Trevor tiba di lantai atas bersama gadis yang mengenalkan dirinya sebagai Scarlett. Tiba-tiba, bau anyir menyerang indra penciumannya. Membuat Trevor hampir muntah.
Scarlett berdecak kesal. Dia lalu menyodorkan sapu tangan dari dalam saku.
"Terima kasih," ujar Trevor sembari menutup hidungnya menggunakan kain pemberian Scarlett.
"Tidak masalah. Ayo lanjut ke lantai tiga," ajak gadis itu sembari melangkah pergi.
Trevor merasa aneh. Mengapa Scarlett buru-buru mengajaknya pergi? Bukankah mereka belum menyisir tempat ini?
"Nggak lihat ke dalam ruangan dulu?" tanyanya memastikan.
Scarlett menggeleng, "Percuma. Nggak ada orang."
"Bagaimana kau bisa menyimpulkan demikian?" kejar lelaki tersebut sembari menatap penuh tanda tanya.
Mengembuskan napas kesal. Sungguh, Scarlett malas menjelaskan situasi panjang kali lebar. Baiklah, akan dia katakan secara singkat.
"Di sini bau anyir darah, 'kan? Berarti, mereka semua udah mati. Gitu," balasnya kesal.
Trevor menolak asumsi tersebut. "Memang, siapa yang menyerang mereka? Ada temanmu yang sudah ke sini?" selidik lelaki tersebut seraya menyilangkan tangan di depan d**a.
Scarlett benar-benar kesal. Tangannya menuding ke arah wajah Trevor sembari berteriak, "Kau!"
Menyingsingkan lengan baju. Mendelik ke arah Scarlett. "Apa?" balasnya meminta penjelasan.
"Aku sangat kesal padamu. Boleh kutembak?" gerutu Scarlett.
Tangan kanannya terangkat. Mengarahkan moncong senjata ke arah Trevor Logdawn. Raut wajahnya terlihat dingin. Tak lagi kesal seperti tadi.
Perasaan Trevor mulai tidak enak. Menduga kalau Scarlett menargetkan nyawanya sejak awal. Dan perawatan untuk Anrietta hanya batu loncatan supaya mereka terpisah.
"Jangan bilang dugaanku benar," batin lelaki tersebut, balas mengarahkan senjata pada gadis bersurai coklat.
"Don't move!" perintah Scarlett seraya menembakkan sebutir peluru.
Trevor mengelak ke kiri, meski tahu bahwa timah tersebut tidak dapat mengenainya. Sayang, sebutir peluru lain datang dan menembus punggung kekarnya.
"Sudah kubilang jangan bergerak, dasar bandel!" marah Scarlett sembari mendekati Trevor.
Lelaki tersebut menoleh ke belakang, dilihatnya seorang pria sedang terjerembab dengan darah segar yang mengalir dari lehernya. Ia begidik ngeri, ternyata Scarlett mau menyelamatkannya.
"Maaf," cicit Trevor pada gadis yang sibuk menekan pendarahannya. Beruntung pelurunya meleset, tidak mengenai jantung.
"Biar kami yang urus sisanya. Kalian tunggulah di tempat yang aman," pinta Scarlett seraya memanggil bantuan.
Tak berapa lama, datanglah dua gadis berambut pirang. Mereka adalah Cornelia dan Glasya. Datang-datang, menutup hidung karena bau tak sedap yang begitu terasa.
Cornelia langsung memapah Trevor Logdawn ke lantai satu. Urusan di sana sudah selesai. Bahkan, Anrietta telah dipindahkan ke mobil.
Glasya sendiri mengikuti Scarlett menuju lantai teratas, yaitu lantai tiga. Kehadiran keduanya tidak disambut pesta, tapi mereka yakin bahwa Black Agent masih berada di ruangan sempit ini. Semua akses keluar dan masuk sudah diblokir, sehingga kecil kemungkinan baginya untuk keluar dari gedung.
Scarlett menatap tajam pada almari kayu yang ada di sudut ruangan. Ia mengendap-endap bersama Glasya. Untuk menghindari terjadinya hal-hal tidak diinginkan, Scarlett memosisikan diri di samping kanan almari.
Glasya berdiri di sebelah kiri almari kayu, menyiagakan pedang tajamnya yang tak pandang bulu. Setelah dirasa siap, Scarlett menarik pintunya. Dengan cepat, sebutir peluru meluncur, merusak jam dinding antik. Gadis berambut pirang segera mendekatkan senjatanya ke leher pria bertubuh tambun. Lelaki tersebut diam tak berkutik.
"Kami hanya butuh satu nama, kuhargai dengan nyawamu. Bagaimana?" tawar Scarlett sembari menyentuh dasi milik Black Agent.
"Ya, ya, ya," jawabnya sembari menatap kecantikan gadis bersurai coklat. Dia seolah sedang berhadapan dengan dewi dari kahyangan.
"Siapa yang memintamu membunuh Anrietta Davine?" tanyanya lagi.
"Oh, sebentar, sebentar," balas lelaki tersebut sembari mengeluarkan sebuah notes lusuh.
Glasya menahan napas, buku kecil bersampul jingga itu berbau tidak enak. Seperti baru diambil dari tempat sampah saja.
"Ellyn Magdalena," jawab Black Agent seraya menatap Scarlett.
Gadis bersurai coklat pun mengangguk, disusul Glasya yang menyingkirkan pedangnya dari leher pria berdasi merah. Usai keduanya berjalan beberapa langkah, Black Agent menarik pelatuk pistol sebanyak dua kali. Ditujukan ke leher mereka.
Netra lelaki tersebut membelalak sempurna tatkala pelurunya terhenti di udara, kemudian jatuh berdenting di lantai putih bersih. Scarlett pun menoleh, tersenyum sinis pada Black Agent.
"Tadinya kami berbaik hati untuk melepasmu. Namun sekarang, kau mengetahui rahasia kami. Nah, selamat tinggal," ujar gadis bersurai coklat tersebut.
Suara tembakan kembali terdengar, kini pelurunya menembus d**a Black Agent. Dia pun segera jatuh dari jendela. Scarlett tidak peduli dan mengajak Glasya untuk segera meninggalkan tempat ini. Ia yakin kalau Black Agent sudah memanggil bala bantuan.
Setibanya di lantai bawah, keduanya tidak mendapati seorang pun yang masih bernyawa. Rekan-rekan mereka sudah menunggu di luar gedung. Beberapa mengantar Kelly, Trevor, dan Anrietta ke rumah sakit.
"Aku punya dokter pribadi. Bawa saja aku ke kediaman Logdawn," pinta Trevor dengan napas memburu.
"Mengapa tidak langsung ke rumah dokter Anda?" tanya gadis bersurai kuning bernama Hairya yang mendapat tugas menyetir.
"Dia jarang di rumah. Aku akan memberitahukan kondisi kami padanya," balas lelaki tersebut seraya meraih ponselnya. Walau kesulitan mencari kontak beliau, ia tidak mau menerima bantuan Rindang.
"Oke, pastikan gerakanmu tidak terlalu banyak. Aku khawatir perban dadakan ini akan rusak," pesan Rindang.
Hairya tersenyum menggoda, "Perban dadakanmu itu sepuluh kali lebih kuat dari badak bercula satu, Rin."
Godaan Hairya bukan bualan semata. Nyatanya perban itu tidak terlepas hingga tiba di kediaman Logdawn.
Celine yang khawatir itu pun menyambut kedatangan mereka. Begitu melihat Anrietta yang pingsan, beliau memarahi Trevor.
"Maaf, Ma. Trevor kecolongan," ucapnya pura-pura menyesal.
"Kalau sampai An kenapa-napa, Mama tarik dia jadi pengawal pribadi Mama!" ancam beliau.
Trevor mengangguk-angguk. Jujur, dia iri dengan Anrietta. Gadis itu selalu menjadi prioritas Mama Celine.
"Padahal lukaku lebih parah. Tapi, aku yang kena marah," gerutu Trevor dalam hati.
***
Matahari menyembul dari balik awan. Menampilkan guratan keemasan di langit Kota Scenara. Seolah mengatakan bahwa hari baru telah datang menyapa.
Trevor mengerjap-ngerjapkan mata. Ini adalah kali pertama dia tersadar semenjak menjalani operasi pengangkatan peluru. Entah sudah berapa lama dia terbaring di bangunan khusus ini.
Mata lelaki itu memindai keadaan sekitar. Wajah pertama yang dia lihat adalah milik Anrietta. Gadis cantik itu baru saja menutup pintu.
Ketika berbalik, pandangan mereka beradu. Anrietta mengerjap-ngerjapkan mata sebentar. Takut salah lihat.
Setelah yakin bahwa semua ini bukan halusinasi, Anrietta berlari. Berhenti di samping ranjang Trevor. Tangan kanannya menyentuh dahi, sementara yang kiri menopang di tembok.
"Bagaimana keadaan Anda? Apa ada bagian yang masih sakit?" tanya gadis tersebut dalam satu tarikan napas.
"Aku baru saja bangun dan kau bertanya secepat itu? Keterlaluan!" omelnya tanpa beranjak sedikit pun.
"Ma-maaf, Tuan," sesal Anrietta seraya menundukkan kepala.
Salahkah dirinya bila mengkhawatirkan keadaan Trevor? Sebab, dia sungguh takut kalau Tuannya tak bangun. Anrietta tak mau kehilangan cinta pertamanya.