“Hari ini bapak ada janji temu dengan Bu Sinta dari pukul 11 hingga jam makan siang,” ucap Anggun saat Dipta menanyakan jadwalnya. “Harus sampai makan siang?” tanya Dipta tak suka. “Iya, pak. Sekretaris Bu Sinta meminta pembahasan dilanjutkan sampai makan siang. Dan maaf saya mendahului mem-booking restoran karena permintaan tersebut,” ujar Anggun jujur walaupun dia juga takut mendapatkan semprotan amarah dari bosnya itu karena melangkahi Dipta—tidak meminta persetujuannya lebih dahulu. Dipta hanya mengangguk malas. Apa yang dilakukan oleh Anggun sudah benar, hanya saja hatinya tidak membenarkan akan maksud permintaan Bu Sinta ini. Beliau selalu mencari jadwal yang mepet dengan jam makan siang. Dipta sebenarnya paham bahwa bukan itu alasannya—bukan untuk membahas pekerja

