Mata Cornelia langsung terarah pada seorang berpakaian serba hitam yang baru saja melepaskan tembakan. Tanpa ragu lagi, dia mengeluarkan pedang yang masih tersimpan rapat dalam sarungnya.
Belum sempat Cornelia mengambil ancang-ancang, sebuah tembakan terlebih dahulu merobohkan lelaki tersebut. Pelakunya adalah Trevor Logdawn. Bergerak cepat menghabisi lawannya.
Anrietta yang tadinya meringis kesakitan sembari menekan lengan itu langsung menoleh ke arah Trevor. Apakah Tuan Muda menarik pelatuk untuk membalas dendam? Seperti di film-film romantis. Tokoh utama pria tidak suka bila wanitanya disakiti.
Jantung Anrietta berpacu dengan waktu. Tangan kiri lelaki tersebut melingkar di pundaknya. Sedangkan yang kanan masih setia menggenggam revolver.
"Jangan salah paham. Aku cuma tidak mau membuang nyawaku," tepis Trevor untuk meluruskan situasi.
"Apa, sih? Baperin anak orang terus," batin Anrietta dengan bibir mengerucut.
Harapan Anrietta hancur jadi butiran debu. Lelaki itu memang pandai mengacak-acak suasana hatinya. Ck, menyebalkan memang.
Cornelia mengembuskan napas lega. Luka Anrietta tidak fatal. Masih bisa sembuh dalam beberapa minggu bila diobati.
"Ikuti aku! Luka Anrietta harus diobati secepatnya," ujar gadis berambut kuning tersebut sembari mengeluarkan pedang.
Memeriksa keadaan sekitar sebelum dilalui oleh Trevor dan Anrietta. Toh, tugasnya adalah melindungi kedua orang itu. Tidak sekadar mengobrak-abrik markas Black Agent.
Bau mesiu mulai menguar di indra penciuman masing-masing. Suara peluru pun terdengar bersahutan, memecah keheningan di bagian belakang klub malam. Menumpahkan darah segar di berbagai penjuru.
Satu-satunya hal yang mampu membuat Anrietta berdecak kagum adalah tidak ada satu pun korban dari pihak mereka. Yang mati atau terluka pasti dari musuh. Bergelimpangan bagai patung berserakan.
"Biarkan aku membantumu," ujar gadis berambut merah yang hanya berdiri di dekat pilar.
Trevor melepaskan rangkulannya, kemudian mulai membantu rekan Cornelia untuk menembak musuh. Membiarkan Anrietta berjalan sendiri ke sana. Malas membantu lebih dari ini. Salah-salah, An makin lengket dengannya.
Karena yang terluka adalah tangan, maka gadis tersebut berjalan seperti biasa. Sesekali, Anrietta merunduk. Menghindari peluru yang numpang lewat di dekatnya.
Entah ini hari apesnya atau bagaimana, sebilah tombak meluncur dari arah selatan. Menargetkan kepala Anrietta Davine yang sibuk menoleh ke utara. Mengawasi jalannya peluru di udara.
"Perhatikan sekitarmu!" teriak gadis berambut biru.
Dia berlari, menerjang Anrietta. Saking kencangnya, mereka bergeser sangat jauh. Takut kliennya terluka lebih parah, gadis bernama Kelly itu rela mengorbankan punggung supaya menjadi yang pertama menyentuh tembok.
Benturan yang keras menyebabkan dinding rapuh tersebut runtuh sebagian. Menimbulkan suara debam yang menyita perhatian semua orang. Terutama, Trevor Logdawn.
Lelaki tersebut menemukan sosok yang tadi melemparkan tombak, sedang lari untuk menyelamatkan diri. Tanpa ragu, Trevor menarik pelatuk. Melepaskan selongsong peluru yang akhirnya bersarang di tengkuk.
Cornelia sendiri langsung menggunakan kacamata khusus. Memindai ke arah kedua perempuan yang terkapar di reruntuhan tembok. Hasilnya cukup mengejutkan.
Ada ruangan tersembunyi di sana. Dan menurut pemindaian Cornelia, terdapat beberapa orang bersenjata. Bersiap menyerang mereka dari belakang.
Kelly segera mengambil tindakan. Dengan sisa tenaga yang masih ada, dia melemparkan Anrietta seraya berteriak, "Tangkap!"
Trevor gelagapan. Langsung melompat untuk menangkap tubuh Anrietta. Hingga akhirnya, mereka jatuh bertumpukan di atas lantai.
"Tangkapan bagus!" komentar Cornelia. Dia terlihat ceria dan mengacungkan ibu jari untuk Trevor.
Kelly hanya bisa tersenyum melihat ulah gadis yang entah masih waras atau tidak. Darah segar yang mengalir dari sudut bibir membuat Kelly segan memarahi Cornelia. Rasanya tidak enak, seperti tiang besi di lapangan.
"Serang!" komando Cornelia kemudian.
Mendengar hal itu, sebagian rekannya berbalik badan. Fokus menghujani peluru ke balik tembok.
Baku tembak tahap dua tidak terelakkan lagi. Desingan peluru terdengar jelas, menenggelamkan suara rintihan Anrietta Davine. Luka di lengannya terasa sangat pedih. Belum lagi, menghantam tembok dan sedikit tertimpa reruntuhan. Menyakitkan sekali rasanya. Sampai ingin menangis.
"Dasar cengeng!" omel Trevor tanpa mengubah posisi.
Anrietta langsung diam. Menatap lekat wajah Trevor yang berada tak jauh darinya. Aura kegarangannya sungguh terasa.
"Cepat minggir! Kau mau mati tertembak di sini, hah?!" hardik lelaki tersebut dengan mata yang hampir menggelinding keluar.
Pengawal utamanya pun langsung kelabakan. Pandangan mata Anrietta mengarah pada lengan Trevor yang dirasa membatasi ruang geraknya. Satu ada di samping siku, satu lagi di dekat kepala. Jadi, bagaimana caranya supaya dapat lolos dari sini?
Trevor pun menyadari kesalahannya. Lelaki itu pun mengambil posisi push-up. Memberi kesempatan bagi An untuk pergi.
Bukannya menyingkir, gadis bersurai coklat malah asyik menatap wajah tampan Trevor. Mungkin, inilah yang disebut dengan terpesona. Tampan sekali, soalnya.
Lelaki tersebut mendekatkan wajah. Anrietta pun menahan napas. Dirinya bisa merasakan embusan angin hangat yang menggelitik leher.
"Buruan pergi, Siput!" maki Trevor Logdawn dengan kencang di telinga Anrietta.
Gadis itu terlonjak kaget. Baru menyadari apa yang terjadi. Dan itu semua sungguh memalukan.
Perlahan, dia menyingkir. Agak sulit, memang. Nyeri di lengan tidak mau hilang, malah semakin menjadi.
"Maaf, Tuan," ujar Anrietta setelah berhasil mendudukkan diri di atas lantai.
Kebetulan, baku tembak sudah selesai. Tidak ada rekan Cornelia yang meregang nyawa. Mereka semua selamat meski ada beberapa yang terluka.
Trevor berdecih sembari bangkit. Kelihatan sekali kalau sangat jengkel dengan tingkah Anrietta.
Gadis berambut merah –Rindang, langsung menghampiri. Mengecek lengan Anrietta yang berdarah. Menarik napas lega ketika dia hanya terserempet peluru. Tidak sampai bersarang di sana.
"Selamat karena membuatku akan dicincang Mama," ujar Trevor kesal.
Anrietta tidak merespon sindiran itu. Memilih untuk memperhatikan gadis bernama Rindang yang tengah mencari obat-obatan di tas.
Cornelia mendekat. Bertanya memastikan, "Anda mau ikut temanku ke lantai dua?"
Tanpa berpikir lama, Trevor mengangguk. Lelaki itu langsung melangkah kaki, menghampiri seorang gadis yang menunggu di anak tangga.
"Saya ikut, Tuan," henti Anrietta sembari mencekal lengan Tuan Muda Logdawn.
Desis kesakitan tak sengaja keluar dari mulutnya. Sepertinya, dia memang tidak diperbolehkan untuk bergerak secara tiba-tiba.
Rindang langsung mencegah, "Aku harus mengobati lukamu terlebih dahulu."
"Nggak usah kebanyakan tingkah! Kalau kau mati, aku nggak mau repot-repot hapus air mata Mama!" semprot Trevor.
Lelaki itu mengibaskan tangan tanpa memedulikan perasaan Anrietta. Dia mulai menaiki tangga, ingin cepat-cepat meringkus orang bernama Black Agent. Supaya bisa cepat pulang.
Gadis berambut coklat diam mematung di tempat. Matanya berkaca-kaca. Apa barusan, Trevor menyumpahinya untuk mati? Sebenci itukah Trevor padanya?
Rindang bergerak cepat. Merengkuh gadis itu untuk memberinya sandaran. Anrietta pun menumpahkan tangis di sana.
"Sekarang kamu tidur, ya," bisiknya lembut.
Anrietta mendongak tak paham. Tapi kemudian, wajahnya berubah pias. Melihat sebilah pisau tajam yang terulur mendekat.
Tanpa sempat memberontak, darah segar mengalir dari leher. Tak banyak, tapi sensasi sakitnya tak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Ini sih, seperti sedang disiksa.
Pandangan Anrietta mulai mengabur. Tak dapat melihat dengan jelas. Kepalanya pun terasa sakit, seperti dihantam puluhan palu.
"A-apa yang kamu lakukan?" cicit Anrietta untuk terakhir kali, sebelum pandangannya menggelap sempurna.