Aku meraih kembali sobekan sampul kemasan yang berisi alamat pengirim. Jantungku berdetak dua kali lebih kencang, tubuhku lemas saat melihat label pengiriman dan di sana ada nama Yogi juga nomor teleponnya. Nomor telepon yang ternyata masih sama dengan saat dia bersamaku.
Selembar surat yang tersangkut di plastik kemasan itu akhirnya terjatuh. Bersampul putih dan tanpa tulisan apapun di sampulnya. Setelah menghela napas panjang, aku membukanya lalu membacanya.
“Maaf Na, akhirnya harus kukembalikan juga. Alasannya masih sama dengan penolakanku lalu Na. Aku melihatmu berkeliaran di rumahku. Mayda sangat menyukainya. Bahkan sebenarnya jepit rambut itu hampir tak boleh terlepas dari kepalanya. Tapi Na, aku yang tersiksa. Usahaku belajar mencintai istriku seperti sia-sia saat jepit rambut itu tersemat di rambut Mayda. Kamu tahu, aku melihat senyummu di bibir Mayda. Aku melihat kamu berlari dengan tawa riangmu saat Mayda berlari ke arahku.
Kamu tahu, kemarin pagi Syifa memecahkan beberapa piring saat dia mencucinya. Dia menggerutu kenapa aku harus menyebut namamu setiap malam. Bukankah seharusnya dia tahu Na, bahwa aku tak bisa meminta harus bermimpi apa atau siapa. Pun jika ternyata itu kamu, bukankah harusnya dia juga tahu aku tak bisa mengontrol rindu bawah sadarku. Dia marah, aku tahu dia sangat marah, tapi ketika dia sudah bisa mengendalikan dirinya, dia menggodaku Na. Bentuk dari sakit hatinya dan mungkin dia sedang menghibur dirinya sendiri yang tak bisa berbuat apapun.
Na, jepit ini kusembunyikan dari Mayda dan segera kukirim kembali padamu. Sungguh jangan menghantuiku dulu. Karena aku belum bisa melupakanmu.”
Genangan air mata tentu saja tak bisa kutahan. Air mata itu mungkin juga ingin membaca surat darinya. Air mata itu bahkan juga ingin memeluk surat itu. Dia jatuh tepat di nama Yogi yang ada di paling bawah. Mengaburkan nama itu karena tinta segera menyebar tak beraturan. Mungkin air mata yang jatuh itu rindu dihapus oleh si empunya tulisan tangan itu. Saat kuhapus genangan air mata yang tersisa, baru aku tersadar bahwa aku masih online dari tadi. Ya Tuhan.
“Girls. I'm oke. Tapi maaf, karena ternyata ini bukan penliner yang seharusnya. Ternyata aku ga teliti baca pengirimnya. Ini tuh kado dari temen lama aku. Lucu yajepit rambutnya. Oke, jadi ini bukan penipuan seperti yang kalian kira ya, ulasan tentang seller kita keep dulu sampai penliner datang ya, tapi dijamin ga akan kecewa kok. Nanti sekalian kita buat beberapa opsi tutorial deh. Tetap pantau channel kesayangan kalian ini ya. Ok, karena review kita gagal total, jadi live kali ini ga akan aku save atau post ya. Kita temu lain kali, see you.”
Buru-buru aku mematikan siaran langsung yang tak terdugaku. Ya Tuhan, kenapa ada hari semenyedihkan ini di hidupku. Kenapa aku harus seceroboh ini dengan tidak membaca nama dan alamat pengirimnya. Kenapa juga aku harus membuka kemasan ketika sudah tahu ini barang yang salah? Aku melempar kemasan kosong itu ke tanah. Lalu melempar tubuhku ke tempat tidur.
Live tadi terlanjur dilihat oleh banyak orang. Baiklah aku bisa menghindar dari subscriberku, tapi dari teman kerjaku? Mereka pasti menyadari ada yang salah. Air mata! Kenapa harus menangis segala sih? Pasti besok banyak yang bertanya, ada apa sebenarnya. Bohong kan bisa? Entahlah. Karena aku tak tahu semahir apa aku berbohong.
Aku memnadangi kamera yang masih terpasang di tripod. Setelahnya, mataku berganti memandangi kembali surat itu. Seberusaha apapun aku melupakannya, aku tahu aku masih mencintainya. Belum pernah aku menemukan laki-laki yang sedemikian menyita ingatanku selain dia. Dengan kalimatnya yang menegaskan dia ingin mencintai istrinya, iyakah dia tak ingin mencintaiku lagi? Seperti itukah dia akan menghapus jejakku. Apakah dia akan menghilang lagi setelah aku berharap bisa lebih sering bersua?
Hey, apa yang sedang kupikirkan? Apakah aku sejahat itu sampai-sampai mengharap laki-laki beristri itu kembali jadi milikku. Kuhela napas panjang dan kuhapus air mataku. Aku sudah baik-baik saja selama 4 tahun ini meski harus menyimpan rindu yang berat. Lalu mengapa saat rindu telah berhasil kukembalikan, justru aku harus kembali gundah terombang-ambing dengan rasa ingin memiliki sesuatu yang harusnya sudah aku lepaskan.
Ponsel itu berdering dan tak berhenti meski sudah kuabaikan. Akhirnya aku bangun dan melepas ponsel dari tripod untukmenerima panggilan itu.
“Na, are you okay?” begitu sambar Indar ketika telpon whatsappnya kuangkat.
“I’m fine In, it’s okay?”
“Ada apa? Surat itu dari siapa? Kamu ga lagi diteror kan Na?” dia bertanya mengkhawatirkanku.
“Kan aku sudah bilang, tadi itu dari temen lamaku.”
“Kalau temen lama, nangisnya ga akan begitu Kanaya, jawab jujur ada apa?”
“Besok aku ceritain ya In, aku ga bisa cerita sekarang,” jawabku.
“Kamu mau kita ketemuan? Biar kamu bisa cerita?” desaknya lagi.
“Ga usah In, besok aja di kantor. Besok aku pasti cerita kok.”
“Tuh kan, kamu sedih, pasti ada sesuatu deh sama surat tadi.”
“Iya ada, tapi panjang jelasinnya, aku lagi ga mood banget ini, besok ya?”
Akhirnya Indar mengalah mendengar alasanku. Dia tampak mengkhawatirkanku. Aku mencoba menenangkannya dan berkata semua baik-baik saja. Kami lalu saling mengucap salam sebelum akhirnya tombol merah ditekan.
Aku sedang menata hati. Kusimpan surat yang ditulis di dua lembar note bergaris itu di laci nakas samping tempat tidurku. Kali ini, aku tak ingin Mama ataupun Papa mendengar bahwa Yogi kembali ke kehidupanku. Tentu saja, aku masih berharap lelaki itu hadir di keseharianku lagi. Namun, aku tak mau kedua orang itu menangisi rasa cintaku lagi.
Tapi ah, sudahlah, dia sendiri tak ingin aku ada di kehidupannya lagi, lalu untuk apa aku terlalu berharap? Dia ingin mencintai istrinya. Dia berusaha melupakanku. Jika aku memang mencintainya, aku harus membantu usahanya bukan.
Rasanya sulit sekali terpejam. Jepit rambut dan surat itu berkali-kali aku mengeluarkannya dari laci lalu memasukkan kembali. Benar-benar rasa yang tak asing ketika merindukannya tanpa peduli dia siapa dan aku siapa.
Aku membayangkan seperti apa aku di dalam mimpinya. Apakah aku bergaun warna hijau seperti kesukaannya? Aku membayangkan bagaimana dia memanggil namaku. Apakah masih ada kata sayangku sebelum dia menyebut namaku? Dan terakhir aku membayangkan seperti apa sakit hati istrinya ketika tahu hati suaminya masih milikku. Naik turun perasaan itu berkecamuk sepanjang malam. Aku tertidur karena mataku teramat berat dan rasanya aku juga ingin memimpikannya menyebut namanya di tidurku.
“Pakai lagi ya,” kata Yogi memakaikan jepit itu rambutku.
“Padahal aku pingin Mayda yang pakai.”
“Lebih cantik jika kamu yang memakainya.”
“Percuma toh kamu lebih memilih dia.”
“Bersabarlah, toh aku tetap mencintaimu.”