Penjaga Kepercayaan Papa

1046 Words
Sejak hari itu, aku dan Mas Aji, begitu aku mulai terbiasa memanggilnya, intens bertemu. Terkadang di jam makan siang. Terkadang sengaja untuk nonton. Malam ini sudah ketiga kalinya dia menjemputku di rumah. Lelaki yang ternyata Manager Produksi itu, sedang menghadapi Papa di teras depan. Aku mengintip keduanya di balik pintu dan memilih bertahan di sana karena keduanya telihat dengan serius. “Nak Aji sudah menikah?” tanya Papa yang membuatku menahan diri untuk keluar. “Belum Pak,” jawab Mas Aji sembari menatap Papa. “Serius dengan anak saya?” loh kok to the point?? “...”Aji terdiam “Mau menikahi anak saya?” what?? “Mau Pak,” kudengar jawabannya tegas. Apakah ini juga yang terjadi pada Yogi dulu. Apakah jawaban seperti itu juga yang diberikan Yogi. Apakah tanpa pikiran yang panjang mereka menjawab pertanyaan seserius itu? Aku melangkah keluar dan melihat keduanya yang mendadak hening. “Silahkan kalau mau keluar, nanti kita sambung lagi,” Papa menyilakan kami dengan tersenyum. Mas Aji lalu menundukkan kepalanya dan berpaling membututiku di belakang. Sesampainya di mobil, dia membukakan pintu dan kamipun berangkat. “Mas tahu pertanyaan macam apa itu tadi?” tanyaku ketus. “Tahu,” jawabnya singkat. “Mulai menyesal karena asal jawab?” tukasku. “Ga.” “Lalu benar-benar mau menikahi saya?” “Kamu keberatan?” dia lalu menepikan mobilnya.   Dia melihatku. Aku mengeluarkan KTP ku. Kutunjukkan persis di hadapannya. Aku berusaha menunjukkan statusku yang sebenarnya. Kuletakkan jempolku di bawah kata “Janda”. Berharap dia mundur atau setidaknya memikirkan ulang apa yang sudah diputuskannya. Bukan tentang aku sendiri yang memberinya harapan. Tapi tentang dia dan keluarganya yang tentu tak mudah menerima status janda. Apapun alasan janda itu. “Janda?” “Suamiku meninggal dua tahun lalu, kecelakaan di Malaysia, pada saat prnikahan kami baru jalan 4 bulan. Di saat aku bahkan belum sempat mencintainya.” “Punya anak?” dia bertanya. Aku menggeleng. Dia lalu menurunkan tanganku yang terus menunjukkan KTP-ku di mukanya. Dia menyibak rambutku, seperti yang sering dilakukan Yogi. Saat itu ada debaran yang lama tak kurasakan. Bahkan tidak ketika aku menikah dulu. “Aku terlanjur mencintaimu. Kuharap orangtuaku juga  akan setuju. Tapi yang jelas aku masih mencintaimu. Pertanyaan itu dan jawaban-jawaban itu hanya akan jadi pelengkap jalanku memperkenalkan kamu ke orangtuaku. Tapi aku masih mencintaimu.” “Kalo ternyata ga disetujui gimana Mas?” “Terserah kamu, kalo kamu mau aku perjuangkan, pasti kuperjuangkan, kalo tidak, aku mundur perlahan sampai kamu bisa melepasku.” Dia menepuk punggung tanganku. Mengecupnya. “Sekarang, aku tanya sama kamu, siap menikah lagi atau kita cuma main-main?” “Kita bukan di usia yang bisa main-main,” jawabku. “Benar, jadi sebaiknya aku melanjutkan cintaku, atau kita berhenti karena kamu ternyata tidak mencintaiku?” Bagaimana bisa ada laki-laki yang semudah ini membuat penawaran? Harusnya aku, aku yang staf marketing yang melakukan penawaran, kenapa justru dia yang membuat pertanyaan? Dia menggerakkan alis matanya, mengulangi pertanyaan tanpa membuka mulutnya. Aku masih memandanginya. Saat tak bisa mengatakannya untuk menyerah aku memalingkan mukaku. “Jalankan mobilnya,” perintahku yang diikuti tarikan tangannya di gigi porseneling. Dia tersenyum lalu kembali menyetir dan mobil kami melaju. Di studio bioskop kami tak banyak bicara. Hanya seringkali dia mengusap tanganku dan aku mengijinkannya. Aku tak tau apakah aku mulai mencintainya. Sesuatu yang pasti, aku tidak membencinya. Aku mulai nyaman dengan sikapnya. Diapun begitu. Kami bisa sangat profesional seperti orang yang tidak saling kenal ketika di kantor. Aku tahu dia digandrungi cewek-cewek produksi, penampilannya yang low profile meski dia manager membuat mereka menaruh  hati. Entah agar terlihat profesional entah takut kehilangan penggemarnya. Tapi aku pun nyaman dengan begitu. Toh kami memang baru saling mendekat belum menjajikan suatu ikatan apapun. Tapi hari ini membuatku mengerti suatu jawaban. Yogi, mungkin tidak menyimpan namaku sedikitpun. Sekelu-kelu lidahnya menyebut namaku tentu harusnya dia memikirkan diriku dan memilih menolak dari lamaran semacam perkataan Papa tadi. Mungkin selama ini, aku hanya berilusi tentang dia yang mencintaiku luar dalam. Mencintaiku dengan tulus dan tanpa kebohongan. Memikirkannya membuatku terdiam sepanjang perjalanan pulang. Mas Aji yang merasa bersalah malamitu menahanku di mobilnya meskipun kami sampai di depan rumah. “Kamu marah aku ingin menikahimu?” “Ga, aku hanya berpikir kenapa bisa Mas jawab setegas itu, kamu ga berpikir?” “Aku suka kamu, aku nyaman mendekatimu, sudah itu saja,” jawabnya. “Mas ga mikir aku mau atau ga?” “Loh, tadi kan aku sudah nanya Nay ke kamu, kamu pengin aku berhenti atau melanjutkan kedekatan kita? Aku ga akan maksa kamu, tapi kamu berhak tahu perasaanku.” Aku menarik handle pintu mobil dan berharap bisa lari dari pertanyaan ini. Semakin dia menjelaskan perasaannya, semakin aku protes dengan perginya Yogi dari hidupku. Tapi Mas Aji menahanku. “Kamu trauma dengan perasaanku?” Aku terdiam, dia tahu dengan kisahku tentang Yogi saat viral beberapa saat lalu atau memang dia bisa menebak perasaanku. Aku menghempas tangannya yang menahan pintu mobil. Aku lalu keluar tapi dia dengan setengah berlari menghadangku di pagar. “Aku harus pergi atau menemui bapak lagi?” Aku melihat ke arah dalam. Aku tahu Papa menunggu kami pulang. Lampu masih menyala, pun terlihat papa duduk di ruang tengah namun di terlihat dari sisi luar teras. “Nay?” “Terserah Mas,” jawabku ketus. “Kita ga lagi milih makanan Naya, aku butuh jawaban kamu, aku harus menghadap bapak lagi atau pulang dan kita selesai.” “Pamit Papa, jangan main kabur,” akhirnya dia membiarkanku melewatinya. Mas Aji mengikutiku dari belakang. Tapi dia berhenti di teras ketika aku masuk dan memanggil Papa. “Mas Aji mau pamit Pa,” kataku. “Buru-buru nak?” “Ga pak, cuma sepertinya sudah malam,” jawabnya mengambil kalimat penengah. Aku menghempaskan tubuhku di tempat tidur sedangkan Papa masih justru mempersilakan duduk Mas Aji. “Menyambung pembicaraan tadi, Nak Aji serius dengan Naya?” “Saya berada di usia yang sudah tidak main-main Pak, tapi saya kembalikan kepada Naya, apakah saya cukup untuk menjadi masa depannya,” kenapa dia begitu pandai bernegosiasi. “Kalau memang serius, saya akan menitipkan Naya pada Nak Aji,” nasihat Papa dibarengi dengan berbagai pesan panjang.  Laki-laki yang kini beliau percaya untuk menjagaku. Aku tak mau dengar pembicaraan mereka. Aku takut menemukan hal lain yang membuatku mengerti bagaimana Yogi menikahi perempuan lain hari itu.  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD