Kantor Baru

1038 Words
Aku mengarang cerita panjang lebar. Membuat kebohongan agar Mama dan Papa tak pernah mengira bahwa aku baru saja bertemu mantan calon menantunya. Ketika mereka pernah berharap, lalu mereka dikecewakan, aku tau sakitnya. Namun tentang rasa cintaku, mereka tak akan tau sebesar apa. “Pa, Ma, Naya ganti baju dulu ya,” aku beranjak dari sofa panjang yang sebenarnya teramat nyaman. “Ehm, iya. Nanti balik kesini ya. Papa mau ngomong.” “Oke,” aku berusaha menunjukkan sikapku seperti biasanya. Di kamar tentu saja pikiranku berkecamuk, apakah aku ketahuan? Apakah Papa tahu aku baru saja bertemu siapa? Lalu apa yang akan dilakukan Papa? Huaa.. Rasanya justru tidak ingin keluar dari sarangku. Berlama-lama aku berganti pakaian. Berharap seandainya Papa lupa apa yang mau dibicarakan. Tapi mau sampai kapan aku bersembunyi di rumah sendiri. Ah bodoh. “Ada apa Pa?” tanyaku sambil merebut toples camilan dari pangkuan Mama. “Apa kamu ga pingin nikah lagi? Kamu udah dua tahun menjanda lo. Toh ya kamu belum punya anak,” ah, ternyata itu yang mau diomongin Papa. “Belum Pa, yang terakhir itu, masih membekas di sini” kataku sambil menunjuk dadaku. Aku tahu bahwa Papa mengira yang terakhir adalah almarhum suamiku, Mas Ikhsan. Padahal bagiku yang terakhir tetaplah Yogi. Aku belum ingin yang lainnya. “Kalo gitu apa kamu ga pingin cari kerja. Biar kamu ga di rumah aja. Sayang kan ijazahnya cuman dilaminating aja,” Papa bertanya dengan santai. “Males ah Pa, enakan ngevlog bisa santai dirumah. Bantuin Mama yang sering ga sempat masak, kecapekan bersih-bersih rumah, iya kan?” jawabku. Papa dan Mamaku memang sama-sama bekerja. Dan ketika setiap pagi Mama sudah harus berangkat bekerja, seringkali pekerjaan rumah terabaikan. Aku yang telah tiga tahun ini patah hati, memilih di rumah saja membantu Mama dan juga menekuni youtube sebagai hobi juga penambah uang jajanku. “Tapi ngevlog juga penghasilannya ga besar kan Na, lagian ga tentu juga. Trus akhirnya kamu kurang bersosialisasi.” “Eits jangan salah pa, temenku banyak kok. Lagian Papa tau kan sekarang artis itu banyak yang awalnya vlogger loh,” “Iya, tapi temennya cuma di internet, nyatanya kamu hampir ga pernah keluar ketemu temen. Beli peralatan buat vlog juga online. Papa takut kamu sekalinya keluar lupa jalan pulang saking ga pernah keluar rumah,” kami saling melempar senyum karena ucapan Papa. “Gini ja deh, Naya nurut Papa ja. Kalo Papa mau Naya kerja, cariin lowongannya. Kalo Papa mau Naya nikah juga cariin jodohnya. Naya janji, Naya ga akan nolak,” aku tiba-tiba saja menyesali apa yang barusan terucap. Dapat inspirasi dari mana coba kalau akhirnya aku menurut begitu saja?? Aku tak tahu bahkan bisa dibilang tak peduli seperti apa usaha Papa mencarikan aku pekerjaan. Faktanya adalah pagi ini, aku harus berkendara melewati barisan hutan jati yang meranggas. Mengalah pada kemarau dengan menggugurkan sebagian daunnya. Kantor yang ada di kartu nama yang diberikan Papa itu membuatku menikmati keringnya udara di bulan September ini. Sepertinya, apa yang pernah dikatakan Papa memang benar. Saking lamanya aku tak melihat dunia luar, rasanya aku hampir lupa jalanan di sekitar kotaku. Hanya 10 km dari rumah dan rasanya begitu jauh. Inilah efek dari berkutat dengan dunia maya. Sejauh apapun aku bisa pergi berselancar. Kenyataannya aku memang tak pernah keluar rumah. Padahal biasanya aku dengan mudah mengetahui salju di Kanada, sakura di Jepang, bahkan unta beranak di Arab dari live youtube. Ternyata untuk menghadapi musim kemarau di negara sendiri aku merasa asing. Kantor itu berada di kiri jalan besar sehingga aku tak perlu menyebrang lagi. Kata Papa ini adalah sebuah perusahaan distributor terbesar yang ada di kota kami. Masih kata Papa, tak perlu mementingkan jabatan apa yang aku dapat, yang terpenting nikmati pekerjaannya dan karir akan menanjak dengan sendirinya. Baiklah, sesuai perjanjian aku akan menurut. “Bener ini kantornya ya pak?” tanyaku pada satpam di pintu gerbang sembari menunjukkan kartu nama teman Papa. “Betul mbak, silahkan di parkir motornya di sebelah sana,” si bapak menunjuk area parkir di timur kantor. Luas dan ada banyak motor yang berparkir disana. Aku melihat jam tanganku. Harusnya sih aku tidak terlambat untuk hari pertama kerja. Tapi ternyata pegawai di sini disiplin juga. Area parkir itu hampir penuh, artinya mungkin setiap karyawan bahkan sudah ada di meja kerja masing-masing. Aku melangkah masuk dan bertanya pada resepsionis dimana letak kantor divisi sesuai nama yang tertera di kartu nama yang kupegang. Nona berjilbab dengan senyum ramah itu mulai memberi arahan kemana aku bisa menemukannya. Kulihat name tag tertulis “Ratnasari”, ah.. jadi ingat artis yang itu. Mungkin dulunya mamanya ngefans kali ya. “Selamat pagi?” aku memberi salam setelah mengetuk pintu bertuliskan manager personalia. Pintu itu tidak tertutup, dan dengan begitu langsung nampak seorang bapak yang perkiraan usianya tidak jauh dari Papa. Orang itu seperti sudah menunggu kedatanganku. Dengan segera dia berdiri dan mempersilahkanku masuk. “Naya pak,” ucapku memperkenalkan diri. “Ya, saya Subroto, teman papa kamu kuliah dulu.” Selama basa basi beliau menceritakan sedikit pertemuan beliau dengan Papa yang membuahkan hasil pekerjaan ini untukku. Dibumbui dengan kisah nostalagia jaman mereka masih muda tentunya. Aku berbasa basi dan memasang wajah yang ramah sampai-sampai aku merasa gigiku mulai mengering saking terlalu lama tersenyum. Saat terdengar sirine tanda jam kantor, Pak Broto menunjukkan padaku mesin check log dan juga meja kerjaku. Menjelaskan panjang lebar tentang pekerjaanku dan di sinilah aku di hari pertamaku bekerja. Di sebuah meja dengan bertumpuk-tumpuk file bermap yang harus dikerjakan sesuai deadline. Kalau belum terbiasa, pasti terlonjak mendengar sirine tanda istirahat yang lebih mirip sirine kebakaran itu. Aku belum beranjak dari tempat dudukku. Kupikir mengerjakan satu sheet lagi agar nanti bisa makan lebih tenang. Ternyata datang tiga orang ke arahku. Dua perempuan dan satu laki-laki. “Kan aya ayu?”sapa perempuan itu sedang menyakinkan dia tidak salah orang. “Kok tau?” aku tersenyum mendengar dia memanggil nama vloggerku. “Kan aku subscriber kmu,”dia menunjukkan youtubenya yang sudah berlangganan chanelku. “Makasih ya, ga nyangka ada juga subscriber aku dsini.” “Kenalin, aku Indar,” dia mengulurkan tangannya. “Aku Susi,” perempuan di sampingnya juga mengenalkan diri. “Naya,” balasku. “Aku Rudi, makan bareng yok,” dia memasang senyum lebar. “Boleh, aku matikan laptopnya dulu.” kataku.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD