Bengkel Masih Jauh Lo

1553 Words
Gegara ditahan Pak Broto tadi, aku kehilangan Susi dan Indar yang sepertinya sudah pulang lebih dulu. Kupandangi tasku berisi kerjaan itu. Lalu memandangi sekeliling ruangan yang sudah tidak ada orang sama sekali. Separah apa sakitnya istrinya Rudi, sampai pekerjaannya harus dilimpahkan padaku. Aku mendesah pelan. Lalu mengemasi sisa pekerjaanku. Mencakup kunci motor di meja, aku lalu memakai jaket dan menyambar tasku. Sekali lagi mengamati seluruh ruangan, mengedarkan pandanganku ke seluruh ruangan. Memastikan tidak ada yang tertinggal. Mataku justru tertahan pada meja Rudi yang sehari ini tidak diduduki oleh pemiliknya. “Lo, belum pulang Na,” Pak Broto keluar dan mengunci ruangannya. “Ini sudah bersiap pulang Pak,” jawabku sambil tersenyum. “Hati-hati di jalan,” pesan beliau tatkala melewatiku. Aku mengangguk. Sempat terbersit untuk menghentikan langkah beliau dan menanyakan perihal Rudi. Tapi melihat langkahnya yang sudah semakin menjauh dan juga menimbang rasa apakah pantas jika aku mengorek informasi dari beliau, akhirnya aku hanya ikut melangkah dengan membiarkan pintu tetap terbuka. Seperti biasa, parkiran tidak pernah sepi, di jam pergantian shift, ada yang pergi ada yang baru mulai datang. Terkadang aku kesulitan mengingat di mana aku meletakkan motorku sebelumnya. Motor ratusan orang dalam satu tempat yang sama, dengan beberapa merk dan strip original, tentu tak mudah dibedakan. Untung saja helm yang bergambar tazmania itu tak mudah tertukar. Dan dia selalu jadi benda yang mudah kukenali. Untuk pulang ke rumah, aku butuh waktu 45 menit dengan mengendarai motorku. Harus melewati beberapa jalanan sepi yang berjajar hutan pinus. Nasib sial tampaknya belum mau pergi dariku. Dia masih betah menempel padaku. Itu yang kurasakan saat harus menuntun motorku yang kempes bannya. Setahuku bengkel atau tambal ban masih jauh. Maka dengan lesu aku mendorong menuntun motorku. “Naya, bannya kempes?” Aku terhenti dan memandang pria yang bertanya padaku. Dari seragamnya aku tahu dia pegawai beda divisi denganku. Tapi kok tau namaku? “Iya, hehe”, aku menjawab sambil meringis. “Mau aku bantuin?” “Ga usah, tinggal aja,” kataku meski aku ragu dengan kata-kataku sendiri. “Ga usah sungkan gitu, bengkel jauh lo, kuat ta dorong jauh-jauh?” tawarnya. Aku menggeleng. Menjawab dengan jujur karena memang tak cukup mengenalnya. “Ya udah, motormu aku bawa ke bengkel kamunya naik motorku aja. Bengkel masih 2 km lagi,” katanya. “Ga usah malah ngrepotin. Ntar kalo capek aku tinggal aja motornya,” jawabku. “Gapapa sini aku bantuin,” dia langsung turun dari motornya, menggantikan aku mendorong motorku. Aku masih melongo. Rasanya ga sopan sekali kalau dia harus mendorong motorku sedangkan aku harus mengendarai motornya. Aku hanya memandangi motornya sedangkan dia mulai bergerak menuntun motorku. “Naya? Kamu mau nungguin motorku aja disitu? Ga takut diculik orang?” kelakarnya. Aku masih diam lalu terpikir untuk menaiki motornya tapi tidak lantas meninggalkannya. Aku menyalakan mesinnya dan membuntutinya dari belakang. Untung saja jalan tidak menanjak sehingga laki-laki itu tidak terlalu mengeluarkan tenaga mendorongnya. Tapi berjalan satu kilometer lebih dengan menuntun motorku tentu tidak mudah juga. Beberapa kali temannya lewat melambai padanya. Tapi tak ada yang berhenti. Aku semakin kasihan padanya. “Mas, udah deket kan bengkelnya, biar saya aja yang dorong gak apa-apa,” kataku. “Pakai hak tinggi terus mau dorong motor, yakin?” tanyanya sambil tersenyum. Aku meringis menggeleng. Untungnya kemudian seorang laki-laki berhenti, bertanya kepadanya. “Wei, kenapa motornya?” “Bannya ngambek,” jawabnya membuatku tersenyum. “Digladak piye?” tanya temannya itu. Dia menoleh padaku, aku mengangguk, memperbolehkannya menaiki motorku meski mungkin roda motorku akan lebih parah rusaknya. Tapi mau menolak pun sungkan rasanya. “Ga wes, tinggal deket aja,” jawabannya membuatku cukup terkejut. “Ya udah, duluan Ji,” lalu temannya itu meninggalkannya. Aku memandangi dia menyeka keringatnya lalu saat di jalanan yang semakin menurun, dia menaiki motorku dengan memajukan tubuhnya untuk mengurangi beban motor. Di sebuah pertigaan kecil dia membelokkan motorku. Aku mengikutinya dan kami berhenti di sebuah bengkel. Ada banyak laki-laki yang menunggui motornya diservis, memmbuatku ragu untuk turun dari motorku. “Biar bebannya di depan, ga bikin velg jadi bengkok,” katanya sambil menggaruk kepalanya yang aku yakin tidak gatal. “Gak apa-apa, makasih ya udah bantuin,” kataku “Iya kenalin, aku Aji,” dia mengulurkn tangannya dan aku menyambutnya. “Kamu kok tau namaku dari mana?” tanyaku sembari melihat motorku yang sedang diperiksa rodanya. “Siapa yang ga kenal mbaknya, habis jadi artis vital lokal kan?” si tukang tambal ban ikut menjawab. “Viral pak,” anak buahnya membenahi kosakata si bapak. Aji tersenyum, begitu juga denganku. Seisi bengkel pun melihat padaku. Membuatku semakin tidak nyaman. “Mas Aji, kalau mau pulang gak apa-apa, biar saya tungguin sendiri.” Aji mendekat padaku. Setengah berbisik dia berkata padaku. “Banyak laki-laki, kamu ga nyaman kan? Biar saya tunggu sebentar.” Aku terkesima mendengar jawabannya. Dia memarkir motornya dan melambaikan tangannya memintaku mendekat di sebuah warung es. Kami duduk di bangku bambu yang ada di depan warung. Dua gelas es campur datang dan diletakkan di antara kami. “Makasih ya,” kataku. “Biasa aja, ga tega lihat cewek nuntun motor sendirian,” katanya. “Kita beda bagian ya?” tanyaku. “He.em, udah lama kerja di pabrik?” “Baru kok, belum ada sepuluh hari,” jawabku, “Dan udah terkenal? Agak luar biasa ya?” “Di luar ekspektasi sih sebenarnya, pengennya terkenal pretasi gitu, sebulan bisa promosi misalnya.” “Duh berat, jangan terlalu cepat promosi, badai.” “Maksudnya?” “Di kerjaan kita, semakin cepat kita promosi, pertanyaan jadi makin banyak, misalnya kekuatan orang dalam kah? Atau justu orang-orang yang menginginkan jabatan kita, agak-agak berat kalau anak baru tiba-tiba mencuat karena promosi. Udah bener langkahmu, mencuatnya berkat berita miring aja. Save itu,” jelasnya. “Begitu?” aku mengangkat gelas yang mulai ikut dingin. “Rumahnya mana? Jauh?” tanya Aji lagi. “Hm, lumayan sih, masih setengah jam an lah,” jawabku. “Lumayan jauh sih, nanti berani pulang sendiri kan?” “Tiap hari juga pulang sendiri kok,” jawabku. Aku mengulurkan beberapa lembar tisu padanya yang menyeka keringatnya. Kami terdiam. Secara tak sengaja sama-sama menikmati matahari yang mulai senja. Jingga menyerbu langit. Menenggelamkan biru yang memudar. Aku meminum es campur yang manis itu. “Anak buahnya siapa Na?” “Pak Broto,” jawabku. “Ah, iya,” dia mengangguk setelah mengingat-ingat sejenak. Motorku telah dibawa mendekat padaku. Aku membayar ongkos tambalnya. Setelahnya aku kembali pada warung es yang kami pakai untuk menunggu. Terlihat Aji keluar dari dalam warung. “Esnya udah aku bayar,” dia tersenyum padaku. “Ngrepotin lagi,” kataku. “Santai aja, udah pulang langsung aja, keburu sore makin gelap nanti,” pesannya. Aku menangguk. “Benar berani pulang sendiri kan?” Setelah meyakinkan bahwa aku baik-baik saja, aku bisa pulang sendiri. Aji pamit pulang. Aku membalas lambaian tangannya padaku. Kami berpisah di pertigaan keluar dari bengkel. Dia melajukan motornya meninggalkanku. Begitu sampai rumah, Papa menungguku di depan rumah. “Di wa kok ga di balas Na?” “Loh iya kah?” Setelah memarkir motorku, aku mengeluarkan ponsel dari dalam tasku. Melihat ada pesan Papa bersama beberapa jejak panggilan tak terjawab. Aku menaiki tangga teras sambil mengetik pesan pada Papa. “Maaf Pa, baru balas, ge lembur kok, Cuma ngeban aja,” begitu pesanku. Aku melewati Papa dan mendengar notifikasi dari ponsel Papa. “Hoo, dasar,” Papa tertawa membaca pesanku. Kami masuk rumah sembari Papa merangkul bahuku. Bertanya apakah di kantor terjadi sesuatu. Aku menceritakan hari ini Pak Broto memberiku pekerjaan tambahan yang seharusnya bukan tugasku. “Kerjakan aja, lakukan yang terbaik,” kata Papa. “Iya Pa, diusahain,” kataku. Aku melihat Mama baru keluar dari kamar mandi saat aku juga ingin mandi. “Pulang telat Na?” tanya Mama “Ngeban Ma,” jawabku. “Dorong jauhapa dinaikin aja motornya?” “Didorongin teman.” “Alhamdulillah,” Mama lalu menyalakan kompor dan menghangatkan sayur yang sudah dimasaknya tadi pagi-pagi sekali. Kami makan malam bersama setelah sholat maghrib yang juga bersama. Hal-hal kecil kami bagi di meja makan itu. Tentang pekerjaan kami, teman-teman kami, hari-hari yang sederhana yang terlampaui dengan baik-baik saja. Aku membantu Mama merapikan meja makan setelah makan malam selesai. Mama memilih menonton sinetron kesukaannya, sementara Papa meskipun ada di sampingnya ternyata asyik dengan ponselnya. Sedangkan aku membawa laptopku keluar dan mengerjakan laporan yang harus kami presentasikan besok. Laporan yang disusun Rudi benar-benar rapi dan aku sama sekali tidak kesulitan membacanya. Aku mencari template presentasi yang sesuai yang bisa memuat semua materi kami. Lalu membuat infografis, bagan-bagan dan ilustrasi video yang sederhana untuk menggambarkan progress kinerja bagian kami. Agak ragu jika melihat hasil akhir presentasiku apakah sesuai dengan keinginan Pak Broto. Ingin bertanya kepada Rudi apakah biasanya presentasi disusun seperti ini ataukah ada yang salah, tapi seperti yang dikatakan Pak Broto sebelumnya, tampaknya Rudi sedang tak bisa diganggu lebih dulu. Sejenak aku jadi memikirkan sakit apakah istrinya Rudi. Berharap semoga dia segera sembuh dan keduanya akan beraktifitas seperti semula. Aku ke dapur dan mengupas beberapa apel untuk teman berpikir selagi aku mengolah design presentasi. Setelah selesai, aku lalu menyimpan dan mengirimkan ke Pak Broto, memintanya mengoreksi apakah ada bagian yang kurang atau tidak. Beliau membalasnya singkat dengan mengatakan bagian-bagian yang biasanya diperjelas oleh Rudi. Aku segera memperbaikinya sebelum akhirnya mematikan seluruh aplikasi dan menutup laptopku. Sedikit terbias senyum Aji saat membantuku mendorong motor tadi. Dia baik.  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD