Masa Laluku Saja Gagal

1971 Words
Keesokannya begitu sampai kantor, aku menghampiri mejaku, melirik ke meja sebelah yang masih kosong, Rudi belum datang. Ataukah dia juga tidak datang lagi seperti kemarin? “Melongo bae cin, ada apa?” tanya Susi. “Rudi belum datang?” tanyaku. “Belum, kemarin dia juga ga datang kan?” jawab Susi yang akhirnya kupaksa menyadari ada yang aneh pada Rudi. “Pak Broto ngasih kerjaan Rudi ke aku. Aku udah nyoba nolak. Tapi Pak Broto maksa, katanya Rudi ijin istrinya sakit, kamu tahu?” tak lama, Indar pun datang. “Kita jenguk aja?” akhirnya Indar pun ikut nimbrung. “Harusnya begitu, tapikan kita ga tahu istrinya dirawat di  mana,” jawab Susi. “Kita WA Rudi apa ya?” usul Indar lagi. “Kalau nanti dianya masuk, ya kita tanyain, kalau dia belum datang juga kita tanya by phone lah,” putusku. Maka kami pun berencana menanyakan masalah Rudi ketika makan siang. Sekaligus merencanakan menjenguk istrinya yang kabarnya sakit sepulang kerja. Kami masih saling berdiri di dekat meja kerja Susi. Sampai pintu ruang kami terbuka, kami bersamaan melihat ke arah yang sama. Ternyata Pak Broto yang datang, kami bersamaan menyapa beliau sebelum akhirnya berhamburan kembali ke meja kerja masing-masing. Aku menyiapkan slide presentasi yang beliau minta sebelumnya. Saat Pak Broto memanggilku, aku menunjukkan hasil kerjaku semalam. Awalnya beliau mengamati, mengerucutkan bibir, lalu tersenyum, aku pun tersenyum karena merasa lega. Beliau lalu mendiskusikan apa yang kurang dari slideku dan memberi saran bagaimana baiknya. “Selasa besok kamu presentasikan ini. Bersama saya, dan juga Indar. Saya ingin kamu sebagai presentatornya. Siap ya?” “Baik pak.” “Nah kalau kamu sendiri yang menyiapkan materi presentasine kan lebih enak. Lebih paham. Lagipula ini hanya sampai Rudi agak longgar.” “Iya Pak, terimakasih arahannya, saya keluar dulu,” setelah beliau mengangguk, aku pun undur diri dari ruang pribadinya. Saat aku keluar dari ruangan Pak Broto, aku melihat Rudi sudah duduk di kursinya. Aku tak tahu sudah sejak berapa lama, tapi kali ini kuperhatikan dia ternyata begitu kusut. Aku memutuskan menghampirinya dulu. “Hey boy, are you okay? Something wrong?” aku memberanikan diri bertanya. “I’m okay, thanks” dia tersenyum getir ketika menjawabku. Aku kembali ke mejaku, mengurungkan niat untuk bertanya karena kulihat dia tampak sangat kelelahan. Meski tak sabar untuk lebih banyak berbincang dengan Rudi. Sesekali aku, Susi dan Indar saling bertatapan, mengamati Rudi dan seketika merasa iba tapi kami saling menahan diri setidaknya sampai jam istirahat nanti lah. “Makan bareng yuk!” ajakku pada Rudi saat jam 12 lebih. “Makan dulu gih Na, aku nanti aja.” “Ayuk ah, aku yang traktir,” ajakku lagi. “Iya Rud, temenin Naya makan, kasian dia baru makan dua hari,” Indar mencolek lenganku. “Hahaha, lo pikir gue sebelumnya ga makan?” Kami separuh menyeret Rudi agar mau ke kantin dan dan makan bersama kami. Meskipun dia berkata dia masih kenyang dan tidak cukup lapar, tapi kami tetap memaksanya, setidaknya agar dia mendapat penghiburan. Aku berjalan di belakangnya dan aroma rokok kuat tercium. Padahal