Dikalahkan Takdir

1001 Words
Papa berpikir ketika pernikahanku terjadi maka pembicaraan tak sedap itu akan mereda dan berganti dengan kabar bahagia. Saat itulah aku merasa seperti makanan hampir kadaluwarsa yang ditata di rak promo minimarket. Banyak yang datang sekedar melihat dan lebih banyak yang pergi. Aku yang masih menyimpan nama Yogi di hatiku dengan teramat rapi dan menguncinya agar tak ada yang bisa mengambilnya apalagi menggantinya, menjadi perempuan apatis yang tak peduli umur dan menolak setiap laki-laki yang menghampiri. “Ga lama kan?” sapaan itu membuyarkan lamunanku. “Ga kok,” jawabku sambil tersenyum Dia memeriksa lembar – lembar file pekerjaannya lalu memasukkanya ke dalam ransel. “Sudah jadi Papa?” tanyaku begitu dia duduk di kursi di sisi lain meja. “Sudah, dua tahun,” jawabnya. “Kamu sendiri?” “Ehm... Aku masih nugguin kamu,” aku sama sekali tak mengurangi tatapan mataku padanya. Kuharap kerinduan yang membuncah ini akan terbaca jelas olehnya. “Belum menikah?” tanyanya kaget. Aku menunduk. Memilih menyesap jus alpukat tanpa s**u kesukaanku, yang kali ini terasa lebih manis dan segar. “Jadi kamu belum menikah?” dia mengulangi pertanyaannya. “Sudah pernah,” jawabku. “Maksudmu, kamu janda?” dia bertanya dengan mengernyitkan dahinya. “Ah.. Begitulah,” kataku setelah bernafas panjang. “Kenapa?” tanyanya setelah bersandar pada punggung kursi Aku menceritakan padanya detail perjodohanku dengan banyak lelaki yang semuanya kutolak. Hingga suatu hari,  tanpa persetujuanku, Papa menerima lamaran seorang pengacara yang sedang menempuh S3 di Malaysia. Suamiku itu, setelah pesta pernikahanku kembali ke Malaysia dan berencana menyelesaikan studinya dulu.   “Empat bulan kemudian, dia kecelakaan di sana,” jawabku mengakhiri ceritaku. “Itu artinya kamu..” dia mendekat dengan ragu untuk mengajukan pertanyaannya. “Ya,” jawabku mengetahui arah pembicaraannya. Yogi menghembuskan nafas panjang lalu menghempaskan dirinya ke sandaran kursi. “Bagiku, hanya kamu yang berhak mendapatkan aku,” kataku sambil tersenyum. “No. Biarkan tetap utuh saja. Sampai kamu menikah lagi.” “Ayolah, aku sedang menggodamu,” kataku merayu namun dengan senyum getir karena kutahu dia akan menolak tawaranku. “Anakku juga perempuan Naya, dan aku tidak mau ada lelaki berbuat seperti itu pada anakku,” jawabnya diplomatis. “Aaa.. Jadi gadis kecil ya? Secantik mamanya atau semanis papanya?” aku menyondongkan tubuhku mendekat ke sisi meja. “Ini fotonya,” dia menunjukkan handphone yang wallpapernya foto anak perempuan yang... “Matanya...” aku terpana melihat foto itu. “Dia punya mata yang sama denganmu,” papanya menjelaskan iris kecoklatan pada mata anak itu. “Pas bikinnya ingat saya pak?” godaku sambil terhenyak ke kursi kembali. Yogi tertawa lalu menyesap cappucinonya. Meninggalkan noda cangkir di bibirnya. Ketika aku mendekat dia lebih dulu mengusapnya dengan tisu. “Kamu akan lebih kaget klo tau namanya” dia meletakkan kembali handphone ke meja. “Siapa?” tanyaku. “Kanaya Mayda Lasygi,” kami tertawa bersamaan. “Kamu yang ngasih nama?” aku bertanya lagi. “Kakeknya, ayahnya Lasyifa.” “Oke, karena dia punya mata dan nama yang sama denganku, aku harus menghadiahkan sesuatu bukan?” aku melepas jepit bunga yang ada di kunciran rambutku. Aku menyodorkan jepit itu ke Yogi. Aku membayangkan anak itu memakainya pasti cantik. Tapi Yogi mendorongnya kembali ke arahku. Dan dia menggeleng. Aku kecewa dan aku tahu aku tak bisa menyembunyikn rasa kecewaku. “Karena ga baru ya? Oke tunggu di sini sebentar aku belikan hadiah di sana,” aku menunjuk ke arah supermarket. Aku langsung berdiri dan melewatinya. Tapi Yogi segera menahanku. Dia menggenggam pergelanganku dan menggelengkan kepalanya lagi. “Jangan menambah beban rinduku Na,” aku mengernyit, lalu diapun melanjutkan, “Aku belajar mencintai Lasyifa, dan jika jepit itu dipakai Mayda aku akan melihatmu berkeliaran di rumahku, langkahku akan lebih berat karena itu.” “Kamu sudah tidak mencintaiku Yo?” tanyaku lesu. “Bukan sudah tidak, tapi berusaha tidak.” Aku duduk kembali ke kursiku. Lalu menyentuh tangannya. Mengelusnya perlahan. Dia tidak menarik tangannya. Tapi dia tetap memohon agar aku tidak memaksa. Aku meletakkan jepit rambut itu ke tangannya dan membuatnya menggenggamnya. Aku menginginkan gadis yang dipanggil Mayda itu memakainya. Bukannya aku senang jika Yogi tak bisa melupakanku, tapi toh aku yakin tanpa jepit itupun langkahnya telah semakin berat untuk melupakanku. Dengan nafas berat, Yogi memasukkan jepit itu ke dalam kantongnya. dia menghabiskan secangkir kopinya lalu menawariku tumpangan untuk pulang. Tapi aku menolaknya, aku tak mau dia terlibat masalah lagi dengan orangtuaku. Aku menggenggam tangannya sampai taksi yang kupesan datang, aku begitu ingin menyandarkan kepalaku di bahunya tapi dia hanya menghindar dengan tersenyum kemudian menggeleng. Dihapusnya air mataku sebelum akhirnya taksiku datang dan kami berpisah. Sekali lagi berpisah tanpa kontak tersisa selain email. Kami sepakat untuk tak lagi terhubung untuk menguji apakah takdir bisa mempertemukan kami lagi. Pertemuan kali ini hanya pengobat rindu yang sudah tak terbendung. Meskipun sebenarnya aku meragukan bisakah kami saling melupakan? Sepanjang kota ini pernah jadi tempat memadu kasih. sejauh jalan di kota ini pernah jadi saksi kami berjanji akan setia, menua bersama. Kami merancang masa depan kami akan seperti apa, tapi kami dikalahkan takdir. Kami dikalahkan garis jodoh dan kami sama - sama tahu tak ada lagi takdir kami akan bersama. Kami hanya bisa saling merindukan, mendoakan, dan menangis dalam hati masing - masing. Di depan rumah, kuhapus air mataku. Aku tak mungkin mengatakan bahwa orang yang kujenguk bertambah parah atau bahkan pergi dari dunia ini. Karena yang baru saja kutemui, orang itu, aku mendoakannya agar selalu baik-baik saja. Aku memasuki rumah dengan rasa bersalah karena telah berbohong. Perasaan bahagia karena rinduku terbalaskan tak mampu mengalahkan rasa bersalah dan sedikit ketakutan yang menyerangku. Apalagi ketika harus bertatap dengan senyum kedua orangtuaku. “Sudah pulang, Na?” tanya mama. “Iya Ma,” aku ikut duduk di ruang keluarga dimana Mama melihat acara gosip sedang Papa asyik dengan handphonenya. “Maaf ya Ma, tadi masaknya ga selesai,” kataku. “Ga apa-apa, Mama sama Papa lo malah seneng kalo kamu udah mau keluar sama temen-temenmu lagi.” jawab Mama sambil terus mengunyah cemilan. “Temanmu gimana Na, sakit apa?” tanya papa.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD