Meski harus terdiam, seolah pembicaraan kami berakhir, aku sebenarnya masih berkutat dengan perasaanku sendiri. Aku masih tak mau disalahkan atas rindu yang kukembalikan sebelumnya. Salahkah? Tak bisakah dua orang saling dewasa dengan menganggap semua rasa tak pernah ada. Berteman saja,tapi jangan saling meninggalkan. Aku tak akan menyentuh rumah tangganya. Aku janji tak akan mengharapkannya lagi. Tapi jangan pernah mencoba melupakan aku. Aku masih ingin jadi bagian dari hidupnya.
Meski tak berbarengan, kami kembali tenggelam ke tugas kami masing-masing. Sesaat semua fokusku teralihkan. Ruangan kami hening. Rudi dan aku mendengarkan musik dari earphone kami masing-masing. Sedangkan Indar dan Susi yang lebih suka hening juga nikmat-nikmat saja ketika memang hanya mendengar ketukan jari mereka di keyboard PC.
Menjelang jam pulang kerja, aku sudah men-shut down PC setelah merapikan data yang berantakan di meja. Aku memeriksa ponselku sebelum akhirnya memasukkannya ke dalam tasku. Kami hampir bersamaan ketika mengenangkan jaket kami. Sambil bercanda, kami saling beriringan meninggalkan ruangan kami. Pak Broto terlihat masih menghubungi seseorang saat kami berpamitan.
“Pulang dulu ya,” kata Susi yang arah rumahnya paling berbeda dari kami berempat.
Ratusan motor berhamburan keluar dari gerbang pabrik. Aku kehilangan kedua temanku meski tadinya kami saling beriringan. Satu-persatu teman seperusahaan tak lagi saling mendahului. Menyisakan beberapa orang saja yang berusaha sampai ke tujuan berikutnya dengan selamat.
Begitu sampai di rumah, aku melepas semua atribut kerjaku. Lalu ke dapur melihat menu masakan Mama. Di dapur, aku bertemu Papa yang rupanya sedang menyeduh kopi sendiri.
“Mama mana Pa?” tanyaku.
“Ngrapihin lemari kayaknya, baru aja selesai nyetrika,” jawab Papa sambil menuangkan air panas ke dalam cangkir.
“Masih ada Pa, airnya?” tanyaku.
“Mau bikin apa?”
“Pengen ngeteh,” jawabku.
“Papa buatin sekalian ya,” tawar Papa sambil menurunkan sebuah cangkir dari rak di atas kami.
“Ga usah, Naya bisa bikin sendiri kok,” aku mengambil cangkir dari tangan Papa.
Memasukkan teh celup, lalu gula dan terakhir menuangkan air panas ke dalam cangkirku. Kemudian aku membawanya ke meja makan, duduk berhadapan dengan Papa. Di tatakan cangkir Papa, kopi hitam menggenang dengan kepulan asap mengudara. Aku mengikuti dengan mataku asap dari kopi Papa juga dari teh yang kuseduh membumbung namun keduanya menghilang sebelum bersatu.
“Gimana kantormu Na?” tanya Papa membuka percakapan antara kami.
“Baik Pa, makasih,” jawabku.
“Kok makasih?”
“Naya ketemu orang-orang baru yang bisa mengerti Naya dengan cepat. Mereka mengenal dari tidak hanya sebagai teman kantor, beberapa mereka juga followerku, dan harus kuakui, permintaan Papa untuk naya bekerja lagi memang keputusan yang tepat.”
Aku tersenyum sembari mengaduk kembali teh yang semakin larut bersama gula. Terlihat Mama keluar dari kamar juga dengan tersenyum melihatku.
“Belajarlah dari sekarang, tidak ada orangtua yang menjerumuskan anaknya, semua orangtua ingin anak-anak mereka bahagia. Bahkan jika anak mereka lebih banyak dari yang lainnya, mereka tidak akan menurunkan target bahwa cukup sebagian dari anak-anak yang bahagia. Mereka akan meminta, berdoa, berusaha agar semua anak-anak mereka bahagia. Ngerti?” Mama berdiri di belakangku dan menepuk pundakku.
“Ah, ga semua Ma, banyak kok anak-anak yang jsutru dieksploitasi oleh orangtuanya sendiri,” kataku sambil menoleh padanya.
“Kamu belum tahu rasanya jadinya orangtua, jadi jangan bantah Mamamu yang sudah mengasuhmu puluhan tahun,” dengan lembut Papa menasehatiku.
“Oke deh Pak,” jawabku dengan bercanda.
Mama lalu berlalu ke depan televisi sedangkan aku masih bertahan dengan Papa berbincang banyak hal.
“Oh ya Na, tadi paketan lagi, Mama lupangasih tahu kamu,” kata Mama memberitahuku.
“Di mana Ma?” meskipun telingaku kini agak trauma dengan kata paket, tapi bagaimanapun ada punya dua tugas dengan pekat yang seharusnya datang itu.
“Mama taruh di kamar kamu kayaknya kalau ga di rak ruang tamu,” jawab Mama.
Aku berdiri dan menuju ke ruang tamu, mengamati sekat-sekat yang ada di rak. Hingga mataku menangkap paket mungil berbentuk balok. Bukankah itu memang barang yang hampir seukuran dengan yang kemarin. Bukan salahku jika aku salah paham.
Aku kembali mempersiapkan untuk melakukan live. Desain story wa dan ig kusiapkan untuk memancing viewers saat aku live nanti. Kemudian aku mandi dan menunggu waktu yang sudah kujanjikan untuk live.
“Naya!! Sholat Nak,” teriakan Mama membuatku keluar kamar dan segera mendekat padanya yang bersiap bermakmum pada Papa.
Saat Mama melepas mukenanya aku segera berlari ke kamar lagi. Melihat tingkahku yang tergesa-gesa, Mama menyusulku. Dia membuka pintu kamarku dan mengintipku yang duduk manis di depan kamera.
“Oke viewers, Mak gue ngintip ini, gimana kalau kita jebak aja sekalian buat jadi model?”
“Ihh, ogah,” Mamapun lalu menutup pintu kamarku dan entah menghilang kemana.
“Hahaha, dia takut gaes, oke kita ulangi siaran yang kemarin ya. Yang gagal biar gagal ya gaes, kita ulangi sampai berhasil. Nah, kali bener, ini ya, bisa kalian lihat alamat pengirimnya udah sesuai banget ya, Putri Solo Kosmetik, nanti link shopeenya aku tulis di deskripsi aja ya,” aku lalu membuka kemasan dan menunjukkan pada mereka eyeliner yang baru saja sampai.
Selain eyeliner yang baru datang, aku juga menunjukkan berbagai jenis eyeliner lain yang aku punya. Setiap eyeliner aku ulas kekurangan dan kelebihannya. Awalnya semua masih terkondisikan sampai saat aku mencoba memakai eyeliner dan mereka bertanya merk, atau cara termudah untuk memakai eyeliner itu.
[Miss Nay, plg gampang pke eyeliner apa sih..] tulis sebuah akun.
“Miss Nay, pulang eh paling gampang pakai eyeliner apa? Kalau aku dulu pas masih belajar ya enak yang pensil, selain murah, juga hitamnya ga terlalu tebel, misalnya ada salah-salahnya masih enak buat dihapusnya. Tapi buat bikin bentuk-bentuk kaya wings gini aku sarannya ya penliner kaya gini, ujungnya itu lentur, ga mudah patah, jadi pas sekali gores bisa langsung jadi, lihatin ya, aku slowmo ini,” aku menjelaskan sembari menggesekkan ujung liner ke kelopak mataku.
[Dih klo slow mo jadi ingt kmrin slowmo gara-gara salah paket]
“Eh iya ya, bisa bego ndadak gitu ya akunya, ahahaha, maafin lah, namanya juga terlalu semangat,” jawabku.
[Tapi masih penasaran sih, kemarin kayaknya Miss Nay ampe nangis lo]
“Ga nangis kok say, Cuma apa ya? Terharu gitu, itu teman lama banget yang udah lama ga ketemu gitu,” aku menjawab sambil berkaca.
“Nah, rapi kan, udah sama ya kanan ama kiri,” aku berusaha mengembalikan ke tema asal.
[Crta donk Miss, siapa sih?]
“Aduh udah deh, jangan dibikin mellow, nanti aku nangis bombay lagi,” kataku.
Chat bersahutan dengan berbagai macam kalimat. Mulai darisekedaar ingin di sapa, membahas penggunaan eyeliner, dan beberapa masih membahas kejadian yang lalu itu. Aku menjawab pertanyaan mengenai eyeliner dan hal santai yang mereka bicarakan. Sebisa mungkin aku mengabaikan pertanyaan tentang jepit rambut itu.
Aku menyempatkan menyesap secangkir teh manis yang masih hangat. Sebelum akhirnya membaca sebuah kelakar yang sama sekali tidak lucu. Tanpa seijinku, Indar menuliskan kalimat penjelas pada apa yang terjadi kemarin.
[ya, jelas melo org dapat kadonya dari mantan] begitu tulisnya di kolom komentar
[iyakah? Bukan teman lma?]
[ya lama lah, klo udh jadi mantan]
“Kalau nglantur, livenya ga aku save lo ya?” begitu ancamku.
Namun nyatanya Indar menganggap peringatanku sebagai gurauan, dengan ringannya dia menjelaskan bahwa itu bukanlah sekedar teman, apalagi penipuan olshop. Indar memang tidak rinci, tapi jawabannya segera memancing pertanyaan dan ah….
“Ok, sudah melenceng jauh dari tujuan, live ga akan tersimpan ya, kita buat lain kali dengan record no live ya, rusuh ih,” aku lalu menutup live tutorial dengan tanpa kalimat yang pantas, pun live itu sekali lagi tidak tersimpan.
Setelah live itu selesai, aku segera menghubungi Indar yang bahkan mengumbar isi surat itu. Dia memang tidak menyebutkan nama, tapi itu privasiku, tidakkah dia tahu itu sudah melampaui batasnya sebagai teman yang baru kenal dalam hitungan hari.
“Kamu lancang In, kamu ga ada hak buat klarifikasi itu semua. Itu masalahku. Kita kenal belum ada seminggu ya In, dan kamu udah selancang itu?”
“Aku tuh cuma bantuin kamu! Biar mereka tahu bahwa kamu emang disakitin bukan sekedar ketipu barang online!”
“Trus buat apa? Gunanya apa? Kamu bikin masalah makin runyam tau ga sih?”
“Apa yang runyam Na?”
“Itu masa lalu, itu menyangkut hidup orang lain, itu rumah tangga orang lain yang sudah selesai denganku, paham?” aku menggunakan nada tinggi dengan tempo yang pelan agar dia tahu ini masalah yang serius.
“Kalau memang masa lalu, harusnya kamu ga perlu buang tenaga donk, kamu ga harus panik berlebihan kaya gini,” dia bberkilah merasa telah melakukan sesuatu dengan benar.
“Kamu yang salah, dan sekarang kamu yang ngegas ke aku? Mbuh In, ga paham aku sama cara pikirmu,” aku menutup telpon dengan keras.
Aku hampir membanting handphoneku saking kesalnya. Aku tahu aku sudah menghapus postingan tadi, tidak menyimpannya, tapi di jaman seperti ini, seseorang terkadang membuat konten dari kisah kelam kehidupan orang lain. Aku takut itu terjadi. Tepatnya aku tak mau itu terjadi.
“Na, kenapa Na?” terdengar panggilan Mama sembari mengetuk pintu kamarku.
“Its oke Mam, Nay baik,” jawabku.
Aku menghela napas panjang, sebelum kembali ke media sosialku. Dan benar saja, kisah romantikaku telah jadi konsumsi publik karena ulah Indar. Tangkapan layar dari beberapa viewers menyebar di twitter dengan hashtag kenangan mantan.
Butuh waktu tidak lebih dari dua hari untuk menyebarnya postingan capture dari sebuah akun f*******: membagikan kisahku dan ramai orang-orang berkomentar bahkan turut membagikan. Ribuan. Bahkan jutaan retweet. Ya Tuhan. Capture itu memang tak menyebutkan namaku, tapi ketika sudah berselancar di bagikan, dikomentari, di situlah namaku tersebut. Rentetan dari kejadian itu adalah nama Yogi ikut terseret. Akun kami juga menjadi tangkapan layar yang dibagikan. Mau diapakan mukaku ini. Pasti mereka bilang aku cari perhatian. Padahal aku udah klarifikasi bahwa ga sedrama itu.
Separuh hatiku memang seolah merasa menang, karena tentu saja aku yang punya kisah menyedihkan tunanganku direbut. Tapi ga sedikit yang bilang aku kurang kerjaan masih aja ngasih barang ke orang yang udah punya pasangan. Aku berusaha menghentikan semuanya, tapi semakin aku muncul ke permukaan semakin terlihatlah aku pemilik dari cerita menyedihkan ini.