Yey, Penliner Datang

1075 Words
Aku mendorong motorku memasuki pagar. Kemudian meninggalkannya begitu saja di halaman rumah setelah mengunci pagar. Aroma sambal terasi buatan Mama sudah menusuk hidungku. Membuatku ingin makan lagi walaupun sudah makan siang. Kuucap salam selepas meletakkan helm di rak dekat pintu kamarku. “Assalamu’alaikum,” ucapku sambil meneruskan langkah kaki hingga ke dapur. “Walaikumsalam,” balas Mama yang tampaknya baru saja membereskan peralatan dapur. “Mama juga baru pulang?” tanyaku. “Iya, Mama tadi ada rapat, Papa Mama suruh beli sayur g mau, ya udah nyambel aja deh Mama buat makan malam nanti,” katanya. Aku melepas tas juga jaketku lalu meletakkan di salah satu kursi makan. Aku memeluk Mama dari belakang. “Maaf ya Ma,” kataku dengan meletakkan daguku dii bahunya. “Kenapa?” “Ya sekarang Mama jadi repot lagi, pulang kerja mesti masak lagi, padahal pas Naya pengangguran kemarin kan Mama lumayan bisa istirahat,” aku melepas pelukanku dan membantu Mama mengembalikan peralatan yang selesai dicuci ke gantungan masing-masing. “Mama lebih suka kalau kamu kerja, kamu bergaul dan punya kegiatan,” jawab Mama. Usapan tangannya di daster untuk mengeringkan jemarinya yang basah begitu khas ibu-ibu yang terbiasa mengerjakan pekerjaan rumah. Meskipun beliau juga bekerja sebagai aparat sipil negara, Mama tak pernah melupakan kewajibannya sebagai seorang ibu dan perempuan yang harus mengurus pekerjaan rumah juga. “Oh iya Na, tadi ada paket, Mama taruh di kamar kamu,” kata Mama. “Wah cepet juga ternyata,” aku berkata sambil mengambil sepotong tahu goreng lalu duduk untuk menikmati tahu yang bahkan masih terlihat asapnya mengepul. Karena satu-satunya pesanan minggu ini hanya penliner buat vlog bikin wings liner, pastilah barang itu yang datang lebib awal. “Ganti baju dulu, nanti kalau lapar baru makan,” Mama menepuk pundakku. “Iya Ma, ngabisin tahu dulu. Lagian tadi udah makan sama temen-temen kok,” jawabku. “Habis makan kok cemal cemil.” “Saking enaknya makanan Mama, aku ga tahan Ma,” bantahku. Setelah gigitan terakhir tahu kuning itu tertelan, aku berdiri dan bersiap ke kamarku. Kuletakkan tas dan jaketku di gantungan balik pintu kamar. Aroma bunga lavender di balik jendela kacaku mulai tercium hingga dalam. Aku mendekati kaca yang dekat dengan kepala ranjangku itu, meresapi aroma yang sepertinya lebih harum dari biasanya. Setelah aku membuka mata kotak memanjang di atas nakas itu langsung tertangkap mataku. Ah, cepat juga barang itu datang pikirku. Mungkin karena akhirnya dikrim secara pribadi bukan melalui e-commerce. Harusnya barang itu datang dua hari lagi bukan, jika sesuai dengan estimasi pengiriman. Ah menyenangkan sekali, harus dikasih bintang lima ini sellernya. Tapi kan bukan lewat platform… hm… diulas sesuai kenyataan saja, bahwa pengiriman barangnya cepat dan dikemas rapi. Kemudian kuambil ponsel yang ada di sampingku. Kuketik pesan w******p untuk Indar, si perequest tutorial eyeliner wing. “Eh neng, aku live youtube habis ini, soalnya penlinernya dah datang. Pantengin. Jangan kagak. Wkwkwkwk”. Sent. Selain mengirim pesan pada Indar. Aku juga membuat story wa dengan tujuan membuat woro-woro bahwa sebentar lagi aku live youtube. Lalu aku menyambar handuk dan bergegas ke kamar mandi. Setelah memilih blouse yang tepat, aku melihat ponselku dan melihat banyak tanggapan bahwa mereka telah siap menungguku membuat tutorial. Meski membuat video live, tentu saja persiapan juuga harus lebih matang karena live pun akan tersimpan dan menjadi konten di berbagai channel