Aileen, yang berarti Cahaya Matahari

1567 Words
Tidak menghabiskan waktu yang lama, kami telah sampai di rumahku, karena jarak dari toko buku ke rumahku memang cukup dekat, bahkan bisa ditempuh dengan berjalan kaki.   “Kamu mampir dulu ya ke rumah, baju sama kepala kamu basah, nanti kamu sakit.”   “Apa gak merepotkan kamu?” Aku menggeleng sambil tersenyum ke arahnya, kami melangkah ke luar dari mobil dan berjalan masuk ke dalam. Di ruang keluarga terdapat Mama, Papa, dan Cila sedang berkumpul sambil memakan beberapa camilan yang tersedia di atas meja.   “Assalamualaikum”   “Waalaikumsalam” mereka menjawab salamku dengan serempak.   “Astaga, pada basah gini.” Mama melihat rambut dan kaos kami yang basah. “Nyn, cepat kamu salin, biar Mama yang carikan handuk untuk Andri.” Lanjutnya sambil berjalan masuk ke kamar.   “Terima kasih, Tante.”   “Duduk, Ndri.” Ucap Papa yang mempersilakannya untuk duduk.   “Iya, Om.” Kini mereka duduk berdekatan di kursi yang sama.   “Kalian habis dari mana?”   “Andri dari toko buku, Om, gak lama ketemu Arnyn lagi neduh di luar, jadi Andri antar pulang.”   “Wah, terima kasih, loh. Maaf kalau Arnyn merepotkan.”   “Ndri, aku ke atas sebentar, ya?” Kataku di sela-sela percakapan mereka. Andri mengangguk sambil tersenyum, aku membiarkannya mengobrol dengan Papa di sana, kemudian aku bergegas naik ke atas.   “Kak? Baru pulang?” Bella bertanya saat melihatku berjalan melintasi kamarnya menuju kamarku.   “Iya.”   “Ada siapa di bawah?”   “Andri.” Teriakku agar terdengar olehnya, karena aku telah berhasil masuk ke dalam kamar. Tanpa mempunyai keinginan untuk melakukan hal lain, aku langsung mengambil handuk serta mengeringkan rambutku dengan hair dryer, setelah rambut berhasil kering dan telah mengganti pakaianku yang basah, aku kembali berjalan turun menuju ruang keluarga untuk menemui Andri. Ia masih terduduk di sana bersama Papa sambil menatap layar televisi, baju basahnya telah berganti menjadi baju kepunyaan Papa, rambutnya pun sudah mulai mengering.   “Lucu ih lihat kamu pakai baju Papa.” Papa dan Andri hanya tertawa satu sama lain, Mama yang kemudian datang dari arah dapur sambil membawa dua cangkir teh hangat, menghampiri kami dan menaruhnya di atas meja.   “Diminum ya, Ndri, mumpung masih hangat. Tante tinggal dulu ke dalam, ngantuk soalnya.” Mama tersenyum ke arah Andri yang membalas senyumannya sambil mengangguk serta mengucapkan terima kasih, sebelum masuk ke dalam kamar, ia menghampiri dan menggendong Cila yang tengah bermain di samping pintu kamar untuk ikut tidur bersamanya. Tak lama dari itu pun Papa juga bangkit dari tempat duduknya dan pamit untuk masuk ke dalam kamar. Aku duduk di karpet di depan sofa yang di dudukinya.   “Kamu kenapa duduk di bawah? Sini naik.” Ia menarik tanganku yang duduk membelakanginya.   “Nggak mau, aku lagi pingin duduk disini.”   “Masa yang punya rumah malah duduk di bawah, cepat naik!”   “Ih, gak apa-apa, aku memang lebih sering duduk di depan sofa gini, enak, lebih dekat sama meja.” Sahutku sambil menunjuk meja yang di atasnya terdapat beberapa jenis camilan.   “Dasaaaar.” Dicubitnya pipiku dengan gemas. Aku menoleh ke arahnya, ia terlihat asyik menyeruput teh dengan perlahan sambil menatap layar televisi yang saat itu sedang menayangkan film horror yang telah diputar di bioskop sebelumnya.   “Kamu udah pernah nonton ini belum? Kata temanku seru.”   “Belum.” Jawabku   “Bagus, jadi kita sama-sama belum tahu jalan ceritanya.” Kami menonton sangat serius sampai tidak ada satu percakapan pun yang terjadi antara aku dengannya. Setelah beberapa lama menonton, kemudian film tersebut berganti menjadi iklan untuk beberapa saat, aku menyeruput teh yang dari tadi masih belum ku sentuh sambil mengambil sebuah camilan kacang panggang di dalam toples yang ada di atas meja.   “Nih. Mau gak?” Aku menoleh ke arahnya yang duduk di belakangku sambil menyodorkan toples berisi kacang tersebut, tapi rupanya ia telah tertidur, posisi duduknya pun telah berganti, kepalanya berada di ujung sofa bagian kiri dan kakinya terjulur lurus ke ujung bagian kanan.   “Hmm, pantas saja ia tidak berbicara sama sekali.” Gumamku dalam hati. Aku membuka handphone dan mengirimi pesan singkat ke Bella untuk mengambilkan selimut lalu melemparkan ke bawah. Saat terdengar suara langkah kakinya keluar dari kamar, aku langsung berlari menunggu di bawah tangga dan ia bersiap melemparkannya dari atas. Aku kembali menghampiri Andri yang masih tertidur lelap di atas sofa, ku pakaikan selimut itu untuknya, karena hujan di luar masih cukup deras dan udara lumayan begitu dingin meskipun kami berada di dalam rumah. Aku mengusap rambutnya perlahan sambil memperhatian wajahnya yang terlihat begitu pulas, ku usap pula pipinya yang sedikit jauh lebih chubby dari terakhir aku melihatnya sewaktu jaman sekolah. Ndri, terima kasih telah hadir di saat aku merasakan kehilangan. Setidaknya, hariku kembali berwarna meskipun belum secerah sewaktu aku bersama Aldy. Aku hanya berharap, datangnya kamu adalah alasan Tuhan untuk membahagiakanku dengan cara baru-Nya. *** Aku terbangun dari tidur saat merasakan tangan seseorang mengusap kepalaku dengan lembut, ku buka mata perlahan, wajah Andri terlihat jelas disana memandangku sambil tersenyum. Selimut yang tadi ku pakaikan untuknya kini melekat di tubuhku.   “Eh, udah bangun. Selamat sore, Arnyn Aileen.” Senyumnya masing tergambar jelas di raut wajahnya. Arnyn Aileen, ya, itulah nama lengkapku. Sebuah nama yang diberikan oleh Almarhum Kakek, Ayah dari Mamaku. Beliau meninggal saat aku baru berusia 4 tahun, sama seperti usia Cila saat ini. Beberapa minggu sebelum kepergiannya, ia sempat bercerita padaku bahwa nama Aileen berasal dari bahasa Skotlandia, yang artinya adalah Cahaya Matahari. Ia juga berkata, di hari kelahiranku, ia melihat seperti Cahaya Matahari yang baru saja keluar dari rahim anak perempuannya yang akan menyinari hari-harinya di masa tua, tangisan manja serta wajahku yang cantik membuat seisi ruangan di Rumah Sakit tersebut memujiku di hadapan mereka (keluargaku). Itulah sebabnya ia langsung meminta izin untuk memberikan nama pada cucu pertamanya.   “Aduh maaf, aku ketiduran.” Sambil menggosok-gosakan mata dengan tangan.   “Aku yang seharusnya minta maaf karena ketiduran, padahal kita lagi asyik nonton film horror. Dan ngebiarin kamu tidur di bawah dengan posisi duduk kayak tadi.” Balasnya.   “Gak apa-apa, yang namanya ketiduran itu, mau posisi kayak gimana juga tetap aja enak.” Aku tertawa ke arahnya yang juga ikut tertawa mendengar ucapanku.   “Udah sore, aku pamit pulang, ya?” Ia melihat ke arah jam dinding yang menunjukan pukul 16:45 WIB. “Salam buat Mama sama Papa, kayaknya mereka masih tidur di dalam.” Lanjutnya.   “Iya, kamu hati-hati ya di jalan, kabarin aku kalau udah sampai.”   “Siap, Putri Aileen” jawabnya semangat sambil posisi hormat ke arahku. Aku hanya tersenyum melihat kelakuannya yang menggemaskan kala itu.   “Gak usah antar aku ke depan, kamu langsung naik aja ke atas, mandi, sudah sore. Daaah, sampai ketemu besok!” Ia melangkahkan kakinya ke luar menuju mobil. Aku hanya melihat mobilnya keluar jalan dari dalam rumah, hujan telah berhenti kala itu. Di depan gerbang, ia membuka kaca mobilnya dan melambai ke arahku sebelum akhirnya melajukan kendaraannya. Aku yang habis melambai kembali ke arahnya langsung pergi naik ke atas menuju kamarku dan bergegas untuk mandi.   “Siapa dia?! Kamu ngapain disini sama laki-laki ini?” Aldy menghampiriku yang sedang duduk sambil menikmati secangkir latte bersama Andri.   “Kamu apa-apaan sih?” Aku yang terkejut karena kedatangannya membalas pertanyaannya dengan nada tinggi.   “Kamu yang apa-apaan?! Jadi ini alasan kamu paksa aku untuk nikahin kamu secepatnya? Karena kamu tahu kalau aku belum bisa menuhi permintaan itu, kan? Jadi kamu pergi tinggalin aku supaya bisa dekat sama lelaki ini, iya?!” Matanya menatap tajam ke arahku, wajahnya merah padam, ia terlihat sangat marah, ekspresi wajah yang tidak pernah aku lihat sebelumnya dari dirinya. Andri telihat bingung dengan kondisi seperti ini, ia hanya berdiri disana melihat Aldy yang tiba-tiba datang menghampiri.   “Terus? Apa bedanya sama kamu? Kamu gak bisa menuhin keinginan aku untuk nikah karena kamu selingkuh kan?! Kamu urus aja pacar baru kamu itu, dan jangan pernah ganggu aku lagi!” Aku menarik Andri pergi dari sana.   “Mau kemana kamu?!” Aldy menarik kasar tanganku.   “Lepas. Bukan urusanmu.” Aku mencoba melepaskan tangannya yang menggenggam pergelangan tanganku dengan erat.”   “Beraninya kamu! Dasar perempuan s****n!” Teriaknya sambil hendak menampar pipiku. “Hosh.. hosh.. hosh..” aku terbangun dari tidur dengan napas yang terengah-engah. Keringat mengalir deras di tubuhku, mimpi macam apa ini? Kenapa bisa-bisanya aku memimpikan Aldy seperti itu? Kenapa wajahnya begitu marah sangat mengetahui keberadaan Andri di hidupku? Aku membuka handphone, melihat jam berada di pukul 01:30 dini hari, lalu aku beranjak dari kasur untuk mengambil gelas berisi air yang berada di atas meja riasku, hanya dengan beberapa kali tegukan, air di gelas tersebut berhasil kuhabiskan, setelah merasa cukup lebih baik, aku kembali melanjutkan tidur, karena harus bangun pagi hari untuk bekerja. *kringgg* dering handphone membangunkanku sebelum alarm berhasil melakukannya.   “Halo?” Kuangkat telepon dengan mata yang masih dalam kondisi tertutup.   “Nyn, gue lagi di tempat Tante gue, nih. Nanti gue samper lo ke rumah ya buat berangkat bareng. Kebetulan nanti lewat depan rumah lo.”   “Hmm.”   “Lo baru banget bangun ya? Cepat pergi mandi.”   “Iya. Dah.” Aku beranjak dari kasur masih dalam ke adaan setengah terbangun.   “Astaga anak ini. Seharusnya aku masih bisa tidur selama 7 menit lagi, tapi aku jadi terbangun karena ia menelpon.” Ucapku saat melihat jam di handphone masih butuh waktu 7 menit lagi untuk alarm berbunyi. Dengan langkah malas, ku coba beranjak dari kasur untuk menuju kamar mandi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD