Tumbler yang tertinggal

1828 Words
*Kringgggg* Bunyi alarm di handphone berhasil membangunkanku dari tidur. Jam menunjukan pukul 08:15 Wib. Hari ini adalah hari minggu, waktu yang tepat untukku pergunakan beristirahat setelah 5 hari bekerja, berat sekali rasanya untuk bangkit dari kasur, rasanya, aku hanya ingin merebahkan diriku seharian ini. Tapi aku harus bangkit, karena perutku sudah mulai keroncongan. Aku mengambil kuncir rambut yang terletak persis di samping bantal tidurku, ku ikat rambut dengan acak sambil berjalan menuju ke bawah. Ku lihat meja makan sepi, juga tidak ku temukan satupun makanan yang bisa ku makan di sana, Cila sedang asyik bermain bersama boneka beruang kesayangannya.   “Cila, Mama kemana?” Diangkatnya kedua bahunya yang menandakan kalau ia tidak tahu.   “Ke pasar.” Tiba-tiba Bella datang dari arah luar.   “Tumben jam segini baru ke pasar?” Tanyaku.   “Entah, kata Papa sih kesiangan bangun.” Langkah kaki ku lanjutkan menuju kulkas, berharap disana terdapat beberapa camilan yang setidaknya dapat mengganjal rasa laparku. Beruntungnya, meskipun hanya ada 1 chiki dengan rasa jagung bakar, setidaknya itu akan membuat perutku berhenti berbunyi.   “Drive thru yuk, Kak.” Ajak Bella sambil duduk di sofa depan televisi.   “Ah, malas sekali rasanya. Hari minggu ini gue cuma mau rebahan.” Ku bawa camilan itu dan ikut duduk disampingnya.   “Kan gue yang nyetir.”   “Gak. Malas mandi.”   “Gilak. Malasnya gak ke tolong.” Wajahnya cemberut karena aku tidak memenuhi keinginannya untuk drive thru makanan. Aku meraih remote tv yang berada di atas meja, mengganti siaran dari satu channel ke channel lainnya, tidak ada satu acara pun yang membuatku ingin menontonnya. Aku mempercepat kunyahan, setelah camilan ini habis, ku buangnya ke tempat sampah dan kembali menuju kamar untuk merebahkan diri. Hanya mengotak-atik handphone sambil menyalakan lagu, satu persatu aplikasi ku buka, kemudian ku tutup, dan kembali kubuka lagi. Membosankan sekali, tapi aku pun enggan untuk melakukan sesuatu. *tok.. tok.. tok..* terdengar seseorang mengetuk pintu kamarku.   “Masuk, nggak aku kunci.” Teriakku sambil menguap. Decitan pintu mengiringi suara langkah kakinya yang berjalan masuk ke kamarku.   “Minta lotion, Kak, lotion gue habis.” Ia berjalan ke arahku kemudian duduk disampingku yang sedang bermalas-malasan di atas kasur.   “Ambil aja di laci.” Di bukanya laci yang letaknya berada persis di sebelah kasurku, diambil dan dituangkannya lotion tersebut ke telapak tangan hingga akhirnya ia baluri ke seluruh permukaan kulitnya.   “Ih, bagusnyaaaa. Tumbler siapa ini?” Tangannya meraih tumbler dari dalam laci yang belum sempat ia tutup kembali. Aku spontan terbangun dari kasur, ku ambil tumbler itu dari genggamannya.   “Jangan, tumbler teman gue. Nanti rusak.” Ia memasang ekspresi jengkelnya sambil kembali menaruh tumbler dan lotion ke dalam laci, kemudian menutupnya.   “Thanks, ya?” Ucapnya saat selesai sambil berjalan ke luar kamarku menuju kamarnya. Hampir saja aku lupa kalau tumbler Aldy yang tertinggal kini masih berada di kamarku. Tapi, bagaimana caranya aku mengembalikan tumbler ini? Apa aku harus datang ke rumahnya? Dan sudah dipastikan aku akan bertemu ia dan pacarnya. Setelah beberapa menit terdiam dan berpikir sejenak, akhirnya aku memutuskan untuk memberanikan diri ke rumahnya untuk mengembalikan tumbler ini. Aku beranjak dari kasur, kemudian meraih handuk dari gantungan yang berada di balik pintu kamar untuk mandi, karena takut tidak sempat mengembalikan tumblernya di hari kerja, aku akan ke rumahnya saat ini juga. Tumbler ini sepertinya selalu berada di dalam mobilnya, jadi, aku rasa ia akan sangat kehilangan saat menyadari bahwa tumblernya hilang. *** Aku mengambil uang dari dalam dompet sesuai nominal yang tertera di aplikasi, ku beri uang itu ke driver ojek online tersebut dan perlahan turun dari motornya.   “Kembaliannya, Kak.” Tangannya masuk ke dalam saku untuk mengambil uang kembalian kemudian mencoba untuk memberikannya kepadaku.   “Gak usah, Pak. Itu tip untuk Bapak.”   “Terima kasih.” Driver itu tersenyum sambil berlalu, sekarang aku telah berdiri di depan gerbangnya, mataku mencoba untuk menelusuri keadaan di dalam rumahnya dari sini, tidak ada Aldy ataupun pacar barunya, halaman rumahnya terlihat sepi di minggu kali ini. Aku melangkahkan kaki perlahan untuk masuk ke dalam, hingga berhasil sampai di depan pintu rumahnya. Ku intip sedikit ke arah ruang tamu, aku tidak menemukan siapapun juga disana, hanya terdengar samar suara televisi yang menyala. Ku hela napas panjang sebelum memberanikan diri untuk mengetuk pintu. *tok.. tok.. tok..” ku ayunkan tangan ke arah pintu untuk mengetuk. Sekali lagi, suasana masih sunyi, tidak terdengar adanya jawaban apapun dari dalam sana, aku mencoba untuk mengetuknya kembali, setelah ketukan kedua, terdengar langkah kaki seseorang berjalan ke arah pintu.   “Non, Arnyn?” Ucap seorang wanita paruh baya itu dengan senyum sumringahnya saat berhasil membukakan pintu.   “Bi Wati?” Teriakku bahagia. Sudah lama sekali rasanya tidak melihatnya dari semenjak hubunganku dengan Aldy mulai tidak baik-baik saja. Bi Wati ini adalah seorang Pekerja Rumah Tangga yang bekerja di rumah Aldy dari sewaktu Aldy umur 8 tahun hingga saat ini. Aku dan Bi Wati cukup dekat, karena keramahan serta kebaikan hatinya, membuatku merasa nyaman jika berbicara dengannya.   “Non kemana saja? Bibi sampai kangen. Mari, Non, masuk ke dalam.” Saat ia mempersilakanku untuk masuk ke dalam, tak lama kemudian, seseorang dari dalam ikut keluar menghampiri kami, betapa terkejutnya aku saat melihat bahwa sosok tersebut adalah pacarnya Aldy.   “Ada sia...pa, Bi?” Ekspresi wajahnya juga terkejut begitu melihatku.   “Oh, kenalin, Non. Ini Non Arnyn.”   “Siapa, Sha?” Tiba-tiba terdengar suara Aldy teriak dari dalam.   “Ini.” Dengan spontan aku memberikan tumbler yang sedari tadi ku genggam ke tangan pacarnya itu. “Aku cuma mau mengembalikan ini, aku menemukannya di toko buku, aku rasa ini milik Aldy. Aku pamit. Permisi.” Lanjutku dengan tergesa-gesa sambil berjalan cepat menuju luar gerbang karena khawatir akan bertemu Aldy. Wajah perempuan itu terlihat bingung ketika aku berbicara dengan cepat dan langsung bergegas pergi, sampai-sampai ia belum sempat mengucapkan satu kata pun. Aku bersembunyi dibalik dinding gerbang rumahnya, terdengar beberapa perakapan yang terjadi di antara mereka.   “Ada siapa, sih?” Tanya Aldy lagi.   “Barusan Non Arnyn datang, Den.” Jelas Bi Wati.   “Ha? Dimana?” Tanya Aldy bingung karena telah melihatku sudah tidak ada disana.   “Sudah pergi, dia hanya kasih ini dan kemudian langsung keluar terburu-buru sewaktu dengar suara kamu dari dalam.” Sahut pacarnya menjelaskan. Aku melanjutkan langkahku untuk berlari menjauhi rumahnya, sampai akhirnya kutemukan sebuah bangku kosong di dekat lapangan. Dengan napas yang terengah-engah, aku menuju kesana untuk duduk sejenak. Apa mereka benar-benar selalu bersama di setiap weekend seperti ini? Mereka terlihat seperti dua insan yang tidak pernah terpisahkan. Kejadian tadi harusnya membuatku tersadar bahwa Aldy benar-benar sudah melupakanku. Al, bukankah kamu yang telah mengajariku untuk selalu bergantung padamu? Kini apa yang harus aku lakukan jika aku telah terbiasa akan hal itu di saat kita sudah tidak lagi bersama? Setidaknya, ajariku cara agar dapat melupakanmu juga, meskipun perpisahan ini atas kemauanku, tapi mengapa harus kamu lebih dulu yang dapat menemukan alasan untuk kembali tersenyum? Al, apakah perempuan itu yang menjadi alasanmu terlalu banyak berpikir untuk segera menikahiku? Apa perempuan itu telah hadir di saat hubungan kita masih terbilang baik-baik saja? Karena berjalan masing-masing untuk mendapatkan tujuan baru sangat terlihat begitu mudahnya untukmu. Tidakkah kamu menyadari bahwa aku kesulitan melangkah seorang diri? Tidakkah kamu menyadari bahwa aku menyesal telah memilih untuk sendiri? Meski terdengar tak tahu diri, tapi aku benar-benar ingin kembali. Sungguh. Awan