku.
“Sabar, ini masih belum hijau.”
“Berapa detik lagi?” Aku bertanya tanpa berani mengangkat kepalaku sama sekali.
“Loh, Kak? Itu bukannya Kak Aldy?!” Tanyanya tanpa menjawab pertanyaanku.
Aku melongok ke arahnya yang hampir menunjuk Aldy dan pacar barunya, ku tepis tangannya lalu ku palingkan wajahnya ke arah kanan agar Aldy tidak melihatnya dari luar sana.
*tin... tiiiinnn...*
Bunyi klakson dari beberapa pengendara di sekitar yang memberi tahu bahwa lampu telah berganti menjadi warna hijau.
Bella kembali memalingkan wajahnya ke depan untuk fokus menyetir. Motor yang di kendarai oleh Aldy dan pacar barunya telah melaju lebih dulu dari kendaraan kami.
“Itu beneran Kak Aldy kan, Kak? Gue hapal banget sama motornya.” Ia kembali menanyakannya.
“Iya.”
“Itu.. siapa yang ia boceng?” Nadanya terdengar ragu untuk pertanyaannya kali ini.
“Pacar barunya.”
“DEMI APA SIH, KAK?!!!” Jawabnya spontan dengan terkejut.
Aku tidak menjawabnya kali ini, lebih memilih diam sambil kembali menekan tombol di radio tape untuk mencari lagu yang enak untuk ku dengar.
“Lo tahu dari mana itu pacar barunya? Bisa aja mereka cuma teman, atau mungkin sepupu?” Seakan tak puas dan tidak percaya atas jawaban yang telah aku lontarkan, ia kembali menyakannya lagi untuk memastikan.
“Teman atau sepupu macam apa yang akan menyuapinya ketika ia sakit?” Tatapku ke arahnya yang sedang menyetir dengan wajah gelisah.
“Me.. menyuapinya? Kapan dan dimana.. kamu melihatnya?” Nadanya kembali terdengar terbata-bata.
“Waktu ia di rawat di rumah sakit.”
Tidak ada pertanyaan lagi yang ia lontarkan, Bella berhenti di pertanyaan tadi, aku rasa ia sedikit merasa tidak enak karena telah menanyakan hal tersebut kepadaku. Ia terdiam sambil kembali memfokuskan pandangan ke jalan.
“Bagaimana?” Tanyaku setelah kami berdiam cukup lama.
“A.. apanya?”
“Bagaimana menurutmu soal ini?”
“Bagaimana perasaanmu kepadanya saat ini?” Tanyanya dengan nada yang begitu lembut, begitulah ia dengan dirinya, terkadang jika ia merasa aku telah tersakiti, ia akan berucap dan berkelakuan manis meskipun hanya beberapa saat.
Aku terdiam, dan lagi-lagi sambil menghela napas panjang, ku tatap arah ke luar kaca.
“Aku.. masih menyayanginya.” Ucapku dalam hati.
We fell so far away from where we used to be
Now we're standing and where do we go
When there's no road to get to your heart?
Let's start over again
Radio tape masih memutar lagu, berapapun lagu yang ku dengar, hampir setiap liriknya selalu mengingatkan ku padamu, kata “kembali” kini bukan lagi menjadi cara untuk kita memperbaikinya. Sekali pun iya, kembali mu sudah bukan untukku lagi, di saat aku masih berusaha menempuh berbagai macam cara agar dapat kembali, meski bukan untuk berlabuh di dermagamu lagi.
***
Kami telah selesai dari tempat souvenir dan melanjutkan perjalanan untuk kembali pulang ke rumah. Aku mengecek ponselku, waktu menunjukan pukul 13:15, sepertinya masih cukup untuk menghabiskan sabtu ku di toko buku.
“Stop, berhenti disini saja.” Aku memasukan ponsel ke dalam tas dan menggantungkan rantai tas ke bahu sebelah kiri. “Gue mau cari buku baru.” Lanjutku sambil beranjak ke luar mobil.
“Loh, nanti pulangnya gimana?” Tanyanya dari balik kaca.
“Jarak dari sini ke rumah itu dekat, gue bisa jalan kaki nanti.”
“Hubungi gue ya kalau lo butuh dijemput.” Ia menutup kaca kemudian berlalu.
Aku menyebrangi jalan untuk dapat masuk ke toko buku, melangkahkan kaki dengan agak cepat saat kondisi jalanan terlihat sepi. Ku buka pintu dan berjalan masuk ke dalam untuk mencari buku baru yang akan k*****a di hari ini, setelah mendapatkannya, aku menuju tempat duduk yang biasa aku duduki ketika membaca. Saat hendak berjalan kesana, aku melihat seorang laki-laki telah duduk persis di tempat biasa aku duduk, aku terkejut, meskipun lelaki itu duduk membelakangiku, tapi aku kenal betul bahwa itu adalah Aldy, bahkan ia masih mengenakan kaos putih serta celana jeans berwarna hitam yang tadi ia pakai saat pergi bersama pacarnya. Aku melihat ke arah sekitar untuk mencari tahu apakah pacarnya juga berada disini, karena yang aku tahu, mereka selalu bersama, ku kelilingi toko buku ini perlahan, tapi aku tidak menemukan keberadaannya, dan ku pastikan bahwa ia kesini hanya seorang diri.
Aku kembali berjalan menuju tempat dimana ia duduk dan mencoba bersembunyi di balik rak tumpukan buku-buku yang jaraknya tidak jauh dari tempat duduknya. Tak lama kemudian ia berdiri, tangannya terlihat menenteng sebuah buku yang mungkin tadi sedang dibacanya, ia berjalan menuju ke luar toko buku ini. Aku mengintip dan memastikan jika ia benar-benar sudah menaiki sepeda motornya dan pergi menjauh dari sini, setelah ia benar-benar pergi dari sini, aku langsung duduk di tempat yang tadi didudukinya. Ku taruh tasku di atas meja dan memulai membuka halaman demi halaman buku yang tadi ku ambil.
Di tengah-tengah asyik membaca, tiba-tiba sebuah tangan memegang bahu sebelah kiriku, aku memejamkan mata dengan napas tak beraturan, mengapa Aldy kembali lagi kesini? Apa ada barangnya yang tertinggal? Aku memberanikan diri untuk berdiri dan membuka mataku.
“Aku sibuk, tidak punya waktu untuk bicara.” Kataku sambil mencoba berjalan menjauh tanpa menoleh ke arahnya.
“Loh, Nyn?” Ia menarik tanganku yang hendak menghindarinya.
“Aku bilang aku si...” sebelum berhasil menyelesaikan ucapanku, aku dikejutkan saat menoleh yang kudapati adalah sosok Andri.
“Andri?”
“Iya, memangnya kamu kira siapa?” Ekspresi wajahnya menatapku dengan heran.
“Oh, eng.. kamu kok disini?” Tanyaku mengalihkan pertanyaannya.
“Iya, aku bosan di rumah, jadi aku memutuskan untuk kesini.” Jawabnya sambil tersenyum. “Kenapa chatku belum dibalas?”
“Oh?” Aku menatapnya dengan bingung sambil mencoba meraba dan mengambil handphone dari dalam tas. Saat ku ketuk layar dan berhasil menyala, terlihat 3 pesan singkat serta 1 panggilan tidak terjawab darinya, dan aku baru menyadari bahwa handphone ku berada di mode getar.
“Ah iya ternyata aku gak sadar kalau kamu menelpon, hapeku mode getar.” Aku tertawa kecil ke arahnya.
“Haha, gak apa-apa.” Ia mencoba menarik kursi di ujung meja ke dekat kursiku kemudian duduk.
“Buku apa yang kamu bawa?” Tanyaku sambil kembali duduk ke kursi yang berada di sebelahnya.
“Oh, ini, genrenya horror gitu, aku akan baca nanti di rumah. Kamu mau baca duluan?” Disodorkannya buku itu ke arahku.
“Enggak, gak usah, makasih. Aku udah ada buku buat di baca nanti malam.”
Tiba-tiba saja terdengar suara gemuruh dari langit, tanpa sadar, langit telah mengabu, menandakan tidak lama lagi hujan akan turun.
“Eh? Perasaan tadi cerah.” Tanyaku heran. “Aku harus cepat pulang, apa kamu masih mau disini?” Aku menoleh ke arah Andri yang terlihat sedang asyik membaca halaman pertama dari buku yang dipegangnya.
“Kamu bawa kendaraan?”
Aku menggeleng ke arahnya.
“Ayo ku antar.” Lanjutnya.
Aku memasukan buku ke dalam tas, agar jika di tengah perjalanan turun hujan, buku ini akan terselamatkan.
“Ini. Jangan sampai ketinggalan.” Ia memberikan sebuah tumbler berukuran sedang, tumbler tersebut terbalut dengan kantong berbahan kain yang berwarna cream.
“Apa ini?” Tanyaku bingung.
“Loh, aku kira ini punya kamu, soalnya aku lihat ini ada di meja.” Jawabnya sambil menunjuk pojok meja yang kami duduki.
Aku mencoba membukanya, tumbler berukuran sedang berwarna hitam dengan beberapa corak di bagian depannya, tumbler Aldy. Ya, aku kenal betul kalau tumbler ini adalah miliknya, tumbler yang selalu ada di dalam mobilnya.
“Ini tumbler temanku, dia memang sering mengunjungi toko buku ini juga, kayaknya dia lupa kalau ia menaruhnya disini, biar aku kembalikan besok.”
Andri mengangguk sambil mengajakku keluar menuju tempat dimana motornya terparkir, dan kami langsung bergegas pulang sebelum hujan akhirnya benar-benar turun membasahi.