Dari rumah aku sudah mempersiapkan diri. Bagaimanapun akan berbeda jika suatu presentasi sudah dipersiapkan dengan yang dadakan. Aku mengenakan busana yang lebih official daripada biasanya. Kalau soal make up sama saja. Karena kalau tampil menor justru ga banget lagi. Set celana kantor warna biru tua dengan ikat rambut gurita warna senada agak menyulitkanku ketika memakai helm. Maka begitu sampai kantor aku segera ke kamar mandi lebih dulu.
Aku melepas ikat rambutku dan merapikannya kembali. Menyisir anak rambut yang memang baru tumbuh agar baru rubuh searah dengan teman-temannya yang lebih panjang. Ini pertamakalinya aku presentasi di kantor ini. Berdebar sih tidak, tapi khawatir tidak tampil maksimal tetap ada.
“Na, sudah siap?” tanya Indar begitu aku masuk ke kantor.
“Emang presentasi sepagi ini gitu?” tanyaku.
“Ya ga sih, cuma godain kamu, kok udah highclass banget tampilannya,” godanya sambilsenyum-senyum.
“Haish bikin kaget aja,” aku lalu duduk dan menyalakan komputer.
Aku kembali mengoreksi tampilan presentasiku tak ingin ada teks yang typo atau animasi yang menganggu. Setelah merasa cukup aku mencetak beberapa set hardcopy dan menyiapkan dalam masing-masing map seperti yang dipesankan Rudi juga Pak Broto.
“Na, ini juga masukkan dalam map juga,” Rudi menyodori beberapa bendelan laporan fisik yang berisi angka-angka penjualan bagian kami.
“Iya Rud,” aku menerima beberapa salinan itu lalu menatanya dengan urutan yang diberitahukan Rudi.
Saat Pak Broto, beliau tidak langsung masuk ke ruangannya melainkan menghampiri meja kerjaku dan melihat salah satu map yang sudah kupersiapkan untuk presentasi. Aku segera berdiri dan mempertanyakan apakah masih ada lagi yang perlu dipersiapkan?
“Bagus, sudah lengkap, nanti jam 9 kita ke lantai dua,” kata Pak Broto.
Begitu jam 9 kurang 15 menit, aku dan Indar bersiap naik ke lantai dua dengan membawa berkas juga file yang kami butuhkan. Sebelum Pak Broto juga berada di sini, kami duduk di dekat tangga sambil melihat ke arah kaca yang memperlihatkan asap pabrik yang mengepul.
“Untung ya kita kerjanya di dalam ruangn, bayangin panasnya yang kerja di bawa cerobong asap itu,” kata Indar.
“Hm, bener, tapi ya semua akan sesuai porsinya donk, tenaga ahli yang pakai otak dan tenaga di bawah situ juga gajinya lebih gede dari kita,” balasku.
“Helelh, lagumu, kayak yang udah gajian aja,” sembur Indar sambil melengos.
“Oh iya ya, aku belum tahu gaji kita gede apa ga ya?”
Kami berdua terkekeh kecil. Aku melirik jam tanganku dan melihat jarum panjang sudah di angka 10, tapi Pak Broto belum terlihat naik ke lantai dua.
“In, kok lama ya? Jadi presentasi ga ini? Jadi makin berdebar ih akunya,” kataku.
“Biasa kaya gini tuh, palingan Pak Samuel masih ada meeting lain,” jawab Indar.
“Pak Samuel siapa In?”
“Dirut mbak Bro, nanti kenalan sendiri ih.”
“Iya mbak Sis,” cibirku.
Kami menunggu cukup lama sampai terdengar langkah kaki Pak Broto dari belokan tangga, kami segera menyambutnya berdiri. Tak lama, dari sudut, sebuah pintu terbuka lalu dua orang keluar dan berselaman dengan Pak Broto, basa basi sebentar sebelum akhirnya kami masuk ke ruangan setelah dipersilakan.
Tidak sama seperti bayanganku ketika melihat sinetron, ruangan meeting terdiri dari satu meja panjang kayu dikeliling banyak kursi. Pak Broto menyalami dua orang direksi sebelum akhirnya aku diminta memulai presentasi.
Akhirnya presentasi berjalan lancar. Kemampuan presentasiku tentu saja tak perlu dipertanyakan. Bagaimanapun aku sarjana komunikasi, tambahan lagi selama nganggur aku juga ngevlog. Indar sebagai sekretaris Pak Broto, senyum- senyum saja melihatku presentasi sambil sesekali menulis notulen. Begitu selesai dan tidak ada masalah, kami keluar bersama.
“Ngapa lu senyum-senyum mulu dari tadi?” tanyaku sambil berbisik.
“Hehe, aku bayanginnya kamu lagi ngajarin pake foundation yang benar. Dikit-dikit kok pegang dahi,” jawabnya.
“Gerah buk, AC tadi berapa sih? Tumben aula direksi kok gerah.”
“Bukan ruangan yang gerah, kamunya yang gugup, nerpes gitu bahasanya.”
“Belepotan ga sih?” tanyaku yang justru menjadi tidak percaya diri.
“Belepotan sih ga, clear, Cuma nyeka keringat mulu, kaya habis lari-larian marathon.”
Kami masih terkekeh di belakang Pak Broto yang lebih dulu menuruni tangga. Ruang direksi ada di lantai 2, sehingga setelah selasai presentasi kami segera turun dan mengerjakan deadline lain. Saat di tangga aku berpapasan dengan Aji. Sempat melihatnya berbincang santai dengan Pak Broto, bahkan Pak Broto menepuk pundaknya selagi dia berbicara sambil tersenyum.
“Hai,” sapaku lebih dulu saat akhirnya kami berpapasang
“Oh hai, habis presentasi?” tanyanya.
“Iya, kamu?”
“Baru mau, wish me luck ya?” katanya sambil terus menaiki tangga.
Aku tak melihat orang lain bersamanya. Wah, dia pasti anak buah andalan. Sehingga cukup presentasi sendirian saja tanpa tim. Kami lalu saling tersenyum dan aku melihatnya yang naik tangga dengan ransel di punggungnya.. Ah, peduli amat, yang penting pekerjaanku kelar, lancar. Kami kembali meneruskan perjalanan kami yang tinggal beberapa anak tangga lalu belok ke kanan dan kami sampai di kantor kami kmbali. Aku mengemasi berkas-berkas yang baru aku bawa kembali dari aula direksi.
“Eh mana laporan kamu? Biar aku mintakan tanda tangan pak bos sekalian,” pinta Indar.
“Oke sebentar,” jawabku yang lalu sibuk membolak balik map karena berkas yang diminta tidak ada.
“Mampus aku In, kok ga da sih? Tadi aku taruh sini, aku juga ga kemana-mana kok,” gerutuku.
“Ketinggalan di atas?” tanya Indar.
Aku bergegas keluar dan akan kembali ke atas, tapi Susi memanggilku.
“Telpon Na!” aku kembali.
“Halo,” sapaku.
“Na, ini Aji, berkas kamu ketinggalan, tapi ini presentasi udah mau dimulai. Kamu tunggu di bawah aja nanti aku antar.”
“Ya ampun Mas, aku jadi ngrepotin kamu lagi kan?” sesalku.
“Udah ga apa-apa,” sambungan lalu diputus.
“Siapa Na?” tanya Indar.
“Cowok yang tadi papasan sama kita di tangga,berkasku ketinggalan di atas,” aku melengkungkan bibirku ke bawah.
“Ceroboh kamu, kalau dilihat pak dirut bisa diwarning kamu, biar aku ambil,” kata Rudi.
“Di atas ada meeting lain, nanti mau di bawa ke bawah sama Aji,” jawaku merasa bersalah.
“Lain kali cek dulu, sebelum ninggalin ruang rapat,” pesan Rudi.
Sekitar 1 jam kemudian Aji mengantarkan berkas itu ke ruanganku. Mengetuk pintu mejaku sambil tersenyum.
“Ketinggalan nih,” katanya sambil meletakkan map tipis itu di hadapanku.
“Makasih ya,” jawabku.
“Makasih doang nih?” tanyanya.
“Lah trus?”
“Ga pengen traktir atau nonton gitu?”
“Weish, ongkirnya mahal ya pak, dari lantai dua ke lantai satu?” tapi kami justru tertawa bersamaan.
“Berkas penting kok ditinggal-tinggal, bukan ongkirnya yang mahal, nyelamatin kamu dari warning yang mahal,” jawab Aji.
Alih-alih marah, aku mengakui kesalahanku.
“Iya deh, makasih sekali lagi,” kataku.
“Beneran makasih aja?”
“Iya deh makan sore,” kataku.
“Aku becanda, kalau ga da waktu gak apa-apa,” katanya sambil tersenyum.
Aji lalu berbalik dan keluar dari ruanganku. Awalnya aku membiarkannya melangkah pegi menjauh dariku, tetap saat melihat punggungnya, entah mengapa rasa bersalahku menumpuk. Seolah aku perempuan yang tidak tahu berterimakasih dan membiarkannya pergi begitu saja. Aku pun berdiri dan memanggilnya.
“Mas!” panggilku.
“Ya?” dia berbalik melihatku.
“Aku ga becanda,” kataku.
Dia sekali lagi tersenyum. Kami memilih tempat di sebuah café di dekat perpustakaan kota sepulang kerja. Dia nampak senang ketika meninggalkan aku yang masih memeluk berkasku. Dia sempat melambaikan tangan pada Rudi yang sudah berkemas ingin pulang lebih awal. Karena istrinya sudah boleh pulang dari RS. Tapi yang kulihat justru Rudi menunduk dan membalas sedikit senyum saja.
“Istrinya Rudi dah boleh pulang ya?” tanya Susi.
“He.em, makanya dia bantuin kemas-kemas perlengkapan istrinya dari rumah sakit,” jawabku.
“Kasian ya istrinya, ibunya Rudi kejam juga,” kata Indar.
“Masih mending, Rudi bisa jadi penengah, seenggaknya istrinya ga patah semangat, kalau Rudi jadi suami macam di sinetron-sinetron itu, atau jadi suami yang diem aja ngliat istrinya dintindaas, nyeseknya double tahu,” tanpa sadar aku yang masih bergelayut pada bingkai pintu membuat analogi dengan menunjukkan perasaanku sendiri.
“Kaya yang udah punya mertua aja kamu tuh,” seloroh Indar.
“Kamu pikir statusku apa?” tanyaku.
“Beneran kamu dah nikah?” Susi menghentikan pekerjaannya dan menghampiriku.
“Yang bilang ada nikah siapa?” kilahku akhirnya.
“Haish,” Susi lalu menepuk bahuku.
“Udah berkasnya jangan dipeluk aja, buruan sini, aku mintain tanda tangan kalau udah dibenahin,” Indar menggerakkan tangannya menagih berkas yang kubawa.
“Eits, jangan dulu,” aku lalu kembali ke meja kerjaku dan melengkapi kekurangan yang diminta.
Setelah itu aku memberikan berkas itu kepada Indar. Dia pun membawa berkas itu ke ruangan Pak Broto, setelah ditandatangani, dia membuat pengarsipan dan lalu membawa salinan lain keluar untuk diserahkan ke direksi.
“Kamu kenal mas-mas yang tadi ngembaliin berkas Sus?” tanyaku.
“Ga, kenapa? Suka?” tanyanya.
“Baik ya,” jawabku.
“La wong aku ga kenal kok disuruh nilai baik apa ga,” Susi menjawab tanpa menoleh ke arahku.
Aku lalu menunduk dan kembali tekun dengan pekerjaanku. Saat makan siang, seperti biasa kami duduk bertiga meskipun Susi membawa bekal sendiri. Tidak sengaja, kali ini aku bertemu lagi dengan Aji.
“Eh Mas, makan siang juga?” tanyaku basa-basi.
“He.em,” jawabnya sambil menunjukkan piringnya yang berisi ikan laut berbumbu.
Aku lalu mempersilakannya makan dan kembali ke meja makanku dengan membawa makansiang yang telah kupesan. Indar menunjukkan iklan film terbaru yang tayang di bioskop nanti malam.
“Nonton yuk,” ajaknya.
“Ayo,” jawab Susi.
Sebenarnya aku juga bersemangat, tapi teringat janji dengan Aji sepulang kerja, sepertinya ga enak kalau dibatalkan.
“Jangan nanti malam lah,” tawarku.
“Oh iya, adayang mau ketemuan,” goda Susi.
“Ketemuan apaan, kan udah ketemu dari tadi,” kataku menghindar.
“Lah, mau jalan sama siapa?”
“Sama mas-mas yang tadi ngembaliin berkas,” Susi melirik ke arah Aji yang masih menunduk menikmati makanannya bersama temannya.
Sepulang kerja, aku melihat Aji yang menungguku sambil memainkan ponselnya di taman dekat parkiran. Aku melambaikan tangan saat dia mendongakkan kepalanya dan beradu pandang denganku. Sejenak terlihat acuh karena justru berjalan ke arah lain, aku jadi salah tingkah. Berpikir apakah dia membatalkan janjinya. Tapi saat aku baru akan menarik motorku keluar parkiran, dia sudah ada di depanku. Kami lalu menuju café yang sudah kami setujui tadi.
“Mau pesen apa Na?” tanyanya dengan membolak balik menu.
“Mau friench fries aja Ma, sama mocca pake es,” jawabku.
Dia lalu membawa menu ke pelayan dan memesankan makanan. Sekembalinya dia memasukkan dompetnya ke saku celananya, tandanya dia sudah membayar pesanannya.
“Loh, kok sudah dibayar, kan Naya yang ngajak keluar,” aku semakin malu karena kalah cepat.
“Biar cowok aja yang bayar, cewek cukup nemenin, duduk manis, makan yang lahap,” jawabnya.
“Sudah lama mas, kerja disana?” tanyaku basa basi.
“Cukup lama, mungkin sekitar 6 tahun ya, sejak lulus kuliah langsung di sana sih,” jawabnya.
“Wih, makanya udah hapal seluk beluknya ya?”
Kami membicarakan hal-hal kecil soal kantor, hobi dan entah melantur kemana saja. Yang pasti kemudian ponselku berdering.
“Aku sama Indar jadi nonton nih, ikutan ga kamu,” tawar Susi.
“Lah, ih jahat, dibilang besok aja ih,” kataku kesal.
“Cie, miss universe ketinggalan nonton yes,” goda Indar.
“Besok nonton sendiri ya,” kami tertawa sebelum akhirnya sambungan terputus.
Aku kembali pada Aji yang saat itu melihatku sambil tersenyum. Akupun tersipu karena tatapannya. Sepertinya sudah lama tidak ditatap dengan pandangan sejenis itu. Aku menunduk, berdehem sejenak, lalu memasukkan friench fries ke mulutku.
“Maaf ya Mas, kelepasan ketawanya,” akhirnya kuakui kebodohanku.
“Ga apa-apa, malah suka kalo ketawa gitu, cantiknya nambah,” dia senyum dan ikut makan French fries dari piringku.
“Tadi ada apa temannya? Sorry aku curi dengar, kayaknya lagi mau nonton ya”, tebaknya.
“He.em,” aku mengangguk dan menggoyangkan tanganku mengisyaratkannya agar tak perlu meributkan kekecewaanku.
“Bisa kok disusulin kalau kamu mau?” tawarnya.
“Gak usah, kapan-kapan aja, masih pakai set office ini,” aku menunjuk baju kantorku yang masih menempel di badanku.
“Mau beli dulu? Atau balik pulang dulu? Jauh ya dari rumah?” dia bertanya sambil melihat ke luar café.
“Gak perlu sampe gitu, nonton aja kok, lain kali bisa direschedule kok,” aku menelan lagi kentang goreng yang sudah berlumur saos.
“Ok, tapi ga kecewa karena harus nemenin saya makan kan? Jadi merasa malak sayanya,” kata Aji.
Aku sekali lagi menggeleng. Mengatakan bahwa dia tidak perlu menganggap begitu. Saat sore semakin gelap. Kuning menjingga perlahan memudarkan biru menjadi hitam kemerahan. Kami sepakat pulang dan saling berpamitan. Kami pun berpisah karena berbeda arah.