Sesampainya di kantor Alana langsung masuk ke dalam ruang kerja Nathan setelah diberitahu oleh Radit. Namun sebelumnya sekretaris Nathan sudah melarang Alana untuk masuk karena ia sedang berdiskusi dengan salah satu kontraktor yang memang sempat Radit temui tadi.
“Maaf Ibu ini siapa? Dan ada keperluan apa Ibu dengan Pak Nathan?” tanya Tiara yang tak lain adalah asisten sekretaris Nathan karena sekretaris utamanya adalah Radit.
“Saya, Alana istri sah dari Bapak Nathan,” jawab Alana dengan tegas dan hal itu tentunya membuat Tiara terkejut karena yang ia tahu sebelumnya adalah sang bos yang baru saja ditinggal mati oleh istrinya.
Tiara benar-benar tidak mengetahui tentang Nathan yang memang nyatanya sudah menikah lagi karena kabar pernikahan Nathan benar-benar tidak diketahui oleh siapa pun kecuali orang-orang yang menangani pernikahan mereka.
“Maaf tapi yang saya tahu istri dari Bapak Nathan itu sudah meninggal dan nama istri dari Bapak Nathan adalah Ibu Clarissa,” jelas Tiara tapi beruntung Radit sudah datang sehingga Alana tidak perlu menjelaskan tentang pernikahannya serta hal lainnya kepada Tiara.
“Biarkan Ibu Alana masuk ke dalam, Tiara,” titah Radit.
“Tapi Pak Radit....”
“Jangan bantah perintahku dan biarkan Ibu Alana masuk ke dalam,” potong Radit sebelum wanita itu mendapatkan masalah besar karena tidak membiarkan Alana masuk ke dalam.
“Baik, silahkan Ibu Alana,” kata Tiara sambil menundukkan kepalanya lalu mempersilahkan Alana masuk ke dalam ruang kerja Nathan.
Alana masuk ke dalam lalu dua orang yang sejak tadi sedang berdiskusi langsung menoleh ke arahnya dengan tatapan bingung karena memang Alana masuk tanpa permisi.
“Maaf sudah mengganggu tapi apakah kita bisa bicara sekarang, Nathan?” tanya Alana yang memang sudah melupakan etikanya saat emosi di dalam dirinya sedang menggebu-gebu.
Ia benar-benar ingin segera mengetahui alasan Nathan yang sudah mengingkari perjanjian di antara mereka. Jujur saja Alana merasa sedang ditusuk dari belakang oleh Nathan. Jika memang Nathan terbukti kembali mengusik ayahnya lagi makan Alana akan mengambil tindakan yang mungkin tidak akan pernah dibayangkan oleh pria itu.
“Sayang, bisakah kamu duduk sebentar di sana karena sekarang aku sedang kedatangan tamu,” kata Nathan yang berusaha bersikap manis di depan Alana apalagi di hadapannya saat ini ada orang lain yang sedang menyaksikan interaksi mereka.
“Tapi ini lebih penting dari bisnismu,” balas Alana yang terlihat semakin emosi setelah mendapati respon dari Nathan tersebut. Sungguh Alana sangat membenci serta muak menghadapi sikap pura-pura baik yang ditunjukkan oleh Nathan saat ini.
“Baiklah, Pak Angga saya minta maaf karena sepertinya istri saya ini tidak tahan untuk berada jauh dari saya,” kata Nathan sambil menunjukkan senyumnya yang ia buat sedemikian rupa untuk menutupi rasa malu yang sudah Alana torehkan kepada tamunya hari ini.
“Tidak apa-apa Pak Nathan tapi apa saya tidak salah dengar kalau Ibu ini adalah istri Bapak?” tanya Angga kepada Nathan karena ia merasa sangat bingung di kondisi yang memang tidak ia ketahui sejak awal.
“Benar Pak, Alana ini adalah istri saya yang baru saya nikahi beberapa hari lalu,” jawab Nathan lalu pria itu berdiri dan melayangkan tangannya ke udara.
“Sayang kemarilah dan perkenalkan dirimu kepada Pak Angga karena beliau yang akan merenovasi ulang bangunan restoran milik Ayahmu nanti,” panggil Nathan kepada Alana yang sekaligus mengenalkan sosok Angga kepadanya agar wanita itu paham karena sudah menggangu diskusi mereka saat ini.
Alana tampak terkejut mendengar Nathan memperkenalkan rekan kerjanya tersebut. Ia merasa malu karena sudah salah paham kepada cara Nathan yang seolah sudah mengingkari perjanjian di antara mereka. Dengan susah payah Alana menelan ludahnya karena ia merasa sangat takut jika setelah ini Nathan akan sangat marah kepadanya.
