Andri berdiri dari tempat duduknya, kemudian ia melihat jam di dinding yang menunjukkan pukul 16:00.
“Abel, mau ke taman lagi gak?” Tanyanya.
“Mauuuuu! Ayo Kak Arnyn kita ke taman lagi.” Ia menarikku ke luar menuju mobil.
Seperti sebelumnya, aku duduk di sebelah Andri, sementara Abel di kursi belakang, kami kembali menuju taman yang beberapa waktu lalu kami datangi.
“Yah, kok gak ada yang jual es krim, Kak?” Tanyanya ke Andri saat kami turun dari mobil karena telah sampai di taman.
“Nanti lagi ya belinya, lagian kan Abel dari kemarin sudah makan es krim, nanti sakit, lho.”
Ia hanya terdiam kemudian berlari menuju ayunan yang letaknya hampir tepat di tengah-tengah taman ini. Aku dan Andri duduk di kursi yang jaraknya tidak jauh dari tempat Abel berayun.
“Nyn, ada dua hal yang ingin aku katakan.” Ia menatap ke arahku dengan sorot matanya yang teduh.
“Aku, mencintaimu, Nyn.”
Aku masih terdiam sambil menatap matanya.
“Mungkin ini terdengar lucu bagimu. Tapi ini benar-benar yang aku rasain. Bahkan dari semasa sekolah dulu.”
“Maksud kamu?”
Ia menghela napas panjang, posisi tubuhnya mengarah ke hadapanku, dipegangnya kedua lenganku dengan kedua tangannya.
“Dari awal aku kenal kamu, aku udah suka sama kamu. Tapi aku tahu kalau David juga suka sama kamu. Akhirnya David kenalkan seorang perempuan dari kelas 10 yang waktu itu sempat jadi pacarku, adik kelas itu adalah sepupu David. David merasa bahwa kamu suka sama aku, itu sebabnya kenapa dia minta aku untuk mendekati sepupunya dan memacarinya agar perasaan kamu ke aku hilang dan berpindah ke dia.”
“Kenapa kamu bisa mengorbankan perasaan kamu demi temanmu sendiri? Bukankah seharusnya David juga melakukan hal yang sama untukmu?”
“Aku gak tahu, aku gak bisa, Nyn. Aku sama David udah sahabatan dari kecil. Aku gak bisa sakitin dia.”
“Tapi kamu bisa nyakitin aku? Kamu tahu kan kalau saat itu aku sakit waktu dengar kamu pacaran sama anak kelas 10 itu?!”
“Sejujurnya pada saat itu meskipun David beranggapan kalau kamu suka sama aku, aku nggak bisa merasakan hal itu. Itu sebabnya kenapa aku lepas kamu untuk David, dan ketika kalian jadian, itu semakin ngeyakinin aku kalau kamu memang gak suka sama aku.”
“Dasar bodoh! Perempuan mana yang tidak akan bisa menyukaimu dengan cara perlakuanmu yang seperti itu?!”
Ia terdiam, menatap dalam ke arah mataku. Kemudian ia menyandarkan tubuhnya di kursi sambil memejamkan matanya.
“Setidaknya aku mencoba untuk kembali padamu.” Di wajahnya terlihat sebuah penyesalan yang masih menghantuinya. Bagaimana bisa ia membiarkan dirinya sakit untuk kebahagiaan orang lain yang tidak memikirkan kebahagiaannya?
“Sewaktu kamu putus sama David, aku masih dengan sepupunya. Itu bukan karena aku benar-benar menyukainya. David bilang, ia benar-benar menyukaimu, setelah kalian putus pun ia masih belum bisa melupakanmu, Nyn. Itu sebabnya kenapa aku masih belum bisa untuk melakukan semuanya.” Lanjutnya.
“Nyn? Apa kamu masih menyukaiku?” Ia kembali menghadapkan tubuhnya ke arahku.
“Aku...”
“Tidak seharusnya aku menanyakan hal seperti ini di saat aku tahu bahwa kamu putus dengan pacarmu juga karena ia belum bisa untuk menikahimu. Itu menjadi hal kedua yang membuatku belum begitu berani untuk mengungkapkan ini kepadamu. Tapi aku tidak mau menunggu lebih lama lagi.”
“Akuuu...”
“Nyn, tapi aku ingin kita lebih dari sekadar teman. Aku berjanji akan segera menikahimu di akhir tahun ini.” Ia menggenggam tanganku dengan kedua tangannya.
“Sejujurnya aku udah tidak memperdulikan soal pernikahan, dan aku juga tidak akan pernah memaksa seseorang yang aku cintai dan yang mencintaiku untuk segera menikahiku lagi.”
“Lalu, bagaimana dengan pacarmu yang kemarin?”
“Dia udah bahagia dengan seseorang baru, Ndri.”
“Jika belum, apa kamu akan kembali padanya?”
Aku terdiam beberapa saat sebelum menjawab pertanyaannya.
“Kamu berharap aku akan jawab apa atas perasaanmu?” Tanyaku.
“Tak banyak, cukup katakan “Iya” dan aku akan memenuhi janjiku di akhir tahun ini.”
“Iya.”
“Kamu serius?!”
Aku mengangguk sambil tersenyum. Ia memperlihatkan senyum bahagianya ke arahku, kemudian dipeluknya tubuhku dengan erat.
“Hey, apa hal kedua yang ingin kamu katakan?”
Ia melepaskan pelukannya, kembali ditatapnya mataku dengan tatapan hangatnya.
“Minggu ini aku harus kembali mengurus usaha Papa di luar kota. Besok aku akan pergi menuju Bandara.”
“Secepat ini? Kenapa kamu menyatakan perasaan jika akan pergi setelahnya?!”
“Tidak akan lama, Nyn, aku janji. Aku hanya pergi selama 2 minggu. Setelah sampai kembali di Jakarta, aku akan menemuimu lagi.”
“Tapi Bella akan menikah di minggu depan. Kamu membiarkanku menghadirinya seorang diri?”
“Aku masih bisa datang setelahnya, bukan? Kamu akan baik-baik saja. Hubungi aku kapanpun jika kau butuh.” Diusapnya kepalaku dengan lembut.
Tiba-tiba Abel berlari ke arah Andri, ia berkata kepada Kakak laki-lakinya itu untuk pulang karena ia mulai lelah dan mengantuk. Kami pun berjalan ke arah mobil dan beranjak pulang. Dan benar saja, lagi-lagi Abel tertidur di saat perjalanan pulang. Andri turun terlebih dahulu untuk menggendong Abel keluar dari mobil menuju kamarnya. Setelah kembali ke luar, aku pamit dengan Tante Jo, Andri pun ikut pamit untuk mengantarkanku pulang.
Sebenarnya, sulit rasanya untuk menerima Andri dengan cepat di saat kondisiku yang terkadang masih dihantui oleh kenangan bersama Aldy. Tapi, jika Aldy saja dengan cepatnya bisa mendapatkan kebahagiaannya yang baru, kenapa aku tidak?
***
8 tahun aku menantikannya, dan saat ini, semesta memberikan kesempatan untukku, aku memilikimu sekarang. Tidak ada lagi alasan untuk aku kembali bersedih, bukan?
Hari ini adalah hari minggu, jam menunjukan pukul 08:25, sudah sekitar 45 menit kami telah berada di Bandara. Pesawat yang Andri naiki akan berangkat pada pukul 09:35.
“Kamu jaga diri baik-baik ya di sini, tunggu aku kembali, kamu akan jadi orang pertama yang aku temui.”
“Save flight! Kabari aku kalau sudah sampai!”
Ia mengangguk sambil tersenyum kemudian berjalan perlahan ke arah menuju pesawat dengan mendorong koper besarnya yang berwarna hitam, sesekali menoleh ke arahku sambil melambaikan tangannya. Aku menyaksikan langkah kakinya berjalan menjauh, bagaimana bisa kau pergi di hari kedua kami telah resmi berpacaran? Aku mencoba menghibur diri untuk meyakinkan bahwa 2 minggu bukanlah waktu yang lama. Aku akan kembali menjalani rutinitasku dan tanpa terasa tiba-tiba ada suara ketukan pintu, ketika kubuka adalah dirinya yang berdiri dengan sebuah senyuman yang telah kurindukan selama 14 hari ini. Fyuuuh, hubungan jarak jauh selama 2 minggu benar-benar tidak akan terasa, bukan?
***
“Loh, Nyn? Kok bawa motor? Andri kemana?” Tanyanya yang baru sampai ketika melihatku hendak turun dari motor.
“Iya, Andri lagi ada tugas di luar kota.”
Kami berjalan masuk ke dalam menuju meja kerja.
“Rin, gue mau cerita sesuatu.”
“Apa?” Ia menghentikan ketikannya di komputer lalu menoleh ke arahku.
“Gue udah jadian sama Andri.”
“Ha? Seriusan? Dari kapan?”
“Belum lama sih, beberapa hari yang lalu.”
“Waaah, selamat ya, Nyn. Gue turut bahagia atas kalian berdua. Akhirnya ya, gak galau lagi.” Ledeknya sambil tertawa ke arahku.
Mesikpun hari ini rasanya sangat berbeda dari hari-hari sebelumnya, dimana setiap berangkat dan pulang kantor, ia selalu menjemputku dengan bekal senyuman yang ia lemparkan padaku saat berdiri menungguku di depan mobilnya. Tapi setidaknya aku masih mempunyai alasan untuk tersenyum dan semangat melanjutkan hari-hariku yang akan datang.
Bel pulang berbunyi, tanda bahwa satu hari telah hampir terlewati, masih ada 13 hari lagi untuk Andri datang menemuiku. Aku berjalan menuju parkiran, ya, hari ini aku mengendarai motor untuk ke kantor. Rasa yang sudah lama tidak aku rasakan. Mengendarai sepeda motor sambil bernyanyi seorang diri di sepanjang jalan pulang hingga sampai di rumah, bagaimana bisa ini terasa lebih menyenangkan dibandingkan sebelumnya?
“Bentar-bentar, gue perhatiin dari kemarin kayaknya lagi bahagia terus, nih?” Ledek Bella ketika melihatku turun dari motor dan hendak berjalan masuk ke dalam rumah.
“Iya dong, kan gue emang selalu ceria.” Aku berjalan melewatinya menuju kamar.
Ku rebahkan tubuhku di atas kasur, aku mengambil handphone dari dalam tas, tak kudapati satu pesan pun darinya, apa ia benar-benar sesibuk itu?
*tok.. tok.. tok..* tak lama setelah bunyi ketukan pintu tersebut, Bella datang sebelum aku mengizinkannya untuk masuk.
“Kaaaak, makan di luar, yuk?” Ia berlari ke arahku yang sedang terbaring di atas tempat tidur masih mengenakan baju yang kukenakan untuk ke kantor.
“Harus?”
“Harus! Kapan lagi kita bisa kayak gitu? Gue bentar lagi nikah, lho. Kalau lo kangen jalan bareng sama gue, akan susah nantinya.” Ledeknya seakan-akan aku akan menjadi orang yang paling merindukannya setelah ia diboyong Irgi menuju rumah baru mereka.
“Gak, gue lagi mau rebahan.”
“Ayo lah, Kak. Gue lagi kepingin makan ramen.”
“Sana, pergi saja sama Irgi.”
“Dia lagi sibuk. Ayo Kak!”
“Tunggu di bawah, gue mandi dulu.”
“Gak usah. Masih cantik, kok. Mandinya nanti saja sewaktu pulang dari makan ramen.” Ia menarikku turun menuju mobil.
“Hhhh, anak ini.” Gumamku.
Kami berangkat menuju tempat Ramen yang jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah, Bella terlihat begitu bersemangat kali ini, biasanya, ia yang agak susah untuk diajak kemana-mana, namun kali ini, sepertinya ia benar-benar takut merindukan moment bersama keluarga nantinya.
Tak lama kami telah sampai, tempatnya memang tidak begitu besar, namun Ramen disini terkenal dengan rasanya yang enak dan harganya yang juga terjangkau.
“Oh iya, Kak, tadi pagi kok tumben lo bawa motor?” Ia melahap suapan pertamanya.
“Andri lagi ada tugas di luar kota.”
“Kalian udah pacaran belum, sih?”
“Memangnya kenapa?”
“Cuman mau tahu saja.”
“Sudah, beberapa hari yang lalu.”
“Yes! Kali ini berarti lo yang bayar.”
“Bukannya memang selalu gue yang bayar?”
Aku menatap sinis ke arahnya. Ia hanya tertawa sambil melanjutkan suapannya. Hey, kau benar juga, kelak aku akan merindukan masa-masa keluar bersamamu seperti malam ini dan sebelum-sebelumnya. Karena setelah pernikahanmu, kau akan lebih menghabiskan waktu dengan Suamimu, ditambah jika aku menyusul untuk menikah, kami akan semakin sulit untuk melakukan hal bersama-sama, bukan? Aku terus memandangnya yang masih makan dengan sangat lahap, tidak terasa, adik kecil yang dulu masih kugendong dengan susahnya karena saat itu tubuhku juga masih begitu mungil, kini telah tumbuh dewasa, bahkan ia juga telah menemukan tambatan hatinya. Tidakkah kau mau untuk menjadi adik kecilku yang cengeng lagi? Aku masih ingin bermain dan bercanda denganmu sepanjang waktu.