kembali mengabu, angin bertiup cukup kencang, berhasil membuatku memeluk tubuh sendiri dengan erat. Sebelum hujan berhasil turun, aku langsung membuka handphone dan memesan ojek online melalui aplikasi, tidak sampai 5 menit menunggu, driver yang ku pesan telah sampai di titik penjemputanku. Ia memberikan helmnya dan mempersilakan aku untuk naik, angin kembali berhembus kencang, langit semakin gelap, daun-daun mulai berterbangan kemana-mana karena tertiup angin. Saat beberapa menit lagi sampai, tiba-tiba kami terhenti di sebuah kedai makanan yang jaraknya tidak terlalu jauh dari toko buku yang biasa aku datangi.   “Loh? Kenapa, Mas”   “Gak tau, Mbak. Seharian ini motor saya udah mogok 3 kali.” Jawabnya sambil menoleh ke arahku.   “Yaudah, saya turun disini aja. Ini uangnya.” Ucapku.   “Terima kasih, saya mohon maaf ya, Mbak, tidak bisa mengantarkan sampai ke tempat tujuan.”   “Iya, tidak apa-apa.” Lagi-lagi, aku mengalami hal seperti ini, dan untungnya jaraknya sudah selalu hampir tidak jauh dari rumahku, aku memutuskan untuk berjalan kaki, ku percepat langkah selama hujan masih belum turun. Baru saja berjalan beberapa langkah, tiba-tiba hujan turun dengan derasnya, aku berlari menyebrang menuju toko buku dan memutuskan untuk berteduh disana. Terlihat juga beberapa orang berlarian untuk meneduh, kali ini, aku tidak masuk ke dalam, hanya menunggu hujan reda di depan toko buku bersama beberapa orang lainnya.   “Yah, deras lagi.” Tak lama, seorang laki-laki keluar dari dalam toko buku.   “Eh? Andri?” Sapaku saat menyadari bahwa laki-laki itu adalah seseorang yang kukenal.   “Arnyn? Kamu ngapain disini?”   “Neduh, hehe.”   “Hey, kamu basah kuyup gini. Ayo ke dalam, disini dingin.” Ditariknya tanganku menuju ke dalam toko buku untuk menghangatkan diri.   “Ini. Pakai jaketku.” Ia mengeluarkan jaket dari dalam tasnya lalu memakaikannya untukku.   “Kamu habis dari mana?” Lanjutnya.   “Dari rumah temanku, ngembalikan tumblernya.”   “Yang kemarin tertinggal disini?” Aku mengangguk.   “Kenapa gak hubungi aku? Aku bisa antar kamu kesana.”   “Nggak perlu, aku gak mau merepotkan kamu.”   “Sejak kapan kamu bisa ngomong kayak gitu ke aku? Aku gak pernah merasa direpotkan.” Entah kenapa tatapan matanya kala itu terlihat khawatir. Aku hanya melipat kedua bibirku tanpa menjawab ucapannya.   “Lain kali, kalau kamu malas bawa kendaraan dan gak ada yang bisa antar kamu, hubungi aku, ya?”   “Iya.” Aku kembali mengangguk sambil tersenyum ke arahnya. Ia pun ikut tersenyum sambil mengusap kepalaku.   “Mau langsung balik? Kebetulan aku lagi bawa mobil.”   “Boleh. Yuk.” Kami berjalan ke luar toko buku, hujan masih lumayan deras meskipun tidak sederas tadi.   “Hmm, tapi hujannya masih cukup deras.”   “Gak masalah.” Ia tersenyum sambil mengangkat tasnya ke atas kepalaku agar kepalaku tidak terkena hujan, kami berlari sedikit menuju mobil yang terparkir di depan toko buku. Kejadian ini mengingatku sewaktu masa-masa sekolah dulu, saat ia mengeluarkan buku paketnya dan meletakannya tidak jauh dari atas kepalaku agar aku tidak silau terkena sinar matahari yang saat itu sedang terik-teriknya ketika kami sedang dijemur di lapangan untuk mendengarkan pengumuman. Kala itu aku merasa menjadi wanita paling beruntung di dunia.   “Kan, sekarang jadi kamu yang basah.” Ucapku saat ia berhasil ikut masuk ke dalam mobil.   “Cuma sedikit, kok. Lagian jarak dari teras toko buku ke mobil gak begitu jauh.” Ia tersenyum sambil mulai menjalankan mobilnya. Mengingatnya menatapku dengan khawatir sambil menawarkanku untuk selalu menghubunginya ketika berpergian, membuatku takut untuk berketergantungan kepada seseorang lagi. Aku tidak ingin di saat aku telah berhasil melupakan Aldy, kemudian berganti menjadi mulai bergantung kepada Andri. Bagaimana jika semesta mengambil Andri pergi dari hidupku untuk yang kedua kalinya? Aku akan kembali merasakan susah payah untuk membiasakan diriku melakukan segalanya sendirian lagi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD