Ketiga orang dewasa yang duduk di dalam ruang rahasia itu tampak pucat. Hening. Tak ada sepatah kata pun keluar, seolah udara ikut membeku bersama mereka. “Pa…! Apa Priscila sudah tahu semuanya?” suara Amanda pecah, penuh kegelisahan. Kedua tangannya saling meremas, wajahnya panik setengah mati. Mike Orlando mengangkat satu tangan, memberi isyarat agar tenang. Ia menggeleng perlahan, berusaha menjaga wibawa meski dadanya bergolak hebat. “Jangan panik dulu. Papa akan cari jalan keluarnya. Lagipula, seharusnya dia belum mengetahui segalanya,” ucapnya datar, kendali suaranya tetap nyaris sempurna. “Sekarang, kalian pulang dulu.” Namun dalam hati, badai berkecamuk. ‘William Cassian… tuan muda itu sudah melangkah terlalu jauh. Aku membencinya.’ Kedua tangannya mengepal erat, urat di lengann