setahuku Rudi bukan seorang perokok. Itu membuatku memahami situasi hatinya yang mungkin sangat tidak baik. “Mau makan apa? Aku pesenin ya?” tawarku mengetahui Rudi langsung terduduk dan bukannya pesan makanan. “Kamu aja, aku masih kenyang.” Dia mengeluarkan sebatang rokok dari bungkusnya lantas menyulutnya. Indar melihat ke arahku. Aku hanya mengangguk pelan, mengisyaratkan mereka untuk diam membiarkan Rudi berekspresi. Aku tahu Susi menahan bibirnya untuk tidak protes. Sama denganku, Susi benci pria perokok, tapi dia ada di level yang lebih benci sekali ketimbang aku. akhirnya Susi berdiri dari meja dan menghampiriku. “Biar aku aja yang pesan makanannya, kalian duduk aja dulu, ajakin dia ngobrol,” katanya yang memilih mengelak. Aku mengangguk, akhirnya aku mendatangi meja yang ditempati Rudi. Di atas meja, bekal makanan Susi terbuka dan ditinggalkan begitu saja. Aku menutupnya supaya makanan itu tidak berbaur dengan asap rokok Rudi yang kosong menatap ke arah pepohonan di dekat kantin. Menyadari Susi yang memilih pergi juga aku yang menutup kotak makan Susi, Rudi mematikan rokoknya. “Maaf,” singkat kata-katanya sambil menginjak rokoknya ke lantai. “Gak apa-apa kalau bisa bikin kamu lega,” kataku. Belum sempat kami berbincang, Susi dan Indar datang dengan membawa makanan kami. Sedang di belakangnya seorang pramuniaga mengantar minuman kami. Indar meletakkan seporsi rawon di hadapan Rudi. Lalu nasi kari ayam untukku di bawa oleh Susi. “Makan gih,” kata Indar. Lama, Rudi hanya mendiamkan makanan itu. “Kemarin Naya, sekarang Rudi yang ga mau makan, besok siapa ini giliran ga doyan makannya?” celoteh Indar. “Makan gih, apa mau tak suapin?” aku menggoda dengan menyendok nasi rawonnya. “Ga usah repot-repot, aku makan sendiri aja,” katanya sambil menolak sendokku yang hampir sampai ke mulutnya. Akhirnya dia mengambil sendok yang telah kuletakkan lagi di piringnya. Meski terlihat ragu untuk memaksa dirinya sendiri, tapi akhirnya dia memasukkan nasi itu ke mulutnya. Pelan mengunyah nasi yang bisa jadi kehilangan kenikmatannya di mulut Rudi. “Nah gitu kan enak, aku dengar istrimu sakit, sakit apa?” tanyaku. “Istriku, hamil,” jawabnya lesu. “Selamat,” kataku refleks. “Lah harusnya bukannya bahagia?” tanya Indar. “Masalahnya, menurut dokter kehamilannya harus digugurkan. Dan harus dipotong sebelah lengan ovarinya.” “Hamil diluar kandungan?” tebakku.   Rudi mengangguk. Kami bersama-sama saling memberi semangat. Memberi informasi dari berbagai cerita bahwa itu tidak menutup kesempatan hamil lagi. Tapi Rudi masih terlihat sedih. Aku tahu kedalaman seseorang memandang masalah amat sangat berbeda. Bagi kami yang tidak mengalaminya, akan mudah menasehati. Sedangkan bagi Rudi yang berada di permasalahan itu sendiri rasanya tentu amat sangat melilit. “Ga usah sedih, lakuin aja apa kata dokter,” kata Indar. “Atau kamu ada kesulitan biaya? Kita bisa bantu kok, iya kan In?” tawar Susi. “Kalo biaya aku bisa pinjem kantor Sus, toh ada jaminan kesehatan juga, tapi ibuku minta aku nyeraiin istriku, dari awal udah ga suka. Sekarang ada masalah kayak gini, alasan takut ga punya cucu jadi alasan. Sekarang istriku di rumah sakit, tapi Mama seringkali datang cuma biar bisa ngomong yang jelek-jelak ke istriku.” “Jadi beberapa hari aku ga masuk kerja, aku mengurangi kesempatan ibuku buat nglakuin yang gak-gak ke istriku.” “Lah kok kamunya sekarang malah kerja? G nungguin di rumah sakit?” Indar mendekat kepadanya. “Kalo aku nungguin pasti Mamaku bilang gara-gara Sella aku ga kerja, paadahal semua butuh biaya.” “Dirawat di  mana Rud?” tanyaku. “Di RSUD Mangun,” jawab Rudi lirih. Dia meletakkan sendoknya, mengakhiri waktu makannya, bukan karena terburu-buru, tapi karena nafsu makannya hilang. Dia terlihat berkali-kali menengok ke layar ponselnya. Memastikan istrinya baik-baik saja walaupun tanpanya. “Keluarga istrimu emangnya ga ada yang bisa nungguin Rud?” tanyaku. “Istriku anak broken home Na, dia besar sendirian begitu lulus SMA, itu alasan awal ibukku dulu ga setuju aku menikah dengannya, tapi aku ga menemukan perempuan lain yang lebih ngertiin aku dari pada dia, jadi aku  memaksa menikahinya, tapi aku tak tahu kalau ibu masih juga tidak melunak meski bahkan saat dia hamil calon cucunya,” terlihat Rudi akan menarik sebatang rokok lagi, tapi diurungkannya. “Suatu saat ibumu akan mengerti ketulusan istrimu. Percaya padaku,” kata Susi. Aku terdiam. Mengingat masa laluku yang juga boleh dibilang gagal. Jangankan pilihanku sendiri, hasil perjodohanku saja tidak mulus. Pernikahan yang sebentar. Pernikahan yang tanpa malam pertama. Pernikahan yang diselamatkan oleh kematian. Aku mendengus mengingat bagaimana peti mati itu kutatap tanpa perasaan apapun. “Kenapa Na?” tanya Indar. “Eh, ngga, cuma… ingat masa lalu,” jawabku. “Yogi?” tanya Indar sangat pelan. Aku menggeleng. Sangat lebih baik jika Indar ataupun yang lainnya hanya tahu tentang Yogi di masa laluku. Karena nyatanya aku merasa tak nyaman jika harus mengingat almarhum suamiku. Seperti saat Papa merasa aku masih trauma karenanya. Ish, aku tak pernah mencintainya. “Istrimu boleh dijenguk Rud?” tanyaku. “Boleh kok, ke sana aja, tapi ga usah bawa apa-apa ya, udah banyak banget oleh-oleh di sana,” kata Rudi. “Ya udah yuk balik dulu,” ajak Indar. Kami kembali ke ruang kerja kami. Aku berjalan di sisi Susi sedang Indar berjalan di sisi Rudi. Beberapa mata masih menatapku, seolah tak puas dengan keanehan yang kualami kemarin. Aku membalas tatapan mereka dengan senyum. Ada pula yang kubalas dengan sinis. Semua akan kembali kepada reaksi mereka bukan? Kalau hanya ingin tahu, gak masalah, tapi kalau mau coba-coba berkomentar dan ingin tahu, maaf, hidupku bukan konsumsi publik. Aku melakukan rutinitas kerjaku seperti biasa, begitu juga lainnya, kami sama-sama fokus pada pekerjaan kami masing-masing untuk sesaat. Saat pekerjaanku sudah selesai sedang kulihat tumpukan mapdi meja Rudi masih menggunung, aku menghampirinya. “Bisa kubantu?” “Ga usah,” jawabnya. “Gak apa-apa, aku udah selesai kok,” bujukku. Dia menatap ke arahku ragu. Aku mengangguk. “Biar kamu bisa cepet pulang ke rumah sakit, kasian istrimu,” kataku. Dengan tersenyum, Rudi lalu mengangsurkan 2 buah map padaku. Aku menerimanya dan kembali ke meja kerjaku. Kulihat Indar juga melakukan hal yang sama. Setelah selesai, aku mengirim hasilnya ke email Rudi. Dia membalasnya dengan emoticon ciuman diiringi kata terima kasih. Saat aku sudah selesai, Indar tampak meregangkan tangannya. Rudi tersenyum dan mengambil map dariku juga Indar. “Pulang duluan gih,” kataku. “Iya, ini juga mau pulang,” jawabnya. Dia kemudian mengemasi barangnya dan mengetuk ruangan Pak Broto. Aku mulai menebak-nebak apakah dia keberatan jika pekerjaannya diserahkan padaku? Aku menunggunya keluar dengan cemas dan rasa ingin tahu apa yang dia bicarakan. Tapi tak lama kemudian dia keluar dengan tersenyum dan berpamitan pada kami. “Pulang dulu ya,” dia melambaikan tangan ke luar ruangan. Aku, Indar dan Susi menunggu jam pulang sebelum akhirnya memutuskan menjenguk istri Rudi. Rumah sakit memang agak jauh dari tempat kerja kami, tapi tak masalah toh kami bawa kendaraan masing-masing. Kami beriringan menuju rumah sakit yang sudah disebutkan oleh Rudi. Tak lupa kami mampir membeli buah sebagai buah tangan. Yah, walaupun kata Rudi ga perlu bawa apa-apa tapi rasa-rasanya aneh menjenguk teman tanpa buah tangan. Kami berjalan pelan menyusuri lorong-lorong rumah sakit sampai melihat Rudi sedang terduduk di bawah bahkan dengan kemeja yang sama. Kami lalu masuk ke bangsal yang berisi 4 orang itu. Rudi berdiri menyalami kami. Kami juga menyalami istrinya yang masih terbaring. “Gimana mbak?” tanyaku berbasa-basi. “Alhamdulillah mbak, sudah ga terlalu sakit,” jawabnya. “Sudah operasi?” tanya Indar. Kami lelau berbincang sampai kemudian seorang ibu-ibu datang membawa rantang dan meletakkannya ke nakas di samping tempat tidur istri Rudi. “Makasih bu,” kata istri Rudi. “Bukan buat kamu,” meskipun pelan, tapi aku yakin, Indar dan Susi pun mendengarnya. Raut muka Rudi dan istrinya seketika kaku dan canggung. Tapi Rudi segera menguasai keadaan dengan memperkenalkan kami. Terlihat ibunya begitu ramah kepada kami, namun sang ibu juga mempermalukan menantunya dengan menceritakan ketidakbecusannya menjaga kandungan. Padahal kehamilan ektopik tentu tidak ada hubungannya dengan rajin atau tidaknya seseorang mengurus rumah. Awalnya kami terdiam, namun begitu melihat istri Rudi yang nampak begitu nelangsa, kami pun tetap memberi semangat. Memberi beberapa referensi untuk membungkam kesalahpahaman ibu Rudi tentang kehamilan ektopik yang dialami menantunya. Rudi terlihat beberapa kali mengangguk. Meski sesekali mengerutkan kening. Menjelang pulang, aku mendekat pada Rudi. “Rud, maaf ya, kemarin Pak Broto ngasih aku tugas buat presentasi, biasanya kan itu tugas kamu,” kataku mengakui job desknya ditanggungkan padaku “Terus kamu kesulitan ga?” tanya Rudi. “Kesulitan sih ga, malahan udah beres sih, tapi aku ga enak sama kamu.” “Aku justru seneng pak Broto mau dengar saran aku, yang ngasih tampilan presentasi kamu juga aku kok, maaf ya aku lancang, tapi aku butuh waktu lebih banyak buat istriku,” Rudi justru mulai lega ketika dia mengatakan yang sebenarnya. Dia berterima kasih padaku. Dia menepuk pundakku sambil bilang, “Good luck”.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD