“Kak.. bangun!!!!l” Bella menggoyang-goyangkan tubuhku seraya membangunkan.
“Kak! Alarm lo udah bunyi dari tadi, lo bisa telat kalau gak bangun-bangun.” Lanjutnya.
Aku terbangun sambil menggosok-gosokkan mata, ku lihat jam di handphone sudah lewat hampir 10 menit dari jam alarm yang biasa ku setting untuk membangunkanku.
“Tumben sih harus dibangunin dulu? Biasanya sekali alarm bunyi udah pasti bangun?”
“Efek kekenyangan makan Ramen.” Jawabku masih dengan mata yang sedikit terbuka.
Ia tertawa sambil melempar bantal ke arahku, setelah dipastikannya bahwa aku telah bangun dan berjalan menuju kamar mandi, ia kembali ke luar dari kamarku menuju kamarnya.
Sehabis mandi, aku berlari menuruni anak tangga untuk langsung ke luar menuju garasi.
“Arnyyyn, sarapannya.”
“Gak, Ma. Arnyn udah telat.”
Setelah berhasil mengeluarkan motor menuju gerbang, aku berlari masuk ke dalam untuk mengambil helm dan pamit kepada kedua orang tuaku, dan langsung melaju dengan cepat.
“Hey, hati-hati!” Teriak Mama yang berlari ke luar karena melihatku mengengendarai sepeda motor dengan laju yang kencang.
Untungnya aku sampai di parkiran ketika waktu masih tersisa 7 menit lagi untuk bel masuk berbunyi. Aku langsung menaruh helm di stang motor dan berlari masuk ke dalam gedung.
“Astaga, telat lagi?” Airin melihatku duduk sambil terengah-engah karena berlari dari parkiran hingga kesini.
Aku hanya mengangguk sambil mencoba meneguk sebotol minuman yang kuambil dari dalam tas karena kelelahan berlari. Aku mengecek handphone, masih tidak ada satu pun pesan dari Andri, aku mencoba menghubunginya, namun nomornya tidak dapat dihubungi. Apa yang terjadi padanya? Apa ia baik-baik saja?
Ketika beberapa menit lagi bel istirahat berbunyi, handphoneku bergetar, muncul panggilan masuk dari Andri.
“Halo?”
“Iya, kamu kemana aja?”
“Maaf ya, Nyn. Kemarin handphone aku jatuh dan mati total, ini baru selesai diservis. Kamu apa kabar?”
“Baik, kamu gimana?”
“Baik juga, cuma agak sedikit rindu aja.”
“Sedikit aja nih rindunya?”
“Kemarin, sekarang udah semakin bertambah.” Jawabnya sambil tertawa.
“Gimana hari kemarinnya? Ada cerita apa aja yang udah aku lewatin karena handphone rusak?”
“Gak ada yang istimewa dari semenjak kamu pergi.”
“Hey, jangan bicara begitu. Aku jadi ingin terbang ke Jakarta sekarang juga tahu.”
Kami sama-sama tertawa saat itu, padahal baru kemarin aku gelisah menunggu kabar darinya, rasanya seperti sudah lama sekali tidak mendengar suaranya.
Saat bel istirahat berbunyi, kami menyudahi percakapan di telepon dan merencanakan akan melanjutkannya nanti. Aku dan Airin berjalan menuju kantin untuk makan siang, hari-hari berjalan seperti biasa, tidak ada hal lain yang aku lakukan selain berangkat menuju kantor, bekerja dan kembali pulang ke rumah untuk beristirahat dan terbangun untuk kembali bekerja lagi.
Seperti keinginanku, tanpa terasa, waktu berjalan begitu cepat. Hari ini adalah hari sabtu, hari ke 6 dimana aku dan Andri masih melanjutkan hubungan jarak jauh ini, rasanya tidak sabar menunggu minggu depan tiba.
Hari ini juga tepat satu hari sebelum acara pernikahan Bella akan berlangsung. Untuk acaranya, Bella dan Irgi telah menyewa gedung yang jaraknya cukup jauh dari tempat tinggal kami.
Di pagi kali ini rumah lebih ramai dari biasanya, saudara-saudaraku yang datang dari luar kota pun akan menginap semalam disini agar keesokan harinya dapat berangkat bersama-sama menuju gedung tempat Bella dan Irgi melangsungkan pernikahan.
Semua orang di rumah sedang sibuk mempersiapkan keperluan untuk acara esok hari. Begitu pula denganku, aku sibuk menyiapkan pakaian yang akan kukenakan nantinya. Kebaya, jam tangan serta heels dengan tinggi 10cm. Andai Andri ada disini, pasti keberadaannya akan membuatku lebih percaya diri untuk menghadiri hari esok. Ketika banyak dari mereka yang bertanya kapan aku segera menyusul, aku akan dengan bangganya mempersilakan ia untuk menjawab pertanyaan tersebut satu persatu.
“Iya, halo? Ada apa ya, Bu?” Tanya Bella saat menangkat teleponnya yang baru saja berdering. “Oh, harus sekarang? Baik, saya akan segera kesana, ya.” Lanjutnya.
Kemudian ia dan Irgi bangkit dari tempat duduk dan berjalan menghampiri Mama yang kala itu sedang berkumpul dan berbincang dengan beberapa saudaranya.
“Ma, aku keluar sebentar, ya.” Ucap mereka untuk pamit.
“Hey, kalian mau kemana?”
“Ada yang masih harus diurus, Ma.” Jawab Irgi.
“Apa gak bisa biar orang lain yang urus? Kalian kan lagi sibuk-sibuknya.”
“Gak bisa, Ma. Ada satu kebaya yang rusak, padahal kebaya itu jadi salah satu kebaya yang akan aku pakai besok dan aku harus segera datang kesana untuk mencari model dan warna penggantinya.”
“Ada-ada saja. Ya, sudah. Kalian hati-hati, ya?”
Bella dan Irgi mengangguk lalu mengucapkan salam sebelum beranjak pergi.
“Apa kalian tidak mau diantar?” Teriak Mama dari dalam saat merlihat mereka berjalan keluar menuju mobil.
“Tidak perlu, Ma.”
Setelah mereka berdua berhasil pergi, tak lama kemudian handphoneku berdering, nama Andri muncul di layar sebagai panggilan masuk. Aku berlari ke atas menuju kamar untuk mengangkatnya karena di bawah terlalu ramai untuk dapat berbicara melalui telepon.
“Hei, Selamat Pagi.” Sapanya dengan hangat dari ujung telepon.
“Pagi jugaaaa.”
“Apa kamu udah sarapan?”
“Udah dong, kamu?”
“Udah, dua kali, haha. Kamu sibuk apa hari ini?”
“Aku lagi prepare buat acara besok.”
“Sayang sekali aku gak bisa hadir, gak bisa lihat kamu pakai kebaya, pasti cantik.”
“Memang hari-hari biasanya aku gak cantik?” Ledekku.
“Cantik, selalu! Tapi kan kamu jarang pakai kebaya, terakhir aku lihat kamu pakai kebaya dengan warna navy di saat acara Graduation sekolah.”
“Bisa-bisanya kamu masih ingat sama warna kebaya yang aku pakai. Bahkan aku aja udah lupa.”
“Udah aku bilang, ingatan aku tuh bagus.” Tawanya memenuhi suara di telepon.
“Kamu sadar gak sih kalau hari itu kamu paling cantik? Ya meskipun hari-hari biasanya pun kamu selalu jadi yang paling cantik dibanding siswi-siswi lainnya.” Lanjutnya.
“Andri....... jangan gitu, aku malu tahu.”
“Lho, kok malu? Aku serius tahu.”
Kemudian ia mengubah panggilan teleponnya menjadi panggilan video call. Ditatapnya wajahku sambil tersenyum tanpa berucap satu kata pun.
“Ada apa sih? Muka aku aneh, ya? Lagi berantakan, ya?”
“Nggak, bisa-bisanya kamu cantik terus.”
“Kamu, ih. Aku maluuu.”
Lagi-lagi ia hanya tertawa karena telah berhasil membuatku tersipu.
“Ya udah, kamu lanjut prepare sana. Nanti gak selesai-selesai kalau aku gangguin terus.”
“Enggak kok, udah mau selesai juga lagian. Andai kamu besok bisa ikut hadir, aku akan suruh kamu jawab semua pertanyaan dari orang-orang sewaktu mereka nanya kapan aku menyusul ke pelaminan.”
Ia tersenyum saat melihat ekspresi wajah cemberutku saat mengucapkan kata-kata barusan.
“Hey, semua akan berjalan baik-baik saja, Nyn. Tidak akan ada orang yang mengganggumu dengan pertanyaan-pertanyaan macam itu. Seperti yang aku bilang, telepon aku kapanpun kamu butuh, ya? Aku akan standby untuk ngejawab panggilan masuk dari kamu sampai acaranya selesai.”
Aku mengangguk sambil tersenyum ke arahnya yang juga ikut tersenyum di layar. Tiba-tiba terdengar suara hiruk-pikuk orang berteriak-teriak dari bawah.
“Ada apa, Nyn?” Tanya Andri heran saat melihat ekspresiku yang tekejut ketika mendengar suara berisik dari bawah.
“Gak tahu. Sebentar ya, nanti kutelpon lagi, dah.”
Aku mengakhiri video call kami dan berlari ke bawah menuju sumber suara. Saat berhasil menuruni anak tangga, aku melihat Mama terkapar lemas dikelilingi oleh saudara-saudaranya. Aku langsung berlari menghampirinya.
“Tante, Mama kenapa?”
“Gak tahu, sehabis nerima telepon, Mama langsung pingsan.”
Omku mencoba mengambil telepon yang terjatuh dari genggaman tangan Mama dan melanjutkan percakapan yang terjadi di antara mereka, orang dalam telepon tersebut berasal dari pihak Rumah Sakit yang menelpon menggunakan nomor Irgi untuk memberi tahu bahwa mobil yang mereka kendarai mengalami kecelakaan tunggal, dugaan sementara dari salah satu warga yang menjadi saksi mata, mobil tersebut mengalami rem blong hingga akhirnya keluar dari jalur dan menabrak sebuah pohon besar dengan kecepatan yang cukup tinggi.
Pria penelpon dari pihak Rumah Sakit itu memberitahu lokasi Rumah Sakit tempat Bella dan Irgi mendapatkan penanganan. Aku, Papa dan Om Reza langsung bergegas menuju Rumah Sakit tersebut, sementara keluarga yang lain membantu untuk menyadarkan Mama yang mulai tidak sadarkan diri.
Setelah berhasil sampai disana, kami langsung menuju IGD, ruangan dimana Bella dan Irgi mendapatkan penanganan. Papa memaksa masuk ke dalam namun Suster melarang dan meminta kami untuk menunggu di luar. Waktu terus berjalan, sudah beberapa menit kami menunggu, tiba-tiba Mama dan keluarga yang lain datang menghampiri kami kami yang masih sabar menunggu di depan ruang IGD, tidak lama kemudian disusul oleh kedatangan keluarga Irgi yang sepertinya sudah diberi tahu soal ini. Mama dan Tante Irine (Mama Irgi) terus menanyakan bagaimana keadaan mereka berdua di dalam kepada kami sambil terus menangis, tubuhnya terlihat sangat lemas dengan wajahnya yang khawatir yang tidak dapat dijelaskan lagi. Aku mencoba menenangkan dan meyakinkan mereka bahwa Bella dan Irgi akan baik-baik saja.
“Kakak, Kak Bella kenapa?” Cila menghampiri dan duduk di atas pangkuanku.
“Kak Bella gak apa-apa, Sayang. Cila bantu doa ya supaya Kak Bella cepat sadar, ya?”
Ia hanya mengangguk sambil terdiam, wajah polosnya terlihat bingung dengan keadaan saat ini, dimana semua orang telihat pucat pasi tanpa ada yang berusaha memberi tahunya tentang apa yang sedang terjadi. Wajahnya juga terlihat semakin bingung dan sedih ketika melihat Mama menangis tanpa henti. Ku peluk ia yang masih terduduk dipangkuanku dengan erat. Aku hanya bisa berdoa dalam hati terus menerus, dan berharap semoga Dokter memberikan kabar baik dan mereka berdua akan segera tersadarkan. Tuhan, ku mohon, lindungi mereka, esok adalah hari kebahagiaan kami, izinkan kami merayakannya dengan suka cita.