“Sayang kemarilah, apakah kau akan tetap diam di situ?” ulang Nathan yang menyuruh Alana untuk berjalan mendekati dirinya. Lebih tepatnya berdiri berdampingan dengannya.
Dengan berat hari Alana menuruti panggilan itu dan berjalan mendekat lalu berhenti tepat di samping Nathan dengan senyumnya yang terlihat canggung. Setelah ini ia benar-benar harus minta maaf kepada pria yang ada di sampingnya.
“Halo Pak Angga perkenalkan saya, Alana,” kata Alana memperkenalkan diri dengan menyodorkan tangannya ke arah Angga. Angga pun membalas jabatan tangan dari Alana.
“Sebelumnya saya minta maaf karena tadi saya sudah tidak sopan dengan menerobos masuk saat kalian sedang bicara,” kata Alana yang benar-benar menyampaikan penyesalannya kepada Angga dan juga Nathan.
“Tidak apa-apa saya memahaminya karena kalian kan baru menikah jadi wajar saja sulit rasanya untuk terpisah dalam beberapa detik saja,” jawab Angga yang sama sekali tidak keberatan hingga ketiganya pun tertawa bersama.
“Kalau begitu saya permisi dulu, nanti jika Bapak Nathan atau mungkin Ibu Alana memerlukan saya lagi, kalian mungkin bisa langsung menghubungi saya dan kita bisa berdiskusi bersama,” pamit Angga yang tidak ingin mengganggu kemesraan yang terjadi di antara sepasang pengantin baru tersebut.
“Baik Pak, sekali lagi saya minta maaf atas sikap istri saya yang tidak sopan,” kata Nathan sambil menjabat tangan Angga sekaligus mengantarnya sampai di depan pintu kantor.
Setelah itu Nathan mengunci pintunya rapat dan menutup setiap tirai yang ada di ruang kerjanya tersebut. Dengan tatapan matanya yang tajam ia mendekat ke arah Alana. Rasanya Alana mengenal suasana ini, rasa marah yang sempat hingga di dirinya kini seakan berpindah ke Nathan.
“Dasar wanita miskin yang tidak mengenal attitude, apa seperti ini caranya kau masuk ke dalam ruangan kerja orang lain?” tanya Nathan sambil melepaskan dasinya lalu ia bentangkan ke udara. Tunggu untuk apa dasi itu? Apakah untuk menggantung Alana?
Sambil melangkahkan kakinya mundur Alana menundukkan kepalanya karena merasa takut. “Maafkan aku karena tadi aku sedang emosi karena tanpa mengatakan hal apa pun kamu menyuruh Radit dan beberapa orang datang ke restoran Ayahku jadi aku pikir....”
“Kau pikir aku akan kembali mengganggumu, heem?”
Nathan semakin mendekat ke arah Alana hingga wanita itu benar-benar mentok sampai di depan meja kerjanya. Tatapan matanya sama sekali tidak lepas dari pandangannya ke arah Alana yang terlihat ketakutan.
“Sekarang kau harus dihukum karena kesalahanmu, Alana. Karena aku benar-benar tidak menerima alasan apa pun,” kata Nathan sambil meraih tubuh Alana lalu membalik tubuh itu. Nathan menarik kedua tangan Alana lalu mengikatnya dengan dasi yang sudah ia lepaskan sebelumnya.
“Nathan, apa yang ingin kau lakukan kepadaku? Aku mohon maafkan aku,” Alana memohon dengan penuh mengiba berharap pria itu membatalkan hukuman yang akan diberikan kepadanya.
Nathan membalik tubuh itu lalu memegang rahang Alana untuk menatapnya intens. “Apa kau pikir dengan memaafkanku bisa membuat orang lain berpikir kalau istriku ini memiliki good attitude?”
Alana memilih diam karena apa yang dikatakan Nathan adalah benar ia sudah salah dan benar-benar harus menerima hukuman dari Nathan saat ini juga, entah itu hukuman apa.
“Lagi pula karena kau sudah jauh-jauh datang ke kantorku jadi sekalian saja kita lakukan seperti semalam sebagai hukumannya dan ingat kau tidak boleh mendesah karena jika sampai hal itu terjadi kau yang akan malu Alana karena beberapa karyawanku akan mendengarnya,” tambah Nathan yang langsung membuat Alana menggelengkan kepalanya.
Sekarang mau berteriak untuk minta tolong rasanya akan sama saja dengan memalukan dirinya karena sebelum masuk ke dalam ruang kerja Nathan ia sudah mengaku sebagai istri dari pria itu. Tapi untuk melakukan hubungan intim sebagai sepasang suami-istri di kantor, itu rasanya sudah benar-benar gila karena sama saja akan memalukan bagi dirinya.
“Apakah ada seseorang yang bisa menolongku dari pria gila ini? Aku benar-benar tidak bisa melakukan hal seperti ini di sini.”