dan akun media sosial bukan. Aku mulai berkaca dan melihat apakah wajahku sudah cukup segar. Masak iya ngevlog muka kusut kaya barang lama di distributor karena ngga laku. Okelah, ngga usah curhat. Aku kembali melihat paket yang kini ada di meja riasku. Di kamarku  sudah ada set untuk ngevlog mulai dari tripod, kaca dengan light room, bahkan background yang cetar kekinian. Aku segera memasang hanphoneku untuk merekam pada tripod. “Oke girls, aku livenya mendadak ya. Ini tuh demikian, eh bukan, demi temen sekantor aku yang maksa minta diajarin bikin wingliner. Trus daripada aku cuma ngajarin dia ja. Kan mending aku ngajarin kalian juga. Iya ga. Oke. Jadi gini buat pemula aku saraninnya pake penliner. Karena penliner itu lebih runcing ujungnya trus cepet kering juga. Nah buat yang bingung sama penampakan penliner, yuk kita unboxing sekarang. Ini dia. Aku baru beli karena punya aku kebetulan habis girls. Ini merk dan jenis favorit aku nih. Oke langsung ya kita unboxing now.” Sembari membuka kemasan menggunakan cutter, aku mengulas toko tempat aku memesannya. Yah, ini bukan lagi jual beli biasa kan, tapi ada endorse di dalamnya. Ada uang juga produk yang mereka bayarkan padaku agar viewersku menjadi langganan mereka. Aku menunjukkan pengemasan yang rapi dan juga alamat media sosial yang dimiliki oleh toko tersebut, yang sudah aku tulis di note yang tertempel di kaca. Saat isi di dalamnya mulai terlihat, aku mulai terlihat bingung, harusnya kotaknya ga begini. Aku mulai takut sang pengirim memberi barang yang salah. Setelah ulasan yang baik-baik dan sekarang terlihat kesalahan si pengirim dalam tayangan live dimana pemirsa terus bertambah, bukanlah hal yang baik. Kebalikannya, ini adalah ulasan terburuk meski tidak sengaja terjadi bukan? “Wait, sepertinya ini kemasan baru kah? Warna kemasan lama itu biru ya gaes, kok ini merah, tapi kita selesaiin aja ya bukanya,” berbagai komentar terlihat di layar ponselku. [Aku beli kemarin kemasannya masih kemasan kaya biasanya kok Na] tulis akun @beautyfa [Loh Mbak, kok warnanya gitu] tulis akun @rinrin9991   Dan kepanikanku semakin menjadi saat kemasan itu tidak berisi pen liner. Aku terkejut karena isinya bukan penliner seperti dugaanku. Dengan bentuk kemasan yang sama, bagaimana bisa aku alpa memeriksa sebelum membuat ulasan, tapi tujuanku adalah unboxing saat live. Komentar para pemirsaku juga banyak yang terkejut, dan dugaan aku tertipu ditulis dengan kebingungan mereka. Aku masih terdiam melihat isinya, di dalam kemasan kotak merah tadi, masih ada kemasan  lain yang berupa kotak kaca. Tampak jelas jepit rambut yang dulu pernah kuberikan padanya.  Aku memandang jepit itu  dan teringat saat aku memaksanya menerimanya. Terbayangkan apakah dia tak pernah memberikan jepit itu pada Mayda. Lalu kenapa tidak memilih membuangnya atau mengabaikannya jika dia keberatan memakaikannya di rambut Mayda? Mengapa harus mengembalikannya disaat seperti ini? Bunyi notifikasi berkali-kali menyadarkanku dari lamunan panjangku, aku segera tersadar dan menatap layar sekaligus kamera yang merekam  ketercenganganku. Aku mencoba tersenyum dan menjawab rasa penasaran mereka. [Hai Na, kamu ketipu? Kok bukan penliner sih?] [Apa itu Na, lihatin ke kita donk] [Jd sellernya ga banget ini?] Aku kembali melihat ke kotak kaca dengan perasaan masygul. Aku ingin menjawab pertanyaan mereka. Tapi lidahku kelu. Otakku mendadak berhenti berpikir dan kesulitan mengolah kata-kata untuk mereaksikan apa yang harusnya aku katakan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD