Terima Kasih Papa

1142 Words
Kantinnya hanya di belakang ruangan kami sebenarnya. Tapi karena sebelah adalah ruang divisi lain yang kantornya menempel, maka kami harus berjalan memutar. Kami berjalan beriring, aku dan Indar bersebelahan sembari dia membicarakan tentang channel youtube yang dia ikuti dan juga alasan dia menyukai channelku. Sedangkan Susi berjalan dengan Rudi di belakang kami. Mereka juga tampak berbincang tentang capaian kerja merekahari ini. Saat kami tiba di kantin, beberapa tempat duduk telah terisi pegawai lain dengan seragam yang beragam. Kami mendatangi sebuah stand makanan dengan berbagai menu rumahan. Mungkin bagi Indar, Rudi atau Susi telah merencanakan makanan apa yang akan mereka pilih untuk menu makan siang mereka. Tapi aku yang masih sangat asing memilih untuk mendongak melihat barisan alphabet di atas etalase. Di atas etalase makanan, papan menu besar terpampang. Mulai dari pecel, soto, rawon, semua makanan rumah tersedia. Kami memesan makanan yang berbeda. Aku memesan soto ayam, Indar rawon, Rudi memilih telur balado. Saat kami sedang mengantri pelayan makanan menyiapkan makanan kami, aku melihat ke sekitar, mencari tempat duduk yang sekiranya nyaman untuk makan siang. Namun rupanya Susi telah berada di sudut lain dengan melambaikan tangannya padaku supaya aku melihat ke arahnya. Aku membalas lambaian tangannya. “Mbak, soto pakai nasi atau lontong?” tanya seorang pelayan ketika sudah tiba giliranku. “Lontong saja bu,” jawabku. Tak lama, dia mengangsurkan semangkuk soto padaku. Aku melihat Rudi juga sudah menerima sepiring nasi dengan sebutir telur merah yang terlihat pedas. Aku mendatangi sebuah meja paling barat dimana Susi telah ada di sana. Rudi menyusul langkahku. Sedangkan Indar masih berada di desakan antrian di dekat etalase. “Mau minum apa?” tanya seorang pelayan laki-laki. “Kamu apa Nay?” tanya Rudi. “Es teh saja, jangan terlalu manis ya mas,” pesanku. “Aku es teh juga,” timpal Rudi. “Es jeruk satu ya Plut,” pesan Indar begitu ada di belakang pelayan itu. “Beres mbak,” jawab pelayan itu lalu menjauh seolah tahu satu di atara kami tidak akan memesan minuman seperti yang lain. Susi lalu mulai membuka kotak makannya. Ternyata dia sedang membawa bekal sendiri. Mencoba tidak mencampuri pola makannya, nyatanya mata penasaranku tertangkap oleh Susi. “Aku diet Nay, makanan kita ga sama,” jelasnya padaku. “Kamu ga gemuk sih kalau menurutku,” kataku. Rudi lalu mengambil ponselnya yang tergeletak di meja dan menggulir-gulir layarnya. Saat menemukan apa yang dia cari, dia pun menghadapkan layar ponselnya padaku. Nampak disitu ada Rudi, Indar dan aku menyipitkan mataku. Seorang yang lain terlihat seperti susi tapi gemuk sekali. “Itu aku,” kata Susi. Aku menoleh padanya tak percaya. “Dulu berat badanku 123 kilogram, puas?” dia tersenyum padaku. “Kalau liat kamu yang sekarang, iya aku puas,” jawabku pelan. Menyadari apakah bicaraku terlalu lancang, aku kembali mengangkat kepalaku dan melihat ke arah ketiganya. Dan benar saja ketiganya melihatku dengan raut muka datar. “Maksudku,” belum lagi selesai aku berucap, ketiganya terbahak-bahak. “Iya aku juga puas banget udah bisa balik ke ukuran kaya gini,” jawab Susi dengan tertawa. “Terus kenapa masih diet?” tanyaku. “Ya konsekuensi biar ga balik segede itu lagi,” jawab Susi lagi. “Owh,” aku lega ternyata mereka orang yang ringan untuk diajak bercanda. Aku menyuapkan kuah soto yang hangat sambil melihat sekeliling, meja di berbagai penjuru mulai rame. Hingga hampir tak ada tempat duduk di area kantin itu. Beberapa dari karyawan bahkan memilih membungkus makanan mereka. Mungkin dimakan di kantor saja. “Kok ga dandan kaya di vlog sih Na?” tanya Indar. “Hari pertama kerja In, takut dibilang lebay,” jawabku. “Ga lah, malahan kita seneng, siapa tau bisa diajarin dandan,”kata Susi. “Iya deh besok aku bangun sebelum subuh terus dandan kaya orang mau jadi manten,” kami tertawa menanggapi gurauanku. “Eh Na, ajarin pake eyeliner yang kaya sayap gitu dong Na,” pinta Indar. “Bisa, kamu biasanya pakai eyeliner apa?” tanyaku. “G pernah, orang ga bisa make,” kami kembali tertawa mendengar jawaban Indar. “Oke deh, besok kapan-kapan aku ajarin cara yang paling mudah pakai eyeliner, dijamin kamu bisa. Lagian ini eyeliner favoritku lagi habis, bentar aku sekalian beli deh,” kataku. Aku lalu mengeluarkan handphoneku dan memesan penliner di toko langgananku di salah satu marketplace. Sebelumnya aku chat dengan penjualnya. Menanyakan apakah eyeliner yang aku cari ada stoknya atau tidak. “Coba lihat Na, biasanya pakai eyeliner yang gimana sih?” Indar mengintip layar handphoneku yang aku gunakan untuk memesan eyeliner. “Kaya gini nih,” aku lalu mencerahkan layar ponselku dan memperlihatkannya pada Indar. “Berapa lama nih kalau pesen kaya gini?” “Biasanya sih dua hari sampai, nanti aku bikin live videonya. Tonton ya,” jawabku. Terlihat notifikasi bahwa pesanku telahdibalas oleh penjualnya. Di luar dugaan, ternyata penjual itu menginginkan aku untuk mengulas tokonya juga. Aku memberikan nomorku agar kami lebih mudah berkomunikasi lebih lanjut. “Alhamdulillah,” kataku. “Kenapa Na?” tanya Susi. “Diendors penjualnya Sus,” jawabku sambil tersenyum. “Wih, jadi duit ya kalau yang pesen udah vlogger terkenal,” goda Rudi padaku. “Alhamdulillah, rejeki anak sholehah ini, oke deh makan kali ini Naya yang traktir,” aku melihat kepada mereka dengan senyum merekah. “Wah asyik, jadi ngrepotin, besok-besok lagi deh,” kata Indar kemudian menyeka bibirnya. “Ajarin pake alis juga lah Na,” kata Rudi sambil mengedut-ngedutkan alisnya. “Iya ntar aku ajarin juga, mau bentuk apa sih? Kaya pedang? Kaya clurit? Apa kaya ombak yang lagi happening?” balasku menggoda. “Jangan Na, yang kaya ulet bulu aja biar kaya Shincan gitu,” Rudi mengangkat kedua jari telunjuknya dan meletakkan di kedua alisnya. Kami pun kembali terkekeh. Aku berdiri dan menuju ke kasir untuk membayar makanan kami. Meskipun pabrik besar, sebagian besar pegawainya tetaplah perempuan. Sehingga membuatku nyaman-nyaman saja meski harus berdesakan. Kasir mulai menghitung berapa jumlah yang harus kubayar. Meski belum terbiasa dengan aroma keringat yang bercampur, aku mencoba menahan diri untuk tidak berkata apapun. Setelah membayar, aku segera menarik diri dari kerumunan. Aku mendatangi mereka yang juga sudah meninggalkan tempat duduk kami tadi. “Makasih ya?” kata Rudi. “Murah ya disini makannya, standart lah buat harga sama rasanya tadi,” kataku. “Makanya stand tadi yang rame kan? Emang enak sih makanannya,” Indar menyetujui ucapanku. “Kalau ga lagi jaga berta badan, aku juga pasti kangen sama rawonnya kok,” tetiba Susi menengok ke belakang seolah tidak mau meninggalkan aroma yang mengggugah seleranya kembali. Indar menggandeng tangannya, menarik tubuhnya hingga seperti terseret. Susi pun berakting seperti tidak mau pergi dari rawon yang dia rindukan. Sontak kami semua tertawa. Saat itu, di hati yang paling dalam, aku berterimakasih pada Papa. Papa benar, sudah lama aku tidak bergabung dengan sesama manusia. Dan aku rasa aku rindu tertawa yang sesungguhnya. Tertawa yang mengembangkan bibir, bukan hanya mengetikkan emotikon atau hehehe. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD